


oleh Flamboyan jingga · 100 Bab
"Di duniaku, semuanya punya harga. Dan kau ... baru saja terjual seharga satu triliun." Lumia tidak pernah menyangka bahwa pengabdiannya sebagai guru privat putri kecil Arka Digantara akan berakhir di pelaminan yang dingin. Ayahnya yang terlilit utang menjadikannya jaminan, sementara ibunya disandera dalam fasilitas medis biayanya dikendalikan oleh Arka. Bagi dunia, Arka adalah seorang single dad sempurna, pengusaha bertangan dingin. Namun, bagi Lumia, Arka adalah monster yang mengurungnya dalam sangkar emas. Namun, benarkah pernikahan ini tentang hutang piutang? Lumia segera menyadari satu hal. Menjadi Nyonya Arka Digantara bukan hanya tentang kehilangan kebebasan, tapi tentang memasuki labirin rahasia yang bisa menghancurkan kewarasannya.
Cahaya lampu kota Jakarta dari lantai 45 apartemen di kawasan Senopati terpantul di gelas kristal berisi cairan amber di tangannya.
Di depannya seorang pria paruh baya, ayah Lumia, sedang duduk dengan punggung melengkung, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
"Saya sudah tidak punya jalan keluar lagi, Pak Arka. Vendor-vendor mulai mengancam, dan bank akan menyita rumah kami bulan depan." Dengan suara nyaris berbisik.
Ia tidak segera menjawab, ia membiarkan keheningan malam itu menekannya. Baginya, bisnis adalah tentang momentum. Dan saat ini, momentum itu ada di tangannya.
"Rumah di kawasan Menteng itu tidak cukup untuk menutup bunga utangmu, Pak Baskoro," ucapnya dingin tanpa menoleh padanya. "Asetmu sudah hangus. Secara logika, aku harus membiarkanmu jatuh miskin."
Baskoro gemetar. "Tolong, akan saya lakukan apa saja."
Ia memutar kursi kerjanya, menatap sebuah foto di atas meja. Zia, putri kecilnya yang berusia lima tahun, sedang tertawa di gendongan seorang gadis muda yang mengenakan seragam SMA. Gadis itu adalah Lumia, guru privat yang baru tiga bulan ini mengajar Zia.
"Zia sangat terikat pada pengajarnya," katanya sambil meletakkan gelas ke meja dengan denting yang tajam. "Aku butuh seorang istri yang bisa menjaga Zia, sekaligus wanita yang bisa kupastikan tidak akan mengkhianatiku demi harta."
Mata Baskoro membelalak. "Maksudnya, Lumia?"
"Berikan Lumia padaku. Aku akan melunasi seluruh utangmu, menyuntikkan dana ke perusahaanmu, dan menjamin masa depan keluarga kalian tetap di kelas atas," katanya dengan nada tak terbantahkan. "Pernikahan dalam satu bulan. Tanpa tawar-menawar."
Dua hari kemudian, ia sengaja pulang ke rumah di Dharmawangsa lebih awal. Ia tahu ini jam belajar Zia. Ia duduk di sofa ruang tengah, menyembunyikan wajah di balik tablet yang menampilkan grafik saham.
Dari sudut mata, ia melihat langkah kaki yang ragu. Lumia masuk dengan tas ranselnya, wajahnya yang polos tampak lelah.
"Selamat sore, Tuan." Suara Bi Inah memberitahu. "Non Lumia sudah datang."
"Langsung saja seperti biasa, bawa ke kamar Zia saja," jawabnya pendek, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Ia bisa merasakan tatapan mata Lumia yang bingung dan gugup tertuju padanya, sejenak sebelum ia berbalik. Lumia pasti menganggapnya pria dingin yang tidak tersentuh. Ia sangat yakin akan hal itu.
Lumia tidak tahu, bahwa ia telah mempelajari setiap detail hidupnya, termasuk kedekatannya dengan seorang pemuda bernama Reno di sekolahnya.
Sore itu, setelah Lumia pulang, sekretaris pribadinya menelepon.
"Tuan, orang-orang kita melihat Lumia sedang menangis di taman sekolah bersama Reno. Sepertinya kabar perjodohan itu sudah sampai ke telinganya."
Arka mengepalkan tangan. "Pastikan anak muda itu tahu posisinya. Dan pastikan Lumia tidak punya alasan untuk lari."
Satu jam kemudian, gerbang depan terbuka. Sebuah taksi berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, Lumia menerobos masuk tanpa memedulikan Bi Inah yang berusaha menahannya. Lumia berdiri di hadapannya dengan mata sembab dan napas memburu.
"Kenapa harus saya, Pak Arka?" Suaranya pecah, penuh kemarahan yang tertahan. "Saya masih ingin kuliah! Saya punya kehidupan sendiri!"
Arka berdiri perlahan, sosoknya yang jauh lebih tinggi membuat bayangannya menelan tubuh kecil Lumia. Arka melangkah mendekat, menguncinya di antara tubuhnya dan meja jati di belakangnya.
"Kehidupanmu yang mana, Lumia? Kehidupan bersama Reno yang bahkan tidak bisa membayar uang sekolahnya sendiri?" bisiknya tepat di depan wajahnya yang memucat.
Arka merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua, melemparkannya ke atas meja di belakangnya.
"Buka itu. Dan kamu akan mengerti kenapa kamu tidak akan pernah bisa menolakku."
Lumia gemetar saat membuka amplop itu. Matanya membelalak, wajahnya pucat seketika kehilangan warna saat melihat isinya.
Lumia nyaris kehilangan keseimbangan, ia mencengkeram tepian meja agar dapat menahan tubuhnya yang hampir jatuh. Di dalam amplop itu bukan sekadar angka-angka utang ayahnya, melainkan lembaran foto-foto medis dan dokumen penyitaan rahasia.
Dunia seakan berputar, saat ia melihat ada foto ibunya yang tengah terbaring dibalik selimut rumah sakit di luar negeri, sebuah fakta yang selama ini disembunyikan Baskoro darinya, lengkap dengan catatan medis bahwa biaya perawatannya selama ini disokong oleh dana talangan dari perusahaan Arka.
Yang paling menghancurkan mentalnya adalah selembar surat pernyataan penyerahan hak asuh legal yang ditandatangani ayahnya. Baskoro tidak hanya menjual masa depan Lumia, dia menyerahkan seluruh hidup gadis itu sebagai jaminan utang.
"Berapa harga harga dirimu, Lumia?" Suara bariton itu menggema di ruangan yang dingin.
Lumia mendongak, menatap pria yang duduk di kursi kebesarannya. Arka Digantara. Pria itu menyesap cerutunya, asapnya tipis menutupi wajah tampannya yang sedingin es.
"Aku tidak dijual," sahut Lumia dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya.
Arka terkekeh, suara yang lebih terdengar seperti ancaman daripada tawa. Ia bangkit, melangkah mendekat hingga ujung sepatu mahalnya bersentuhan dengan lutut Lumia yang bersimpuh di lantai.
"Di duniaku, semuanya punya harga. Dan kau ... ayahmu baru saja menukarmu dengan tanda tangan di atas materai utang satu triliun." Arka mencengkeram dagu Lumia, memaksanya menatap mata elang itu. "Mulai detik ini, kau adalah perhiasan paling mahal di koleksiku."
"Karena ayahmu bukan hanya pengusaha yang gagal, Lumia. Dia adalah penjudi yang buruk." Suara Arka terdengar sangat menyakitkan. "Namun, satu yang tersisa dari nuraninya, ia sangat memperdulikan Ibumu."
Memang tidak sepenuhnya Arka berbohong, sehingga perkataan dan bukti yang disodorkan olehnya membuat Lumia tidak berkutik. Ia sadar, kalaupun ayahnya berbohong tentang keadaan Ibunya, yang katanya sedang honeymoon kedua kalinya. Dan ternyata sedang membawa ibunya berobat diluar negeri.
Lumia merosot ke lantai, memeluk lututnya. Air matanya jatuh tanpa suara di atas lantai marmer yang dingin. "Anda monster ...," ucapnya pelan.
Arka berjongkok di hadapannya, jemarinya yang dingin mengangkat dagu Lumia agar menatap matanya yang gelap. "Monster ini yang akan memastikan ibumu tetap bernapas dan ayahmu tidak membusuk di penjara. Pilihannya sederhana, jadilah Nyonya Arka Dirgantara, atau saksikan duniamu hancur besok pagi tepat pukul delapan."
Akhirnya perencanaan pernikahan itupun terjadi, semua persiapan telah disiapkan oleh orang-orang dari Arka. Dua minggu sebelum pernikahan yang dipaksakan itu, Arka mengundang Lumia untuk makan malam di mansionnya. Ini bukan sekadar makan malam, ini adalah untuk agar Lumia lebih mengenalnya.
Lumia datang mengenakan gaun sutra hitam yang dikirimkan Arka ke rumahnya. Ia tampak enggan untuk menghadiri makan malam ini. Hatinya ingin memberontak tapi ia tahu segala konsekuensi dari perbuatannya.
"Makanlah. Kamu tampak sangat kurus!" perintah Arka datar.
"Kenapa harus dengan cara ini?" Suara Lumia bergetar, ia mengabaikan pisau dan garpu di depannya. "Jika Anda ingin pengasuh untuk Zia, saya bisa melakukannya tanpa harus menikah dengan Anda. Jika Anda ingin ... tubuh saya, Anda bisa membelinya tanpa harus mengikat saya selamanya."
Arka meletakkan gelas anggurnya. Matanya menyipit. "Aku tidak butuh pengasuh, dan aku tidak serendah itu untuk sekadar membeli tubuh. Aku butuh seseorang yang terikat secara hukum dan darah. Seseorang yang tidak punya celah untuk pergi, karena seluruh napas keluarganya ada di genggamanku."
Ponsel Lumia tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama Reno muncul di layar.
Suasana seketika membeku. Arka melirik ponsel itu, lalu beralih ke wajah Lumia yang pucat pasi. Tanpa kata, Arka mengambil ponsel tersebut.
"Jangan, tolong ...," bisik Lumia panik.
Arka tidak mematikan teleponnya. Ia justru mengangkatnya, menekan tombol loudspeaker, dan meletakkannya di tengah meja.
"Lumia? Kamu di mana? Aku di depan rumahmu, ayahmu bilang kamu pergi dengan pria itu. Lumia, jangan lakukan ini demi aku, kita bisa lari."
"Dia sedang bersamaku, Reno," potong Arka dengan suara yang begitu tenang namun mematikan. "Dan mulai detik ini, jangan pernah menyebut kata lari di depan calon istriku, kecuali kamu ingin melihat beasiswa sekolahmu dicabut dan keluargamu kehilangan tempat tinggal dalam semalam."

Flamboyan jingga
9 Pengikut · 4 Novel