Di mana aku berada?
Aku menarik napas dalam-dalam dan seketika tersedak. Batuk keras mengguncang dadaku hingga sesuatu terlontar ke lantai. Cairan merah gelap mengalir, memantulkan cahaya samar yang nyaris tak ada. Jijik. Memalukan. Semoga tiada seorang pun yang melihatnya.
Pikiran itu singgah sekejap, lalu lenyap. Gelombang panik segera merayap, tak terbendung.
Udara di sekelilingku tebal dengan bau lembap, batu tua, dan karat yang menusuk hidung. Bukan aroma rumahku, bukan pula bau antiseptik rumah sakit.
Aku tersesat.
Dinding batu tampak begitu dekat, seolah mataku menembus gelap. Suara tetesan air dan kayu berderit menggema dalam telinga terlalu jelas, mustahil bagi telingaku sebelumnya. Bahkan udara yang kuhirup pun membawa rasa logam getir di lidah. Setiap sensasi terlalu tajam, menusuk, hingga kepalaku berdenyut.
Aku merasa mual.
Aku harus mengerti.
Tubuhku bergetar. Pergelangan tanganku terbelenggu rantai yang berat, dan kakiku tergores lantai kasar. Kain kusam melekat di bahuku. Oh Tuhan, aku bahkan tak mengenakan pakaian dalam. Apakah ada yang melihatku? Pikiran itu membuat darahku membeku.
Rambut pirangku basah, menempel di kulit kepala. Kain lusuh terbuka hingga menyingkap kakiku yang pucat, lebih pucat dari biasanya. Dengan bercak merah yang mengering. Darah. Sama dengan yang tadi kumuntahkan.
Aku menarik napas panjang, menahan desakan panik. Aku tidak boleh runtuh. Aku bukan gadis lemah dari Charleston yang pingsan karena setetes darah.
Aku ditempa oleh sesuatu yang lebih keras, lebih kokoh daripada sekadar rasa takut. Namun, tubuhku tetap gemetar. Panik hanya akan memperburuk segalanya. Aku harus bertahan.
Mataku meneliti sekitar.
Dinding batu kelabu, telanjang, dingin. Satu pintu besar dengan jeruji kecil di atasnya. Penjara bawah tanah. Apakah ini sandiwara keji, atau aku tengah bermimpi? Apakah aku sudah gila, dan tempat ini hanyalah “hospice” yang pernah kudengar dari orang yang berbisik-bisik?
Sementara kain ini? Compang-camping, lebih buruk dari pakaian budak. Demi kehormatanku, aku harus tahu kebenarannya atau namaku bukanlah namaku?
Fokusku buyar. Pikiranku pecah jadi riak-riak emosi yang cepat hilang sebelum tertangkap. Aku mengguncang kepala, menggigit bibir, tapi sia-sia.
Aku tidak ingat namaku.
Aku harus mengingatnya.
Bibirku gemetar, dan akhirnya berbisik, “A-Ariane.”
Seketika rasa sakit itu menghantam.
Tubuhku membungkuk sejauh rantai mengizinkan. Tenggorokanku terbakar, menjalar ke perut, mencabik dari dalam. Rasa sakit itu kejam, mencekam, memeras jeritan keluar dari tenggorokanku. Tuhan, hentikan!
Doa itu seakan dijawab. Bunyi besi berderak, pintu terbuka. Tiga pasang langkah mendekat. Lebih cepat kumohon.
“Aku bilang juga aku dengar sesuatu. Matahari baru saja tenggelam.” Suaranya kasar, penuh kepuasan.
“Hmmm,” sahut yang lain, datar.
Aku dapat melihat mereka dengan jelas meski tanpa cahaya dan aku tahu, aku binasa.
Yang pertama tampak seperti bandit jalanan: rambut hitam awut-awutan, janggut berminyak, mata biru yang menusuk hingga ke tulang. Senyumnya dingin, penuh ancaman. Ia mungkin bisa menolongku seandainya bukan sosok yang begitu menakutkan. Aku tahu, ia milik seseorang. Bukan milikku untuk disentuh.
Yang kedua berbeda. Kulit keemasan, mata sipit, tubuh kekar dengan aura keras. Ia bergerak anggun, seperti pemangsa. Dari sikapnya, aku tahu ia seorang petarung. Bahayanya jelas. Ia tidak bisa menolongku.
Yang ketiga bisa.
Harapan tiba-tiba memenuhi dadaku. Seorang pemuda muda, wajahnya kebingungan, pakaian sederhana milik tukang besi atau buruh. Rantai tipis tergantung di lehernya. Aku tahu, aku merasakan dialah yang bisa mengakhiri sakit ini.
Aku bergerak.
Tanganku terulur lalu terhenti. Rantai perak berat itu masih menahanku, menancap di dinding. Betapa tololnya aku!
“Wah! Lihat dia, berapi-api rupanya. Berikan bocah itu padanya.”
Pria berkulit keemasan menatapku sebentar. Ada sekilas simpati di wajah kerasnya. Lalu ia mendorong pemuda itu ke arahku.
Tanganku meraih kerahnya. Ya. Akhirnya.
Kuhirup lehernya aroma kaya, memabukkan, seperti anggur terbaik. Kesadaranku runtuh. Gigi taringku, oh Tuhan, sejak kapan aku memilikinya? Menusuk kulitnya. Cairan manis mengalir ke lidahku.
Dunia meledak dalam ekstasi.
Kenikmatan, murni, menelan segalanya. Aku mati dan hidup kembali dalam setiap gelombang yang menghancurkan jiwa. Bila ini sebanding dengan bercinta, kini aku mengerti mengapa ada yang rela hancur nama demi hasrat.
Aku mencintainya. Dalam momen itu, aku merasa aku milik dia, dan dia milikku.
Andai tak pernah berakhir. Namun, akhirnya surut juga. Damai, hangat, seakan doa-doaku dijawab. Aku bagai menyentuh gerbang ilahi.
Aku melepaskan pemuda itu. Tubuhnya ambruk ke lantai. Bau darahnya kini menjijikkan. Ia tak lagi bisa menolongku.
Pria menyeramkan itu terkekeh, menyeret rantainya menjauh dariku, seakan aku seekor binatang buas.
“Apa?” Suaraku parau. “Apa arti semua ini?”
Oh, seandainya aku bisa meluapkan kemarahanku! Ditahan begini, tanpa air, tanpa jambangan. Diperlakukan seolah aku seekor binatang.
Baudouin si lelaki kurus bermata gila itu menarik napas, lalu menyeringai. “Ampunilah hamba yang hina ini, Tuan Putri. Tak menyangka Anda bakal begitu bergairah.”
Aku menggeram jengkel, lalu mengalihkan pandang pada rekannya.
"Bagaimana denganmu, Prajurit? Mengapa aku diperlakukan seperti ini?”
Pria Timur itu menatapku dengan mata tajam yang nyaris lembut, tapi tetap dingin. Ia tak tergesa, suaranya tenang, terkendali.
“Itu demi keselamatanmu sendiri,” ujarnya datar.
“Keselamatanku? Aku akan aman bila bebas di rumahku sendiri, kau bajingan! Apa yang harus kulakukan agar kau melepaskanku?”
Baudouin cepat-cepat menyela, tersinggung karena diabaikan. “Tuan Putri tak perlu gelisah. Bebas itu pasti datang entah cepat, entah lambat.”
“Aku.”
Aku ingin membalas, ingin memaksa mereka bicara. Namun, tubuhku terlalu letih. Kelelahan merayap di setiap serat, kelopak mataku berat seakan dijatuhkan kapak algojo.
***
Aku terjerembab ke dalam kenangan.
Musim panas di perkebunan. Tebu menjulang dari tanah merah, hijau rimbun sejauh mata memandang. Matahari membakar kulit, nyaris tak tertahankan bila bukan karena semilir angin dan harum sungai.
Seorang pria berambut pirang, kokoh dan besar, berlutut di hadapanku. Pisau di tangannya mengiris tebu, meninggalkan potongan basah yang meneteskan manisnya. Wajahnya kasar, janggut pirangnya kusut, dan mata biru berkilau itu mata yang juga menjadi warisanku penuh kasih.
“Cobalah ini, Mon Ange.”
“Tidak mau! Kotor!”
“Demi Papa. Allez!”
“D’accord.”
Tanganku yang mungil menerima potongan itu, lalu kubawa ke bibir. Seratnya aneh, dan manisnya segar, berair.
“Mmm!”
“Lihat? Papa selalu tahu yang terbaik. Itu sebabnya kau harus mendengarkan.”
“Hm?”
“Selalu kenakan topi bila keluar rumah. Matahari kejam, tapi kau tak mendengar, oh tidak, dan kini kau terbakar.”
Api meledak dari telapak tanganku. Aku menjerit, api menjalar ke lengan, lalu ke seluruh tubuh. Daging menghitam, rambutku menyala, rasa sakit melahapku hidup-hidup. Aku memohon kegelapan datang dan akhirnya, ia menjemputku.
***
Aku terbangun kembali di sel batu yang sama. Sunyi. Tak ada penculik, tak ada siapa pun. Tubuhku terasa aneh, seakan ada bagian dari diriku yang memberontak.
Kenyataan terasa rapuh, kabur, bagai pasien meronta di tengah demam. Aku berusaha meraih kejernihan, hanya sedikit yang kudapat. Aku mengingat mimpi buruk. Aku mengingat kemarin. Aku mengingat namaku. Ariane. Ya, Ariane meski itu hanyalah praenomen.
Mengucapkannya dengan suara nyaring menolongku. Aku harus mencoba lagi.
“Namaku Ariane. Umurku sembilan belas.”