Langit di atas Lembah Aruna memerah seperti bara yang belum padam. Angin membawa aroma lumut basah dari hutan purba, bercampur wangi bunga-bunga bercahaya yang hanya mekar ketika matahari tenggelam. Dari kejauhan, menara-menara kristal Kerajaan Elarion memantulkan cahaya keemasan hingga tampak seperti bintang yang turun ke bumi.
Di tengah lembah itu, seorang gadis berusia delapan belas tahun berjalan sambil memanggul sekeranjang tanaman obat.
Namanya Naomi.
Ia bukan penyihir, bukan pendekar, dan bukan pula bangsawan. Sehari-harinya ia membantu nenek angkatnya meracik ramuan untuk para pengembara yang melintasi desa kecil Liora.
"Aku berharap hari ini tidak ada serigala bayangan lagi," gumam Naomi sambil menyibakkan ranting.
Seekor burung biru bermata emas hinggap di dahan.
"Cuit cuit."
Naomi tersenyum.
"Kau lagi? Kau memang selalu mengikutiku."
Burung itu mengepakkan sayap seolah mengajak Naomi mengikuti arah tertentu.
"Aku masih harus mencari Daun Embun."
Burung itu terbang beberapa meter, lalu berhenti.
Naomi menghela napas.
"Baiklah. Hanya sebentar."
Ia mengikuti burung itu semakin jauh memasuki Hutan Varell, wilayah yang sebenarnya dilarang dimasuki penduduk desa.
Semakin jauh melangkah, suasana berubah.
Suara serangga menghilang.
Angin mendadak berhenti.
Daun-daun di pepohonan justru bergerak sendiri seakan ada tangan tak kasatmata yang menyentuhnya.
Naomi menghentikan langkah.
"Aneh."
Tiba-tiba kilatan cahaya putih melintas di antara pepohonan.
Sret!
Naomi terbelalak.
"Itu apa?"
Ia mengejar cahaya tersebut hingga tiba di sebuah lapangan kecil yang dipenuhi batu-batu besar.
Di tengah lapangan berdiri sebuah pohon raksasa.
Batangnya berwarna perak.
Daunnya berkilau seperti kaca.
Akar-akarnya menjalar membentuk lingkaran. Namun, yang paling mengejutkan adalah ribuan benang cahaya yang menggantung dari seluruh rantingnya.
Benang merah.
Benang emas.
Benang biru.
Benang hitam.
Semuanya melayang tanpa tertiup angin.
Naomi menahan napas.
"Indah sekali."
Ia belum pernah melihat keajaiban seperti itu.
Burung biru tadi hinggap di salah satu ranting.
"Cuit."
Naomi mendekat.
Semakin dekat, benang-benang itu justru bergerak menuju dirinya.
"Apa?"
Satu benang emas perlahan melilit pergelangan tangan Naomi.
Hangat.
Tidak menyakitkan.
Justru terasa seperti denyut kehidupan.
Lalu terdengar suara perempuan yang lembut dan bergema dari segala arah.
"Sang Penjaga akhirnya datang."
Naomi langsung menoleh.
"Siapa?"
Tidak ada siapa pun.
"Apa ada orang di sini?"
Suara itu terdengar lagi.
"Takdir telah memilihmu."
"Tunggu! Siapa yang bicara?"
Belum sempat mendapat jawaban, tanah mendadak bergetar.
Bruuum!
Burung-burung beterbangan.
Pepohonan bergoyang keras.
Retakan besar muncul tepat di bawah pohon perak.
Dari dalam retakan muncul tangan hitam raksasa.
Naomi mundur beberapa langkah.
"Itu monster?"
Makhluk itu perlahan keluar.
Tubuhnya tersusun dari batu hitam.
Matanya merah menyala.
Di bahunya tumbuh tanduk kristal gelap.
Begitu melihat Naomi, monster itu meraung.
"GRAAAAAAH!"
Naomi membeku.
"Aku harus lari!"
Ia berbalik. Namun, akar pohon mendadak muncul menghalangi jalan.
Monster itu mengangkat tangan batu.
Bum!
Tanah meledak.
Naomi terlempar hingga jatuh berguling.
"Akh."
Keranjang tanaman obatnya hancur.
Monster itu kembali mendekat.
Langkahnya membuat bumi bergetar.
Naomi menggenggam batu kecil.
Ini jelas tidak berguna.
"Aku tidak bisa melawannya."
Dalam hati, ia panik.
Apa hidupnya berakhir di sini?
Saat monster mengangkat tinju raksasa...
Pohon perak memancarkan cahaya menyilaukan.
Seluruh benang bercahaya berputar cepat.
Dari akar pohon muncul sebuah pedang panjang.
Sarungnya berwarna putih.
Gagangnya berlapis emas.
Bilahnya memantulkan ribuan benang cahaya.
Pedang itu melayang tepat di depan Naomi.
Suara misterius kembali terdengar.
"Angkat Pedang Takdir."
Naomi menatap pedang itu dengan ragu.
"Aku bahkan tidak tahu cara bertarung."
Monster mengaum.
Tinju raksasa menghantam.
Refleks.
Naomi meraih gagang pedang.
Begitu tangannya menyentuh gagang...
Cahaya keemasan meledak memenuhi hutan.
WHOOSSH!
Benang-benang cahaya menyelimuti tubuh Naomi.
Matanya membelalak.
"Apa ini?"
Ingatan yang bukan miliknya membanjiri pikirannya.
Cara menggenggam pedang.
Cara mengatur napas.
Cara menghindar.
Gerakan demi gerakan mengalir alami.
Seolah ribuan pendekar sedang membimbingnya.
Monster menyerang lagi.
Naomi menggeser kaki.
Tubuhnya bergerak sendiri.
"Hah?"
Ia berhasil menghindar.
Tinju monster menghantam tanah.
Bum!
Naomi memutar tubuh.
Pedang berkilat.
Sraaak!
Lengan batu monster terpotong.
Monster meraung keras.
"GRAAAAH!"
Naomi sendiri sampai tidak percaya.
"Aku berhasil?"
Monster menjadi semakin ganas.
Kristal hitam di tubuhnya memancarkan kabut pekat.
Kabut itu berubah menjadi puluhan tombak batu.
"Waspada!" suara misterius memperingatkan.
Naomi langsung melompat.
Tombak-tombak itu menghujani tanah.
Buk!
Buk!
Buk!
Debu mengepul.
Naomi menarik napas panjang.
"Aku harus berpikir."
Ia mengamati monster itu.
Tatapannya tertuju pada kristal hitam di dada makhluk tersebut.
"Itu sumber kekuatannya?"
Monster menyerbu.
Naomi menggenggam pedang lebih erat.
"Ayo."
Monster mengayunkan kaki.
Naomi berguling.
Pedang menyapu akar pohon.
Benang-benang emas mendadak keluar dari bilah pedang dan melilit kaki monster.
Makhluk itu kehilangan keseimbangan.
"Ini kesempatan!"
Naomi berlari sekencang mungkin.
"Aku harus tepat!"
Monster berusaha melepaskan diri. Namun, benang emas semakin kuat.
Naomi melompat.
"Haah!"
Pedangnya menusuk tepat ke kristal hitam.
Crak!
Retakan muncul.
Monster menjerit.
Tubuhnya mulai pecah menjadi serpihan batu.
Dalam hitungan detik makhluk itu berubah menjadi debu hitam yang diterbangkan angin.
Keheningan kembali memenuhi hutan.
Naomi terengah-engah.
Pedang di tangannya masih bersinar.
"Aku menang?"
Suara perempuan itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas.
"Ujian pertama telah selesai."
Naomi langsung berdiri.
"Siapa sebenarnya kau?"
Di depan pohon perak muncul sosok wanita berjubah putih.
Tubuhnya transparan.
Rambutnya panjang berwarna perak.
Matanya bersinar lembut.
"Aku adalah Lyra, Penjaga Pohon Takdir."
Naomi menelan ludah.
"Roh?"
"Bisa disebut demikian."
"Kalau begitu apa sebenarnya semua ini?"
Lyra menatap ribuan benang yang bergelantungan.
"Setiap benang adalah takdir seseorang."
Naomi memandang benang-benang itu dengan bingung.
"Semua orang?"
"Semua makhluk yang hidup di dunia ini."
Naomi menggeleng.
"Itu tidak mungkin."
Lyra tersenyum tipis.
"Dunia jauh lebih besar daripada yang kau ketahui."
Naomi memandangi pedang di tangannya.
"Lalu pedang ini?"
"Itu adalah Pedang Takdir."
"Aku tidak merasa pantas memilikinya."
"Bukan kau yang memilih pedang itu."
"Lalu siapa?"
"Pedang itulah yang memilihmu."
Naomi terdiam.
Semua terasa seperti mimpi.
Lyra melangkah mendekat.
"Ribuan tahun lalu, para Penenun Takdir menjaga keseimbangan dunia."
"Penenun Takdir?"
"Mereka memastikan setiap benang tetap utuh."
"Kenapa sekarang tidak ada?"
Wajah Lyra berubah muram.
"Mereka telah musnah."
Naomi merasakan hawa dingin menjalari punggungnya.
"Siapa yang memusnahkan mereka?"
Lyra mengangkat tangan.
Beberapa benang hitam muncul melayang.
"Makhluk yang disebut Pemutus Takdir."
Begitu nama itu diucapkan, langit mendadak menggelap.
Petir ungu menyambar dari kejauhan.
Duuuar!
Lyra memejamkan mata.
"Mereka sudah mulai bergerak."
Naomi menggenggam pedang.
"Kalau mereka datang lagi, aku akan melawan."
"Kau memang berani."
"Aku hanya tidak ingin orang lain mengalami apa yang baru saja kualami."
Lyra tersenyum bangga.
"Karena itulah pohon memilihmu."
Tiba-tiba salah satu benang emas yang tergantung di pohon putus.
Ting!
Suara nyaring menggema.
Lalu satu lagi.
Ting!
Kemudian puluhan benang lainnya ikut terputus.
Wajah Lyra langsung pucat.
"Mustahil."
Naomi ikut panik.
"Apa yang terjadi?"
"Ini pertanda buruk."
"Seberapa buruk?"
Lyra memandang langit yang kini dipenuhi retakan cahaya hitam.
"Gerbang antara dunia manusia dan Alam Kekosongan telah mulai terbuka."
Naomi mengikuti arah pandangan Lyra.
Di balik awan, sebuah mata raksasa berwarna merah perlahan terbuka, mengawasi seluruh dunia dari kejauhan.
Tanpa berkedip.
Tanpa suara. Namun, kehadirannya saja membuat seluruh benang di Pohon Takdir bergetar hebat, dan untuk pertama kalinya, Naomi menyadari bahwa pertarungan melawan monster batu tadi hanyalah awal dari ancaman yang jauh lebih besar.