Pagi di SMP Nusa Bangsa selalu dimulai dengan dua hal: suara toa Pak Seno yang melengking mengabsen sampah plastik, dan kegaduhan luar biasa di depan papan pengumuman kelas 8.
Keyra memeluk tas punggungnya erat-erat, berjuang menembus kerumunan siswa yang saling sikut. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Hari ini adalah hari penentuan denah tempat duduk semester baru, sebuah momen hidup dan mati yang lebih mendebarkan daripada pembagian hasil ulangan harian Matematika.
"Biar kuacak-acak ini dunia kalau sampai aku duduk di barisan depan!" gumam Keyra prihatin, memejamkan mata sejenak sambil berdoa dalam hati. “Tuhan, tolong jauhkan Keyra dari meja guru, dan jauhkan Keyra dari ....”
"Awas, Putri Futsal mau lewat! Jangan sampai kena tendang!"
Suara cempreng yang sangat familiar itu memotong doa batin Keyra. Tanpa perlu menoleh, Keyra sudah tahu siapa pelakunya. Raihan. Cowok bertubuh jangkung dengan rambut ikal yang selalu berantakan itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, menyeringai lebar hingga deretan giginya terlihat jelas.
Keyra memutar bola matanya malas. "Bisa tidak, sehari saja kamu tidak mengganggu kehidupanku yang tenang ini, Raihan?"
"Tidak bisa," jawab Raihan cepat, menggelengkan kepala dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Itu sudah masuk dalam daftar cita-citaku sejak TK."
"Dasar tidak ada pekerjaan!"
"Ada, kok. Pekerjaanku sekarang adalah berdoa supaya kita sekelompok lagi," bisik Raihan tepat di samping telinga Keyra, lalu tertawa renyah sebelum menerobos kerumunan menuju barisan depan.
Keyra mengelus dadanya, mencoba menahan napas agar tidak meledak di tempat. Ia menghentakkan kaki, ikut berdesakan hingga akhirnya berhasil mencapai barisan paling depan papan pengumuman. Matanya menyapu deretan kertas putih berbingkai garis hitam itu dengan teliti.
Delapan B. Baris tiga. Meja nomor empat.
Keyra mendesah lega. Posisi aman. Barisan tengah, dekat jendela, jauh dari jangkauan pandangan Pak Seno yang suka melempar kapur jika ada siswa yang mengantuk. Namun, kelegaannya hanya bertahan tepat tiga detik. Saat matanya bergeser ke kolom nama di sebelah kanannya, jantung Keyra rasanya melompat keluar dari dada.
"TIDAAAK!"
Jeritan melengking Keyra membuat beberapa anak di sekitarnya menoleh kaget. Di lembar kertas itu, tertulis nama dengan tinta hitam yang sangat jelas: Raihan Pratama.
"Kenapa? Kamu kaget ya, karena doa kita dikabulkan?" Raihan muncul lagi entah dari mana, menyandarkan siku di bahu Keyra yang langsung ditepis kasar oleh gadis itu.
"Ini pasti ada konspirasi!" Keyra menunjuk kertas pengumuman dengan jari gemetar. "Kamu menyogok Wali Kelas, ya? Mengaku!"
Raihan menepuk dadanya penuh kebanggaan. "Sembarangan. Ini dinamakan takdir manis, Keyra. Lagipula, siapa lagi yang mau menampung cowok sepintar aku kalau bukan kamu?" "Pintar dari mana? Nilai IPA-mu saja kemarin kalah tinggi dari nilai kaus kaki futsalku!" tembak Keyra pedas.
"Kan nilaimu yang mengajari aku," balas Raihan santai sambil mengerdipkan satu matanya. "Berarti guru dan murid memang tidak boleh dipisahkan."
Keyra menepuk jidatnya sendiri. Dunianya terasa runtuh seketika. Duduk di sebelah Raihan selama satu semester sama saja dengan mendaftarkan diri ke pusat latihan kesabaran tingkat tinggi.
Suasana kelas 8B sibuk bagai pasar kaget. Suara gesekan kaki meja dan kursi berdecit memekakkan telinga. Keyra menyeret kursinya dengan wajah cemberut, meletakkan tas beruang pink miliknya tepat di garis tengah meja kayu tempat mereka dipaksa berbagi territory.
"Ingat, ya," ujar Keyra tegas, menunjuk garis imajiner di tengah meja kayu berkulit kusam itu. "Ini garis batas suci. Tasmu, sikumu, pensilmu, atau bahkan sehelai rambutmu tidak boleh melewati garis ini. Kalau lewat, kubuang ke tong sampah!"
Raihan yang baru saja melemparkan tasnya ke atas meja hanya menatap batas itu sambil tersenyum misterius. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah spidol permanen berwarna hitam.
"Mau apa kamu?" tanya Keyra curiga, memasang kuda-kuda siaga.
Tangan Raihan bergerak cepat. Tanpa ragu, ia menarik garis lurus tepat di bekas goresan meja, membagi dua area belajar mereka secara resmi. Sret!
"Nah, sekarang sudah resmi," kata Raihan puas sambil meniup tinta spidol yang masih basah. "Yang melanggar batas wajib bayar denda seribu rupiah per centimeter."
Keyra melotot. "Lho, kok kamu yang buat aturan?!"
"Loh, kan aku yang punya spidolnya," sahut Raihan jenaka, memutar-mutar spidol itu di antara jarinya.
"Kamu ini benar-benar—"
"Selamat pagi, Anak-anak!"
Kalimat Keyra terputus seketika saat Pak Seno melangkah masuk ke dalam kelas membawa tumpukan buku tebal yang sanggup membuat pingsan seketika. Seluruh siswa langsung berhamburan duduk di tempatnya masing-masing. Keyra terpaksa menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan emosinya yang sudah di ambang batas.
"Pagi, Pak!" seru anak-anak serentak.
"Hari pertama semester baru, Bapak tidak mau banyak bicara," kata Pak Seno tegas sambil meletakkan tumpukan buku di atas meja guru dengan suara gemuruh yang keras.
Brak!
Keyra menelan ludah. Perasaanku tidak enak.
"Buka buku paket Matematika halaman lima. Kerjakan soal latihan satu sampai dua puluh secara berpasangan dengan teman sebangku kalian. Kumpulkan sebelum bel istirahat!" lanjut Pak Seno tanpa belas kasihan.
Gelombang keluhan langsung bergema di seluruh ruangan. Keyra menoleh pelan ke arah sampingnya. Di sana, Raihan sedang menatapnya dengan tatapan paling jahil yang pernah ada di dunia, lengkap dengan senyuman lebar yang memamerkan lesung pipitnya.
"Halo, Partner," sapa Raihan manis, memajukan kursinya sedikit melampaui batas garis spidol hitam. "Mari kita bekerja sama demi masa depan yang cerah."
Keyra membenamkan wajahnya ke atas meja kayu yang dingin. Tuhan, kalau ini mimpi, tolong bangunkan Keyra sekarang juga, tapi kalau ini nyata tolong beri Keyra kekuatan untuk tidak melempar Raihan pakai sepatu futsal!
***
Suara derit kipas angin di langit-langit kelas 8B terdengar seperti rintihan kepasrahan, seirama dengan detak jarum jam yang bergerak lambat. Di meja nomor empat, suasana justru memanas. Pertempuran sengit antara rumus aljabar dan akal sehat sedang berlangsung tanpa kompromi.
"Raihan, bisa tidak sikutmu mundur dua milimeter?" bisik Keyra penuh penekanan. Matanya melotot tajam, mengawasi siku Raihan yang secara ilegal menginvasi wilayah mejanya.