


oleh Dee_K · 103 Bab
Pesta kelulusan yang harusnya menjadi momen bahagia oleh semua siswa, justru menjadi petaka terbesar dalam hidup Maria Anastasia. Gadis yang akrab disapa Maria itu harus menjadi korban keganasan Mario, guru olahraganya. Setelah kejadian itu, Maria dinyatakan hamil. Hidupnya yang semula tenang, kini berubah drastis setelah ada benih mantan gurunya dalam kandungannya.
“Kamu jadi ikut datang ke pesta ‘kan malam ini? Sayang loh, ini momen terakhir kita dengan teman putih abu-abu.”
Maria memandangi ponselnya. Membaca pesan dari Celine, salah satu teman baiknya.
Sebelumnya Maria memang sudah berjanji akan datang ke pesta perpisahan yang diadakan seluruh siswa kelas tiga sebagai momen terakhir mereka bertemu setelah lulus.
Pesta itu diadakan di salah satu ballroom hotel berbintang. Mengingat sekolah tempat Maria mencari ilmu termasuk sekolah bagi kalangan menengah ke atas.
Namun, saat ini Maria sedang duduk di samping brankar papanya. Siang tadi Pak Angga mendapat insiden kecelakaan kecil di kantor tempatnya bekerja. Kondisinya cukup parah sehingga perlu dirawat inap.
Maria bingung, pergi ke pesta itu atau tidak. Sementara mamanya masih di rumah karena Denis, adik Maria sedang demam.
“Ria, katanya kamu mau pergi ke pesta?” Pak Angga yang baru bangun, melihat putri sulungnya sedang duduk di samping brankarnya.
“Papa sudah bangun? Bagaimana keadaan Papa? Apa ada yang Papa keluhkan? Biar aku panggilkan dokter,” ucap Maria tidak menjawab pertanyaan papanya.
“Sudah baik. Masih terasa sedikit nyeri di bagian pinggang,” jawab pria itu.
Pak Angga tadi terjatuh dari tangga yang licin saat membawa tumpukan berkas penting yang akan dibawa ke ruangan kerjanya. Memang ada lift. Namun, tangga itu memang tersedia untuk menuju ke sebuah gudang.
“Aku panggilkan dokter ya, Pa?”
“Tidak usah. Nanti pasti perawat juga ke sini untuk memeriksa keadaan Papa. Kamu berangkat sana ke pesta! Ini momen terakhir kamu bertemu dengan teman-teman kamu juga.”
“Lalu Papa di sini sama siapa? Denis sedang sakit, Mama tidak bisa menjaga Papa.”
“Biar Om Angga aku temani,” sahut seseorang yang baru saja masuk ke ruang perawatan Pak Angga.
“Nah, itu ada Nando.” Pak Angga ikut menyahut.
“Baiklah. Kalau begitu titip Papa ya, Mas?” ucap Maria pada Nando, sepupu jauhnya dari pihak Pak Angga.
Setelah itu Maria pulang. Ia juga membalas pesan Celine kalau akan datang ke pesta itu. sesampainya di rumah, mama Maria bertanya kenapa pulang.
“Papa yang memintaku untuk pergi ke pesta, Ma. Ada Mas Nando tadi yang bersedia jagain Papa,” jawab Maria sambil menunduk. Merasa tidak enak dengan mamanya sendiri.
“Ya sudah, kalau selesai pestanya, kamu langsung pergi ke rumah sakit saja. Mama sebenarnya yang mau jaga, tapi demam adikmu nggak turun-turun,”
“Apa perlu dibawa ke klinik, Ma? tanya Maria sambil masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
“Tidak usah. Mama sudah beri obat barusan. Semoga setelah ini demamnya turun. Kamu hati-hati nanti berangkatnya, Ria! Naik taksi atau dijemput temanmu?” tanya Fety. Karena hanya ada satu mobil, tetapi Maria belum bisa mengendarainya.
“Naik taksi saja, Ma. Aku sudah janji sama Celine bertemu di sana.”
Fety tidak mengajak Maria bicara lagi. Wanita itu masuk ke kamar putra bungsunya yang masih terlelap. Setelah itu mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.
Pasangan suami istri itu sejak dulu sangat harmonis. Dengan dikaruniai dua anak yang cukup menurut pada orang tuanya, membuat Angga dan Fety sangat bersyukur.
Kedua orang tua Maria bukanlah crazy rich. Meskipun demikian, mereka hidup berkecukupan.
Angga bekerja sebagai staff marketing dari sebuah perusahaan. Sedangkan Fety hanya sebagai ibu rumah tangga yang mengatur dan mengelola keuangan.
Kediaman orang tua Maria tidak terlalu besar. Hanya satu lantai yang cukup membuat yang tinggal di sana nyaman.
Kini Maria sudah siap pergi ke pesta. Ia berpamitan pada mamanya sebelum pergi. Pakaian yang dikenakan Maria terbilang sopan dan tertutup. Karena sejak dulu, jika berpenampilan, Maria tidak suka menunjukkan lekuk tubuhnya.
Taksi online yang dia pesan sudah menunggu di depan siap mengantarnya pergi. Maria mengirim pesan pada Celine kalau sudah dalam perjalanan.
Usai taksi itu berhenti di depan hotel, Maria bergegas masuk. Beberapa temannya juga ada yang baru datang. Juga para dewan guru yang turut diundang.
Karena itu konsepnya pesta perpisahan, jadi semua guru ikut hadir dan memberikan ucapan perpisahan pada murid mereka yang setelah ini akan meniti pendidikan yang lebih tinggi.
Maria mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari Celine. Katanya tadi Celine juga sedang dalam perjalanan. Hingga tiba-tiba Maria bertemu dengan salah satu gurunya yang akan masuk juga.
“Selamat malam, Pak!” sapa Maria dengan sopan.
Pak Mario, guru olahraga yang terkenal mahal nilai juga mahal senyum itu hanya mengangguk samar, tanpa menjawab sapaan Maria. Hal itu cukup lumrah bagi semua siswa SMA Harapan Bangsa.
Namun, sayangnya tak sedikit siswa perempuan yang sangat senang dengan Pak Mario.
Karena pria itu memiliki daya tarik tersendiri di mata kaum hawa. Postur tubuh yang tinggi, tegap, badan berisi, dan wajah yang tampan dengan tatapan tajam.
Maria memilih berhenti sebentar sebelum memasuki ballroom. Sedangkan Pak Mario sudah masuk lebih dulu.
Tak berselang lama, Maria menoleh ke belakang saat mendengar suara Celine memanggilnya.
“Sorry, tadi macet parah di jalan. Yuk kita masuk!” ajak Celine.
“Bagaimana keadaan papamu, Mar?” tanya Celine setelah keduanya sudah masuk ke ballroom.
“Sudah mendingan,” jawab Maria.
Suasana di dalam ballroom tampak ramai. Maria dan Celine bergabung dengan temannya yang lain.
Kebanyakan para siswa perempuan kini sedang berbisik-bisik membicarakan guru mereka yang malam ini penampilannya sangat jauh berbeda.
Siapa lagi yang mereka bicarakan kalau bukan Pak Mario.
“Memang benar, Pak Mario malam ini sangat tampan. Kira-kira siapa ya wanita yang beruntung menjadi istrinya?” Celine ikut memuji.
“Bukan urusan kita. Lagian Pak Mario sudah berumur, jelas wanita dewasa seusianyalah yang akan menjadi istrinya,” sahut Maria yang tidak tertarik dengan obrolan mengenai guru olahraganya itu.
Pesta itu berlangsung sangat meriah. Beberapa siswa rebutan meminta foto bersama bersama guru mereka.
Ada yang meminta foto berdua saja sebagai kenang-kenangan jika nanti sudah memasuki masa kuliah. Ada pula yang meminta foto satu kelas bersama wali kelasnya.
Namun, Pak Mario menolak diajak foto. Pria itu sepertinya anti dengan kamera. Jadi, siswa perempuan cukup kecewa dengan penolakan si guru olahraga itu.
Di tempat paling sudut tampak tiga orang siswi. Salah satu dari mereka baru saja datang membawa sesuatu yang sengaja disembunyikan.
“Apa kamu yakin akan berhasil?” tanya salah seorang siswi yang malam ini memakai baju terbuka.
“Tenang saja. Aku sudah atur semuanya. Kamu keluarlah dari sini dan menuju salah satu kamar di ujung lorong yang dekat dengan kamar mandi. Aku sudah siapkan semuanya. Karena aku yakin, setelah Pak Mario minum minuman itu, kamar mandilah yang akan ditujunya,” jawabnya.
“Ok. Tidak sia-sia aku memiliki teman baik seperti kalian berdua. Aku keluar dulu. Aku sudah tak sabar menantikan Pak Mario menjadi milikku.”

Dee_K
6 Pengikut · 1 Novel