Kara berdiri di depan sebuah toko buku bekas yang tersembunyi di ujung gang sempit. Plang kayunya sudah memudar dimakan usia, sementara kaca etalasenya dipenuhi debu tipis yang membuat deretan buku di baliknya tampak seperti bayangan dari masa lalu. Matahari sore memantulkan cahaya ke kaca itu, tetapi yang dipantulkan bukan wajah Kara. Yang terlihat hanyalah tumpukan buku yang seolah memanggilnya masuk.
Ia menarik napas panjang.
Dompet di dalam tasnya hanya berisi beberapa lembar uang yang sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar cicilan kartu kredit esok pagi. Tangannya gemetar.
"Jangan masuk," gumamnya pelan kepada diri sendiri.
Kalimat itu sudah berulang kali ia ucapkan, dan selalu gagal.
Beberapa detik kemudian bel pintu toko berbunyi pelan.
Ting.
Kara masuk.
Aroma khas kertas tua langsung memenuhi paru-parunya. Bau itu selalu memberinya rasa tenang yang tidak pernah bisa ia temukan di tempat lain.
Rak-rak kayu menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit. Buku memenuhi setiap sudut ruangan, dari novel klasik, ensiklopedia tua, hingga manuskrip yang bahkan sampulnya hampir terlepas.
Seorang pria tua yang menjaga kasir mengangkat kepala.
"Kau datang lagi."
Kara tersenyum kikuk. "Pak Jatmiko."
Pria tua itu melepas kacamatanya. "Aku kira kau sedang menghemat uang."
"Aku memang sedang menghemat."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin melihat-lihat."
Pak Jatmiko terkekeh pelan.
"Sudah lima tahun aku mengenalmu. Setiap kali mengatakan hanya ingin melihat-lihat, kau selalu pulang membawa buku."
Kara tertawa kecil. "Benarkah separah itu?"
"Lebih parah."
Jawaban itu membuat senyum Kara perlahan menghilang, karena ia tahu bahwa Pak Jatmiko tidak sedang bercanda.
Satu jam berlalu.
Kara duduk di lantai kayu di antara dua rak besar sambil membaca halaman pertama sebuah novel terbitan lama.
Matanya berbinar. Jari-jarinya mengusap perlahan tekstur halaman yang mulai menguning.
Baginya, setiap buku memiliki jiwa.
Ada yang menyimpan kesedihan.
Ada yang menyimpan harapan.
Ada pula yang terasa seolah masih hidup meski penulisnya telah lama meninggal.
"Kau benar-benar tidak berubah."
Suara Pak Jatmiko membuat Kara menoleh.
Pria tua itu membawa secangkir teh hangat.
"Minumlah."
"Terima kasih."
Pak Jatmiko duduk di kursi kayu.
"Kau sudah membeli berapa buku bulan ini?"
Kara diam.
Pak Jatmiko menghela napas.
"Sepuluh?"
Kara masih diam.
"Dua puluh?"
"Tiga puluh dua."
Pak Jatmiko memijat pelipis.
"Kau serius?"
Kara menunduk.
"Aku tidak bisa menahannya."
"Apa semua sudah selesai dibaca?"
"Belum."
"Lalu mengapa membeli lagi?"
Kara memandang rak-rak di sekelilingnya.
Tatapannya kosong.
"Aku takut kehilangan kesempatan."
"Maksudmu?"
"Kalau buku itu dibeli orang lain, aku tidak akan pernah memilikinya."
Pak Jatmiko terdiam cukup lama.
"Itu bukan cinta membaca."
Kara mengangkat kepala.
"Itu ketakutan."
Kalimat itu menancap dalam hati Kara. Namun, ia tidak mampu membantahnya.
Sore berubah menjadi malam.
Kara akhirnya berjalan menuju meja kasir.
Di tangannya terdapat enam buku.
Pak Jatmiko bahkan tidak perlu menghitung.
"Kartu kredit lagi?"
Kara mengangguk pelan.
"Limitmu masih ada?"
"Sedikit."
"Utangmu sudah banyak."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Aku tidak bisa meninggalkan mereka."
"Mereka?"
"Buku-buku ini."
Pak Jatmiko memandang wajah Kara dengan prihatin.
"Kara."
"Ya?"
"Pernahkah kau merasa buku mulai memiliki dirimu, bukan sebaliknya?"
Pertanyaan itu membuat Kara membeku.
Ia ingin menjawab tidak. Namun, bibirnya tidak bergerak.
Karena jauh di dalam dirinya ia mulai percaya bahwa pertanyaan itu benar.
Malam semakin larut.
Apartemen kecil yang dihuni Kara hampir tidak menyisakan ruang kosong.
Buku memenuhi rak.
Buku memenuhi meja.
Buku memenuhi lantai.
Bahkan lorong menuju dapur hanya cukup dilewati satu orang.
Ia meletakkan belanjaannya dengan hati-hati.
Wajahnya tampak bahagia. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul membuat dadanya sesak.
"Ibu."
Beberapa detik ia hanya menatap layar.
Akhirnya panggilan itu diangkat.
"Halo, Bu."
"Kara."
Suara ibunya terdengar lembut.
"Kapan pulang?"
"Mungkin minggu depan."
"Ibu dengar kau belum membayar cicilan lagi."
Kara memejamkan mata.
"Masih diurus."
"Jangan bohong."
Ia terdiam.
"Kakakmu menelepon Ibu."
Jantung Kara berdegup lebih cepat.
"Ia bilang kau kembali membeli buku."
Kara menggigit bibir.
"Itu ...."
"Kara."
Suara ibunya berubah pelan.
"Ibu tidak marah."
"Aku tahu."
"Ibu hanya takut."
"Tidak apa-apa."
"Bukan. Justru ada apa-apa."
Kara menelan ludah.
"Kau berubah."
Air mata mulai menggenang.
"Dulu kau membaca buku karena ingin mengenal dunia."
Suara ibunya bergetar.
"Sekarang kau membeli buku agar tidak merasa kehilangan."
Kara tidak sanggup menjawab.
Keheningan memenuhi sambungan telepon.
Akhirnya ibunya berkata lirih,
"Jangan sampai buku menjadi penjara."
Panggilan terputus.
Kara masih memegang telepon beberapa menit.
Apartemen mendadak terasa sempit.
Tumpukan buku di sekelilingnya seperti sedang mengawasi.
Ia menggeleng.
"Tidak."
Semua itu hanya perasaannya.
Keesokan paginya, suara ketukan keras membangunkannya.
Tok. Tok. Tok.
Kara membuka pintu.
Seorang kurir berdiri sambil membawa dua kotak besar.
"Atas nama Kara Adiprana?"
"Iya."
"Tolong tanda tangan."
Kara mengernyit.
"Aku tidak merasa memesan apa pun."
Kurir menunjukkan nomor pesanan.
Matanya membelalak.
Ia memang memesannya.
Dua minggu lalu.
Ia benar-benar lupa.
Kotak itu dibawa masuk.
Begitu dibuka puluhan buku baru tersusun rapi di dalamnya.
Kara terduduk lemas.
"Aku bahkan lupa pernah membeli kalian."
Ia tertawa kecil. Namun, tawanya berubah menjadi tangis.
Air mata jatuh tanpa suara.
Ia menatap seluruh apartemen.
Tidak ada lagi tempat menyimpan buku.
Tidak ada ruang berjalan.
Tidak ada ruang bernapas. Namun, ketika satu buku diambil dan dibuka tangisnya berhenti.
Aroma kertas baru memenuhi udara.
Perlahan bibirnya kembali tersenyum.
"Sebentar saja."
Ia duduk.
"Membaca satu bab saja."
Satu bab berubah menjadi lima.
Lima berubah menjadi dua belas.
Ketika ia akhirnya mengangkat kepala, langit di luar jendela sudah kembali gelap.
Ponselnya dipenuhi belasan panggilan tak terjawab dari bank.
Di antara semua notifikasi itu, satu surat elektronik menarik perhatiannya.
Undangan Eksklusif untuk Mengunjungi Perpustakaan Kolektor Pribadi Milik Almarhum Adrian Wiratama.
Kara mengernyit.
Nama itu tidak asing.
Adrian Wiratama adalah kolektor buku legendaris yang konon memiliki ribuan naskah langka yang tidak pernah dipublikasikan.
Undangan itu hanya diberikan kepada satu orang.
Namanya tercantum jelas.
Kara Adiprana.
Ia membacanya berulang kali.
Dadanya dipenuhi rasa penasaran.
Tanpa disadari, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia belum tahu bahwa menerima undangan itu akan menjadi keputusan yang mengubah seluruh hidupnya, dan jauh di sebuah bangunan tua yang selama puluhan tahun terkunci rapat, sebuah buku bersampul hitam tergeletak di atas meja kayu.
Halamannya terbuka sendiri.
Seolah sedang menunggu seseorang datang untuk membacanya.