


oleh Park Nurmin · 16 Bab
Suaminya ditabrak hingga meninggal dunia, tetapi Nadzira malah dimintai tanggung jawab dengan menikahi pria yang menabrak suaminya. Dengan alasan, katanya ia harus bertanggung jawab karena sudah membuat Alif lumpuh. Nadzira tidak tahan dengan hidup yang penuh tekanan. Bolehkah ia menyerah? Selengkapnya, only on Bolehkah, Aku Menyerah. follow my IG @shineedandelion_
"Kamu masuk duluan, aku beli jajanan dulu untuk Dinda. Biar nanti di dalam dia enggak berisik."
Zira menjawab sambil tersenyum. "Ya sudah, aku daftar sekalian aja deh ya, Mas. Biar gak kejauhan nomornya."
Ekspresi Malik sejenak berubah, ia mengernyit bingung. Zira lantas menepuk jidatnya sambil tersenyum, seolah lupa sejenak jika alat bantu pendengaran suaminya sedang bermasalah.
Dengan perlahan, Zira mengganti kata-kata lisan dengan bahasa isyarat yang begitu familiar di antara mereka. Gerakan tangannya yang halus menyampaikan maksudnya. "Aku ... daftar sekalian. Biar ... gak ... kejauhan nomornya."
Malik membalas dengan senyuman sambil mengarahkan kedua jempolnya. Kemudian tangannya kembali bergerak mengatakan bahasa isyarat. "Kamu ... mau ... titip sesuatu?"
Zira menggeleng pelan.
"Ya sudah, aku jalan dulu. Tidak lama kok."
Sebelum berpisah, Zira menutup percakapan mereka dengan berkata, "Hati ... hati," Yang diungkapkan melalui gerakan tangan yang lembut.
Malik pun mengangguk. "Masuk, Sayang."
Dengan satu anggukan, Zira berbalik, meninggalkan sejenak keramaian di luar klinik kandungan. Namun, sebelum memasuki klinik tersebut, ia menoleh sejenak, pandangannya tertuju pada motor Malik yang masih berada di depan pagar klinik.
Dalam keheningan yang menyelubungi hati, Zira merenung. Katanya, ujian terberat dalam sebuah rumah tangga itu terjadi di 5 tahun pertama pernikahan. Namun, di rumah tangga mereka, cobaan itu tak pernah menyisakan retak.
Hidup Zira terasa seperti untaian doa yang dikabulkan tanpa jeda. Hampir 6 tahun ia menjalani rumah tangga dengan Malik, dan selama itu pula kebahagiaan selalu menyertainya. Tak pernah ada pertengkaran besar, tak ada godaan orang ketiga, tak ada campur tangan mertua yang merusak, dan yang terpenting, tak ada masalah ekonomi yang membuatnya lelah menjalani hidup.
Malik, seorang buruh pabrik dengan gaji sekitar 4,8 juta rupiah per bulan, memang bukan pria bergelimang harta, tetapi ia adalah suami yang penuh tanggung jawab.
Sementara itu, Zira menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Ia mengurus rumah, mendidik anak mereka yang baru saja menginjak usia lima tahun, dan kini tengah menantikan kelahiran anak kedua. Baginya, kehidupan seperti ini sudah lebih dari cukup.
Ia malah bersyukur dinikahi oleh Malik karena akhirnya ia mendapatkan keluarga yang luar biasa. Mertuanya bukan tipikal yang ikut campur urusan rumah tangga anaknya, justru memperlakukannya layaknya anak sendiri.
Bahkan, ibu mertuanya pernah berkata dengan lembut, “Kamu memperlakukan ibu dengan baik. Malik juga setelah menikah sama sekali tidak berubah dan masih sama seperti sebelum dia menikah. Hanya bedanya, kalau dulu Malik yang sering kasih ibu jatah jajan, sekarang kamu. Jadi tidak ada alasan untuk ibu tidak suka sama kamu. Ibu akan memperlakukan kamu sama seperti ibu memperlakukan Malik.”
Zira tersenyum mendengarnya.
Ibu mertuanya lantas melanjutkan kata, “Lagipula, ibu juga punya anak perempuan yang suatu saat nanti pasti akan menikah. Bagaimana kalau nanti Kayla diperlakukan buruk oleh ibu mertuanya? Ibu percaya dengan yang namanya tabur tuai. Ibu takut, kalau ibu jahat sama kamu, nanti Kayla dijahati oleh ibu mertuanya. Dan lagi, ibu juga dulu pernah jadi seorang menantu, jadi tahu bagaimana rasanya kalau tidak diperlakukan baik oleh ibu mertua.”
Ucapan itu begitu membekas di hati Zira. Ia merasa diterima, dicintai, dan dihargai. Setelah bertahun-tahun hidup tanpa kasih sayang orang tua yang telah berpulang, ia akhirnya menemukan kehangatan sebuah keluarga. Ibu mertuanya bukan hanya seorang mertua, tetapi juga sosok ibu yang selama ini ia rindukan.
Namun, di balik kebahagiaan yang ia rasakan, ada satu pertanyaan yang terkadang terlintas di benaknya.
Apakah semua ini adalah istidraj?
Bukankah katanya, semakin kita berusaha memperbaiki diri, berusaha menjadi yang terbaik, maka ujiannya akan semakin besar dan tinggi? Tapi mengapa ia tidak pernah diuji dengan sesuatu yang benar-benar menguras air matanya? Mengapa ia tidak pernah diuji sampai melebihi batas kesabarannya?
Ini bukan istidraj, kan? Ia shalat lima waktu tepat waktu, mengaji setiap malam, bersedekah, berzakat, bahkan tak jarang melakukan amalan sunnah. Jika memang ujian itu akan datang seiring dengan tingkat keimanan, mengapa ia merasa kehidupannya begitu sempurna?
Tak pernah ada air mata.
Tak pernah ada duka.
Bahkan, suaminya? MasyaAllah, dia begitu baik dan penuh kasih. Zira pernah diam-diam memeriksa ponsel suaminya, bukan karena curiga, melainkan karena ingin menghapus rasa penasaran dalam hatinya.
Namun, ia tak menemukan satu pun hal mencurigakan. Tidak ada chat yang mencurigakan, tidak ada nama asing yang perlu diwaspadai. Justru, di salah satu percakapan dengan seorang rekan wanita di tempat kerjanya, Malik menyanjungnya dengan penuh kebanggaan.
"Istriku luar biasa. Aku bersyukur memilikinya."
Hatinya menghangat setiap kali mengingat kalimat itu. Tak ada yang lebih menenangkan daripada mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya wanita yang ada di hati suaminya.
Hidupnya begitu bahagia.
Tetapi tiba-tiba ….
Brak!
Suara dentuman keras menggelegar dari arah pintu depan.
Senyum yang tadi mengembang di bibir Zira seketika memudar. Matanya yang beberapa detik lalu terlihat bak bulan sabit yang indah dipandang, perlahan membulat sempurna seperti bulan purnama di malam yang gelap.
Dadanya berdebar. Napasnya tercekat.
Zira menahan napas. Seketika, dunia yang selama ini begitu indah terasa seperti hendak runtuh di hadapannya.
Dengan jelas ia melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam motor di mana suami dan putrinya duduk hingga keduanya terlempar.
Tubuhnya dengan seketika lemas tidak bertenaga, tetapi ia menguatkan diri untuk melangkah cepat. "M–Maaass?"
Zira yang sudah lemas itu kini semakin lemas saat melihat motor milik suaminya yang terlihat hampir tak berbentuk. Ia berjalan cepat menghampiri suaminya yang tergeletak di atas aspal.
"M–Mas ... hiks hiks hiks ...."
Tubuh suaminya terlihat tidak bertenaga, cairan merah terlihat mengalir di aspal. Kepala dan telinga Malik mengeluarkan darah. Tubuhnya terlihat tak berdaya. Matanya terlihat menatapnya lurus. Bibirnya perlahan tersenyum, seolah mengatakan, "Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir."
"Ya Allah ...." Tangan Zira bergetar saat meraih telapak tangan suaminya. Air mata sudah membasahi pipi.
"I–Ibuu ...."
Suara lirih itu menusuk telinga Zira, membuat tubuhnya bergetar hebat. Pandangannya segera beralih, menatap sosok kecil yang tergeletak di aspal.
"Dinda ...."
Suara Zira serak juga gemetar. Putrinya yang baru saja merayakan ulang tahun yang ke-lima itu kini terkulai lemah. Wajah polosnya pucat, napasnya tersengal. Tangan dan kakinya penuh lecet, memerah, tergores aspal kasar. Tidak ada darah di kepalanya, tapi matanya mulai meredup, kelopak itu perlahan turun, seakan tak sanggup lagi terbuka.
Zira merangkak, mendekap tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. "Bangun, Nak. Dinda ... Sayang? Lihat Ibu." Suaranya pecah, tangannya mengguncang lembut bahu mungil itu. Tapi Dinda hanya mengerjap samar, bibirnya bergerak tanpa suara.
Tangis Zira pecah. Dadanya sesak. Seolah-olah jantungnya diremas, direnggut paksa. Hati ibu mana yang tak hancur melihat anaknya seperti ini? Anak yang ia lahirkan dengan taruhan nyawa, kini tergeletak tak berdaya, penuh luka, di tengah kerumunan orang asing.
Beberapa orang mulai mengerumuni mereka. Seorang pria buru-buru menghubungi polisi dan ambulans. Tapi yang lainnya? Mereka hanya berdiri, menonton. Bahkan beberapa dengan berani mengangkat ponsel, merekam tragedi ini seolah tontonan belaka.
Di sisi lain, seseorang berusaha membuka paksa pintu mobil yang ringsek. Mobil sedan silver yang tadi menabrak motor Malik, kini hancur di trotoar, menghantam pagar beton. Asap mengepul dari kap mesinnya. Seorang pria terjebak di dalam, duduk di kursi pengemudi dengan tubuh terjepit dashboard.
Setelah perjuangan beberapa orang, pintu berhasil dibuka. Tubuh pria itu ditarik keluar dengan susah payah. Usianya sekitar tiga puluhan. Wajahnya berlumuran darah, napasnya tersengal. Tapi belum sempat ada yang berbicara, satu suara lain datang.
Boom!
Duaarr!

Park Nurmin
3 Pengikut · 1 Novel