


oleh Aulia Hazuki · 35 Bab
Yumna selalu disetir oleh keluarganya tentang kehidupannya selama ini sampai dia akhirnya muak dan mau mengikuti keinginan keluarganya asal mereka memenuhi empat syaratnya. Boleh travelling, punya hewan peliharaan, melukis sepuasnya, dan punya pacar! Bagaimana kelanjutan kisah Yumna selanjutnya?
“Gimana sih kalian baca gmap-nya?” keluh seorang cowok kurus manis berkacamata, bertubuh cukup tinggi.
“Cewek kan nggak bisa baca gmap!” balas seorang cewek bertubuh pendek dengan rambut dikuncir. Wajahnya yang manis cemberut. Dia duduk di samping cowok itu.
“Sana tanya orang aja,” saran seorang cewek cantik yang malah memejamkan matanya. Dengan santai dia merebahkan kepalanya ke belakang.
“Mbok yang logis, Gi, ini jam berapa! Ke siniin HP-nya, Na,” pinta si cowok. Cewek di sebelahnya memberikan ponselnya.
“Jangan-jangan kita bukan nyasar, tapi disasarin,” katanya lirih. Tiba-tiba dia merasa merinding. Entah dari mana pikiran itu muncul, mungkin gara-gara dia terlalu parno dan khawatir karena mereka tidak juga sampai ke tujuan.
Pemandangan di luar sudah sangat gelap. Mereka sedang berada di kawasan yang seperti negeri antah berantah dengan jalanan yang sangat gelap dan sekeliling mereka hanya berupa hutan. Sejak sejam tadi, hanya pemandangan itu saja yang mereka lihat sampai-sampai cewek itu merasa sangat senewen. Cahaya hanya berasal dari lampu mobil, sementara langit benar-benar gelap tanpa bintang dan bulan. Dia melihat jam, sudah jam 10 malam. Dia terlihat sangat gelisah.
“Udah jam segini, kan aneh kalo kita tetep di situ-situ mulu, pasti makanya ada apa-apanya,” katanya.
“Nggak usah aneh-aneh, Na. Doa, malah mikir yang enggak-enggak,” balas si cowok sambil terus menyetir. Sesekali dia melihat ke arah ponsel.
“Yumna, udahlah. Selama Farren yakin, kita aman,” tambah si cewek yang duduk di kursi belakang. Dalam situasi seperti ini dia masih saja terlihat santai. Farren, yang masih fokus menyetir, mendengkus.
“Lha, kan katanya sini emang daerahnya mistis! Banyak orang yang katanya disasarin di sini,” lanjut Yumna. Dia berusaha keras tidak melihat ke arah jendela di sebelahnya dan di sebelah Farren.
“Yumna, kalo masih bilang gitu aku turunin di sini, lho.” Farren mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya. Dia tidak mau direcoki dengan kata-kata yang aneh-aneh karena bukannya akan membantu, malah akan membuatnya tambah senewen.
“Eeeh! Tega banget! Ya udah aku diem, ih dasar.” Yumna lalu menutup mulutnya. Dia bahkan bersedekap benar-benar tidak bergerak seperti batu.
Lama-kelamaan, suasana yang hening malah membuat Farren senewen.
“Gaes, kalian ngomong apa, kek, gitu. Jangan beneran diem gini,” katanya gelisah.
“Ogah ah,” balas Yumna, seperti balas dendam.
"Tadi katanya suruh diem," lanjutnya enteng dan tanpa merasa bersalah.
Farren langsung mendecakkan lidahnya.
"Maksudnya berhenti ngomong yang aneh-aneh, Yumna Saputri Wijaya!" katanya habis sabar.
Gia terkekeh.
"Nah loh, Farren udah nyebut nama lengkap kamu. Beneran kesal dia, Na," katanya pada Yumna.
Farren lalu sibuk dengan dirinya sendiri.
“Kayaknya kita udah bener kok, jalannya. Udah ngikutin map. Kok nggak sampai-sampai ya di hotelnya?” tanya Farren, lebih seperti ngomong dengan dirinya sendiri.
“Dibilang kita tuh disesat ....” Kata-kata Yumna tiba-tiba terhenti. Dia melihat ke arah jendela dengan mata membelalak.
Barusan, dia seperti melihat sesuatu yang aneh. Entah dia yang salah lihat, atau memang matanya yang sudah mengantuk, dia melihat sosok putih berkelebat di antara pepohonan dengan begitu cepat, dan lalu dengan tiba-tiba terbang ke atas.
Sosok itu mirip seperti ....
“Aaaa!!!” jeritnya sejadi-jadinya. Dia lalu menutup wajah.
Farren dan Gia langsung kaget. Gia, yang tadinya sudah bersiap tidur, langsung sadar dan mencondongkan tubuh ke depan.
“Apa? Kenapa? Siapa yang teriak tadi?” tanyanya keras.
Tidak ada yang menanggapinya. Farren menoleh ke Yumna.
“Na, kenapa teriak sih? Ngagetin aja!” serunya. Dia langsung merasa deg-degan dan tambah senewen karena teriakan itu yang jelas bukan teriakan biasa.
Masih menutup muka, Yumna berteriak histeris, “Cepet! Cepetin mobilnya!!!”
Farren mengernyitkan dahi.
“Lah, kenapa sih?”
“UDAH, CEPETIN AJA!” Yumna akhirnya menurunkan tangannya dan melotot ke cowok itu.
“NANTI AKU CERITAIN!” tambahnya galak.
Farren melongo.
“Ah, eh iya, ini aku cepetin.”
Tanpa basa-basi lagi dia mempercepat laju mobil. Matanya sampai siwer karena bolak-balik melihat ke arah jalan dan ponsel dengan cepat. Akhirnya, entah bagaimana awalnya, mereka bisa kembali ke jalan yang seharusnya.
Dalam hati Farren membatin apakah memang benar kata-kata Yumna bahwa mereka memang disesatkan oleh sesuatu. Tapi dia tidak mau tambah ketakutan di saat-saat begini. Jeritan dan pelototan Yumna tadi sudah lebih dari cukup untuk diterimanya malam ini.
Sambil menyetir, dia sesekali memandang ke samping, dan melihat Yumna kembali menutup mukanya dengan tangan. Badannya bergetar. Pemandangan itu membuatnya menelan ludah.
Setengah jam kemudian, Farren melihat jalan menuju hotel, dan tak lama kemudian muncul bangunan besar di depan mereka.
“Kita udah sampai! Gi, bangun! Na, lihat!” serunya girang. Tapi begitu dia menoleh ke samping, kepala Yumna terkulai di pundak.
“Yah, ketiduran dia. Na, Yumna, udah sampai. Lanjut tidur dalam, yuk.” Gia menepuk lengan Yumna.
Yumna tak bereaksi. Anehnya, kondisinya tidak kelihatan seperti dia sedang tidur.
“Na? Yumna? Oi bangun!” Gia menaikkan volume suaranya.
Ketika Yumna tak juga bangun, ekspresi wajah Gia berubah dan dia kelihatan ketakutan.
“Ren, Farren!” Dia memanggil Farren yang sedang menurunkan tas-tas dari bagasi.
“Apa?” seru Farren.
“Yumna, Ren!” balas Gia agak panik.
Mendengar nada suara Gia, Farren langsung menghampirinya. Gia menunjuk ke arah Yumna. Farren mengguncang pelan lengan Yumna.
“LAH, DIA PINGSAN, GI!”

Aulia Hazuki
32 Pengikut · 6 Novel