Ramadan 2026 datang tanpa suara yang berlebihan, tetapi Kampung Sukamaju menyambutnya dengan riuh yang khas.
Sejak pagi, langit tampak lebih cerah dari biasanya, seolah tahu bahwa hari itu bukan hari biasa. Di ujung gang, spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan 1447 H” digantung miring karena talinya kurang kencang.
Anak-anak mulai berlarian di bawahnya sambil membawa bedug kecil dari kaleng bekas.
Muhammad Fikri Ramadhan berdiri di teras rumahnya, memandangi jalan yang belum sepenuhnya ramai. Usianya baru tujuh tahun, kelas satu SD, tapi hari itu ia merasa seperti anak paling dewasa di kampung.
Ia mengenakan peci hitam yang sedikit kebesaran dan baju koko putih yang masih licin karena baru disetrika oleh ibunya.
“Fikri, jangan lari-lari. Nanti haus!” Suara teriakan ibunya terdengar dari dalam rumah.
Fikri mengangguk meski ia tahu bahwa ibunya tak bisa melihatnya. Ia memang belum merasa haus, yang ia rasakan justru campuran antara bangga dan gugup.
Tahun ini, katanya pada diri sendiri, ia akan puasa penuh. Tidak seperti tahun lalu yang hanya setengah hari saja puasanya.
Di seberang jalan, Raka Pratama Saputra sudah bersandar di pagar rumahnya dengan gaya santai. Anak kelas tiga SD itu memutar bola plastik di ujung jari telunjuknya, mencoba terlihat keren.
Di sampingnya, Lala Azzahra Putri berdiri sambil memegang kipas kecil bergambar kartun kesukaannya.
“Kamu kuat sampai magrib nggak, Fik?” tanya Raka menantang.
“Kuat!” jawab Fikri cepat, meski belum sepenuhnya yakin seperti apa rasanya menunggu magrib yang katanya sangat lama sekali.
Lala menyipitkan mata. “Jangan-jangan nanti jam dua udah minta minum lagi kamu.”
“Aku nggak akan gitu kok!” Fikri membela diri.
Raka dan Lala saling pandang, lalu tertawa kecil. Mereka sendiri sebenarnya menyimpan keraguan.
Tahun lalu, puasa mereka lebih sering berlubang daripada penuh, tapi gengsi di depan teman-teman jauh lebih besar daripada rasa lapar.
***
Menjelang sore, kampung mulai berubah suasananya. Jalanan yang sejak siang sepi perlahan dipenuhi meja-meja lipat.
Perlahan ibu-ibu menggelar dagangan, di antaranya ada kolak pisang dengan kuah santan yang mengepul, gorengan berjejer keemasan, es buah dengan potongan semangka dan melon yang menyala merah dan hijau.
Aroma manis dan gurih bercampur di udara, membuat perut siapa pun yang lewat terasa seperti diingatkan.
Di salah satu meja paling ramai, Aisyah Nurhaliza sibuk menyusun gelas plastik berisi es cincau. Kerudung kremnya tergerai rapi, tangannya cekatan. Ia membantu ibunya setiap Ramadan sejak lulus SMA tahun lalu.
Sementara itu, tak jauh dari sana, Naufal Hidayat berjalan pelan melewati deretan takjil, pura-pura melihat-lihat.
Padahal ia sudah tahu ingin membeli apa.
Sore pertama Ramadan selalu punya suasana yang berbeda. Seperti ada harapan yang disimpan dalam warna langit. Matahari perlahan turun, menyisakan semburat jingga yang memantul di atap-atap rumah.
Anak-anak mulai duduk di pinggir jalan, sebagian meniup balon, sebagian lagi memukul bedug kecil tanpa ritme.
Fikri duduk di tangga musala bersama beberapa teman seusianya. Tangannya memegang jam digital kecil hadiah ulang tahun dari ayahnya. Ia menatap angka-angka di layar dengan serius.
“Masih lama?” bisik seorang anak di sampingnya.
Fikri menggeleng pelan. “Kata Ayah, azan magrib jam enam lewat.”
Angka di jam menunjukkan pukul 17.32.
Tiba-tiba dari arah jauh terdengar suara azan. Samar, seperti terbawa angin. Fikri menegakkan punggungnya. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri.
“Itu azan, kan?” tanyanya pelan.
Beberapa anak ikut mendengar, tapi mereka merasa tak yakin. Suaranya tipis, seperti datang dari kampung sebelah.
“Belum kali,” sahut seorang anak.
Fikri merasa dadanya bergetar. Bukankah azan itu tanda magrib? Bukankah itu berarti waktunya berbuka? Ia berdiri dengan ragu-ragu.
Suara itu kembali terdengar, kali ini seperti dari arah yang berbeda.
Jantungnya semakin berdebar. Bagaimana kalau ia terlambat berbuka? Bagaimana kalau ia salah dan malah menahan terlalu lama?
Tanpa banyak berpikir, Fikri berlari ke arah rumahnya.
“Ibu! Sudah azan!” teriaknya.
Ibunya yang sedang menuang sirup menoleh kaget. “Belum, Nak. Itu dari masjid yang jauh. Tunggu azan musala kita yah.”
Fikri terdiam, tapi beberapa detik kemudian, suara azan kembali terdengar, kali ini lebih jelas. Entah dari mana suara azan itu kembali terdengar, seolah dari segala arah.
Ia menelan ludah. Hausnya tiba-tiba terasa.
Di luar, warga mulai bersiap. Beberapa memegang kurma, beberapa menatap langit. Pak RT berdiri di depan musala, memastikan pengeras suara siap digunakan, dan kemudian suara azan magrib dari musala Kampung Sukamaju akhirnya berkumandang dengan lantang dan pasti.
Fikri membeku sesaat sambil memegang dadanya.
Berarti … yang tadi bukan azan yang berasal kampungnya.
Ia melihat gelas sirup di tangannya, alhamdulillah belum tersentuh. Dadanya terasa campur aduk antara lega dan malu. Ia hampir saja berbuka terlalu cepat.
Di luar rumah, Raka dan Lala sudah duduk sambil meminum es. Mereka tampak percaya diri, meski dalam hati tahu puasa hari itu terasa lebih berat dari yang dibayangkan.
Langit berubah ungu keemasan. Warga Kampung Sukamaju menikmati tegukan pertama dengan wajah yang berbeda-beda, ada yang bersyukur, ada yang lega, ada yang hanya tersenyum pelan.
Fikri duduk di samping ibunya, meneguk sirup perlahan. Ia masih memikirkan suara azan yang terasa datang dari segala arah itu.
Apakah Ramadan memang seperti ini? Membuat segalanya terasa lebih kuat dari suara, rasa lapar, bahkan rasa takut melakukan kesalahan?
Di kejauhan, tawa anak-anak kembali terdengar. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu.
Malam pertama Ramadan turun dengan lembut, dan tanpa ada yang benar-benar menyadarinya, bulan itu baru saja memulai ujian kecilnya di hati setiap orang yang tinggal di Kampung Sukamaju.