“Kezia, apa kau tidak berniat mencicipi salad ini? Sayang sekali, ini menu diet paling seimbang yang dibuat khusus oleh instruktur pilates kakakmu.”
Suara Mama terdengar dingin, tajam seperti sembilu, memecah keheningan ruang makan yang megah. Kezia menunduk, menatap piringnya yang berisi sepotong kecil dada ayam panggang tanpa bumbu dan setumpuk sayuran hijau yang tampak layu.
Di seberangnya, Kakak, seorang instruktur pilates dengan tubuh yang tampak seperti pahatan marmer, sedang menyesap jus hijau dengan anggun. Sementara itu, di sampingnya, adik bungsunya yang merupakan seorang selebgram kebugaran sedang sibuk memotret piringnya dari berbagai sudut, memastikan setiap serat makanan terlihat estetis untuk jutaan pengikutnya.
Kezia menelan ludah. Kerongkongannya terasa tercekat. “Aku sudah kenyang, Ma,” jawabnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh denting sendok yang beradu dengan porselen mahal.
“Kenyang?” Kakak tertawa kecil, suara yang terdengar seperti ejekan halus. “Tentu saja kau kenyang, setelah diam-diam menghabiskan sekotak cokelat di kamar, bukan?”
Adiknya tidak membalas, ia masih sibuk dengan ponselnya. Namun, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya yang tergeletak di meja. Sebuah komentar di unggahan terbarunya.
‘Kezia, tidak diajak di foto ini? Syukurlah, foto ini jadi terlihat lebih sempurna.’
Dada Kezia bergemuruh. Itu adalah foto keluarga yang diambil minggu lalu. Kezia memang ada di sana saat pemotretan, tetapi seperti biasa, ia menghilang dari hasil akhir. Ia dipotong, dihapus, atau mungkin dianggap sebagai noda yang merusak komposisi visual keluarga “sempurna” ini.
“Sudahlah.”
Mama mengalihkan pandangan dari Kezia seolah ia hanyalah perabotan yang tidak sedap dipandang.
“Lanjutkan persiapan untuk acara nanti malam. Kezia, pastikan kau mengenakan gaun yang longgar. Aku tidak mau kau merusak pemandangan saat tamu-tamu kolega Papa datang.”
Kezia tidak menjawab. Ia bangkit dari kursi, meninggalkan piring yang masih utuh, dan melangkah menuju kamarnya.
Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terbebani oleh ekspektasi yang tak sanggup ia pikul.
Sesampainya di kamar, ia mengunci pintu rapat-rapat. Ruang itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, meskipun ia membenci sosok itu. Kamarnya dipenuhi dengan cermin. Cermin besar di lemari, cermin rias yang dikelilingi lampu, dan cermin panjang di sudut ruangan.
Ia berdiri di depan cermin besar. Bayangannya menatap balik dengan tatapan penuh kebencian. Di sana, ia melihat seorang gadis dengan bahu yang terlalu lebar, wajah yang terlalu bulat, dan tubuh yang baginya adalah sebuah kegagalan biologis. Ia adalah satu-satunya “kesalahan” di antara genetik unggul keluarganya.
Ia menyentuh pipinya. Kulitnya terasa tebal, tidak seperti kulit Mama yang kenyal dan kencang. Ia teringat kembali percakapan di ruang makan tadi.
Apakah benar aku hanya noda? batinnya.
Kezia berjalan ke meja rias, meraih lipstik, dan mulai mencoret-coret cerminnya sendiri. Ia menggambar garis-garis di sekitar bayangan tubuhnya di cermin. Ia membayangkan dirinya yang lebih ramping, lebih kecil, lebih diterima. Namun, setiap goresan yang ia buat justru membuatnya merasa semakin terasing.
Ia meraih ponselnya. Membuka galeri foto, melihat foto-foto yang ia ambil diam-diam. Foto Mama yang sedang tersenyum di depan kamera, saat kamera mati, wajah itu berubah datar dan sinis. Foto Kakak yang terlihat ramah, padahal seringkali melontarkan kata-kata yang mematikan harga diri.
Ia membuka aplikasi media sosial. Melihat komentar-komentar netizen yang memuji kecantikan keluarganya. “Keluarga goals,” tulis salah satu pengikut. “Sangat inspiratif,” tulis yang lain.
Keluarga goals.
Kezia merasakan dorongan kuat untuk melakukan sesuatu yang drastis. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan timbangan digital yang ia sembunyikan di balik tumpukan pakaian. Angka di timbangan itu terbaca dengan jelas. Angka yang sama sekali tidak berubah selama berbulan-bulan. Angka yang menjadi musuh terbesarnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk mengubah itu semua, bukan?”
Kezia tertegun. Ia memandangi cermin kembali. Bayangannya tampak sedikit berubah. Ia merasa seperti melihat sosok lain, bukan dirinya yang gemuk, melainkan sosok yang lebih ramping, lebih tajam, lebih dingin.
Ia kembali menatap pesan itu. Tangannya gemetar saat ia mengetik balasan, “Siapa ini?”
Ponselnya kembali bergetar. “Seseorang yang tahu betapa lelahnya kau menjadi dirimu yang sekarang.”
Kezia merasakan detak jantungnya berpacu. Ia menoleh ke arah pintu kamar. Terdengar langkah kaki mendekat di balik pintu. Langkah kaki yang ia kenal, langkah kaki Mama.
Ia buru-buru menyembunyikan ponselnya di balik bantal. Suara ketukan pintu terdengar keras.
“Kezia! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam! Jangan berpura-pura tuli!” teriak Mama dari luar.
Kezia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Saat ia berjalan menuju pintu, ia kembali menoleh ke cermin. Namun, ia berhenti mendadak.
Bayangannya di cermin tidak bergerak mengikuti langkahnya.
Ia terbelalak. Sosok di cermin masih berdiri di sana, menatapnya dengan senyum yang sangat tipis, sangat dingin, dan sangat berbeda. Senyum itu bukan miliknya. Senyum itu adalah senyum seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang mengerikan.
Kezia mundur selangkah, napasnya tersengal. Sosok di cermin perlahan mengangkat tangannya dan meletakkan telunjuk di depan bibir, seolah memerintahkannya untuk diam.
Kezia menjerit, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan saat pintu kamarnya mulai terbuka perlahan.
***
“Kezia, kau tidak tuli, bukan? Aku bertanya, apa yang kau lakukan di dalam sana? Cepat keluar, tamu-tamu Papa sudah akan datang!”
Suara Mama yang menggelegar dari balik pintu kayu mahoni itu membuat jantung Kezia nyaris melompat dari rongganya. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan.
Ia menoleh perlahan ke arah cermin di sudut ruangan, bayangannya sudah kembali normal. Gadis di balik cermin itu tampak ketakutan, dengan mata yang merah dan rambut yang berantakan. Tidak ada lagi senyuman aneh. Tidak ada lagi sosok yang memerintahnya untuk diam. Apakah tadi ia hanya berhalusinasi karena stres yang teramat sangat?