


oleh Dayura Dalidayulia · 44 Bab
Yovan, bersam kekasihnya juga 8 temannya berniat mendaki ke Gunung Ciremai. Akan tetapi, pendakian itu berubah menjadi petaka lantaran sebagian besar dari mereka memiliki niat jahat. Sindi berniat membuat Yovan celaka, atau hilang di gunung. Susi membawa barang santet untuk ibunya di gunung, dan Rudi berniat menemui kekasih gaibnya, Ningtias. Bagaimana kisah mereka semua? Baca dan nikmati setiap alurnya. Persahabat, Cinta, Romansa, Teror, Celaka, Teror Malam, horor dan perselingkuhan.
"Gimana sih, Van! Kok bisa ketinggalan?!"
"Ya maaf, aku kira udah kamu bawa tadi. Maafin aku, insyaAllah kita nggak akan kekurangan minum."
"Bukan masalah bakal kurang minum apa enggak! Itu taperware punya Nyokap, kalau ilang gimana?!"
Gadis di hadapanku—Sindi, sekaligus kekasihku terus marah, karena aku yang tak sengaja tidak membawa botol minumnya, sehingga membuat taperware yang katanya punya ibunya itu tertinggal di basecamp.
Karena kupikir, ketika aku keluar dan dia masih di dalam bersama yang lain, taperware itu dia bawa dan masukan ke dalam tas carriernya. Sebab, botol itu berada tepat di samping tasnya.
"Aku ganti kalau sampe ilang, udah jangan marah lagi, kita mau muncak Ciremai loh ini."
"Sebelum aku keluar, aku udah minta tolong ke kamu, kan? Bawain ... emangnya kamu nggak denger?"
"Aku denger, maaf aku lupa."
"Hayo! Ribut mulu!" Susi tiba-tiba datang, dan menepuk kedua pundakku, sehingga aku yang tak siap sedikit terdorong ke depan menubruk Sindi, lalu tak sengaja menginjak kakinya.
"Apaan, sih! Nginjek-nginjek! Sakit tau nggak!?"
Reflek, Sindi balas mendorong dadaku, sampai aku mundur beberapa langkah.
"Maaf, nggak sengaja," kataku lagi, sembari memegangi satu tangannya sebelum dia menarik tangannya kembali. Tak mau disentuh.
Membuat Susi yang tadi mengagetkanku merasa bingung, lalu diam.
Sindi berjalan meninggalkan aku dan Susi, kembali ke teman yang lain.
"Ngapa, Van? Kok Sindi sampe marah kaya gitu?"
"Aku nggak sengaja lupa bawa botol minumnya di basecamp, katanya itu punya nyokapnya."
"Ya elah, kaya bocah aja, takut dimarahin nyokap gara-gara taperware ilang."
Aku tak menanggapi perkataan Susi yang terakhir, dan berjalan menghampiri Sindi juga teman yang lain di Pos Cibunar.
Sebelum ini, kami berdua memang sering terjadi perdebatan. Mungkin, lebih tepatnya Sindi yang terlalu mempermasalahkannya.
Seperti masalah-masalah kecil aku yang telat balas chat lebih dari lima menit, atau masalah sepele yang seharusnya bisa dibicarakan baik-baik dan tak harus marah-marah seperti itu. Sudah selama satu bulan, kami seperti sekarang.
Jadi, ini bukanlah perdebatan yang serius untuk pertama kalinya selama satu bulan ini.
Sekitar jam 11 siang, kami sampai di pos Cibunar. Mengisi botol-botol minum yang sempat kosong, karena digunakan saat di basecamp. Sebab, hanya di pos inilah mata air satu-satunya sebelum mulai muncak.
Selama di pos ini, Sindi seperti benar-benar menghindar tak mau didekati.
Bahkan, saat aku ingin menggawanginya saat mulai naik. Dia begitu cuek, dan tidak mau. Memilih berjalan di barisan kedua dari depan, sedangkan aku berada di barisan kesepuluh, paling belakang.
Sekitar pukul setengah dua lebih, kami baru sampai di Pos Kondangamis.
Di sana, bukan hanya kami bersepuluh saja. Tetapi, banyak juga pendaki-pendaki lain yang turun, dan beberapa orang yang sama tengah naik tapi tertinggal oleh rombongan.
Aku berjalan menghampiri Sindi yang baru saja duduk di batu yang rendah, dan tengah selonjor.
Dia mengipasi wajah dengan tangan, seolah angin dari gerakan tangannya akan menghilangkan gerah yang dirasa.
Susi, Rudi, Dito, Anwar, Ela, dan Ulwa duduk bergerombol.
Sedang Cipto dan Bagas berjongkok, sembari minum dan menyulut rokok.
Ela datang bersama Sindi, mereka satu kerjaan. Sedangkan Ulwa, Susi dan yang lain datang bersamaku ke basecamp. Kami berdelapan, adalah teman kerja, yang kebetulan cuti karena tempat kerja sedang direnovasi, diperluas.
Meski begitu, kita semua sudah cukup saling akrab, karena sebelum keberangkatan sudah mulai akrab dalam grup chat Wa.
Di sini, yang sering muncak adalah Cipto, Anwar, dan Rudi.
Aku dan Bagas, hanya sesekali mungkin satu tahun sekali atau dua kali.
Sementara bagi Dito, Susi, Sindi, dan Ulwa juga Ela, ini adalah pendakian pertama mereka.
Entah hanya perasaanku saja mungkin, Sindi sengaja duduk memisah diri.
Aku duduk di sampingnya, sembari memberikan minum dari botol yang kubawa. Dia menerima tanpa berkata, dan meminumnya.
Seperti yang lain, kami beristirahat. Aku menyulut rokok, baru dua kali hisapan Sindi mengomel.
"Ngertiin aku kek! Aku capek, sesek baru juga isrirahat kamu malah ngrokok. Kalau mau ngroko jangan di deket aku, sana agak jauhan dikit."
Tak kujawab sepatah katapun, langsung kumatikan rokok di jari dan kulempar asal saat kupastikan sudah benar-benar padam.
Aku memilih mengalah, dan selalu begitu.
Meski dalam kondisi marah, Sindi tak banyak menolak perhatian yang aku berikan.
Hanya memang, aku tak mendapat balasan sikap yang baik, seperti senyumnya.
Sejak dari bawah, yang kulihat hanyalah wajahnya yang jutek dan dingin, tak jarang aku merasa bahwa aku hanya mengganggunya.
Sekitar jam tiga, kami mulai melanjutkan perjalanan lagi.
Seperti awal, dia kembali berjalan di barisan kedua dari depan di belakang Ulwa.
Sedangkan aku kini beralih di barisan kesembilan karena Cipto yang meminta berjalan paling belakang supaya agak santai berjalan.
Namun, tiba-tiba Sindi yang di depan sana berteriak, "Yang paling belakang, ngalangin jalan!"
Sontak, mereka yang berada di barisan depan sesekali menoleh ke belakang sambil tertawa ringan, memastikan siapa yang berada paling belakang termasuk Sindi.
"Loh, Mas Cipto ternyata maaf-maaf, kukira dia," kata Sindi.
"Lah, kenapa emangnya?" tanya Cipto, sambil tertawa, di tengah napas yang tidak stabil karena mulai lelah kembali.
"Nggak, nggak pa-pa."
Aku terdiam, terus berjalan tapi perkataan Sindi sempat membuatku kepikiran.
Apa maksudnya "yang paling belakang ngalangin jalan" lalu, ketika dia mengecek yang paling terakhir adalah Cipto dia meminta maaf, dan berkata "kukira dia" jadi maksudnya adalah, 'dia' itu aku?
Karena yang paling belakang sebelumnya adalah aku. Namun, apa maksudnya aku menghalangi jalan? Jalan siapa? Dan siapa yang kuhalangi?

Dayura Dalidayulia
6 Pengikut · 1 Novel