


oleh nisriandini · 22 Bab
Saat membuka mata untuk pertama kalinya pagi itu, betapa terkejutnya aku mendapati seorang lelaki tidur di sampingku tanpa mengenakan baju dan aku pun dalam kondisi yang ... buruk. Namun, bukan itu masalahnya. Berkat skandalku, aku jadi dekat dengan CEO-ku yang kala itu rasanya tidak mungkin bisa digapai. Bagaimana mungkin aku bisa mengobrol dengan Marvin? Kenapa dia mendadak jadi terasa seperti tidak sulit didekati?
Nyatanya hidup di negara orang lain tidak semudah yang kelihatan di media sosial, terlebih jika sendiri. Seperti apa yang aku alami saat ini ... ketika aku membuka mata, terdapat punggung yang ukurannya lebih besar dariku tanpa sehelai benang pun.
Di tengah keterkejutan yang ada, aku bahkan sampai tidak bisa berteriak. Rasanya seperti tiba-tiba suaraku hilang entah ke mana. Hal pertama yang langsung aku lakukan saat masih terbaring, mengecek kondisi tubuhku dari balik selimut.
DAMN!
Aku hanya memakai pakaian dalam! Bagaimana bisa aku berakhir seperti ini? Sebelum memikirkan lebih lanjut, aku langsung mendudukkan diri dengan selimut yang aku pegang erat, mengambil pakaianku yang berserakan di lantai, tepat samping ranjang.
Beringsut dari atas kasur dengan hati-hati, karena aku tidak ingin membangunkan lelaki yang belum aku tahu siapa itu. Memakai pakaianku dengan cepat. Tidak lupa mengambil tas yang berada di atas nakas, lalu sepatu kets putihku yang aku pegang.
Melangkah pelan. Sebelum benar-benar menghilang dari sana, aku berhenti sejenak untuk melihat siapa lelaki tersebut. Spontan tanganku menutup mulut, menahan suara yang hampir keluar.
Sebelum lelaki itu bangun, dan terjadi sesuatu padaku lagi untuk hal yang sebelumnya saja tidak aku ingat, segera melangkah ke arah pintu.
Belum ada memegang knop pintu, pintu terbuka begitu saja. Membuatku menyingkir dari depan sana. Lalu, mataku bertemu dengan mata lelaki yang sudah berdiri di depan pintu dengan sorot mata sedingin biasanya.
"Vanya-ssi, wae je jeonhwareul batji aneusyeosseoyo?" Lelaki lainnya yang berada di belakang lelaki dengan kacamata bertanya mengapa aku tak mengangkat teleponnya.
Sebelum menjawab, aku buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas. Mengecek apakah ada panggilan tak terjawab, dan benar saja ada 5 panggilan tak terjawab dari Pak Jaehyun.
Aku memejamkan mata sejenak, mengutuk diri ini yang bisa-bisanya melewatkan panggilan dari orang yang tak kalah penting dari lelaki yang berdiri di depan.
"Saya minta maaf, Pak. Saya gak tahu kalau ada telepon masuk. Ini saja saya baru bangun," jawabku sembari menatapnya, lalu menoleh ke arah lelaki di depan Jaehyun.
Tunggu! Mengingat lelaki dengan sorot mata dingin sampai turun tangan, di mana lelaki itu adalah CEO dari agensi tempatku bekerja, bukankah terlihat seperti ada masalah? Tentu saja, Lavanya. Kamu sudah membuat masalah besar!
"Saya bisa jelaskan semuanya," kataku sembari menatap Marvin, sang CEO.
Tiba-tiba Marvin melangkahkan kakinya, masuk ke dalam. Membuatku sontak melangkah mundur. Ketika langkahnya berhenti, aku pun menghentikan langkah kaki ini.
Marvin terpantau menoleh ke arah lelaki yang masih terlelap dalam tidurnya. Lalu, kembali menatapku.
Tatapannya memang sedingin itu, tapi jelas kali ini berbeda. Seperti ada ... kemarahan di sana. Aku pun menundukkan kepala, tidak sanggup jika terus bertatapan dengannya. Bukan karena takut kena amuk, atau lebih buruknya berakhir dipecat, melainkan aku malu setengah mati.
Marvin pasti sudah melihatku sebagai perempuan yang buruk, dan aku harus menerima kenyataan bahwa aku benar-benar tidak bisa memiliki Marvin, lelaki yang sejak awal aku suka.
"Kasih saya alasan kenapa kamu melakukannya?"
Pertanyaan dengan nada yang membuat hatiku semakin tak menentu itu, perlahan membuatku mengangkat kepala.
"Saya sendiri gak tahu kenapa bisa ...."
"Ada baiknya kamu jujur," kata Jaehyun.
Aku harus jujur bagaimana lagi? Aku sendiri tidak ingin apa yang terjadi. Sebelum kembali berkata, aku mencoba mengingat apa yang bisa aku ingat perihal semalam, dan aku hanya ingat berada di pesta ulang tahun Mark. Aku bahkan tidak meminum sedikit pun alkohol.
"Saya benar-benar gak ingat apa yang terjadi! Saya cuma ingat berada di party birthday-nya Mark."
"Kamu tahu kehebohan apa yang sudah kalian lakukan?"
Jaehyun terpantau menyentuh beberapa kali layar ponselnya, lalu memberikan ponselnya padaku dengan wajah serius.
Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan apa yang terjadi pada diri ini. Di X sudah ramai berita soal aku dan Mark yang bermalam bersama. Bukan sekadar kata-kata, tapi juga ada bukti yang mereka posting.
Foto saat aku dan Mark berada di hotel, dan yang lebih membuatku tak habis pikir, Mark memposting foto saat dirinya mencium pipiku yang sudah tertidur, dengan Mark yang bagian dadanya terlihat tidak mengenakan sehelai benang pun, sedangkan badanku tertutup rapat selimut.
"Kamu bisa jujur sama saya, apa kalian saling suka? Atau salah satu dari kalian bermain jebakan?" tanya Marvin sembari melipat kedua tangan depan dada.
Aku sungguh sudah sampai di titik tidak bisa berkata apapun lagi. Rasanya seperti aku jelaskan sekali lagi pun soal aku yang tidak ingat, mereka tidak akan percaya.
Hoammm.
Suara menguap itu, sontak membuatku menoleh. Lelaki Indo-Kanada itu sudah membuka matanya. Bahkan mendudukkan diri. Menatap aku, Marvin, dan Jaehyun bergantian.
"Ada apa nih? Kok pada di sini?" tanya Mark, berwajah bingung.
Lihatlah! Mark saja bingung. Itu berarti bukan hanya aku yang tidak mengerti dengan semua ini, tapi lelaki yang sempat memposting foto kami juga. Lagi pula dari wajah Mark di foto seperti orang yang sudah mabuk berat.
"Kamu benar gak tahu alasan kami di sini atau sedang pura-pura gak ingat?" tanya Jaehyun, bernada tajam.
"Kenapa aku harus pura-pura? Aku sungguh gak tahu alasan kalian di sini. Apa aku melakukan kesalahan besar? Sampai Kak Jaehyun dan Kak Marvin turun langsung?"
Tepat saat aku kembalikan ponselnya, Jaehyun membisikkan sesuatu pada Marvin, lalu Jaehyun melangkah pergi.
Marvin melangkah melihat-lihat ruangan, bahkan memeriksa tempat sampah dan laci-laci. Entah apa yang coba dia temukan. Setelahnya, Marvin mendudukkan diri di sofa, terus menatapku dan Mark secara bergantian.
"Kamu benar gak ingat apa yang terjadi sama kita?" tanyaku sembari menatap Mark.
"Memangnya terjadi sesuatu sama kita? Apa aku sudah menempatkan Kak Lavanya dalam situasi buruk?"
Raut wajah Mark semakin memperlihatkan bahwa dia tidak ingat bagaimana kami bisa satu ranjang dengan pakaian yang tidak biasa dan Mark yang memposting foto kami hingga menggemparkan fans di seluruh dunia.
Jaehyun kembali. Mengatakan bahwa CCTV memang mereka pas aku dan Jaehyun masuk kemar hotel, dan dari balik pintu tidak ada yang tahu apa yang benar-benar terjadi, dan sebelum kami menempati kamar itu hanya ada tamu biasa yang datang, tidak ada yang mencurigakan.
"Kalau gitu, coba cek CCTV luar yang mengarah ke kamar ini!" perintah Marvin.
"Baik, Pak." Jaehyun melangkah pergi.
Terlalu lama berdiri, kakiku mulai terasa pegal. Namun, aku tidak berani mendudukkan diri saat situasinya seperti ini.
"Duduk, Vanya. Kamu hanya akan membuat kakimu mati rasa," ucap Marvin.
Segera aku mencari tempat duduk. Mendudukkan diri di kursi dengan hati yang belum sedikit pun tenang.

nisriandini
5 Pengikut · 6 Novel