Mentari menyambut pagi dengan cerah membawa sisa-sisa angin semalam yang mengguncang kota di mana Davina tinggal. Gadis berusia tujuh belas tahun itu duduk membaca novel romansa remaja yang selalu ia bawa untuk mengusir bosannya selama di sekolah.
“What tho the what what, ini beneran sekolah elit di kota roboh gara-gara angin pitung beliung tadi malam? Astaga, astaga kok bisa begini? Aduh, selamat sekolah kita aman terkendali dari serangan angin yang sedang mengamuk itu, kalau nggak gitu nasiblah sekolah kita kayak mereka!” ucap Amira, gadis yang duduk di samping Davina sambil melihat berita sekolah elit yang roboh karena angin pitung beliung kemarin.
“Memangnya bisa ya angin itu merobohkan sekolah itu? Kan sekolah elit mana bisa roboh begitu, Mira?” tukas Amina, gadis yang wajahnya begitu mirip dengan Amira. Dua remaja itu memang kembar. Satu bar-bar dan satunya terkenal paling lemot satu sekolah.
“Bisa saja kalau anginnya sedang mengamuk apalagi kalau ngamuk karena kelemotan kamu, Mina!” balas Amira gemas mendengar sahutan dari saudara kembarnya.
“Ih, bukan angin yang mengamuk, Mir, tapi kamu! Marah-marah mulu ih kayak emak-emak yang nggak dapat jatah bulanan saja!” tukas Amina membuat Mira mendelik tajam.
Amira menonjok-nonjok kursi sangking kesalnya. Kepalanya rasanya ingin pecah, masih pagi, tapi Amina sudah membuat kesabarannya yang setipis tisu dibagi sepuluh langsung meledak!
“Tuh kamu lihat, Davi, ‘kan emang Amira kerjaannya marah-marah mulu sampai kursi tempatku jadi korbannya. Kasian tahu nanti dia rusak gimana?” ucap Amina melirik Davina yang cekikikan melihat duo kembar itu sedang berdebat.
Amira yang mendengar perkataan Amina langsung mengerang frustrasi. “Tolonglah tuhan, kenapa aku diberi saudara kembar seperti dia!” cetus Amira menyenderkan kepalanya di tembok.
“Ululu, kasian sekali temanku yang satu ini. Yang sabar ya, siapkan stok kesabaran sampai kiamat karena bagaimanapun kalian hidup bersama selamanya!” kata Davina tidak bisa menahan tawanya. Gadis itu benar-benar puas melihat wajah Amira yang frustrasi.
“Dih, nyebelin kamu, Davina!” Amira ngambek.
***
Berbeda di sekolah elit yang sedang roboh di kota. Banyak murid sekolah itu berkumpul menyaksikan puing-puing sekolah yang sudah tidak tersisa lagi.
“Bagimana nasib sekolah kita kalau sudah roboh tidak tersisa lagi? Masa iya kita harus sekolah di atas puing-puing ini?” tanya Rena, gadis berkepang dengan jepit bintang di sekeliling kepalanya menyaksikan kelas tercintanya sudah tidak adalagi.
“Lebay kamu, Ren, ya tetaplah sekolah di tengah jalan sana, siapa tahu ada mobil yang ingin menabrak kamu!” sahut Rendra.
Rena memukul lengan Rendra kesal. “Sembarangan kamu, Rend, masa nanti aku ketabrak mobil dengan suka rela. Aku masih ingin hidup kali! Sayang banget nyawaku kalau hilang dengan menggenaskan nanti kamu malah viralkan lagi!” sungut Rena sambil mencebikkan bibirnya, tatapannya melirik Rendra dengan tajam pertanda kekesalan dia diujung kepala.
Rendra nyengir. “Bercanda, Ren, astaga kok malah diambil hati sih! Janganlah ngambek kayak gitu nanti aku traktir estemeje di kedai viral itu deh!” Rendra merangkul leher Rena sambil menyogoknya dengan minuman kesukaan gadis itu. Meski Rena seorang cewek, tetapi sikap gadis itu begitu tomboy seperti laki-laki.
“Jeng, jeng, jeng, drama china selesai pertunjukkan. Kembali ke leptop Pak kepsek!” ucap Arjuna menghentikan pertunjukkan di depannya.
“Apa sih, Jun! Ganggu orang pedekate saja!” sungut Rendra nyalang.
“Heleh, sok-sokan pedekate sama si tomboy. Noh, lihat gimana nasib pacar-pacar kau di gudang pasti lagi ngantri minta putus kalau melihat kelakuan alay kalian!” cibir Arjuna.
Rena mencebik, ia meninjuk dada Arjuna. “Nggak usah rese deh jadi cowok! Sana, aku mau bersama Devan saja!” ujar Rena mendorong tubuh Arjuna agar menjauh dari Devan.
Devan, cowok yang berdiri mengacuhkan berdebatan mereka hanya mengedikkan bahu saja. Cowok itu hanya menatap sekeliling sekolahnya dengan menghela napas berat.
“Pengumuman bagi siswa sekolah smeneke berharap kumpul di alun-alun kota!” Suara pengeras menggema membuat semua siswa menuju alun-alun kota yang tidak jauh dari sekolah mereka. Hanya berjarak beberapa meter saja.
“Devan, ayo kita ke alun-alun kota untuk berkumpul di sana!” ajak Rena menggandeng lengan Devan. Namun, cowok itu mengibaskan agar Rena melepaskannya.
Rendra dan Arjuna yang melihatnya langsung tertawa melihat penolakan Devan. Rena menghentakkan kakinya kesal melihat Devan yang melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.
Semua siswa sekolah SMA Negri Kertajaya atau biasa disebut smaneke itu berkumpul di alun-alun kota, beruntung tempat itu sepi sehingga mempermudah pihak sekolah memberi arahan untuk siswanya.
“Karena sekolah kita baru saja mendapatkan musibah, untuk beberapa hari kedepan kalian akan diliburkan sampai pihak sekolah mendapat persetujuan untuk bekerja sama dengan sekolah kalian agar menampung para siswa sekolah kita agar belajar kalian tidak terganggu dengan musibah yang sedang kita alami. Doa ‘kan semoga pembangunan sekolah kita akan cepat terselesaikan sehingga kita bisa menempati gedung baru kita!” ujar Kepala sekolah memberikan sambutan di depan siswanya. Terlihat wajahnya begitu sedih dengan musibah yang ia alami.
“Kalau begitu kalian bisa kembali ke rumah masing-masing, jangan sampai ada yang keluyuran karena pihak sekolah akan tetap mengontrol kalian. Ingat itu!” sambung kepala sekolah menyapu seluruh siswanya yang mencapai ribuan orang itu.
“Baik, Pak!”
Semua siswa smaneke bubar. Berbeda dengan keempat sekawan itu malah melipir ke kedai kopi yang sedang viral tak jauh dari alun-alun kota.