Di sebuah kota, ada seorang gadis bernama Laras tinggal di sana. Sosoknya sederhana dan cerdas, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Dia bekerja di sebuah perpustakaan, tempat dia bisa menghabiskan waktunya membaca dan tenggelam dalam dunia imajinasi. Namun dibalik senyumnya, ada luka yang dalam akibat kehilangan orang tuanya dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun silam.
Di sisi lain, ada seorang pria bernama Arga. Merupakan pengusaha muda yang sukses akan tetapi dikenal dingin dan penuh ambisi. Kehidupannya berfokus pada bisnis dan mengejar kesuksesan. Dia selalu merasa bahwa cinta adalah hal yang lemah dan tidak berguna. Baginya, satu-satunya tujuan hidup adalah kekuasaan dan kekayaan.
Suatu hari, tanpa sengaja Laras dan Arga bertemu di sebuah pesta amal yang diselenggarakan oleh salah satu teman mereka. Laras, yang tidak pernah tertarik pada kehidupan gemerlap dan penuh intrik, merasa asing berada di antara para tamu yang mengenakan pakaian mewah. Sementara Arga, yang menjadi pusat perhatian, merasa terganggu dengan kehadiran Laras yang tampak sederhana. Namun, gadis itu berhasil mencuri perhatiannya.
Pertemuan mereka diwarnai dengan ketegangan. Arga, dengan sikap angkuhnya, meremehkan Laras dan menganggapnya sebagai gadis desa yang tidak tahu apapun tentang dunia nyata. Laras merasa tersinggung, dia membalas dengan kata-kata tajam. Sejak saat itu, keduanya saling membenci. Setiap kali bertemu, selalu ada perdebatan yang terjadi.
Dalam pesta itu, Laras berdiri di sudut ruangan. Dia memandangi acara yang dipenuhi orang-orang kaya. Dia merasa tak nyaman berada di sini, tetapi kehadirannya diwajibkan oleh bosnya yang juga merupakan ayah dari temannya.
Pikirannya berusaha tetap tenang ketika dia melihat sosok yang paling tidak diinginkannya. Seorang pria yang meremehkan dirinya pada pertemuan tadi. “Saya menghargai itu. Tapi setidaknya kau jangan meremehkan diriku.”
“Bukankah kita bisa mencoba berbicara tanpa permusuhan?" gumamnya.
Laras memalingkan wajah, berusaha menahan rasa kesalnya. "Saya tidak punya apa pun untuk dibicarakan dengan An da.” Arga berkata cuek.
Laras mengangkat dagunya, tidak gentar. "Saya tidak butuh mengenal And a lebih jauh. Karena saya pun tidak menyukai, Anda!”
Arga terdiam sesaat, lalu menunduk sedikit. Laras hanya menghela napas pelan. "Kita tidak akan pernah melihat sesuatu dengan cara yang sama, Arga."
Arga menatapnya dengan penuh kebencian, lalu tanpa berkata lagi, dia berbalik dan pergi, meninggalkan Laras yang tersenyum tipis di belakangnya.
Namun di balik kebencian itu, ada perasaan yang perlahan-lahan tumbuh tanpa mereka sadari. Arga mulai melihat sesuatu yang berbeda pada Laras. Kecerdasan dan keteguhan hati Laras membuatnya terpesona, meskipun pria itu sendiri tidak mau mengakuinya. Sementara, Laras mulai melihat sisi lain dari Arga. Rupanya, pria itu hanya merasa kesunyian dan kesepian yang sengaja ditutupi dengan sikap dinginnya.
Penilaian itu berawal ketika Arga mengalami masalah besar dalam bisnisnya. Perusahaannya hampir bangkrut karena pengkhianatan dari salah satu mitranya. Di saat semua orang meninggalkannya, Laras datang dan menawarkan bantuan. Gadis yang mempunyai ilmu pengetahuan dalam bidang literatur dan hukum, membantu Arga untuk keluar dari masalah. Selama proses itu, mereka mulai lebih sering bersama, dan perasaan mereka semakin berkembang.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh di antara mereka, kebencian akan cinta di masa lalu kembali menghantui. Arga enggan untuk membuka hati sepenuhnya karena trauma dari masa lalunya. Sementara Laras, dia pun takut untuk kembali merasakan kehilangan. Mereka berdua harus menghadapi diri mereka sendiri, mengatasi rasa takut dan kebencian yang selama ini menghalangi mereka untuk benar-benar bahagia.
Takdir kembali mempertemukan mereka. Laras yang tengah terdiam sejenak di perpustakaan. Dia mencoba mencerna kalimat terakhir yang diucapkan Arga. Ada sesuatu dalam cara pria itu memandangnya. Arga memandang Laras dengan kesombongan dan ketulusan yang membuat Laras bingung.
"Jadi, kamu di sini untuk mencari buku, atau hanya mengganggu orang-orang yang sedang bekerja?" Laras mencoba memecah ketegangan dengan nada bercanda.
Arga tertawa kecil, suara tawanya rendah tetapi cukup menenangkan. "Sepertinya, keduanya. Sejujurnya, aku memang sedang mencari buku. Hanya saja, mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang lebih menarik dari sekedar buku."
Laras menatapnya dengan alis terangkat, mencoba memahami maksudnya. "Menarik? Apa maksudmu?"
Arga tersenyum, tetapi kali ini senyumnya lebih lembut. "Aku tidak tahu pasti. Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi ada sesuatu tentang kamu yang membuatku ingin tahu lebih banyak."
Laras tersipu malu, tapi dia cepat-cepat menyembunyikannya dengan mengalihkan pandangan ke rak buku di sampingnya. "Sepertinya, kamu harus fokus pada buku yang kamu cari, sebelum perpustakaan ini ditutup."
Arga memperhatikan reaksi Laras dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Kamu benar! Bagaimana jika kamu membantuku menemukan buku yang tepat? Agar aku tidak perlu membuang waktu," pintanya pada Laras.
Laras berpikir sejenak. Ini mungkin hanya salah satu cara pria itu untuk terus berbicara dengannya, tapi dia tidak melihat alasan untuk menolak permintaan sederhana seperti itu. Lagipula, ini bagian dari pekerjaannya.
"Baiklah. Buku seperti apa yang kamu cari?" tanyanya, sambil mulai berjalan menuju rak-rak yang lebih spesifik.
Arga mengikutinya dengan langkah ringan. "Aku sedang mencari buku tentang strategi bisnis. Aku sedang memikirkan proyek besar, dan butuh inspirasi baru."
Laras mengangguk, berusaha tetap fokus pada pekerjaannya meskipun ada sesuatu tentang Arga yang membuat hatinya sedikit berdebar. Dia berhenti di depan salah satu rak dan mulai mencari buku yang relevan. "Mungkin kamu bisa mulai dengan ini," katanya sambil menarik sebuah buku dari rak dan menyerahkannya kepada Arga.
Arga menerima buku itu dan membacanya sekilas. "Terima kasih, Laras. Aku menghargai bantuanmu."
Laras hanya tersenyum singkat, berusaha menjaga sikap profesionalismenya. Tapi sebelum dia bisa melangkah kembali ke mejanya, Arga berkata, "Boleh aku ajak kamu minum kopi suatu hari nanti? Sebagai ucapan terima kasih."
Laras terkejut dengan tawaran langsung itu. "Aku tidak tahu. Mungkin aku harus memikirkannya."
Arga mengangguk mengerti, meski jelas dia tidak menyerah begitu saja. "Aku tidak akan memaksamu. Ya, hanya sekedar minum kopi,” uca p Arga.
***
Hari-hari telah mereka lalui, sejak pertemuan mereka di pesta amal. Laras berusaha keras untuk melupakan pertemuan dengan Arga. Namun, bayangan pria itu sering kali muncul.
Laras selalu mencoba tetap tenang. "Dia hanya pria kaya yang terbiasa mendapatkan apapun yang dia inginkan," pikirnya.
Dunia ternyata kecil, hingga dia kembali bertemu dengan Arga. Ketika Laras sedang berjalan-jalan ditaman kota setelah pulang kerja, seseorang memanggil namanya.
"Laras!"
Dia menoleh dan menemukan Arga, berdiri dengan senyuman yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Arga tampak lebih santai dengan pakaian kasualnya, tetapi mampu memancarkan aura percaya diri yang kuat.
"Kebetulan sekali," kata Arga sambil mendekat. "Kamu sering ke taman ini?"
Laras terkejut melihatnya di sini, tetapi dia mencoba tetap tenang. "Kadang-kadang. Ini tempat yang bagus untuk bersantai setelah seharian bekerja."
Arga mengangguk. "Aku setuju. Taman ini memang menenangkan. Mungkin takdir yang mempertemukan kita lagi di sini."
Laras tersenyum kecil, berusaha mengendalikan rasa gugupnya. "Mungkin."
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Bagaimana kalau kita minum kopi sekarang? Tidak ada salahnya, kan? Hanya dua orang yang kebetulan bertemu dan menikmati sore bersama."
Laras terdiam sejenak. Dia merasa tertarik untuk mengenal Arga lebih dalam, meskipun di sisi lain Laras takut terseret ke dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian.
Namun, sebelum gadis itu sempat menolak, Arga sudah berkata dengan nada lebih lembut. “Aku janji, ini hanya kopi."
Akhirnya, Laras mengangguk dan menegaskan. "Baiklah, hanya kopi!"
Dengan senyuman terakhir, Arga berjalan pergi, meninggalkan Laras yang masih berdiri di sana. Gadis itu hanya memandang punggungnya yang menjauh. Ada sesuatu yang aneh dalam pertemuan ini, sesuatu yang membuat Laras merasa bahwa ini bukanlah pertemuan biasa. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan dirinya terlalu memikirkan hal itu.