Pagi itu, Nana Maheswari baru saja turun dari pesawat setelah perjalanan dinas luar kota. Tubuhnya masih terasa letih, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal, sahabatnya, Dian, yang sudah tiga hari dirawat di rumah sakit.
Nana berjalan cepat melewati area parkir sambil menempelkan ponsel di telinga.
“Halo, Dian? Kamu dirawat di ruang berapa?” tanyanya sambil mengatur napas.
“Ruang 306. Kamu di mana sekarang?” Suara Dian terdengar lemah, tapi tetap ceria.
“Baru sampai parkiran. Tunggu ya, aku ke atas.”
“Oke, cepat ya. Aku udah kangen cilok buatan kamu,” sahut Dian sambil tertawa kecil sebelum menutup panggilan.
Nana menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar, udah sakit lambung aja masih mikir makanan pedas,” gumamnya geli.
Dengan langkah cepat, ia menembus koridor rumah sakit. Aroma antiseptik yang khas menusuk hidungnya, suara roda brankar dan langkah kaki petugas bergema di lorong panjang itu. Ia terlalu terburu-buru, matanya mencari tanda menuju ruang rawat 306.
Tanpa sadar ….
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang yang baru keluar dari ruang pemeriksaan. Berkas-berkas di tangan pria itu jatuh berserakan ke lantai.
“Ma-maaf, saya nggak sengaja!” seru Nana panik sambil membungkuk.
Pria itu menatapnya datar. Tatapan yang tajam dan menusuk, seolah hanya butuh satu lirikan untuk membuat orang merasa bersalah.
Wajahnya tampan, tapi tanpa ekspresi. Rahangnya tegas, matanya dingin, benar-benar dingin.
“Lain kali, tolong perhatikan arah jalan.”
Nada suaranya datar, tapi ketus, seperti sedang menegur seorang anak kecil yang berbuat salah.
Nana spontan mendongak, kaget sekaligus jengkel.
“Saya kan sudah minta maaf. Nggak usah nyolot gitu juga kali,” balasnya kesal pada pria yang mengenakan atribut kedokteran tersebut.
Pria yang merupakan salah satu dokter di rumah sakit tersebut pun menaikkan satu alisnya.
“Kalau tahu terburu-buru, seharusnya tetap tahu sopan santun di tempat umum.”
Nada suaranya semakin menusuk, tidak ada senyum, tidak ada empati, dan wajahnya datar tanpa ekspresi, membuat Nana mendadak kesal setengah mati.
Ia baru sempat membaca name tag di dada pria itu, dr. Arga Pradipta,Sp.PD.
“Baiklah, Dok. Sekali lagi maaf,” katanya dengan nada menahan emosi, lalu buru-buru jongkok hendak membantu.
Arga hanya menunduk singkat, lalu membungkuk mengambil map tanpa menatapnya sama sekali.
“Tidak perlu. Saya bisa sendiri,” ucapnya cepat, nada ketusnya seperti penutup pintu yang dibanting.
Tanpa menunggu, Arga melangkah pergi, tegap, tenang, tapi sikapnya begitu angkuh.
Nana memandangi punggungnya sambil menggerutu dalam hati.
“Sombong banget, deh! Dokter apa dewa, nyentuh map aja takut dicemari rakyat jelata kali ya?”
Ia menggeleng keras, menepis kekesalan di dada dan bergegas menuju ruang rawat 306.
Begitu membuka pintu kamar, senyum cerah Dian langsung menyambutnya.
“Akhirnya sahabat aku yang paling cantik datang juga!” seru Dian riang.
“Iya, iya. Nih, cilok pesananmu,” jawab Nana sambil menaruh kantong plastik di meja. “Udah tahu sakit lambung, masih aja minta makanan pedas. Bandel banget kamu.”
Dian tertawa kecil.
“Kalau nggak makan cilok buatan kamu, aku bisa stres, Na.”
Tawa itu terhenti ketika pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria masuk dengan langkah tegas dan dingin.
Nana langsung kaku.
Wajah itu lagi.
“Gimana, udah baikan?” Suara Arga terdengar datar, tanpa nada ramah sedikit pun.
“Sudah, Kak. Aku boleh pulang hari ini?” tanya Dian penuh harap.
“Belum,” jawab Arga cepat, matanya tak lepas dari catatan medis.
“Kamu masih butuh observasi. Jangan manja.” Nada bicaranya membuat udara di kamar seketika terasa kaku.
Nana melirik Dian dengan alis terangkat.
“Kak?” bisiknya pelan.
Dian mengangguk cepat.
“Oh iya! Kak Arga, ini Nana, sahabat aku. Na, ini sepupu aku, Dokter Arga Pradipta.”
Arga hanya menatap sekilas, tatapan singkat, tapi tajam. Seperti menilai seseorang dari ujung kepala sampai kaki.
“Kita sudah sempat bertemu tadi,” katanya dengan nada datar.
Nana tersenyum kaku.
“Iya, di koridor. Saya nggak sengaja nabrak.”
“Saya ingat,” jawab Arga pendek, lalu kembali fokus pada catatan pasien tanpa peduli lagi pada mereka.
Suasana hening sejenak, sampai Arga mendapati bungkusan cilok di meja pasien. Ia menatapnya lama, lalu menatap Nana dengan ekspresi menghakimi.
“Pasien lambung makan pedas?” ujarnya sinis. “Siapa yang membawa ini?”
“Saya,” jawab Nana spontan, menahan emosi. “Itu permintaan sahabat saya.”
“Lain kali jangan turuti permintaan yang bisa bikin pasien masuk IGD lagi,” ucap Arga ketus tanpa menatapnya. “Apa kamu mau dia opname lebih lama?”
Nada suaranya menusuk, nyaris seperti menyindir. Nana terdiam beberapa detik, merasa darahnya naik ke kepala.
“Saya cuma pengin nyenengin teman yang lagi sakit, bukan malah dimarahi,” balasnya pelan, tapi tajam.
Arga akhirnya menoleh, menatapnya lurus.
“Tugas saya bukan menyenangkan orang, tapi memastikan pasien sembuh.”
Tatapan itu dingin, menembus, dan sukses membuat Nana kehilangan kata. Ia hanya bisa menatap punggung Arga saat pria itu menulis sesuatu di map lalu berkata datar,
“Perban ganti jam dua. Jangan bandel.”
Tanpa menunggu balasan, Arga keluar dari ruangan.
Pintu tertutup dengan suara klik pelan, tapi cukup membuat Nana mendengkus kesal.
“Dian! Kakak kamu tuh nyebelin banget! Dingin, sombong, galak pula!”
Dian langsung tertawa keras.
“Hahaha! Aku udah duga kamu bakal ngomong gitu, tapi hati-hati, Na.”
“Hati-hati apanya?” Nana menatap curiga.
“Jangan-jangan nanti kamu malah jatuh cinta sama dia.”
“Hah?! Nggak mungkin banget!” seru Nana cepat. “Kakak kamu tuh sombong, angkuh, nyebelin. Kalau dia jadi cowok terakhir di dunia, aku mending jomblo!”
Dian makin terbahak.
“Dia emang kelihatan dingin, tapi kalau kamu tahu sisi lembutnya—“
“Lembut? Lembut dari mana?! Dingin banget kayak freezer rumah sakit!” potong Nana jengkel.
Saat Dian tertawa lagi, bayangan tatapan Arga kembali muncul di benak Nana tajam, tegas, tapi entah kenapa terasa berat. Ada sesuatu di balik dinginnya.
Ia menggeleng cepat.
“Udah ah, malas bahas dia.”
Di luar ruangan, tanpa mereka tahu, Arga berdiri menatap dari balik pintu kaca, matanya sedikit menyipit, ekspresinya datar, tapi sulit dibaca.
“Cerewet,” gumamnya lirih, tapi entah kenapa, sudut bibirnya sempat terangkat sebelum akhirnya kembali dingin seperti semula.