Rumah sakit selalu punya ritmenya sendiri.
Pagi yang sibuk, langkah kaki yang saling berkejaran, suara monitor yang berdetak tanpa henti, dan aroma antiseptik yang melekat di udara.
Arga sudah terbiasa dengan semua itu. Bertahun-tahun bekerja di sini membuatnya tahu, dunia tidak pernah benar-benar berhenti, bahkan ketika seseorang sedang sekarat.
Ia berjalan menyusuri koridor lantai tiga sambil membaca berkas pasien di tangannya, wajahnya tenang, profesional, seperti biasa tidak ada yang aneh dari caranya melangkah, tidak juga dari ekspresinya semua terlihat normal. Sampai ia mendengar namanya dipanggil.
“Dokter Arga?”
Langkahnya terhenti, suara itu tidak asing, terlalu tidak asing. Arga mengangkat kepala perlahan dan di sanalah ia berdiri, di hadapannya ada seorang dengan jas dokter putih yang sama, rambut yang kini lebih pendek, dan sorot mata yang masih sama seperti dulu.
Rani.
Untuk sesaat, dunia terasa menyempit. Suara sekitar seakan meredup, menyisakan detak jantung Arga sendiri yang tiba-tiba terasa terlalu keras.
“Rani,” ucapnya akhirnya.
Nama itu keluar begitu saja, tanpa sempat disaring.
Rani tersenyum kecil, senyum yang ragu, tapi tulus. “Aku dengar kamu pindah ke sini. Nggak nyangka kita ketemu secepat ini.”
Arga mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan, tapi terlalu sedikit yang pantas diucapkan.
“Kamu sehat?” tanyanya akhirnya. Pertanyaan paling aman yang bisa ia pilih.
“Sehat,” jawab Rani singkat. “Kamu juga kelihatan baik.”
Mereka berdiri saling berhadapan, terjebak dalam jarak yang canggung, tidak ada yang benar-benar pergi, tapi tidak juga ada yang kembali seperti dulu.
“Kalau begitu sampai ketemu lagi, Arga,” kata Rani akhirnya, sedikit mengangguk sebelum melangkah pergi.
Arga memperhatikannya berjalan menjauh, punggung itu, langkah itu. Semua terasa familiar sekaligus asing. Ia baru menyadari napasnya tertahan sejak tadi.
***
Di sisi lain kota, Nana duduk di balik meja kerjanya, menatap layar komputer dengan fokus yang dipaksakan. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, menyusun laporan demi laporan, sementara pikirannya berusaha tetap bertahan pada rutinitas. Kantor sudah mulai ramai sejak pagi. Obrolan rekan kerja, suara printer, dan denting notifikasi ponsel saling bersahutan. Nana biasanya menyukai suasana seperti ini. Sibuk membuatnya lupa.
Hari ini, entah kenapa, rasa itu sedikit berbeda.
“Nana, nanti siang ikut makan bareng, ya,” ujar salah satu rekan kerjanya.
“Iya,” jawab Nana sambil tersenyum tipis.
Senyumnya otomatis. Terlatih.
Ia kembali menatap layar, tapi matanya justru menangkap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat baik-baik saja. Rambut rapi, pakaian kerja sederhana, semuanya sesuai. Namun, ada ruang kosong di dadanya yang tidak bisa ia jelaskan.
Ponselnya bergetar pelan di atas meja. Sebuah notifikasi masuk. Nana melirik sekilas, lalu membiarkannya. Ia tidak membuka. Entah kenapa, hari ini ia merasa lelah tanpa alasan yang jelas.
Arga menghabiskan sisa paginya dengan bekerja seperti biasa. Mengunjungi pasien, berdiskusi dengan perawat, menandatangani beberapa berkas, tidak ada yang berubah tidak ada yang salah. Namun, pikirannya sesekali melayang kembali pada satu nama.
Rani.
Ia berdiri di depan wastafel ruang dokter, mencuci tangan lebih lama dari seharusnya. Bayangan masa lalu datang seperti kilatan singkat tidak utuh, tidak jelas, tapi cukup untuk membuat dadanya mengencang. Ia menghela napas, menenangkan diri.
“Dokter Arga.”
Suara seorang perawat memecah lamunannya. “Ada pasien baru di IGD.”
“Baik,” jawab Arga cepat.
Ia kembali mengenakan topeng profesionalnya, topeng yang selama ini selalu berhasil melindunginya.
***
Jam makan siang di kantor Nana diisi dengan obrolan ringan, tentang pekerjaan, tentang cuaca, tentang hal-hal sepele yang tidak menuntut perasaan terlalu dalam.
Nana ikut tertawa saat perlu, mengangguk saat harus, tapi sebagian dirinya terasa tidak hadir sepenuhnya. Ia menyendok makanan perlahan. Tidak benar-benar lapar.
“Nana, kamu lagi mikir apa sih?” tanya temannya sambil bercanda.
Nana tersentak kecil. “Hah? Nggak. Capek aja.”
“Kerja mulu, sih.”
Nana tersenyum lagi. Kali ini sedikit lebih nyata. Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Beberapa hal memang lebih baik disimpan sendiri.
Sore hari, Arga kembali melewati koridor yang sama. Kali ini lebih sepi. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di ujung lorong, menciptakan bayangan panjang di lantai. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah ruang dokter tempat Rani tadi berdiri.
Kenangan itu tidak datang sebagai gelombang besar. Ia datang pelan, seperti air yang merembes dari celah yang tidak terlihat. Arga mengepalkan tangannya perlahan. Ia pikir ia sudah selesai dengan masa lalu. Ia pikir ia sudah menutup semuanya dengan rapi.
Di dalam lift kantor, Nana berdiri sendirian. Pintu tertutup perlahan, membawa dirinya turun menuju parkiran. Ia mengeluarkan ponselnya kali ini. Menatap layar tanpa benar-benar membuka apa pun. Ada rasa asing yang menggelayut. Seperti firasat yang belum berbentuk.
Nana menghela napas panjang. Mungkin hanya lelah, pikirnya.
***
Malam itu, Arga pulang dengan langkah yang sedikit lebih berat. Apartemennya sunyi seperti biasa. Ia meletakkan tasnya, melepas jas, lalu duduk di sofa tanpa menyalakan lampu. Pikirannya kembali pada pagi tadi.
Pertemuan itu singkat, tidak dramatis, tidak juga penuh emosi yang meledak-ledak. Namun, cukup untuk membuka sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Sementara di tempat lain, Nana mematikan lampu kamarnya dan berbaring dalam gelap. Matanya terpejam, tapi pikirannya masih terjaga.
Dua kehidupan yang berjalan terpisah. Dua hati yang belum tahu, bahwa langkah mereka perlahan menuju titik yang sama, dan di antara mereka, masa lalu mulai bergerak, pelan, tanpa suara.