Ucok mengayuh pelan di jalanan sore yang mulai ramai. Matahari condong ke barat, memantulkan cahaya oranye ke atap-atap rumah. Dari kejauhan, suara klakson becak motor bersahut-sahutan, seperti sedang lomba siapa paling bising.
Ucok melirik kursi becaknya yang kosong. “Becak, hari ini kita pulang sendirian lagi, tapi abang nggak sedih cuma ya, sedikit lah,” ucapnya lirih sambil menepuk-nepuk rangka becak.
Sedikit? Bohong. Banyak kali rasanya.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, datang suara yang ia kenal.
“Bang Ucok!”
Ucok langsung menarik rem. Becaknya berhenti mendadak hingga terdengar bunyi “kriiit” dari rem depan.
“Eh, Kak Asya?” Ucok menegakkan punggung, mencoba terlihat santai padahal degup jantungnya seperti drum festival.
Asya menghampiri dengan langkah cepat. Di tangannya ada kantong plastik berisi dua bungkus nasi.
“Abang baru pulang?” tanyanya sambil menoleh ke becak.
“Iya, mau langsung pulang eh, atau mau ke mana? Boleh abang antar?” Ucok mengangkat alis, setengah bercanda.
Asya tersenyum. “Kebetulan, abang bisa tolong antar aku ke rumah Bude Mariam? Dekat pasar, tapi agak nyelip jalannya.”
“Siap, naiklah! Becak ini standby untuk Kak Asya, kapan pun, di mana pun,” jawab Ucok cepat, sambil menepuk kursi becak seperti mempersilakan tamu kehormatan.
Asya naik, duduk sambil merapikan rok panjangnya.
Ucok mulai mengayuh, kali ini lebih hati-hati dari biasanya. Jangan sampai kursinya goyang, apalagi kalau dia lagi bawa nasi. Kalau tumpah, abang bisa-bisa kena blacklist seumur hidup.
“Bang,” panggil Asya dari belakang.
“Iya, Kak?”
“Kenapa dari tadi abang senyum terus? Kayak orang dapat kabar gembira.”
Ucok tertawa kecil.
“Mana ada ya, mungkin karena hari ini dapat penumpang spesial.”
Asya pura-pura tidak menanggapi, tapi pipinya memerah.
Ucok melanjutkan, “Kak Asya mau abang putar lewat jalan biasa atau jalan yang lebih romantis?”
“Romantis? Jalan ke pasar, Bang, bukan bulan madu,” sahut Asya sambil tertawa.
“Siapa tahu, mulai dari pasar dulu, baru lanjut bulan madu,” balas Ucok, membuat Asya menunduk menahan senyum.
Di pertigaan, Ucok memperlambat kayuhan.
“Kak, kita lewat jalan ini ya. Memang agak memutar, tapi ada pohon besar, teduh kali. Cocok untuk eh, ngobrol sambil jalan.”
Asya mengangkat alis. “Ngobrol sambil jalan? Bukannya abang lagi kayuh becak?”
“Iya, tapi abang kan multitasking. Kayuh becak sambil ngobrol, sambil menyimpan doa,” ucap Ucok sambil melirik ke depan.
Asya menatap punggung Ucok. “Doa apa?”
Ucok diam sejenak, lalu berkata pelan, “Doa supaya perjalanan ini nggak cuma berhenti di pasar.”
Suasana mendadak hening. Hanya suara rantai becak yang berdecit pelan. Asya memandang ke samping jalan, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang mulai muncul. Bang Ucok ini makin lama makin susah ditebak.
Tiba-tiba, seekor ayam melintas di depan.
“Woi, ayam!” teriak Ucok sambil sedikit membanting setang. Becak berbelok mendadak, membuat Asya sedikit terhuyung.
“Bang! Hampir jatuh aku,” seru Asya.
“Maaf, Kak! Ayamnya kayak tahu abang lagi bawa orang spesial, jadi mau ikut nimbrung,” kata Ucok sambil menoleh sekilas.
Asya tertawa. “Kayaknya ayamnya nggak tahu kalau abang ini bisa ngomong semanis itu.”
Ucok pura-pura serius.
“Ini belum manis maksimal, Kak. Kalau udah maksimal, abang takut Kak Asya nggak mau turun dari becak.”
Asya menahan tawa. “Kalau nyaman, kenapa harus turun?”
Ucok langsung terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum. “Itu pertanyaan yang abang harap jawabannya permanen.”
Mereka melewati jalan kecil dengan deretan warung. Penjual gorengan melambaikan tangan pada Ucok.
“Bang Ucok! Bawa penumpang cantik, nih!” teriak si penjual.
Ucok hanya tertawa dan membalas lambaian.
Asya melirik. “Sering ya abang bawa penumpang cantik?”
Ucok menggeleng cepat. “Bukan sering malah jarang. Eh, maksudnya cuma satu orang ini yang paling cantik.”
Asya menunduk lagi. Aduh ini kalau tiap hari dibombardir gombalan begini, bisa-bisa hati aku nggak aman.
Tak lama, mereka sampai di rumah Bude Mariam.
“Asya sampai juga. Nasinya aman?” tanya Ucok sambil menoleh.
“Aman, Bang. Terima kasih banyak ya,” jawab Asya sambil turun.
Ucok menunggu sampai Asya masuk ke halaman. Saat Asya hampir sampai di pintu, ia menoleh sebentar.
“Bang Ucok,” panggilnya.
“Iya, Kak?”
“Kalau nanti aku pulang, abang masih di sekitar sini, boleh antar lagi?”
Ucok tersenyum lebar, secerah lampu becaknya.
“Siap, Kak. Becak romantis standby sampai matahari pun iri.”
Asya masuk ke rumah sambil tersenyum, sementara Ucok mengayuh pelan menjauh. Dalam hati ia berbisik, Ya Allah, kalau ini jalan yang baik, mudahkan langkah kami. Kalau belum kuatkan hati abang, tapi jangan kuat-kuat kali.
Ia melirik kursi becak yang kosong. “Becak, kau dengar itu? Besok kita hias cantik-cantik lagi, siapa tahu dia mau duduk lebih lama. Dan kalau dia senyum, kau jangan goyang-goyang, biar dia betah. Kita kerja sama, ya, kawan.”
Becak tetap diam, hanya berdecit pelan, tapi bagi Ucok, itu seperti jawaban setuju.
Ucok menepuk setang becak pelan, lalu tersenyum penuh harap.
“Kau dengar, ya? Ini bukan cuma soal kayuh atau rem, tapi tentang hati yang ikut berputar. Jadi, jangan bikin abang kecewa.”
Ia menoleh ke langit yang mulai gelap.
“Kalau nanti Kak Asya duduk lagi, jangan goyang-goyang, biar dia nyaman. Kalau nyaman, abang yakin dia akan terus naik.”
Ucok mengayuh perlahan, suara rantai becak berdenting seperti irama doa.
“Becak, siap-siap ya. Kita akan mulai perjalanan panjang bukan cuma di jalan, tapi juga di hati.”