Ucok memberi kode ke Amri, lalu tiba-tiba musik berubah dari lagu kocak menjadi melodi pelan. Ucok berdiri di hadapan Asya, memegang papan besar bertuliskan:
“Alasan Nomor Sepuluh: Karena Kau Selalu Jadi Lagu Favorit Abang.”
Orang-orang di sekitar mulai melirik, beberapa malah mengambil video.
“Bang.” Suara Asya melembut. “Ini ramai kali.”
“Biar ramai, yang penting hatimu tenang,” kata Ucok, lalu dengan suara pas-pasan ia kembali bernyanyi.
“Setiap hari kau yang abang ingat walau becak abang tua, tapi cintanya kuat.”
Asya menunduk, pipinya memanas. Ia mencoba menahan tawa, tapi senyum sudah terlanjur keluar.
Dia ini selalu tahu cara bikin saya kalah argumen.
Setelah lagu selesai, Ucok mengeluarkan gantungan kunci berbentuk miniatur becak dari saku celananya.
“Ini penutup alasan nomor sepuluh,” katanya sambil menyerahkannya.
Asya menerimanya, lalu mengelus miniatur itu. “Bang ini imut sekali.”
“Biar tiap kali kau lihat itu, kau ingat abang pernah gila-gilaan keliling kota cuma buat nyanyi sama kau,” jawab Ucok.
Mereka akhirnya duduk sebentar di bangku taman, ditemani suara burung dan teriakan anak-anak yang bermain bola.
“Bang,” kata Asya pelan, “nomor sepuluh ini mungkin alasan yang nggak akan saya lupa.”
Ucok tersenyum lebar. “Berarti abang sukses. Misi cinta berjalan lancar.”
Beben dari jauh berteriak, “Bang! Kalau sukses, traktir lah!”
Ucok menoleh, lalu balas teriak, “Nanti! Tunggu abang nikah dulu!”
Asya spontan memukul lengannya pelan. “Bang, bisa-bisanya nyelipin kata nikah di tengah semua ini.”
Ucok hanya tertawa, lalu kembali mengayuh becaknya, meninggalkan taman bersama tawa yang entah kenapa terdengar lebih hangat dari sebelumnya.
***
Pagi itu, udara terasa sejuk, seperti sedang membisikkan rahasia. Ucok sudah duduk di becaknya sejak pukul enam, memeriksa rem, mengelap setang, bahkan menepuk-nepuk kursi penumpang sambil tersenyum sendiri.
Nomor sebelas ini harus lebih halus, nggak bisa heboh kayak kemarin. Kalau terlalu rame, nanti dia curiga abang mau lamar besok.
Beben datang dengan sebungkus lontong sayur. “Bang, kau ngapain senyum-senyum sendiri? Lagi chat sama siapa?”
Ucok menoleh cepat. “Sama masa depan.”
“Eh, masa depan kau ada di becak ini?” goda Beben sambil duduk di pinggir trotoar.
Ucok menunduk, pura-pura sibuk mengikat tali. “Becak ini cuma alat, Beb. Hatinya ada di penumpangnya.”
Beberapa menit kemudian, Asya muncul dari ujung gang. Rambutnya yang tergerai dari kerudung agak tertiup angin, dan tangannya membawa kotak kecil.
“Bang Ucok!” panggilnya. “Ini sarapan untuk abang.”
Ucok langsung berdiri. “Waduh, ini baru alasan nomor eh, rahasia,” katanya sambil menyambut kotak itu.
Asya mengerutkan kening. “Rahasia apa lagi?”
“Bukan rahasia negara, kok,” jawab Ucok sambil membuka kotak. “Oh kue lapis pelangi.”
“Biar abang ingat, hidup itu nggak cuma hitam-putih,” kata Asya, duduk di kursi becak sambil merapikan rok panjangnya.
Ucok mengangguk pelan. Dia ini kadang ngomong kayak buku puisi, tapi tetap aja manis.
Becak pun melaju, menyusuri jalanan yang masih setengah lengang. Ucok sengaja tidak menyalakan musik, hanya derit roda yang menemani.
“Asya,” katanya pelan, “kau tahu nggak, kenapa hari ini abang nggak bawa rombongan?”
“Kenapa?” Asya menoleh.
“Soalnya alasan nomor sebelas ini nggak bisa dibagi ke banyak orang.”
Asya mengangkat alis. “Loh, kenapa?”
Ucok tersenyum. “Karena ini alasan yang cuma kita berdua yang mengerti.”
Mereka berhenti di pinggir sungai Deli. Airnya mengalir pelan, memantulkan cahaya matahari pagi.
“Bang, kok berhenti di sini?” tanya Asya sambil melangkah turun.
Ucok menunjuk sebuah papan kayu kecil di tepi sungai. “Dulu, waktu abang masih kecil, abang sering duduk di situ. Nunggu becak ayah pulang narik.”
Asya menatap papan itu. “Terus?”
“Abang selalu mikir, suatu hari abang mau punya alasan kuat buat narik becak, bukan cuma buat hidup, tapi buat seseorang.”
Asya menghela napas, menunduk. “Bang ini serius, ya?”
“Serius,” jawab Ucok mantap. “Alasan nomor sebelas: Karena kau bikin abang punya tujuan.”
Hening sebentar. Angin mengibaskan ujung kerudung Asya.
Kenapa kata-katanya selalu tepat di saat saya nggak siap jawab? batin Asya.
Ucok menatap sungai sebentar lalu berkata, “Kalau kau nggak percaya, abang bisa kasih bukti.”
Asya mengerjap. “Bukti apa?”
Ucok menunjuk becaknya. “Sejak kenal kau, abang nggak pernah telat narik becak lagi. Bahkan becak ini, yang dulu suka mogok, sekarang rajin jalan.”
Asya terkekeh. “Bang, itu bukan karena saya, itu karena abang rajin servis.”
“Rajin servisnya ya gara-gara kau,” sambung Ucok cepat.
Tiba-tiba, seekor kucing melompat ke papan kayu. Kucing itu mengeong, lalu duduk santai di antara mereka.
“Eh, ini kayak saksi hidup,” kata Ucok sambil mengelus kepala kucing.
Asya tersenyum. “Lucu. Dia ikut denger alasan nomor sebelas, nih.”
Ucok menunjuk kucing itu. “Kalau dia ngerti bahasa manusia, pasti dia setuju sama abang.”
“Kalau dia ngerti, mungkin dia bilang abang lebay,” balas Asya, membuat mereka tertawa bersamaan.
Setelah beberapa menit duduk, Ucok berdiri. “Ayo, kita lanjut, tapi sebelum itu.”
Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari jok becak. Sampulnya sederhana, bertuliskan ‘Catatan Kayuhan’.
Asya mengambilnya. “Ini apa?”
“Isinya semua alasan abang narik becak tiap hari,” jawab Ucok. “Mulai dari alasan nomor satu sampai sebelas.”
Asya membuka halaman terakhir dan membaca:
Nomor Sebelas: Karena kau bikin abang punya tujuan.
Ia menutup buku itu perlahan. “Bang, ini lebih manis dari kue lapis pelangi.”
Ucok tersenyum lebar. “Kalau gitu, jangan kau buang.”
Asya memeluk buku itu sebentar, lalu mengembalikannya. “Abang simpan aja. Biar nanti, kalau kita sudah tua, kita baca sama-sama.”
Ucok mengangguk. “Deal.”
Becak kembali melaju. Kali ini, mereka tidak banyak bicara, tapi senyum di wajah mereka cukup untuk membuat pagi itu terasa berbeda.
Beben yang entah dari mana muncul tiba-tiba melambai dari pinggir jalan. “Bang! Nomor sebelas apaan?”
Ucok hanya menggeleng sambil tertawa. “Rahasia!”
Asya menoleh ke arah Beben sambil tersenyum. Kalau dia tahu, pasti heboh.
Begitu becak menghilang di tikungan, angin membawa serta tawa kecil mereka—tawa yang menyimpan janji diam-diam di dalamnya.