


oleh Fitri Laxmita · 99 Bab
Fiona Florencia Albert, seorang wanita berusia 24 tahun yang berjuang melawan leukemia, menyimpan cinta yang dalam untuk Arkana Pradipda Ilyas, seorang ustaz muda sekaligus teman kuliahnya. Di tengah keterbatasan hidupnya, Fiona menemukan kekuatan dalam imannya dan cinta yang diam-diam ia pendam. Namun, perjalanan cinta ini tidak mudah—antara harapan, doa, dan kenyataan, Fiona dan Arkana harus menghadapi ujian yang menguji keteguhan hati dan makna cinta sejati. Akankah cinta mereka menemukan jalan di tengah takdir yang penuh misteri?
PRAANG!
Suara kaca pecah menggema, memecah keheningan pagi di rumah mewah itu.
“FIONA! Apa yang kau lakukan?!” Suara Melinda melengking, matanya membelalak melihat serpihan guci porselen antik berserakan di lantai marmer.
Fiona berdiri di tengah ruangan dengan santai, menyilangkan tangan di depan dada. “Sengaja, Mom,” jawabnya ringan, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku pikir rumah ini butuh suasana baru.”
“Anak ini benar-benar!” Jonathan muncul dari ruang kerjanya, wajahnya merah padam. “Begini hasil caramu mendidik anak, Melinda! Semakin hari dia semakin tidak tahu aturan!”
Melinda langsung memutar tubuhnya, tatapannya tajam. “Oh, jadi ini salahku? Kau pikir mendidik anak itu hanya tugasku? Kau sendiri ke mana selama ini, Jonathan? Sibuk dengan bisnis, mengabaikan semua yang terjadi di rumah ini!”
Fiona mendengus kecil, memungut tasnya yang tergeletak di sofa. “Kalian berdua sama saja. Tidak ada yang benar-benar peduli padaku. Jadi, jangan saling menyalahkan,” katanya datar, lalu bergegas keluar sebelum salah satu dari mereka sempat menjawab.
Itu adalah rutinitas paginya—pertengkaran tanpa akhir antara kedua orang tuanya, diselingi komentar pedas darinya. Rumah mewah itu tak lebih dari panggung sandiwara, di mana semua orang hanya peduli pada penampilan dan reputasi keluarga Albert yang sempurna di mata publik.
Fiona melangkah keluar, menghirup udara pagi yang dingin, tapi hatinya terasa lebih berat dari sebelumnya. Rumah besar, kemewahan, semuanya terasa kosong. Kasih sayang? Itu adalah barang mewah yang tak pernah ia miliki.
***
Mobil sedan hitam berhenti di depan kampus. Fiona turun dengan langkah lesu. Saat itulah suara ceria memanggilnya.
“Fiona!” Amira melambai dari kejauhan, berjalan mendekat dengan senyum lebar di wajahnya.
Fiona tersenyum tipis. “Ada apa, Amira?” tanyanya, menatap sahabatnya.
“Gak ada, Cuma mau nyapa kamu aja,” jawab Amira ringan.
Berbeda dari Fiona, Amira adalah gadis yang sederhana, berhijab, dan selalu tampak tenang. Persahabatan mereka memang sering mengundang tanya. Amira berasal dari Aceh, seorang mahasiswi tekun yang menyeimbangkan hidupnya dengan nilai-nilai agama. Sedangkan Fiona Florencia Albert, gadis berdarah Indonesia-Jerman, mewakili segala sesuatu yang bebas dan keras kepala.
Tapi di balik perbedaan itu, Fiona menemukan ketenangan dalam suara Amira. Terutama ketika sahabatnya membaca Surah Ar-Rahman. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan Fiona—seolah hatinya tergetar setiap mendengar lantunan ayat itu.
Mereka duduk di sebuah restoran kecil, tempat favorit Amira. “Take away aja, Fi. Aku nggak sempat makan di tempat,” kata Amira sambil melihat menu.
“Oke, kita bawa ke kosanmu saja,” sahut Fiona sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
Amira menggeleng cepat. “Gak usah, aku aja yang bayar!”
Fiona menatapnya, menaikkan satu alis. “Ambil aja. Anggap itu DP untuk makan siang nanti.”
Amira mendecak, matanya melirik Fiona dengan kesal. “Kamu tuh nggak pernah mau aku traktir! Kebiasaan banget.”
“Sudah, jangan kebanyakan protes. Nanti cepat tua,” balas Fiona sambil terkekeh.
Tapi tawa itu hilang begitu mereka selesai memesan. Fiona memijat pelipisnya perlahan, rasa pusing kembali menyerang.
“Fi, kamu nggak apa-apa?” Amira menatapnya cemas.
Fiona mencoba tersenyum, walau lemah. “Gak apa-apa. Tapi kamu yang nyetir nanti, ya?”
Amira mengangguk, meski rasa khawatir belum hilang dari wajahnya.
Di dalam mobil, Amira membuka jendela sedikit, membiarkan angin pagi masuk. “Alhamdulillah, akhirnya kita sampai,” gumamnya. Namun, ketika ia menoleh ke Fiona, matanya membulat.
“Astaghfirullahaladzim, Fiona!” serunya panik. Ia meraih tisu dengan cepat, mendapati setetes darah mengalir dari hidung Fiona, wajah sahabatnya itu pucat, kontras dengan sikap santainya yang selalu berusaha terlihat tak terganggu oleh apa pun. Tapi kali ini, ada sesuatu yang mengganggu Amira, apalagi ketika ia menyadari noda merah kecil di bawah hidung Fiona.
“Kamu mimisan,” ujar Amira, nada suaranya cemas. “Kok bisa nggak kerasa?”
Fiona mengangkat bahu, seperti biasa, tak peduli. “Oh, gitu doang. Kirain kenapa.” Dengan santai, ia meraih tisu yang disodorkan Amira.
Amira memicingkan mata, mencoba membaca ekspresi Fiona. “Santai banget kamu. Kita ke rumah sakit aja, ya?”
“Nggak perlu.” Fiona menyeka hidungnya, tak tergesa. “Cuma telat sarapan ini. Udah biasa. Daripada kamu ngoceh panjang lebar, mending buruan jalan sebelum aku mimisan lagi.”
Amira memutar matanya, tapi tetap melangkah menuju mobil. “Telat sarapan sampai mimisan tuh nggak normal, Fiona,” gumamnya sambil menyalakan mesin.
“Bawaan lahir kali,” jawab Fiona, terkekeh.
Amira mendengus kesal. “Jangan becanda yang aneh-aneh. Besok kita ke kampus lagi, kan?”
“Iya. Kerjaan juga numpuk.” Fiona menyandarkan tubuhnya di kursi, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Butik kamu gimana? Masih rame?”
Amira tersenyum tipis. “Alhamdulillah, meski omsetnya turun, tapi tetep disyukuri.”
“Kenapa nggak fokus jualan online aja?”
“Udah kok. Namanya usaha, ada naik-turunnya.”
Fiona menyipitkan mata, lalu berkata lirih, “Biar aku bantu, deh.”
Amira tertawa kecil. “Mau bantu apa? Keluarga kamu aja nggak ada yang pakai baju muslimah.”
“Bantu doa aja, biar butik kamu makin lancar.” Fiona mengedipkan sebelah matanya, berusaha mengubah suasana.
Amira hanya menggeleng, tapi tersenyum. Sesampainya di kos, Amira segera mencuci tangan. “Kamu juga cuci tangan dulu!” serunya pada Fiona yang sudah sibuk membuka tas.
“Aku mau pesan makanan yang lain,” ujar Fiona sembari duduk di sofa.
“Pesan aja sendiri. Aku mau salat dhuha dulu.” Amira mengambil mukena dan menuju kamar mandi.
Fiona menatap langkah Amira dengan ekspresi datar, tapi ada sesuatu yang mengaduk dalam dadanya.
Saat Amira mulai melaksanakan salat, Fiona diam-diam memperhatikan dari balik sofa. Gerakan lembut itu, doa yang terucap lirih, dan ketenangan yang memancar dari sahabatnya membuat dada Fiona terasa hangat. ‘Seandainya aku bisa merasakannya juga ....'
“Fiona, makan duluan aja. Katanya tadi lemes,” ujar Amira sambil melipat mukenanya.
“Mana enak makan sendirian,” balas Fiona dengan nada menggoda.
Mereka duduk berdua, menikmati waffle yang sudah mereka bawa sebelumnya. Tiba-tiba Fiona melontarkan sesuatu, nadanya setengah bercanda, “Boleh nggak aku ikut tinggal di sini?”
Amira menatapnya serius. “Gimana kalau aku pindah kontrakan aja, cari yang ada dua kamar. Satu buat barang butik, satu lagi buat kamu.”
“Kenapa kamu nggak tinggal di apartemen aku aja?” Fiona menyahut cepat.
Amira menggeleng. “Mahal, nggak cocok sama kantongku.”
“Gak usah bayar. Temenin aku aja di sana. Sayang 'kan kalau kosong terus?”
Amira menghela napas. “Tapi kenapa sih kamu nggak tinggal di rumah orang tua kamu?”
Mata Fiona tiba-tiba menyipit, nadanya berubah datar. “Mira, kamu juga tahu alasannya.”
“Iya sih ...." Amira menunduk.
Fiona mengganti topik. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan botol kecil berisi beberapa obat, dan menelannya tanpa banyak bicara. Amira membeku sesaat sebelum bertanya, “Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Kalau nggak sakit, kenapa minum obat?”
“Udah bilang nggak sakit, Mira.” Fiona mengalihkan pandangannya.
Tapi Amira tak menyerah. “Jujur sama aku, Fiona. Kamu sakit apa?”
Hening sesaat menyelimuti ruangan. Fiona memandang keluar jendela, senyumnya hilang. Ada rahasia yang coba ia tutupi, tapi di balik kediamannya, sesuatu terasa retak.

Fitri Laxmita
50 Pengikut · 2 Novel