"Kejayaan sebuah dinasti tidak diukur dari seberapa luas tanah yang berhasil ditaklukkan oleh titah seorang kaisar, melainkan dari seberapa dalam rahasia yang sanggup ia kubur rapat-rapat dari jamrud waktu," desis Penasihat Senior kepada Lin dengan suara yang hampir tenggelam di antara debu tebal perpustakaan bawah tanah istana.
Suaranya bergetar pelan, membawa beban sejarah ratusan tahun yang tertumpuk di atas pundak renta pria paruh baya tersebut.
Lin tidak segera menjawab. Jemarinya yang ramping, dingin, dan bergetar halus masih melayang di atas sebuah meja batu pualam berukir relief naga kembar yang saling melilit. Di hadapannya, terbentang sebuah benda yang keberadaannya telah dihapus secara sengaja dari catatan resmi kekaisaran selama lebih dari tiga abad.
Gulungan Sutra Terlarang. Benda itu memancarkan aura magis yang kelam sekaligus memikat, mengundang siapa saja yang melihatnya untuk membuka tabir misteri yang menyelimutinya, meskipun risikonya adalah maut.
Perpustakaan bawah tanah istana kekaisaran pada pukul dua belas malam selalu memancarkan atmosfer yang menekan dan mencekam. Aroma kertas tua yang mulai lapuk, lilin lebah murni yang meleleh perlahan di sudut-sudut meja, dan kelembapan batu-batu berusia ratusan tahun bercampur menjadi satu, menciptakan udara yang begitu berat untuk dihirup.
Hanya ada satu pelita minyak kecil yang menerangi meja tersebut, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding batu yang basah oleh rembesan air tanah. Lin, seorang sejarawan muda istana yang sangat terkenal karena ketekunan, integritas, dan kecerdasannya dalam mengurai naskah-naskah kuno yang hampir hancur lebur, adalah satu-satunya orang yang diberi izin, atau lebih tepatnya, dijebak oleh keadaan, untuk meneliti gulungan keramat itu malam ini.
Tugas berat ini bukanlah sebuah kehormatan seperti yang dibayangkan oleh para prajurit di luar pintu besi penjara bawah tanah. Lin tahu betul dengan kesadaran penuh bahwa para kasim istana dan para petinggi kementerian menginginkan gulungan itu segera diterjemahkan agar mereka bisa memanfaatkan teknologi, strategi perang, atau ramuan alkimia kuno yang tertulis di dalamnya untuk kepentingan politik kelompok mereka sendiri. Namun, semakin Lin membaca deretan aksara paku dan simbol-simbol aneh yang terukir menggunakan tinta emas tua di atas kain sutra hitam legam itu, semakin ia menyadari bahwa naskah ini bukanlah sekadar catatan sejarah biasa tentang taktik militer atau silsilah keluarga kerajaan.
Garis-garis aksara tersebut tampak hidup dan bernapas. Ketika cahaya pelita minyak berkedip karena terembus angin malam yang masuk melalui celah ventilasi, tinta emas itu seolah mengalir pelan bagaikan pembuluh darah, membentuk pola geometris yang menyerupai pusaran air raksasa di tengah samudra luas.
Ada sesuatu yang sangat salah dengan hukum fisika benda ini. Kain sutra itu terasa hangat di kulit, hampir seperti kulit makhluk hidup yang sedang berdenyut perlahan di bawah telapak tangannya.
"Kau sudah membaca bagian akhirnya, Lin?" tanya Penasihat Senior kembali mencuat memecah keheningan, kini terdengar jauh lebih tajam, seperti bilah pisau yang siap merobek kesunyian malam yang pekat. "Apa yang tertulis di sana secara harfiah? Apakah leluhur pendiri dinasti kita benar-benar menemukan cara mutlak untuk menembus batas dimensi ruang dan waktu?"
Lin mengerjap beberapa kali, mencoba menepis rasa pusing mendadak yang menyerang kepalanya dengan hebat. Pandangannya mulai kabur, sementara deru angin dingin tiba-tiba bertiup kencang dari lorong-lorong kosong perpustakaan bawah tanah yang seharusnya tertutup rapat, memadamkan seluruh pelita di sekeliling mereka dalam satu detik penuh kengerian, menyisakan hanya cahaya keemasan yang bersumber terang dari gulungan sutra di hadapannya.
"Penasihat, ada sesuatu yang tidak beres dengan tinta ini. Ini bukan sekadar tulisan," ucap Lin, suaranya bergetar hebat di ambang kepanikan.
Ia mencoba menarik tangannya menjauh dari permukaan meja batu, tetapi telapak tangannya seolah direkatkan oleh gaya magnet misterius yang tidak kasat mata ke permukaan kain sutra tersebut.
Aksara-aksara emas itu mulai terlepas dari tenunan kainnya, melayang-layang di udara membentuk lingkaran cahaya terang yang berputar semakin cepat.
Suara dengungan frekuensi tinggi mulai merusak pendengaran Lin, mirip suara ribuan lebah yang mengamuk di dalam tempurung kepalanya, menciptakan rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke tulang belakang.
Ruangan batu perpustakaan itu mulai bergetar hebat, debu-debu berhamburan dari langit-langit, dan rak-rak buku raksasa yang tersusun dari kayu jati tua mulai bergeser dari tempatnya semula.
Penasihat Senior di seberang meja tidak tampak ketakutan sedikit pun. Sebaliknya, pria tua itu tersenyum misterius, bibirnya melengkung membentuk senyuman kemenangan yang mengerikan sebelum tubuhnya perlahan-lahan memudar ditelan kegelapan ruangan yang pekat.
"Waktu telah memilihmu, Lin. Selamat tinggal di dunia modern yang sama sekali tidak mengenal sejarah masa lalumu," ucap Penasihat Senior, suaranya terdengar menggema dari segala penjuru ruangan seolah datang langsung dari dalam dinding batu purba itu sendiri.
Lin menjerit histeris, akan, tetapi suaranya tenggelam seketika di dalam deru angin yang kini berubah menjadi badai energi berkecepatan tinggi. Pusaran cahaya emas dan hitam menghisap seluruh ruang di sekitarnya tanpa ampun.
Hukum gravitasi seolah kehilangan daya cengkeramnya, tubuh Lin terangkat dari lantai batu, berputar-putar tanpa arah di dalam terowongan waktu yang menyilaukan mata. Berjuta-juta bayangan gambar, gedung-gedung tinggi pencakar langit yang terbuat dari kaca berkilau dan baja kokoh, kendaraan-kendaraan besi beroda empat yang melaju dengan kecepatan kilat, serta lampu-lampu neon warna-warni yang memetakan kota metropolitan raksasa, berkelebat silih berganti di depan retinanya dengan kecepatan tinggi yang membuat dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen.
Ia merasa seolah-olah seluruh tulangnya diremukkan menjadi serpihan kecil, disusun kembali dalam hitungan detik yang sangat menyiksa. Kesadarannya perlahan-lahan terkikis habis, terseret ke dalam kehampaan yang sangat dalam dan gelap gulita, menyisakan satu pertanyaan terakhir yang berputar-putar di benaknya sebelum gelap total merenggut kesadarannya.
Di zaman asing mana ia akan terbangun dari mimpi buruk ini?
Beberapa saat kemudian, keheningan malam kota modern yang basah oleh sisa hujan menyambut indranya.
Lin merasakan dinginnya aspal jalanan yang keras menusuk punggungnya melalui pakaian sutra kuno yang ia kenakan. Bau bensin yang menyengat, asap knalpot kendaraan bermotor, dan kelembapan udara malam kota metropolitan yang sangat asing memenuhi penciumannya, bukan lagi aroma dupa cendana dan kayu lapuk istana kekaisaran yang biasa ia hirup setiap hari.
Matanya mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan terangnya cahaya lampu sorot raksasa yang menyilaukan dari sebuah kendaraan besi besar yang melaju kencang ke arahnya dengan suara decitan ban yang memekakkan telinga.