"Rania!"
Panggilan tegas mendominasi masuk ke telingaku. Bergegas aku menghampirinya, kemudian membuka jas dokter yang membungkus bahu bidangnya. Aku menelisik setiap inci kemeja yang dia pakai. Mataku memicing saat melihat noda merah pucat di kerah kemejanya.
"Aku capek! Mau mandi dulu. Pasien hari ini membludak!" singkat Kala tanpa menoleh ke arahku, dan menuju kamar mandi.
Aku mematung. Namun, setelahnya aku terkesiap. "Aduh! Sup ayamku!"
Aku berlari kecil kembali ke dapur. Dengan was-was aku tengok ke dalam panci. Syukurlah! Supnya tak gosong.
Setengah jam berlalu. Aku menunggu di dapur. Menunggu suamiku untuk makan malam bersama.
"Lho? Kamu nggak tidur?" tanya Kala sambil mengutak-atik ponselnya.
Senyum itu. Senyum berlesung pipi yang dulu hanya dia berikan padaku, sekarang beralih ke ponselnya. Apakah Kala lebih berminat menikah dengan ponselnya? Entah!
"Kita makan malam dulu ya, Mas!" bujukku.
Kala hanya mendesah, sambil mengusap wajahnya yang segar setelah mandi, tapi terlihat frustasi mendengar ajakanku.
"Aku sudah makan, Ran. Jam segini lho! Masa aku harus pulang dulu buat makan? Sudah pasti aku beli, kan?" jawab Kala.
Aku mengangguk. Dengan sigap aku memasukkan lauk ke kulkas. Rasa laparku juga menguap entah ke mana sejak aku melihat noda merah di kerah bajunya.
"Mau ke mana?" tanya Kala menghentikan langkah kakiku.
"Tidur," singkat jawabku.
"Hmm."
Di ranjang yang sama, tapi pikiran kami tak sama, Kala sibuk dengan ponselnya, aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Jujur saja, rumah besar, dan megah ini terasa amat menyesakkan karena kesunyiannya. Belum lagi, soal noda merah tadi.
"Mas."
"Aku capek, Ran. Jangan sekarang, ya?"
Penolakan Kala membuatku mengurungkan niat untuk menyentuhnya. Semua orang menyindirku. Mandullah. Istri gagallah. Rahim kosonglah, dan masih banyak lagi. Bahkan almarhumah ibu mertuaku pernah bilang, aku kurang garang pada Kala. Kurang pedas jadi cabai, atau kurang nendang jadi rempah.
Padahal, aku tak pernah gengsi menggoda suamiku dengan baju-baju dinas nakal, yang kalau dipikir-pikir harga diriku sama dengan harga diri para kupu-kupu malam yang mendapat bayaran.
Aku matikan lampu di sebelah mejaku. Kala menyentak, dan menarik bahuku.
"Kamu lupa minum vitamin, kan?" tanya Kala dengan wajah serius.
Ya! Aku lupa lagi. Memangnya kenapa kalau lupa minum vitamin? Salah, ya?
"Maaf."
"Lain kali, ingat!" ketusnya sambil menarik laci di meja sebelah.
Kala membuka wadah kecil, lalu mengeluarkan beberapa butir obat putih, dan menyerahkan segelas air padaku. Secepatnya aku teguk air, dan obatnya agar Kala berhenti memandangiku. Pandangan yang membuatku risih, padahal dia itu suamiku.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Tak berselang lama, kepalaku terasa berputar. Reaksi vitamin, katanya. Vitamin penambah kesuburan. Mau sesubur apa pun, kalau dia tak pernah memuntahkan benihnya di rahimku, tak mungkin aku hamil, kan?
Ranjang di sebelahku bergerak. Seperti biasa, Kala akan meninggalkan aku sendirian di kamar ini. Aku kadang penasaran, ke mana dia setelah aku terlelap. Membuat laporan? Menonton?
Biasanya, setelah minum vitamin aku akan tertidur sangat pulas. Besoknya, aku pasti terbangun dengan tubuh yang sangat letih, serta kepala berputar.
Pintu kamar kudengar ditutup. Dengan sisa-sisa rasa penasaran yang juga diselingi rasa kantuk luar biasa aku meraba ranjang di sebelahku. Kosong. Ke mana Kala?
Aku kembali teringat dengan noda merah di kemejanya. Aku terhuyung, berusaha bangkit. Berjalan pelan dengan kedua tanganku bertumpu pada sesuatu. Aku membuka pintu kamar dengan pelan. Masih terhuyung, berjalan menuju ruang tamu. Pandanganku mulai kabur. Sekelilingku berputar, tapi aku masih berusaha berjalan ke kamar dekat ruang tamu.
Pikiranku hanya fokus pada satu hal. Ke mana Kala jika dia tidak tidur denganku?
"Mas?" panggilku lirih, nyaris tak terdengar.
Sedikit lagi aku mencapai kamar di dekat ruang tamu, pintunya terbuka sedikit.
"Mas Kala," panggilku lagi.
Kamar itu kosong. Aku tidak berharap menemukan dua sosok yang saling tumpang tindih. Apalagi membayangkan Kala sampai bersama wanita lain.
"Mas."
Aku tak kuat lagi. Aku limbung. Kemudian, aku merasakan tubuhku menghantam lantai. Agak keras, dan dahiku mendarat lebih dulu di tembok. Dug! Sakit. Setelahnya, gelap.
***
"Bangun, Ran!"
Aku tersentak mendengar suara Kala. Dengan segera aku membuka mata. Lho, kok aku di kamar? Kepalaku berdenyut nyeri saat aku berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.
"Kenapa aku tidur di sini?" tanyaku.
Pria itu mengernyitkan dahinya. "Maksudmu apa?" tanya Kala bingung.
"Eh, tak apa, Mas. Aku buatkan sarapan, ya?" ucapku mengelak, agak takut melihat ekspresi Kala yang serius.
"Tidak usah! Aku ada operasi besar hari ini. Pasien komplikasi. Satu lagi," ucapan Kala menggantung seolah-olah dia berat menyampaikannya, "malam ini, aku tidak pulang. Operasi besar butuh penanganan ekstra, dan harus dilakukan pengawasan ketat. Pasiennya anggota dewan. Aku nggak boleh gegabah."
Dia tak berani menatap mataku saat menjelaskan. Entah kenapa. Kata pepatah, orang bohong pasti saat bicara dia tak berani menatap mata lawan bicaranya. Haruskah aku percaya dengan pepatah itu?
"Ya, Mas," hanya itu jawabanku.
Kala mengangguk kemudian menyampirkan jasnya di lengan, pergi dengan langkah cepat meninggalkan aku sendirian.
"Bye, Darling," gumamku sok romantis dengan khayalan Kala yang sedang mengecup keningku sebelum berangkat ke rumah sakit. "Hati-hati di jalan ya, Mas Kala sayang. Muah!"
Come on, Rania! Suamimu itu bahkan sudah menghilang dengan mobilnya dari parkiran rumah.
"Lucu banget! Apa sebaiknya aku menikah dengan AI, ya? AI, saja lebih pintar gombal dibandingkan Mas Kala. Nasib, nasib!"
Anggap aku menyerah. Sudah beberapa tahun menikah, dan aku sudah biasa makan sayur tanpa garam. Hambar, tapi aku lapar. Jadi, terpaksa aku makan.
"AI, apakah suamiku selingkuh?" tanyaku random pada aplikasi chat AI.
"Maaf, aku tidak bisa menjawab karena aku tidak kenal suamimu," jawab AI, suaranya khas banget!
"Aku curiga, AI. Di kemejanya ada noda lipstik," curhatku lagi.
"Menurut penelitian dari Eropa, noda lipstik di kerah baju pertanda habis bersenang-senang di club malam. Saat berdansa dengan wanita lain, tanpa sengaja."
"Bukan! Suamiku kerja di rumah sakit, AI!" potongku dengan nada frustasi.
"Baiklah. Mungkin suami kamu berusaha menolong pasien. Tanpa sengaja pasien wanita menempel."
"Oke, AI. Stop!" potongku lagi, lalu keluar dari aplikasi chat.
Aku tertawa getir. "Kalau curiga, harus menyelidiki. Setelahnya, akan menemukan fakta. Lalu, harus berani menerima kenyataan. Mungkin Mas Kala selingkuh, mungkin juga seperti kata AI, dia tak sengaja kena noda lipstik pasiennya."
Aku bergumam sendiri seperti orang gila. Saking tak ada teman, dan orang yang diajak membagi beban pikiranku.
"Datangi, atau biarkan? Hah!"