Delara menutup laptopnya dengan kasar setelah merasakan sakit di kepalanya. Setelah bermenit-menit mengerjakan skripsi bab akhirnya, dia memilih menutup laptopnya dan merebahkan diri ke ranjang.
Semester tujuh adalah semester yang mulai terasa bahwa ternyata ia sedang benar-benar kuliah dan menjadi mahasiswa. Mau bagaimana lagi, sejak pertama kali dia menjadi mahasiswa baru, Delara duduk di bangku kuliah hanya setengah semester, selanjutnya wabah Covid-19 menyerang Indonesia dan harus menempuh segala pendidikan via online. Semua berakhir membaik dua tahun kemudian, dimana untuk kampus Delara sendiri masih menerapkan belajar online untuk beberapa mata kuliah tertentu.
Bukan berarti skripsi itu sangat sulit, tentu saja sulit tapi tidak sesulit ini andai Delara tidak sedang dilanda patah hati. Segalanya menjadi kacau. Delara Rumia yang jarang sekali menghadapi dunia percintaan setelah hubungannya yang terakhir saat dia berusia tujuh belas tahun. Sebelum akhirnya dia bertemu laki-laki baik yang sebenarnya bajingan. Membuat Delara menambah luka baru setelah bertahun-tahun menyembuhkan diri. Patah hati di semester akhir? Momentum yang sangat baik bukan.
Delara berusaha menyibukkan diri setiap harinya hanya agar bisa mengenyahkan ingatan yang membuatnya sedih, tapi melampiaskan pada tugas akhirnya tidak membuat segalanya membaik. Yang ada dia semakin pusing. Dia butuh hal baru. Sampai akhirnya Delara mempunya pikiran untuk bekerja. Ya, itu adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan.
Semester akhir tidak lagi ada jam mata kuliah dan Delara punya cukup banyak waktu jika ia bekerja, dan itu tidak akan mengganggu jam kerjanya. Selain itu, beasiswanya juga akan berakhir ketika Delara lulus, tidak akan ada lagi sumber penghasilannya jika tidak dengan bekerja. Karena semenjak Delara lulus sekolah, dia hanya mengandalkan beasiswanya untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak lagi meminta ke orang tuanya yang ekonominya pas-pas an.
Dengan pemikiran itu, Delara bertekad mencari lowongan pekerjaan di sosmed. Meski sebenarnya Delara sedikit pesimis. Dia belum pernah bekerja, penampilannya juga biasa, dan dia introvert. Pekerjaan seperti apa yang bisa memperkerjakan dirinya yang tidak punya pengalaman ini?
Delara menggulir layar ponselnya dengan teliti, mencari lowongan kerja yang bisa menerima manusia yang masih kuliah dan berpenampilan standar seperti dirinya. Wajar syarat lowongan kerja di Indonesia sangat pemilih. Sampai pada akhirnya Delara menemukan lowongan kerja yang menarik minatnya.
Lowongan Kerja De Cafe (Waiters)
Syarat :
Wanita (Belum menikah)
Berpenampilan menarik
Jujur
Pendidikan Minimal SMA
Tidak Perlu Ijazah
Silakan kirim CV pada kontak berikut : 085*********
Delara tidak berpikir panjang untuk segera membuat CV dan mengirimnya ke kontak yang sudah tertera. Meski sejujurnya Delara juga tidak memiliki pengalaman membuat CV. Hingga tidak lama balasan datang dan memberitahukan bahwa Delara harus menunggu untuk jadwal pemanggilan interview.
Keesokan harinya Delara pergi ke kampus untuk menemani sahabatnya ke perpustakaan dan bimbingan. Namun kesialan yang tidak disangkanya adalah bertemu dengan bajingan yang menyakitinya. Laki-laki itu memang satu kampus, karena Delara sendiri mengenalnya melalui kegiatan KKN. Ya, Delara cinlok dan itulah kebodohannya.
Dengan tergesa-gesa Delara bersembunyi di antara transportasi di parkiran. Dengan raut panik ia meringkuk berharap laki-laki itu tidak melihatnya. Danang, sahabatnya itu hanya tertawa melihat kelakuan Delara yang memalukan.
“Sandal kamu ngapain di lepas si Ra!” ucap Danang gemas.
“Diem deh, Nang! Mending kamu agak jauhan deh dari aku!" usir Delara yang tengah jongkok dengan kaki telanjang.
“Lah ngapain? Takut ya ketauan keluar bareng aku?”
“Kagakk,” elak Delara.
“Hallah. Padahal tuh si bangsat juga udah ga peduli sama kamu. Gausah sok-sok an nunggu dia balik deh sampe gamau keliatan deket sama cowok,” ucap Danang kasar.
Meski Danang mengenal Delara masih satu tahun lamanya, tapi dia hafal dengan Delara seperti telah mengenal lebih lama. Yah, dibandingkan si bangsat itu, hubungan persahabatannya dengan Danang lebih lama, karena Delara hanya berhubungan kurang lebih dua bulan dengan laki-laki yang enggan ia sebut namanya itu.
Bukan karena Danang tidak mengenalnya. Justru karena Danang mengenal laki-laki itu. Ia teman Danang, bahkan teman sekelas Danang, di fakultas yang sama dan di program studi yang sama. Memang Delara saja yang bodoh karena mudah terpedaya oleh bajingan dengan tampang polos tapi gila wanita itu. Bahkan asal-usul Danang berteman dengan Delara karena Delara tau bahwa Danang adalah teman dari orang yang menyakitinya tapi masih disayangi oleh Delara. Niat Delara yang hanya ingin mencari tahu tentang laki-laki itu dari Danang, padahal Danang tidak terlalu dekat. Sampai akhirnya keduanya berakhir menjadi teman curhat karena Danang sendiri sedang dilanda patah hati setelah diselingkuhi berkali-kali. Keduanya hanya saling mencari pelarian, tapi akhir yang baik untuk mereka adalah pertemanan.
Bagi Delara, Danang baik, tapi Delara tidak suka laki-laki yang melampiaskan rasa frustrasinya pada minuman keras alias pemabuk. Sedangkan Delara perempuan baik-baik, berkali-kali Danang sering mengajak Delara menikah dengannya, dimana Delara tau itu hanya bercanda, karena Delara bukanlah selera Danang. Delara masih single, belum menikah, sedangkan selera Danang adalah janda. Itu serius, janda pirang, tante-tante, sangat memuaskan untuk Danang. Meski lagi-lagi Danang berkata itu hanya bercanda.
“Sampe kapan kamu cemberut gitu?”
“Dia tadi kelihatan aku ga ya?"
“Kenapa? Ngarep diliat kamu? Mending gausah sembunyi, dan tau gitu aku panggil aja tadi tuh orang!”
Delara melirik Danang dengan sinis. Keduanya sedang berada di taman dekat kampus. Delara sendiri malas untuk pulang, begitu juga Danang.
“Setelah satu tahun aku akhirnya liat dia."
“Ya, dan dia baik-baik aja, sehat wal afiat," “Cuma kamu yang galau mampus, galauin orang yang kaya kadal itu”
“Hmm, aku baik-baik aja kok.”
“Gausah ngeles kamu masih suka nangis kalo malem kan?”
“Udah jaranggg..” sahut Delara.
“Sama aja masih tetep nangisin si bangsat itu.”
“Ya wajar sihh, aku cewekk. Gabisa semudah itu buat ikhlas! Ga kaya kamu-” ucapan Delara terputus karena bunyi notifikasi ponselnya yang ada di meja. Melihat isi notifikasi yang dari nomor asing itu, Delara mengernyit, sebelum akhirnya dia bersorak senang.
“YESSS, NANGG! AKUU DI PANGGIL INTERVIEW BESOKK! HWAAAA!” Delara meloncat-loncat gembira. Lupa dengan suasana hatinya yang mendung sebelumnya.
“Woww selamatt, tapi besok aku gabisa nganter karna aku juga ikut paman kerja."
“Gapapaa, aku bisa naik ojol besok," ucap Delara dengan senyum semringahnya. Lokasi interview atau lokasi tempat dia kerja lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Delara juga masih belum bisa mengendarai sepeda motor di usianya yang dua puluh dua tahun itu.
“Okee, good luck. Yukk pulangg.”
Selama perjalanan pulang Delara tidak sabar untuk segera interview besok. Meskipun di dalam hatinya dia deg-deg an, dan takut, karena dia belum pernah melakukan interview. Semalaman Delara mencari bahan jawaban interview yang kemungkinan akan ditanyakan, lalu menghafalnya sedemikian rupa.
Keesokan harinya, tepat jam setengah sepuluh pagi, Delara sudah bersiap. Karena interviewnya dijadwalkan jam sepuluh. Dia tidak boleh telat karena itu bisa jadi first impression Delara sebagai calon karyawan. Sampai akhirnya Delara menjadi orang kedua yang sampai di tempat tepat jam sepuluh lebih dua menit.
Orang pertama telah selesai, dan Delara adalah orang yang selanjutnya di panggil.
“Silahkan duduk.”
“Perkenalkan nama saya Endaru Wiraguna, saya owner dari De Cafe.”
Hah? Ini ngga salah? Ownernya masih muda?
Bersyukur Delara mengenakan masker hingga raut terkejutnya tidak terlalu kentara. Bagaimana tidak terkejut, untuk pertama kali dia melamar kerja, dan yang menjadi atasannya bukanlah bapak-bapak beruban yang sudah tua, melainkan sosok yang terlihat masih seumuran dengannya.