


oleh Ayunina Sharlyn · 109 Bab
Fajar, teman Baru yang menyebalkan, ternyata justru menarik perhatian Senja dan seperti tidak sadar Senja meminta Fajar menjadi kekasihnya karena tingkah Fajar yang membuat Senja kesal. Siapa yang menduga, hubungan seperti kebodohan itu membuat Senja makin tenggelam dalam cinta. Sekalipun Fajar menghindar karena kehilangan kedua orang tuanya dalam tragedi, Senja tidak bisa melepaskan Fajar. Kesenjangan yang makin lebar, membuat keduanya seperti tidak mungkin lagi bergandeng tangan. Bisakah cinta yang diawali kekonyolan akan kembali mendekat, rapat dan menyatu?
Liburan berakhir, hari pertama sekolah dimulai. Ah, Senja belum puas menjadi kaum rebahan, tapi apa daya panggilan hidup tidak bisa diabaikan. Sekalipun masih ogah, Senja memaksa diri berangkat ke sekolah dan hampir terlambat! Karena selama libur, dia terbiasa bangun semau dia saja.
Baru dua langkah masuk gerbang sekolah, terdengar bel berbunyi. Senja mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju ke kelas. Kelas paling senior di sekolah itu, kelas 12. Karena agak buru-buru, Senja tidak memperhatikan langkahnya, begitu dia masuk kelas, dia menabrak seseorang.
“Aduh!” Senja hampir terjungkal.
Cepat dia berpegangan pada meja sebelahnya menahan diri agar tidak terjerembab. Tas di bahu Senja melorot dan menimpa murid di depannya.
“Sorry, sorry,” kata Senja cepat.
Murid itu mengangkat tas Senja dan dia menegakkan posisinya, lalu menyodorkan tas itu di depan Senja. Senja menatapnya dengan tajam. Siapa cowok itu? Tidak ada murid itu di kelas Senja selama ini. Apa dia murid baru?
Cowok itu juga menatap Senja tajam. Matanya hitam legam, rambutnya lurus dengan potongan keren. Kulit mukanya putih dan agak kaku. Tapi ganteng. Ganteng yang beda dengan teman-teman Senja.
“Tasmu, Neng. Hati-hati kalau jalan,” katanya, datar tanpa ekspresi. Lalu dia berjalan ke bangku paling belakang dan duduk di sana.
Senja agak kaget dengan perkataan cowok itu. Logatnya jelas tidak biasa Senja dengar.
“Sombong banget,” ucap Senja lirih dengan nada ketus.
Senja memperhatikan sekeliling, semua teman sudah mengambil tempat duduk masing-masing. Reva melambai, memberi kode agar Senja duduk di belakangnya yang masih kosong. Persis, di sebelah cowok kaku itu. Sayangnya, tinggal bangku itu yang kosong.
Dengan malas Senja bergerak dan duduk juga di sana. Dia tidak menoleh ke arah kirinya sama sekali. Dia menaruh tas dan langsung menyiapkan buku serta alat tulisnya. Bu Rani wali kelas mereka, menyambut kehadiran mereka memasuki kelas 12. Senyumnya yang ramah membuat suasana hari pertama sekolah lebih menyenangkan. Bu Rani juga suka berkelakar. Hati Senja sedikit lebih cair karenanya.
“Oya, kalian dapat teman baru semester ini. Dia pindahan dari Bandung. Lebih baik kenalan sendiri saja, ya! Mari, silakan ke depan!” Bu Rani memandang ke arah cowok di sebelah Senja. Dengan tenang dan santai, cowok itu maju dan berdiri di sebelah Bu Rani.
“Silakan.” Bu Rani mempersilakan cowok itu berkenalan.
“Terima kasih,” katanya datar.
Dia memandang ke seluruh kelas. Wajahnya beneran ganteng, bersih dan terlihat cool.
“Hai, Guys! Saya Bintang Fajar Abadi. Panggil saja Fajar. Salam kenal semuanya. Terima kasih.”
Itu saja. Dia menutup perkenalan dengan senyum kaku. Wajahnya yang tampan terlihat agak galak dan tidak ramah.
“Namanya kayak nama toko!” seru Dito dari belakang. Mendengar itu beberapa anak tergelak. Fajar ikut tersenyum sedikit, di ujung bibirnya.
“Dito?” ujar Bu Rani, menatap Dito. Dito memang suka ceplas ceplos dan sedikit usil.
“Bercanda, Bu!” kata Dito seraya mengacungkan jempol ke arah Fajar. “Sorry, ya!”
“Ga apa. Santai saja,” balas Fajar. Tetap datar.
“Baik, Fajar. Silakan kembali ke tempatmu,” ujar Bu Rani, kemudian melanjutkan pelajaran dengan menyampaikan hal-hal yang penting untuk persiapan mereka di kelas 12. Khususnya untuk menghadapi ujian akhir nanti.
Sambil mengikuti pelajaran, beberapa kali Reva melirik kepada Fajar. Cowok itu santai sekali. Dia tidak rasa canggung atau kikuk berada di lingkungan baru. Beda kota jauh lagi. Ini Malang, Jawa Timur. Dia dari Bandung, Jawa Barat. Semua beda.
“Kenapa noleh ke situ terus?” bisik Senja ke Reva.
“Ganteng.” Reva balik berbisik. Senja mencibir. Lalu mencoba melirik Fajar. Dan pas cowok itu melihatnya. Fajar langsung mengangkat alisnya. Senja jadi gugup dan langsung balik melihat ke depan lagi.
“Sial,” batin Senja. “Sekali noleh ketahuan, aduh.” Menyesal juga dia ikut melirik ke cowok itu.
Sepanjang hari itu Fajar jadi pusat perhatian kelas, mau tidak mau. Karena dia murid baru yang keren dan ganteng. Ternyata, semudah itu Fajar bisa ngobrol nyambung dengan beberapa teman cowok. Tapi kesan sombong masih kelihatan di mata Senja. Dan Senja tidak bicara apa pun dengannya sampai sekolah usai.
*****
Beberapa hari berlalu dan sekolah berjalan menyenangkan. Kesibukan makin tampak ketika mulai ada PR, tugas ini dan itu, juga ekstrakurikuler. Benar-benar kisah seru liburan tidak diingat lagi.
Sore itu, sepulang sekolah, giliran Senja menyiram taman mungil di samping rumah. Dengan bernyanyi kecil, Senja mulai menyirami beberapa jenis bunga dan tanaman lainnya yang ditata rapi dan menarik. Mama yang suka berkebun. Senja sesekali saja membantu. Yang paling Senja suka memang menyiram tanaman-tanaman itu. Karena dia suka main air, apalagi hari panas begini. Ketika sedang asyik menyiram bunga, dia melihat ke jalan depan rumah. Dari jauh kelihatan seseorang sedang berlari kecil menuju ke arahnya.
Senja memperhatikannya. Dari posturnya seperti tidak asing. Senja memicingkan mata dan menajamkan penglihatan. Sudah lebih dekat masih belum jelas. Pakai topi, sih … wajahnya agak tertutup. Begitu dia lewat di dekat rumah Senja, cowok itu berhenti sebentar.
“Kalau siram bunga, siram saja. Ga usah nungguin orang lagi olahraga.” Tiba-tiba cowok itu bicara pada Senja. “Atau mau ikut?”
“Hei … kamu??” Senja terbelalak.
Cowok itu tersenyum, lalu mengambil langkah mengayunkan kaki, melanjutkan lari lagi. Ternyata Fajar!
“Aduh, kenapa aku bisa ga ngenalin itu cowok sombong,” gerutu Senja. “Lagian kenapa dia bisa lari di sekitar daerah sini? Apa rumahnya dekat?”
Senja makin sebel saja. Cowok sombong itu kenapa makin berkeliling dan berkeliaran di dekatnya terus?
“Ahh, bodo!” Senja menggeleng-geleng keras. Lalu dia melanjutkan menyiram sedikit lagi dan segera membereskan peralatannya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah. Sampai malam dia masih teringat kejadian sore tadi. Jangan sampai sat di sekolah di Fajar akan menyinggung soal kejadian itu.
Entahlah, Senja masih saja belum bisa lega dan nyaman kalau berurusan dengan Fajar. Untungnya kelas mereka mobile, jadi sepanjang hari Senja tidak harus duduk bersebelahan dengannya. Yang lebih menyebalkan, Fajar langsung terkenal di sekolah. Tidak sedikit waktu Senja mendengar cewek-cewek bicara tentang dia.
“Murid baru kelas 12 itu, keren abis, ya? Namanya unik, Fajar. Gantengnya itu, lo! Dia pintar basket juga, tahu ga? Hei, dia hebat Math dan Inggrisnya!” Dan banyak lagi cerita yang heboh soal si Fajar.
Padahal, menurut Senja, cowok yang lain juga tidak kalah ganteng. Ada yang lebih hebat basketnya. Ada yang lebih jago Math dan Inggrisnya. Dia tidak sehebat itu sebenarnya. Gara-gara Fajar masih baru saja jadi langsung semua melihat kepadanya.
“Ahh, ngapain mikirin dia terus?” Senja memukul kepala dengan jarinya. “Belajar, Nja .…” Dia berusaha fokus dengan PR yang sedang dikerjakannya.

Ayunina Sharlyn
26 Pengikut · 9 Novel