Sebuah taksi berhenti di depan rumah besar bercat putih. Dari dalamnya sepasang pengantin baru, Senja dan Fajar, turun. Mereka mengeluarkan koper dari bagasi, lalu masuk ke dalam rumah. Rumah tampak sepi. Apakah Nindya dan Chandra, orang tua Senja tidak ada di dalam? Hari sudah sore, seharusnya mereka ada telah kembali dari toko.
Pintu rumah tidak dikunci, artinya mereka ada di dalam. Senja meletakkan koper di kamar. Fajar juga, lalu merebahkan badan di kasur. Punggung pegal setelah perjalanan yang jauh. Bulan madu seusai hari pernikahan, menyenangkan, tetapi tetap lelah tidak menjauh dari tubuh.
"Aku ke cari mama papa, Jar." Senja keluar kamar, menuju ke kamar papanya. Pintunya sedikit terbuka. Papa di dalam sedang tidur. Senja tersenyum. Dia kangen juga sama papa. Lima hari saja pergi, senang sekali bisa melihat papanya lagi.
"Hei! Sudah pulang?" Dari belakang Senja terdengar suara Nindya.
Senja membalikkan badan dan melihat sang bunda tersenyum memandang padanya.
"Baru masuk, Ma." Senja memeluk mamanya. "Udah kangen Mama sama Papa."
"Ih, sudah nikah masih ngalem." Nindya mencubit pelan hidung Senja. "Fajar mana?"
"Di kamar." Senja masih menggandeng lengan Nindya.
"Kita bicara yuk, buat acara ultah papa. Mau kapan? Mesti serba cepat ini." Nindya mengajak Senja ke ruang tengah.
"Aku panggil Fajar dulu, Ma." Senja melepas tangannya dan memanggil Fajar. Berdua mereka ke ruang tengah.
"Mama!" Fajar menyapa Nindya, memeluknya, lalu duduk di sebelah Senja.
"Kita buat acara di rumah saja. Papa lebih senang kalau kumpul keluarga. Cuma harus spesial." Nindya mulai pembicaraan mereka.
"Aku ada ide. Acara kita buat di teras samping, sekalian taman samping. Barbeque gitu, gimana?" kata Senja. Dia memandang Nindya meminta persetujan.
"Bisa. Papa suka yang sederhana memang. Nanti mama buat masakan kesukaan papa juga. Cuma yang spesialnya apa." Nindya masih mikir.
"Mama simpan kenangan papa nggak? Surat, foto, benda kesayangan atau apa saja." Fajar muncul ide.
"Ada. Aku simpan semua." Nindya memperhatikan Fajar. Dia menjawab tapi juga ingin penjelasan lebih.
"Tiga benda istimewa buat papa. Kenangan indah yang ga mungkin lupa. Nanti kita ingatkan papa pada momen itu, Ma," jelas Fajar.
"Ya, itu menarik. Aku sudah bisa bayangin apa saja itu." Nindya tersenyum.
"Mama cerita kami dulu, dong," pinta Senja.
Nindya menggeleng. "Ga. Biar papa langsung yang cerita. Kalian atur aja bikin acaranya biar asyik besok."
"Baiklah, Mama sayang." Senja melebarkan bibir.
Tepat ketika mereka tuntas bicara, Chandra muncul. Dia masih menggunakan krek, berjalan mendekat ke ruang tamu.
"Ah, kalian sudah sampai?" Chandra tersenyum lebar. "Gimana di sana?"
"Papa!" Senja bangkit dan memeluk papanya. "Keren abis. Makasih surprise-nya."
"Sama-sama." Chandra mengusap kepala putrinya.
"Aku lapar. Mama sudah masak?" Chandra melihat pada Nindya.
"Tenang saja. Sudah siap. Yuk!" Nindya bangun dari kursinya, melangkah perlahan menyamakan dengan langkah Chandra menuju ruang makan.
Senang bisa kembali ke rumah. Rumah memang tempat paling nyaman. Seindah apapun di luar sana, saat balik ke rumah, melihat senyum orang tua yang penuh sayang, itu menyenangkan sekali.
*****
Teras samping didekorasi cantik. Tidak berlebihan, tapi terlihat lebih cerah. Meja dan kursi ditata rapi. Fajar dan Senja membantu Nindya menyiapkan segala sesuatu. Bayu, kakak Senja, dan Molly, istri Bayu juga datang ikut membantu. Mereka senang sekali mama punya ide bikin yang spesial buat papa.
"Setelah melewati kecelakaan itu, semua sudah terlewati, hanya bisa bersyukur. Kami selamat semua karena Tuhan masih melindungi. Makanya acara ultah papa ini sekalian kita syukuran, Bayu." Begitu Nindya menjelaskan. Mengingat kecelakaan di hari Semua wisuda, Nindy hanya bisa bersyukur dia dan Chandra selamat.
"Iya, Ma. Aku dukung penuh. Aku akan bantu sebisa mungkin." Dengan senyum lebar Bayu merangkul mamanya.
Sore itu, tepat setengah 6 sore, semua telah siap. Lampu terasa, lampu taman, dan lampu tambahan lainnya sudah menyala. Ada meja untuk sound, Fajar mulai memutar lagu-lagu love songs, lagu zaman papa dan mama muda. Nindya tentu saja tersenyum senang. Lagu tahun 80 dan 90-an. Memorinya segera kembali ke masa itu.
Nindya mengajak Chandra keluar kamar. Dengan mengenakan batik wana biru dengan motif bunga putih kecil, Chandra terlihat gagah. Nindya mengenakan dress di bawah lutut dengan warna senada. Keduanya benar-benar serasi.
"Kamu buat kejutan apa? Sepanjang hari aku dikarantina di kamar. Tidak boleh keluar seperti orang sakit keras saja." Chandra bicara sambil terus melangkah perlahan menuju samping rumah.
Sampai di pintu, menghadap teras dan taman, Chandra tersenyum lebar. Matanya berbinar dan menunjukkan dia sangat gembira. Terpana dengan pemandangan di depannya.
"Wow! So sweet, romantic,” ucapnya, melihat ke seluruh area taman.
Bayu dan Molly duduk di sana. Ito ada di pangkuan Bayu. Senja dan Fajar juga di sana
Mereka tersenyum menunggu Chandra dan Nindya.
"Kalian luar biasa.” Chandra melangkah lagi, menuju kursi yang disiapkan buatnya. Nindya terus di sisinya. Lengkap sudah seluruh keluarga.
"Opa, Oma!" Ito, anak Bayu dan Molly, memanggil Chandra dan Nindya. Suaranya lucu, karena baru belajar bicara.
"Cucu ganteng opa." Chandra tersenyum dan melambai.
"Ikutt! Mau ikutt!" kata Ito lagi. Tangannya sudah dia rentangkan, minta digendong.
"Eh, Opa belum bisa, Sayang. Sama Oma aja, ya." Nindya berdiri mengangkat Ito dari pangkuan Bayu.
"Iya. Oma." Ito memeluk Nindya manja. Nindya kembali ke kursinya.
"Nah, hari ini, kita berkumpul untuk merayakan ulang tahun Papa tersayang. Papa genap 57 tahun. Itu luar biasa. Bersyukur Papa sudah baik, masih gagah, tampan, dan terus semangat." Senja memulai acara.
Mereka semua memandang pada Senja. Wajah-wajah tersenyum muncul pada setiap mereka.
"Selain itu, kita juga bersyukur, perlindungan Tuhan nyata buat Papa dan Mama. Meskipun ada musibah, semua terlewati, kita bisa ada sampai hari ini, karena Tuhan setia menyertai." Senja melihat kepada Chandra dan Nindya. "Sekarang, Papa boleh menyampaikan apa saja, Karena Papa yang punya acara hari ini."
Chandra tersenyum. Dia menarik napas dalam dan meletakkan tangannya di atas meja.
"Melihat kalian berkumpul seperti ini sudah lengkap kebahagiaan Papa. Ini yang selalu Papa doakan. Keluarga bersama, rukun, saling mendukung. Itu sudah cukup. Ini berkat istimewa buat Papa. Terima kasih kalian sabar dan ga lelah membantu Papa dan Mama."
Chandra menoleh pada Nindya, menggenggam tangannya dan kembali melempar senyum khasnya. Nindya membalas dengan senyum yang tak kalah manis untuk suami tersayang.
"Oke, sekarang, giliran Mama yang bicara." Nindya mengambil alih acara.
Senja dan Fajar yang ikut menyiapkan acara ini, pada bagian spesial ini, juga penasaran, apa yang Nindya bawa untuk papa. Nindya menarik kotak hitam kecil di atas meja, di dekat rangkaian bunga tepat di tengah meja. Dia membukanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Semua menatap pada tangan Nindya, memperhatikan tangan Nindya mengambil lipatan kertas usang dari kotak itu.
Nindya memberikan kertas itu pada Chandra. "Masih ingat?" Nindya memandang Chandra yang tersenyum.
"Kamu masih menyimpan ini?" Chandra makin lebar tersenyum.