“Kamu masih terjaga, Mona? Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.”
Suara berat itu menggema di ruang kerja yang sunyi. Mona Manurung tidak menoleh. Matanya masih tertuju pada layar laptop yang menampilkan deretan angka penjualan bulanan yang melampaui target.
Ia mematikan layar, lalu menghela napas panjang hingga bahunya yang tegang sedikit turun.
“Bekerja adalah satu-satunya hal yang tidak pernah mengkhianatiku, Bi,” jawabnya lirih, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.
Di ambang pintu, seorang asisten rumah tangga paruh baya berdiri dengan tatapan khawatir. “Tubuhmu bukan mesin, Nak. Tidurlah sebentar. Besok ada rapat penting, bukan?”
Mona tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai lelah. “Tidur pun tidak akan membuat masalah selesai, Bi. Terima kasih. Aku akan segera ke kamar.”
Setelah langkah kaki sang asisten menjauh dan sunyi kembali mendominasi rumah mewah berlantai dua itu, Mona berdiri. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah gemerlap kota. Dari ketinggian ini, ia merasa seperti penguasa dunia.
Ia memiliki semuanya. Rumah ini, dengan desain minimalis yang elegan, adalah hasil kerja kerasnya selama tujuh tahun terakhir.
Usaha katering premium miliknya kini telah memiliki sepuluh cabang di berbagai penjuru kota. Tabungannya? Lebih dari cukup untuk menghidupi tiga keturunan.
Di saat ia menempelkan keningnya pada kaca dingin, rasa hampa yang akrab kembali menyergap.
Mona Manurung adalah definisi sukses bagi banyak orang. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, ia adalah sosok yang dikagumi sekaligus disegani. Rekan bisnis mengenalnya sebagai wanita yang dingin, perhitungan, dan tidak kenal kompromi.
Ia adalah petarung. Sejak ayahnya meninggal saat ia masih di bangku kuliah, Mona belajar satu hal penting, tidak ada orang yang bisa diandalkan selain diri sendiri.
Keluarganya adalah kumpulan orang-orang sibuk yang terbiasa hidup dengan jarak. Ibunya, seorang akademisi yang lebih mencintai perpustakaan daripada ruang keluarga, selalu menganggap bahwa pencapaian materi adalah bentuk kasih sayang tertinggi.
Mona tumbuh besar dengan kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk uang saku berlebih dan fasilitas lengkap, kering akan sentuhan emosional. Ia tidak pernah ingat kapan terakhir kali ia dipeluk oleh orang tuanya dengan tulus.
Itulah sebabnya, Mona membangun benteng pertahanan yang sangat kokoh. Ia menjadi mandiri karena ia takut akan penolakan. Ia menjadi sukses karena ia takut jika ia lemah, dunia akan menginjaknya.
Mona berbalik, menatap ruangan kerjanya. Semuanya tertata rapi. Tidak ada satu pun barang yang tidak pada tempatnya. Ia membenci kekacauan. Kekacauan adalah pertanda kelemahan.
Ia berjalan menuju dapur, menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Saat air itu mengalir melewati tenggorokannya, Mona menyadari sesuatu. Rumah ini sangat luas, tapi terlalu sepi.
Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu yang menghujam kesunyian.
Sering kali, Mona merasa dirinya adalah seorang ratu yang memerintah di dalam istana yang hampa.
Setiap kali ia pulang kerja, tidak ada yang menyambutnya selain lampu-lampu sensor yang menyala otomatis.
Tidak ada suara canda, tidak ada perdebatan kecil, tidak ada sosok yang bertanya bagaimana harinya berjalan.
Apakah ini benar-benar yang ia inginkan?
“Pasti ada yang salah,” gumamnya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Ia teringat beberapa teman seusianya yang sudah menikah. Mereka sering mengeluh tentang suami yang malas, tentang cucian yang menumpuk, atau tentang kerepotan mengurus anak. Dulu, Mona akan menatap mereka dengan tatapan tidak habis pikir.
Mengapa harus membagi hidup dengan orang lain yang justru mendatangkan masalah baru? Mengapa harus mengorbankan karier untuk domestikasi yang membosankan?
Malam ini, saat ia berdiri sendirian di dapur yang sunyi, Mona justru merasa iri. Ia iri pada kerumitan hidup mereka. Ia iri karena mereka memiliki seseorang yang harus mereka perhatikan, dan seseorang yang harus memperhatikan mereka.
***
Mona kembali ke ruang tengah, lalu duduk di sofa berbahan kulit yang mahal. Ia mengambil ponselnya, menatap layar yang gelap. Tidak ada pesan masuk.
Tidak ada notifikasi yang berarti. Ia adalah Mona Manurung, wanita yang mampu memenangkan tender besar, ia tidak memiliki satu orang pun untuk diajak berbagi secangkir teh di jam sesepi ini.
Ia menutup matanya, mencoba membayangkan sosok pendamping yang selama ini sering muncul dalam lamunan di sela-sela pekerjaannya. Bukan seorang konglomerat yang sibuk dengan urusan kantor, bukan pula pria ambisius yang akan bersaing dengannya.
Ia menginginkan seseorang yang sederhana. Seseorang yang hadir bukan karena apa yang ia miliki, melainkan karena siapa dirinya.
Seseorang yang mau duduk di sampingnya, mendengarkan segala keluh kesahnya, dan membiarkannya merasa manusia.
Mona tahu, ini adalah sebuah kelemahan. Di dunia bisnis, mengakui bahwa diri Anda kesepian adalah sebuah kesalahan fatal.
Kompetitor akan melihatnya sebagai cela. Namun, ia tidak sedang di dalam rapat. Ia sedang berada di dalam rumahnya, di hadapan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ia teringat sebuah percakapan di kedai kopi minggu lalu. Seorang pria yang tidak sengaja menabraknya saat ia sedang terburu-buru menuju pertemuan.
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak melihat jalan,” pria itu berkata dengan suara yang tenang. Ia tidak terlihat panik, justru tatapannya sangat teduh.
***
Mona menatap pria itu. Ia mengenakan kaus polos dengan jaket tipis. Tidak ada jam tangan mewah, tidak ada aroma parfum mahal. Namun, ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Mona terpaku sejenak.
“Tidak apa-apa,” jawab Mona saat itu. Ia ingat bagaimana ia merapikan berkas-berkasnya dengan gugup.
“Anda terlihat lelah sekali,” pria itu berkata lagi. “Mungkin secangkir kopi lebih baik daripada terus berlari mengejar waktu.”
Mona menatap jam di pergelangan tangannya. Ia harus segera pergi, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia mengabaikan jadwalnya. Ia justru mengangguk.
Itulah pertama kalinya ia berbincang dengan orang asing selama lebih dari sepuluh menit tanpa membahas pekerjaan. Nama pria itu Hotlan Siregar.
Ia mengaku bekerja sebagai tenaga lepas. Tidak muluk-muluk, tidak pula sok hebat. Ia hanya pria sederhana, dan yang paling penting, ia adalah pendengar yang luar biasa.
***
Mona teringat bagaimana Hotlan memandanginya saat ia bercerita, bukan tentang kesuksesan bisnisnya, melainkan tentang bagaimana ia terkadang merasa lelah menjadi sosok yang selalu kuat.
Apakah pria seperti itu nyata? Atau ia hanya sekadar angan-angan yang diciptakan oleh pikirannya yang terlalu lelah?
Mona menggelengkan kepala. Ia tidak boleh terlalu berharap. Ia tahu betul bagaimana dunia bekerja. Cinta adalah sebuah investasi yang risikonya sering kali tidak sebanding dengan keuntungannya, dan Mona Manurung tidak pernah suka membuat investasi yang buruk.