“Dahulu kala.” Suara itu terdengar lembut dan tegas, mengalun perlahan di ruangan. “Hidup seekor induk kucing berbulu tebal dan bertubuh gemuk. Suatu malam, ia menemukan beberapa anak kucing kecil yang baru saja lahir dan memutuskan untuk merawat mereka.”
Lampu kamar menyala temaram. Dinding berwarna krem dihiasi lukisan-lukisan mahal dan sebuah cermin besar berbingkai emas yang memantulkan cahaya kekuningan.
Di atas ranjang luas berseprai sutra, seorang gadis bersandar dengan ekspresi bosan, jemarinya memainkan ujung selimut seolah tidak sabar.
Perempuan yang duduk di sisi ranjang itu melanjutkan ceritanya dengan nada terukur.
“Induk kucing tersebut merawat anak-anak itu dengan penuh kasih. Ia membersihkan tubuh mereka setiap pagi, menghangatkan mereka setiap malam, dan membayangkan suatu hari nanti mereka akan tumbuh menjadi kucing-kucing cantik dan anggun.”
Gadis itu mendengkus pelan. ‘Cerita lama,’ pikirnya. ‘Selalu begitu.’
“Terus?” tanyanya singkat, tanpa menoleh.
“Sampai suatu hari,” lanjut perempuan itu. “Anak-anak kucing itu mulai tumbuh. Salah satu di antara mereka berbeda. Tubuhnya kurus, bulunya kusam, dan wajahnya tidak menarik. Tidak sesuai dengan harapan sang induk.”
Gadis di ranjang akhirnya menoleh, alisnya sedikit terangkat.
“Induk kucing itu kecewa,” kata si perempuan lagi. “Ia merasa malu. Ia membandingkan anak kucing itu dengan saudara-saudaranya yang lain. Hingga akhirnya, ia mengusir anak kucing tersebut dan membiarkannya pergi sendirian.”
Gadis itu tersenyum tipis. “Ya wajar.”
Perempuan itu terdiam sejenak, seolah menimbang kata-katanya.
“Anak kucing itu sangat sedih. Ia berjalan sendirian tanpa tahu harus ke mana, tanpa tempat untuk pulang.”
“Terus?” desak gadis itu, nadanya datar, nyaris bosan.
“Dongeng ini mengatakan,” ujar si perempuan pelan.
“Suatu hari anak kucing itu berubah menjadi kucing yang sangat indah. Bukan kucing biasa. Ia menjadi ratu kucing yang dikagumi semua makhluk.”
Gadis itu tertawa pendek. “Omong kosong,” katanya sinis.
“Kucing jelek tetap kucing jelek. Mana bisa berubah. Kucing juga tidak bisa operasi plastik.”
Perempuan itu tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban tersebut.
“Menurut Nona, apa pelajaran dari cerita ini?”
Gadis itu duduk tegak. “Yang bodoh itu induk kucingnya. Jangan sembarang merawat anak yang bukan miliknya. Kalau dari awal tahu hasilnya jelek, tidak perlu berharap macam-macam.”
Perempuan itu menarik napas pelan. “Menurut saya,” katanya hati-hati. “Pelajarannya adalah kita harus menerima perbedaan dan bangga pada diri sendiri.”
Gadis itu menggeleng cepat. “Tidak. Dunia tidak bekerja seperti itu, Lani. Orang cantik menang. Yang jelek disingkirkan.”
Perempuan itu bernama Lani, pelayan pribadi keluarga tersebut. Ia telah mengurus nona mudanya sejak kecil.
Dongeng hanyalah caranya menutup malam dan membuka pagi, meski ia tahu nona mudanya tidak pernah benar-benar percaya pada kisah-kisah semacam itu.
Gadis itu bernama Ravina Adelia.
Usianya delapan belas tahun, dan Ravina memiliki hampir semua hal yang diinginkan banyak orang.
Ia lahir di keluarga kaya raya. Uang bukanlah masalah. Rumah besar, mobil mewah, liburan ke luar negeri dan semua tersedia. Wajahnya cantik, tubuhnya terawat, dan ia bersekolah di institusi elit. Ia dikelilingi teman-teman populer dan memiliki pacar tampan dari keluarga berada.
Hidup Ravina tampak sempurna, seperti foto-foto yang ia unggah di media sosial.
Ravina sangat menyukai Instagram. Ia teliti mengatur pencahayaan, sudut wajah, dan ekspresi. Setiap unggahan hampir selalu dibanjiri pujian.
Cantik banget.
Idol.
Perfect.
Ia terbiasa dengan itu.
Sampai suatu pagi.
Ravina baru saja bangun tidur. Rambutnya terurai, wajahnya polos tanpa riasan. Seperti kebiasaan, ia meraih ponsel dan membuka Instagram. Namun, detik berikutnya, senyumnya menghilang.
“Apa ini?” gumamnya.
Komentar-komentar di foto yang ia unggah semalam terasa asing.
Pipinya makin bulat ya.
Kok kelihatan tembem?
Mukanya kayak kucing Persia kegemukan.
Cantik sih, tapi terlalu chubby.
Napas Ravina tertahan. Dadanya terasa sesak.
‘Ini bercanda,’ katanya dalam hati. ‘Pasti bercanda.’
Ia membaca ulang. Sekali. Dua kali. Tangannya mulai gemetar.
“Tidak mungkin,” bisiknya.
Ia berlari ke cermin besar di kamarnya. Menatap wajahnya sendiri, memiringkan kepala, lalu menekan pipinya dengan jari. Daging itu terasa nyata. Terlihat penuh.
“Ini cuma cahaya,” katanya lirih, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Sudutnya salah.”
Pikirannya sudah kacau.
Saat sarapan, Ravina hampir tidak menyentuh makanannya. Ibunya, Mariska, memperhatikannya dengan khawatir.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Mariska lembut.
“Mereka bilang aku tembem,” jawab Ravina cepat, nyaris menantang.
“Siapa?”
“Orang-orang. Di Instagram.”
Mariska tersenyum tipis. “Itu hanya komentar orang yang tidak penting.”
Lani menimpali dengan suara menenangkan, “Nona cantik dari dulu. Tidak ada yang berubah.”
Ravina menggeleng keras. “Kalian tidak mengerti.”
Ponselnya bergetar. Pesan dari pacarnya, Dimas, masuk. Harapan kecil muncul di dadanya saat ia membuka pesan itu. Namun, harapan tersebut runtuh seketika.
Sebenarnya pipi kamu agak chubby sih, tapi lucu.
Ravina terdiam lama.
“Lucu?” ulangnya pelan. ‘Aku tidak mau lucu,’ jerit batinnya. ‘Aku mau cantik.’
Ia meletakkan ponsel di meja dengan tangan gemetar. “Bahkan dia bilang begitu,” katanya pelan.
“Berarti mereka benar.”
Sejak hari itu, Ravina berubah.
Ia menjalani diet ketat, menghindari makanan favoritnya, bangun pagi untuk berlari, dan menghabiskan waktu berjam-jam di pusat kebugaran. Setiap hari ia menimbang berat badan, menatap wajahnya di cermin lebih lama dari yang seharusnya. Namun, komentar tidak berhenti.
Masih tembem.
Kurang tirus.
Coba perawatan.
Ravina menangis sendirian di kamar mandi. Air mengalir menutupi isaknya.
“Apa salahku?” tanyanya pada bayangan di cermin. Aku sudah melakukan segalanya.
Suatu sore di sebuah kafe mahal, Ravina mengeluh kepada teman-temannya. “Aku capek,” katanya lelah. “Aku sudah berusaha.”
Keira, salah satu temannya, mendekat dan berbisik, “Kamu tahu triplease?”
“Triplease?” Ravina menoleh.
“Penarikan wajah. Banyak selebritas pakai. Hasilnya cepat.”
Kata-kata itu menancap di benaknya.
“Kliniknya eksklusif,” lanjut Keira. “Aman. Mahal, tapi kamu pasti sanggup.”
Malamnya, Ravina berdiri lagi di depan cermin. Menatap pipinya lama, menarik napas panjang.
‘Kalau kucing jelek bisa jadi ratu,’ gumamnya sinis dalam hati. ‘Aku juga bisa.’
Ia meraih ponsel dan mulai mencari alamat klinik kecantikan itu.
Di luar jendela, langit perlahan menggelap.
Dongeng tentang kucing itu belum selesai, dan Ravina belum tahu, tidak semua perubahan membawa kebahagiaan.