


oleh Cats Whitening · 101 Bab
Ketika Lili divonis kanker otak stadium akhir, ia memutuskan untuk menjodohkan William, kekasihnya, dengan Emma, sahabat masa kecil yang ia percaya mampu mencintai William setelah dirinya pergi. Namun, William menolak merelakan cinta mereka. Akankah cinta sejati mereka bertahan hingga akhir, ataukah pengorbanan Lili akan menentukan segalanya? Sebuah kisah menyentuh tentang cinta, kehilangan, dan keberanian untuk merelakan.
Gadis berusia dua puluh satu tahun itu memutar tubuhnya dengan anggun. Dalam balutan gaun biru muda, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tak terbantahkan.
Sesekali, dia melemparkan senyum hangat kepada orang-orang yang melewatinya. Langkahnya ringan, seolah tak ada beban yang menghentikan langkahnya.
Tubuh mungilnya tampak anggun dengan rambut hitam kecokelatan yang tergerai lembut hingga bahunya. Kilau rambutnya mempertegas pesona alaminya.
Senyumnya begitu cerah, mata berbinar memancarkan kehangatan, sementara pipinya yang merona bukan karena riasan, melainkan kebahagiaan sejati yang terpancar dari dalam hatinya.
Lili menikmati setiap langkahnya di taman itu. Dia kembali melompat dengan riang, menyambut kelopak bunga sakura yang berguguran. Bunga tersebut, terjatuh mengenai wajah cantiknya, bahkan William mengabadikan momen tersebut melalui ponselnya.
“Lili, hati-hati, nanti kau bisa jatuh dan terluka,” ujar seorang pemuda berambut rapi dengan poni yang menjuntai setengah menutupi keningnya.
Pemuda itu memiliki tubuh tegap dan tinggi, dengan tatapan mata yang teduh. Hidungnya mancung, sementara bibirnya tipis, menambah kesan tenang pada wajahnya yang menyejukkan hati sanubari.
Dia melangkah santai di belakang Lili, memperhatikan setiap gerakan gadis itu dengan penuh perhatian.
“Aku tidak akan terjatuh begitu saja. Bukankah ada kamu yang selalu bisa menyelamatkanku?” jawab Lili dengan senyum ceria yang menghiasi wajahnya.
Pemuda itu mengulum senyum sebelum mempercepat langkahnya. Dia meraih lengan gadis itu dengan lembut, lalu menariknya ke dalam pelukan.
“Will? Ada apa? Kau mengejutkanku saja,” ujar Lili dengan nada tergagap, matanya membelalak terkejut.
William menatap wajah Lili dengan intens.
Pandangan itu membuat Lili merasa gugup. Wajahnya langsung memerah, dan dia segera memalingkan pandangannya ke arah lain.
Tetapi William dengan keisenganya, masih saja menggoda kekasihnya. Sehingga wajah Lili makin memerah.
“Lili, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu hari ini,” ucap William dengan nada serius, suaranya terdengar dalam dan penuh keyakinan.
Lili mengerutkan kening, rasa penasaran memenuhi pikirannya meskipun dia masih merasa jengah dengan situasi yang mendadak ini.
“Apa yang ingin kau katakan, Will? Katakan sekarang saja Will?”
William masih diam menatap sang kekasih. Namun, kemudian dia menggandeng tangan Lili dan mengajaknya untuk melangkah.
“Di sini terlalu banyak orang yang melihat. Kita pergi ke tempat yang lebih tenang.”
Meskipun tidak mengerti, Lili tetap mengikuti langkah William. William membuka pintu mobilnya dan mempersilakan sang kekasih masuk ke dalam mobil sport miliknya.
William dan Lili sudah membina hubungan sejak SMA. Mereka berdua saling mengenal sejak kecil. Lili dan William tumbuh dan dewasa di lingkungan yang sama, bahkan rumah mereka berhadapan sehingga dapat saling menyapa setiap hari.
Bahkan sejak kecil, Lili dan William selalu mengikuti kegiatan bersama. Baik itu, ekstrakurikuler mau pun nongkrong bersama sambil menikmati sunset.
Awalnya, Lili mengira William hanya menggoda, sebab sejak kecil hingga masa SMA, William selalu digandrungi banyak gadis. Bahkan banyak gadis yang rela mempermalukan dirinya supaya cintanya diterima oleh William.
William tidak hanya tampan dan cerdas, tetapi juga jago berolahraga. Dia bahkan merupakan pewaris perusahaan sang ayah.
Dia juga membuka usaha lain, seperti menjadi guru privat Bahasa Inggris dan Jepang. William juga sedang mempelajari bahasa asing lainnya, seperti bahasa Jerman dan Prancis.
Pemuda ini terlalu sempurna untuk Lili, yang berasal dari keluarga biasa. Lili merasa bahagia, karena rupanya William mau menerima dirinya apa adanya. Mau menerima kekurangan yang ada pada diri Lili.
Keluarga Lili adalah keluarga sederhana. Ayahnya seorang pegawai kantor biasa, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Lili memiliki seorang kakak perempuan yang sangat cantik dan pintar bernama Jasmine. Jasmine membuka usaha laundry yang banyak diminati pelanggan karena hasil cucian dan setrikaannya sangat memuaskan.
Namun, demikian, Lili sangat rajin. Bahkan, dia memiliki toko kue sendiri yang merupakan hasil jerih payahnya menabung sejak SMA. Dari SMA, Lili sudah berjualan kue, hasil buatannya sendiri.
Bagaimanapun juga, keluarga William sangat menyetujui hubungan mereka. Apalagi mereka saling mengenal sejak lama, sehingga keluarga tidak ikut campur selama mereka bahagia dan mampu menjaga norma yang berkembang di masyarakat.
“Mau ke mana kita?” tanya Lili. Namun, William tak menjawab dan terus mengemudikan mobilnya.
Lili merasa bingung, mengapa William diam saja.
Jantung Lili berdegup kencang. Dia tidak pernah melihat William bersikap seperti ini, apalagi saat mereka sedang berduaan. Jantungnya terasa seperti mau copot karena tatapan William yang makin serius.
Akhirnya, mobil mereka memasuki mal ternama di kota. William membukakan pintu mobil, lalu Lili mengikuti langkahnya. William berhenti sejenak, lalu menggandeng tangan Lili.
Lili bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka tidak membicarakan hal penting ini di rumah? Mengapa harus membicarakannya di mall? Pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya.
William berhenti di sebuah restoran Korea. Rupanya, di sana sudah ada keluarga mereka, lengkap dengan banyak balon dan tulisan nama mereka berdua.
Banyak makanan juga tersaji di meja, yang merupakan makanan favorit Lili.
“Ayah, Ibu, Kakak, mengapa kalian semua berada di sini?” tanya Lili, bingung melihat keluarganya ada di sana.
“Kami tidak akan berada di sini jika William tidak menghubungi kami,” jawab kakaknya sambil membawa seikat bunga mawar.
“Paman, Bibi, Shella …,” sapa Lili kepada ayah, ibu, dan adik perempuan William yang berusia tujuh belas tahun.
“Kau terlihat cantik, Sayang,” puji seorang wanita sambil memeluk Lili dengan penuh kasih sayang.
“Kau gerak cepat rupanya, putraku,” ujar ayah William sambil menunjuk-nunjuk William.
Lili mengerutkan kening dengan curiga. Ada apa sebenarnya ini? Lagi pula, dia tidak sedang berulang tahun, dan ini juga bukan hari jadi mereka.
Hari ini juga bukan Hari Valentine, tetapi mengapa mereka semua berkumpul seakan ingin merayakan sesuatu? Itulah pemikiran yang berkecamuk di benak Lili.
Namun, tiba-tiba dia terkejut ketika William berlutut dan membuka kotak berwarna merah yang berisi cincin berlian yang berkilauan.
Wajah Lili memerah, tanpa sadar matanya berkaca-kaca. Mengekspresikan sebuah kebahagiaan yang tengah dia rasakan.
“Lili,” panggil William, lalu menatap wajah Lili dengan binar tatapan penuh cinta.
“Kita sudah lama saling mengenal. Kita juga sudah lama berpacaran. Maukah kau menikah denganku?”
Wajah Lili memerah, dan matanya terasa panas. Tanpa disadari, bulir air mata kebahagiaan mengalir menghiasi wajah cantiknya. Senyuman kembali menghiasi wajah cantiknya. Lili menatap wajah sang kekasih dengan penuh cinta.
Dia menganggukkan kepalanya sambil menutup wajah dengan tangannya. Senyuman mengembang di bibir William. Dia lalu menyematkan cincin berlian tersebut pada jari manis tangan kanan Lili.
Seluruh keluarga sontak berpelukan saat melihat momen tersebut.
William memeluk Lili dengan erat, sambil berbisik, “Jangan tinggalkan aku, Lili.”

Cats Whitening
69 Pengikut · 100 Novel