Hening, tak ada suara, hanya kebisuan di antara cinta yang mulai reda. Bahkan air mata menjadi jalan cerita mengantarkan masa lalu. Terlalu berat melepaskan meski memilikinya, hanya sebuah bayangan. Udara di bandara internasional seakan-akan membuat dada terasa sesak.
“Ca, kamu beneran ninggalin aku? Menolak menikah denganku untuk mengejar kariermu?” tanya Arkala, ia tatap mata Caca dengan penuh cinta.
“Kala, kamu paling tahu bagaimana aku. Karier ini penting buat aku,” jawab Caca. Ia menggenggam tangan Arkala.
“Tunggu aku kembali, aku akan menjadi pengantinmu nanti.” Caca mencium pipi Arkala sebelum pergi.
Sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas, Arkala pun memeluk Caca erat. Sudah enam tahun bersama, rasanya sakit sekali melepas pelukan yang membuat Arkala selalu ingin pulang.
Arkala Kama Gautama, CEO dingin penuh wibawa dan juga tampan. Begitu berhadapan dengan Caca Zavica, kekasih sekaligus sahabatnya, ia akan berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu manja bak seorang anak kecil.
Beberapa hari sebelum Caca berangkat ke luar negeri untuk menjadi model, Arkala melamar Caca di sebuah restoran mewah. Namun, Caca menolak, bukan karena tak cinta, melainkan dia lebih memilih karier. Baru saja Caca menandatangani sebuah kontrak dengan brand terkenal di luar negeri. Kesempatan ini tak mungkin Caca lewatkan begitu saja.
***
“Mauly, bangun, nanti kamu kesiangan berangkat kerja,” panggil Bu Ratih sambil mengetuk pintu kamar Mauly.
“Iya, Bu,” jawab Mauly. Ia segera bangun untuk bersiap-siap.
Setelah mendengar jawaban Mauly, Bu Ratih kembali ke dapur untuk memasak. Hari ini banyak pesanan katering yang harus segera diantar.
“Heem, aromanya sangat enak,” ucap Mauly mencium aroma masakan ibunya.
“Sudah, sarapan sana, nanti kamu terlambat,” ujar Bu Ratih. Ia masih fokus menyusun lauk pauk dan nasi di dalam kotak. “Nanti saat berangkat kerja, sekalian kamu antar ini ke rumah Oma Safeya.”
“Baik, Bu,” jawab Mauly, ia sedang menikmati sarapan yang dibuat ibunya.
Setelah selesai, Bu Ratih menyusun setiap kotak menjadi beberapa ikat agar mudah dibawa oleh Mauly.
“Bu, aku berangkat, taksinya sudah datang.” Mauly mengangkat beberapa ikat untuk dibawanya ke dalam mobil taksi. Setelah memastikan mobil taksi berangkat, Bu Ratih kembali ke dalam rumah.
Baru setengah jalan mobil taksi yang dinaiki Mauly berjalan, tiba-tiba dari arah depan sebuah motor sport hampir saja menabrak. Beruntung sopir taksi sudah lihai dan mampu menguasai jalanan meski harus berhenti sebentar.
“Anak muda zaman sekarang, kalau bawa motor suka ugal-ugalan,” gerutu sopir taksi. Ia melihat ke belakang untuk memastikan penumpangnya aman. “Neng, nggak apa-apa?” tanya sopir taksi.
“Tidak, Pak. Sudah lanjut saja, nanti saya terlambat,” ucap Mauly.
“Baik, Neng.” Sopir taksi itu melanjutkan kembali perjalanan sesuai alamat.
Setelah tiga puluh menit, Mauly sampai di rumah Oma Safeya. Mauly langsung turun dan disambut oleh pegawai Oma Safeya.
Sudah lama Oma Safeya berlangganan katering ibunya. Jadi, dia sudah hafal harus bagaimana. Selesai menurunkan semua kotak katering, ia berniat segera masuk ke mobil taksi untuk berangkat kerja.
“Mauly, kamu tidak masuk dulu?” tanya Oma Safeya saat ia keluar.
“Terima kasih, Oma. Lain waktu saja, Mauly hampir telat bekerja.” Mauly segera masuk ke dalam taksi. Ia harus segera berangkat, jika tidak ingin terlambat dan terkena omel majikannya yang super duper bawel.
“Nanti datang, ya,” ucap Oma Safeya sebelum mobil taksi yang ditumpangi Mauly benar-benar menghilang dari hadapannya.
Perjalanan dari rumah Oma Safeya ke tempat kerja tak memakan waktu lama, tanpa perlu berjibaku dengan kemacetan lalu-lalang kendaraan.
“Beruntung, tepat waktu,” ucap Mauly setelah turun dari taksi. Ia melangkah masuk ke toko.
“Aduh!” ucap Mauly saat kepalanya membentur dada bidang seseorang yang membuka pintu.
“Kalau jalan pakai mata. Dasar wanita, mau mencoba mencari kesempatan mendekati pria tampan?!” ujar pria dengan setelan jas berwarna navy.
“Maaf, ya, Tuan yang terhormat. Selera saya bukan bapak-bapak seperti Anda. Jadi tak ada untungnya bagi saya menggoda Anda.” Mauly menatap lawan bicaranya tanpa takut sama sekali. Ia tak terima dibilang wanita penggoda.
“Kau, siapa yang kau bilang bapak-bapak?” ucap pria tersebut menahan amarah setelah dibilang seperti bapak-bapak.
“Tentu Anda, Tuan. Siapa lagi? Di sini cuma ada kita berdua,” ucap Mauly menantang. Ia tatap wajah pria tersebut dengan tajam.
Sebelum masuk ke dalam toko, ia berucap, “Satu lagi, tolong minggir dari jalan saya, saya harus bekerja.” Mauly melewati pria tersebut dengan ekspresi kesal.
Ia mengambil tempat duduk di sebelah seorang pria. Masih dengan wajah yang kesal.
“Kenapa tuh muka komat-kamit gak jelas, kamu baca mantra?” tanya Komang, sahabat sekaligus pemilik toko.
“Enak aja baca mantra, lagi nyumpahin seseorang,” ucap Mauly kesal sambil meletakkan tasnya ke dalam loker.
“Aku tebak pasti cowok,” goda Komang. Ia menunjuk dahi Mauly dengan ujung jarinya.
“Hati-hati nanti jatuh cinta, repot sendiri,” ucap Komang sambil memberikan rekapan pesanan hari ini.
Mata Mauly berbinar saat melihat pesanan begitu banyak, artinya ia akan mendapatkan bonus tambahan.
“Wah, bonus harus besar ini, Bos,” ucap Mauly menyenggol lengan Komang.
“Sudah sana kerjakan. Bonus nanti aku transfer, jika kerjaan kamu beres.”
“Siap, Bos,” ucap Mauly memberi hormat pada Komang. Dia hanya tersenyum dan berlalu pergi.
Mauly merenggangkan kedua tangannya serta menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. ”Ayo Mauly, semangat kerja demi cuan bisa nambah,” ucap Mauly menyemangati dirinya sendiri.
Mauly segera ke dapur untuk membuat kue, beberapa rekan lainnya sudah sibuk bekerja, karena petang nanti harus sudah diantar ke rumah pelanggan.
Tepat pukul enam semua kue sudah terkemas dengan rapi. Komang juga sudah menyusunnya di atas mobil pickup. Mauly dan rekan lainnya bersiap untuk pulang setelah menutup toko.
“Mauly,” panggil Komang. “Kamu temani saya, ya, sekalian nanti saya antar pulang.” Komang mengajak Mauly untuk mengantarkan pesanan.
Mauly pun tak menolak karena bisa menghemat ongkos. Setelah Mauly masuk ke dalam mobil, Komang mengemudikan mobilnya. Jalanan sedikit ramai, sebab bertepatan dengan para pekerja kantoran pulang.
Setelah berkendara sekitar dua puluh menit, Mauly dan Komang tiba di sebuah rumah mewah berlantai dua.
Di depan rumah tersebut terdapat sebuah air mancur dengan hiasan bunga. Mauly tak asing dengan rumah tersebut. Ia turun untuk membawa pesanan kue ke dalam.
Baru dua langkah berjalan, matanya menangkap sosok orang yang ia kenal di depan pintu.
“Kamu?!