“Kala, pernikahanmu sudah menginjak usia lima tahun, tapi lihat, istri yang kau cintai tak kunjung hamil,” sindir Lusi saat makan malam di rumah Oma Safeya.
Kala hanya bergeming tak berminat membalas ucapan Lusi. Ia menggenggam tangan Mauly dengan erat, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Kala, dalam rumah tangga hadirnya seorang anak akan menambah bahagia,” ujar Lusi saat Kala hanya diam saja tanpa menjawab perkataannya.
Oma Safeya yang sejak tadi terdiam langsung memukul meja dengan keras. “Diam kamu, Lusi. Rumah tangga Kala tak perlu campur tangan darimu, mereka bahagia meski Mauly belum mempunyai anak,” hardik Oma Safeya menatap Lusi dengan tajam.
“Aku hanya tak ingin Kala menyia-nyiakan hidupnya, Ibu. Dia juga berhak bahagia dengan memiliki keturunan,” ucap Lusi membela diri.
“Apa kamu lihat Kala menderita saat bersama Mauly? Tidak kan, jadi jangan pernah pengaruhi Kala dengan pikiranmu yang busuk itu,” ucap Oma Safeya dengan emosi.
Lusi terdiam, tapi amarahnya masih tersimpan dalam dirinya. Ibunya tak pernah marah sedemikian rupa, tapi hanya karena menantu yang disayanginya. Ia harus menerima hinaan, seperti ini.
“Sudahlah, Kak, jangan lawan Ibu,” ucap Gladis menenangkan Lusi. Ia menepuk punggung Lusi dengan lembut.
Lusi menyunggingkan senyuman mengejek. “Anak sendiri, seperti orang asing, sedangkan orang asing dianggap anak sendiri.”
“Aku pergi, percuma aku di sini, tapi tak dianggap.” Lusi pun berdiri melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang tadinya tenang.
“Kak,” panggil Gladis menoleh ke arah Lusi yang pergi menjauh.
“Biarkan dia pergi,” ucap Oma Safeya kembali duduk, tangannya memegang dada yang terasa sesak.
Mauly yang melihat, langsung berlari ke arah Oma Safeya. “Kala, cepat siapkan mobil,” pinta Mauly panik saat melihat Oma Safeya kesakitan.
Kala pun langsung bergegas mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding. Mauly dan Gladis memapah Oma Safeya ke depan.
Kala yang melihat Mauly dan Gladis kesulitan langsung menggendong Oma Safeya ke dalam mobil, setelah memastikan Oma Safeya duduk dengan nyaman. Kala berpindah tempat membiarkan Mauly dan Gladis masuk menemani Oma.
Kala menyalakan mesin mobil dan melajukan dengan cepat agar sampai di rumah sakit.
“Oma bertahan, ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit,” ujar Mauly menangis melihat Oma Safeya yang kesakitan.
“Tenanglah, Mauly, Oma Safeya pasti baik-baik saja.” Gladis berusaha menenangkan Mauly yang terus menangis agar tak membuat suasana semakin kalut.
***
Sampai di depan UGD, Kala langsung memanggil perawat. “Sus, tolong Oma saya.”
Perawat langsung mengambil ranjang rumah sakit untuk Oma Safeya, setelah Oma naik ke ranjang, perawat pun membawanya ke ruang UGD diikuti Mauly dan Gladis.
Kala pergi untuk memarkirkan mobilnya, setelah mendapat tempat. Ia membuka pintu tanpa melihat ke luar, sebab sambil mencari ponselnya.
“Aduh,” ucap seorang anak kecil yang terkena benturan pintu yang Kala buka.
Kala keluar tanpa mengambil ponselnya, melihat siapa yang menangis. “Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Kala menenangkan bocah yang usianya berkisar lima tahun.
“Sakit,” jawab bocah laki-laki tersebut.
Kala mengelus rambutnya dengan lembut, memangkunya dalam dekapan untuk meredakan tangisnya. “Di mana, ibumu?” tanya Kala, ia melihat sekeliling tak ada seorang pun. Bocah itu hanya menggeleng tak mengerti.
“Siapa namamu?” tanya Kala setelah tangis bocah itu reda.
“Zaidan Kalanendra,” jawabnya Polos.
“Zaidan, Zaidan.” Suara seorang perempuan sedang memanggil. Suaranya terdengar parau.
“Mami,” panggil Zaidan dengan keras karena ia tak melihat maminya.
Kala menggendongnya dan berdiri agar mami Zaidan bisa melihat mereka berdua. Tatapan mereka bertemu seolah-olah waktu berputar dalam memori.
“Zaidan.” Maminya merebut Zaidan dari pelukan Kala. Menciumnya dengan rasa lega, sebab Zaidan tak kenapa-napa.
“Kenapa aku tak merasa asing denganmu?” tanya Kala penasaran.
Caca yang berdiri memeluk Zaidan langsung menurunkannya. Menatap Kala penuh rindu, sudah lima tahun Kala tak pernah ada kabar seakan-akan bumi menyembunyikan Kala.
“Kala, aku rindu,” ucap Caca langsung memeluk Kala.
“Aku tak percaya bisa bertemu lagi denganmu.” Caca menangis bahagia dalam pelukan Kala, sedangkan Kala terdiam di tempat. Mencerna apa yang terjadi, ia pun tak menolak pelukan dari wanita di depannya.
Tangannya bergerak ingin memeluk, tapi akalnya menentang semua. Bayangan masa lalu dan saat Kala mengucapkan akad terus berputar-putar di kepalanya. Bayangan itu masih samar, tapi suaranya begitu jelas.
“Itu bukan suara, Mauly,” ucap Kala lirih, sambil memegang kepalanya. Tatapannya beralih pada Zaidan yang bersembunyi di belakang Caca.
“Kala, kamu tidak apa-apa?” tanya Caca khawatir. Ia langsung memapah Kala ke arah UGD karena Kala terlihat pucat dan tertekan.
“Suster tolong,” ucap Caca memanggil seorang perawat. Caca pun merebahkan Kala di ranjang rumah sakit.
“Suaminya kenapa, Bu?” tanya perawat yang memeriksa Kala.
“Su-suami,” ucap Caca terbengong, hingga pertanyaan suster kedua kalinya membuat Caca tersadar.
“Saya kurang tahu, Sus, ia tiba-tiba memegang kepalanya kesakitan, badannya lemah dan wajahnya pucat,” ucap Caca, ia berdiri di sebelah kiri Kala.
Kala terus menggenggam tangan Caca dengan erat. Serpihan bayangan masa lalu tertata membentuk sebuah warna menjadi satu, seperti puzzle yang tersusun indah setelah dirangkai.
“Caca,” teriak Kala saat terbangun, ia memeluk Caca dengan rasa takut kehilangan. Kejadian dan bayangan masa lalu di mana dirinya hendak pergi menyusul Caca ke luar negeri, hingga dirinya mengalami kecelakaan pun terlintas di kepalanya. Kala kini dapat mengingat semuanya dengan jelas.
“Ca, aku takut, sangat takut, tidak bisa melihatmu lagi,” ucap Kala tersedu-sedu memeluk Caca dengan erat.