“Yang Mulia, saya mohon. Permaisuri pasti akan menjatuhkan hukuman jika Anda kembali absen malam ini.”
Suara Dayang Choi bergetar, dahinya hampir menyentuh lantai kayu jati yang dingin. Perempuan paruh baya itu meremas ujung rok katunnya dengan jari-jari yang pucat, tidak berani menatap wajah sang majikan yang tengah duduk di balik meja rendah.
Seo Hwa tidak segera menjawab. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari gulungan aksara Hanja di pangkuannya. Jemarinya yang ramping membalik halaman kertas tua itu dengan pelan, membiarkan keheningan menguasai ruangan selama beberapa saat.
“Biarkan beliau menghukumku, Dayang Choi,” ucap Seo Hwa akhirnya. Suaranya datar, tanpa riak emosi.
“Hukuman Permaisuri jauh lebih bisa ditoleransi daripada harus menatap senyum penuh bisa dari para menteri di Aula Gyeongho.”
“Yang Mulia, malam ini adalah perjamuan penting. Para pejabat dari enam kementerian berkumpul, dan ketidakhadiran seorang putri dari Istana Timur akan memancing rumor yang tidak menyenangkan.”
“Rumor apa lagi yang bisa mereka ciptakan tentangku?” Seo Hwa menutup gulungan bukunya dengan satu gerakan tegas. “Bahwa aku adalah putri yang angkuh? Bahwa aku tidak tahu tata krama? Mereka sudah membicarakan hal itu sejak aku berusia sepuluh tahun. Satu perjamuan lagi tidak akan mengubah pandangan mereka, dan kehadiranku juga tidak akan membuat mereka tiba-tiba menaruh hormat.”
Dayang Choi menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu watak majikannya. Jika Putri Seo Hwa sudah mengambil keputusan, tidak ada satu orang pun di seluruh istana ini yang bisa mengubahnya.
“Tutup pintunya dari luar, Dayang Choi. Katakan pada mereka aku tiba-tiba terserang demam tinggi dan tidak bisa beranjak dari tempat tidur,” perintah Seo Hwa seraya berdiri. Lapisan sutra chima berwarna biru malam yang dikenakannya berdesir lembut menyapu lantai.
“Baik, Yang Mulia.” Dayang Choi akhirnya menyerah. Ia membungkuk dalam-dalam, mundur perlahan, lalu menutup pintu geser berlapis kertas changhoji itu dengan hati-hati.
Begitu bunyi klik pelan menandakan pintu tertutup rapat, pertahanan Seo Hwa runtuh. Ia menghela napas panjang, mengusap pelipisnya yang mendadak berdenyut. Gelar Putri dari Istana Timur terdengar begitu agung bagi rakyat jelata di luar tembok ibu kota, tetapi bagi Seo Hwa, gelar itu tidak lebih dari sekadar rantai tak kasatmata yang mengikat kedua kakinya sejak lahir.
Ia hidup di tengah kemewahan yang membuat siapa pun iri. Setiap pagi, dayang-dayang akan membawakannya air hangat yang dicampur kelopak mawar untuk membasuh wajah. Pakaiannya ditenun dari sutra terbaik yang diimpor dari dataran Tiongkok. Makanannya disajikan dalam mangkuk perak, dicicipi terlebih dahulu oleh pelayan untuk memastikan tidak ada racun di dalamnya.
Di balik semua gemerlap itu, Seo Hwa merasa seperti hantu di rumahnya sendiri.
Istana adalah panggung sandiwara yang kejam, dan Seo Hwa tidak pernah menyukai naskahnya.
Di tempat ini, senyum ramah bisa berarti ancaman pembunuhan, dan secangkir teh hangat bisa menjadi pengantar maut. Para bangsawan yang saat ini sedang tertawa di perjamuan Aula Gyeongho adalah orang-orang yang sama yang diam-diam saling menjatuhkan demi kekuasaan.
Seo Hwa berjalan mendekati jendela, mendorong kayunya sedikit untuk membiarkan angin malam berembus masuk. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar petikan alat musik gayageum yang mengalun harmonis dengan tawa para pejabat istana. Suara itu membuatnya muak. Ia lebih suka menghabiskan waktunya mencium aroma debu dan tinta tua di perpustakaan kerajaan, atau bersembunyi di taman belakang istana yang sunyi, daripada harus memakai topeng kepalsuan di hadapan para penjilat takhta.
Merasa kamarnya mulai terasa sesak, Seo Hwa meraih selendang sutra gelap dan menyampirkannya ke bahu. Ia melangkah keluar melalui pintu samping yang jarang dijaga. Langkah kakinya ringan, nyaris tanpa suara. Ia sudah hafal setiap sudut, setiap bayangan, dan setiap titik buta dari patroli pengawal istana di malam hari.
Tujuannya hanya satu, taman belakang Amisan.
Udara akhir musim dingin terasa menusuk kulit, Seo Hwa tidak peduli. Ia terus menyusuri koridor berbatu yang diapit oleh tembok-tembok bata bermotif kembang. Semakin jauh ia melangkah dari pusat istana, semakin pudar suara musik dan tawa dari perjamuan. Keheningan mulai mengambil alih, memberikannya ketenangan yang selama ini selalu ia cari.
Taman belakang malam itu diselimuti cahaya bulan yang pucat. Pohon-pohon plum yang berjejer di pinggir kolam teratai belum sepenuhnya berbunga, dan kuncup-kuncup kecil mulai bermunculan di ujung dahan, bersiap menyambut musim semi. Permukaan kolam tampak tenang, memantulkan bayangan bulan seperti cermin raksasa yang tidak terusik.
Seo Hwa duduk di atas sebuah batu datar di tepi kolam, merapatkan selendangnya. Di sinilah ia merasa benar-benar hidup. Di tempat ini, ia bukan seorang putri yang harus menjaga martabat kerajaan, bukan pula pion politik yang nyawanya selalu terancam oleh intrik faksi bangsawan.
Di bawah pohon plum ini, ia hanyalah Seo Hwa, seorang perempuan biasa yang mendambakan kebebasan.
Ia memejamkan mata, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. Pikirannya melayang pada buku-buku sejarah dan puisi orang-orang buangan yang sering ia baca di perpustakaan. Ia selalu bertanya-tanya, seperti apa rasanya berjalan di jalanan berdebu ibu kota tanpa harus diikuti selusin pengawal? Seperti apa rasanya berteriak tanpa harus takut suaranya terdengar oleh mata-mata menteri?
Lamunannya tidak bertahan lama.
Krek.
Mata Seo Hwa terbuka seketika. Suara itu sangat pelan, seperti ranting kering yang terinjak, terdengar jelas di tengah keheningan taman.
Ia menahan napas, tidak berani bergerak. Naluri bertahannya yang terbentuk dari belasan tahun hidup di istana langsung mengambil alih. Apakah itu suara hewan? Kucing liar yang kebetulan lewat? Atau pengawal istana yang sedang berpatroli? Tidak, jadwal pergantian penjaga di area taman belakang baru akan dilakukan satu jam lagi.
Telinganya menangkap suara lain. Bukan sekadar langkah kaki biasa. Langkah itu diseret, berat, dan berhati-hati.
Seo Hwa merosot turun dari batu secara perlahan, bersembunyi di balik bayangan batang pohon plum yang besar. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia mengintip melalui celah dahan.
Sekitar sepuluh langkah dari tempatnya bersembunyi, dua sosok pria berbaju gelap berdiri di dekat tembok pembatas. Wajah mereka tertutup kain hitam. Salah satu dari mereka memegang gulungan perkamen berlambang stempel merah yang sangat familiar di mata Seo Hwa, stempel militer rahasia kerajaan.
“Pastikan dokumen ini sampai ke perbatasan sebelum matahari terbit,” bisik pria pertama, suaranya serak, penuh penekanan. “Jika Jenderal Kang Tae-jun kembali ke ibu kota dengan selamat, rencana Menteri Jo akan hancur berantakan.”
Pria kedua mengangguk cepat sambil menyelipkan gulungan itu ke balik pakaiannya. “Lalu, bagaimana dengan putri dari Istana Timur?”
Seo Hwa membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir saat mendengar gelarnya disebut.
“Permaisuri sudah mulai curiga,” lanjut pria pertama, tangannya perlahan bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya. “Putri Seo Hwa tidak boleh hidup lebih lama dari musim semi ini. Buat semuanya terlihat seperti kecelakaan. Jika perlu, gunakan racun yang sama seperti yang kita berikan pada ibunya.”
Udara di paru-paru Seo Hwa seolah ditarik keluar secara paksa. Kebenaran yang baru saja didengarnya menghantam telak kesadarannya. Ibunya tidak meninggal karena sakit alami? Semuanya adalah pembunuhan yang direncanakan?
Dalam kepanikannya, kaki Seo Hwa bergeser mundur. Ujung sepatunya menginjak tumpukan daun kering.
Kresak!
Suara itu terdengar seperti ledakan di taman yang sunyi.
Kedua pria berbaju gelap itu langsung menoleh ke arah pohon plum. Mata mereka menyipit, menembus kegelapan. Suara gesekan logam yang tajam dan mematikan membelah udara malam saat salah satu dari mereka mencabut pedang dari sarungnya.
“Ada yang menguping,” desis pria itu dingin.
Langkah kaki mereka mulai mendekat, perlahan, tapi pasti, lurus menuju tempat Seo Hwa bersembunyi.