


oleh Lili · 7 Bab
Cinta kadang datang dengan cara yang tak terduga. Zaki awalnya mencintai Serania, tetapi justru menemukan kebahagiaan di sisi Zevalina. Namun, cinta yang tumbuh perlahan itu diuji oleh perbedaan latar belakang dan ego masing-masing. Ketika amarah menguasai, Zaki memilih untuk mengabaikan Zevalina—tanpa menyadari bahwa keputusannya akan membawa penyesalan seumur hidup. Sanggupkah Zaki menghadapi kenyataan bahwa cinta yang ia abaikan telah pergi untuk selamanya? Sebuah kisah cinta yang penuh pelajaran, kehangatan, dan duka mendalam.
Langit tampak kelabu pekat menunjukkan alam juga sedang berduka. Matahari yang sejak pagi membakar tanah merah di sekitar rumah Zevalina dengan teriknya perlahan tertutup oleh gumpalan awan abu-abu yang menggantung berat di angkasa. Udara yang tadinya gerah dan sempat membuat para pelayat sibuk mengusap keringat di pelipisnya perlahan berubah menjadi sejuk, disertai angin kencang yang bertiup pelan namun pasti. Beberapa helai daun kering beterbangan, melayang-layang tersapu angin sebelum akhirnya jatuh di antara batu nisan yang berjejer rapi.
Aroma tanah baru digali bercampur dengan bau dupa. Dupa yang asapnya mengepul dari sudut pemakaman, menciptakan perpaduan aroma wewangian yang khas di hidung. Para pelayat berdiri di bawah terik mentari mulai memakai, merapatkan jaket atau syal mereka ketika angin berhembus semakin kencang. Angin kencang itu ikut meniupkan debu dan dedaunan ke udara. Suara gemerisik ranting-goyang terdengar keras, seakan pohon-pohon tua di sekitar makam ikut-ikut berduka, melingkupi tempat pemakaman Zevalina.
Di antara suara angin menderu kencang, suara tangis tak tertahan, isakan lirih dan keras terdengar jelas terutama dari pihak orang tua Zevalina. Suara bercampur dengan lantunan doa yang mengiringi prosesi perpisahan terakhir. Beberapa orang menunduk dalam diam, beberapa menatap langit yang kini semakin mendung, seolah menunggu hujan turun sangat deras, terlihat dari langit yang menghitam awannya sebagai pertanda alam turut bersedih ...
Udara dingin yang mengalir di musim semi di bulan Juli menusuk kulit, membawa kesan hampa di dalam hati Zaki. Ia melangkah perlahan yang terasa berat menuju rumah Zevalina, kedua tangannya menggenggam sebuah kotak kecil berisi makanan favorit mereka berdua tanpa sadar menjatuhkan kotak itu ke tanah. Pada hari ini, ia berniat memberi kejutan untuk kekasihnya namun ia menjadi terheran-heran dengan kondisi saat itu.
Di sepanjang jalan kampung Zevli dan nisannya, bunga-bunga liar bermekaran dengan indah diambil dari hamparan padang rumput yang luas diletakkan dalam pajangan bunga duka. Warna-warni kelopak mereka yang sebagian warna bunga duka menciptakan pemandangan kontras dengan hijaunya rerumputan yang tumbuh subur disekitar rumah Zevli. Begitu juga di rumah Zevli ... Bunga Dandelion putih disekitar makam lembut melayang tertiup angin, sementara hamparan Lavender ungu keperakan menyebarkan aroma menenangkan ... terbawa hingga kejauhan. Di antara rerumputan yang bergoyang perlahan, bunga Buttercup kuning keemasan berkilau di bawah sinar matahari, kelopaknya mungil tetapi memancarkan kehangatan khas musim semi.
Tak jauh dari sana, sekumpulan bunga Poppy merah terang berdiri anggun, kelopak tipisnya bergetar setiap angin bertiup. Bunga-bunga Daisy dengan mahkota putih bersih dan pusat kuning cerah tersebar di seluruh padang, seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi. Sementara itu, Lonceng biru atau Bluebell menggantung malu-malu di antara rerumputan lebih tinggi, seakan bersembunyi dari perhatian.
Di sela-sela semua keindahan itu, semak liar dengan dedaunan hijau segar menambah tekstur pada lanskap. Di beberapa sudut, batang-batang kecil semanggi liar tumbuh rapat, beberapa di antaranya memiliki daun berjumlah empat, seakan menghadirkan keberuntungan bagi siapa yang menemukannya. Kombinasi warna, bentuk, dan aroma dari semua tumbuhan ini menjadikan padang rumput musim semi tampak hidup, seperti lukisan alami yang terus berubah seiring dengan hembusan angin yang lewat.. Biasanya, pemandangan ini membuat Zaki tersenyum, mengingatkan pada momen-momen manis yang mereka lalui bersama. Namun, entah mengapa, hatinya terasa gelisah. Ada sesuatu yang membuatnya enggan melangkah lebih cepat, seolah tubuhnya tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Semakin dekat ke rumah Zevalina, suasana yang dirasakan Zaki terasa berbeda. Orang-orang berkerumun dari ruang tamu hingga memadati halaman rumahnya, berbicara dengan suara pelan, dan beberapa wanita berkerudung hitam berlalu-lalang dengan nampan berisi teh hangat serta makanan kecil untuk menyuguhkan hidangan itu pada para pelayat.
Langkah Zaki terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang tak seharusnya ada—bendera hitam berkibar di depan rumah Zevalina.
Seketika tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup kencang.
“Tidak mungkin …,” bisiknya pelan.
Ia menelan ludah, berharap matanya salah melihat. Namun, semakin lama ia memandangi rumah itu, kenyataan perlahan menghantamnya. Tenggorokannya terasa kering, dan dadanya mulai sesak. Kotak makanan yang sedari tadi ia genggam terasa semakin berat di tangannya.
Dengan langkah ragu, ia terus berjalan ke arah rumah Zevalina. Di depan pintu, beberapa tetangga menatapnya dengan ekspresi prihatin. Salah satunya, seorang wanita tua yang sering menjual roti di pasar, mendekatinya dan menepuk pundaknya pelan.
“Kau akhirnya datang, Nak,” ucap wanita itu dengan suara lirih.
Zaki tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu rumah yang terbuka lebar, seolah mengundangnya untuk masuk.
Begitu memasuki ruangan, aroma dupa bercampur dengan wangi bunga melati memenuhi hidungnya. Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang datang melayat. Beberapa duduk dengan kepala tertunduk, sementara yang lain berbisik pelan di sudut ruangan. Namun, semua yang ada di sana tidak lagi berarti bagi Zaki. Pandangannya hanya tertuju pada satu titik—tubuh yang terbujur kaku di tengah ruangan.
Di atas ranjang kayu, di antara taburan bunga putih, Zevalina terbaring dengan wajah damai. Wajahnya begitu tenang, seolah hanya tertidur. Tapi Zaki tahu, ini bukan tidur biasa. Ini adalah tidur yang tidak akan pernah berakhir.
“Kau datang terlambat ….” Ayah Zevalina dengan suara beratnya memecah suasana yang hening.
Zaki menoleh. Di sudut ruangan dari arah kamar Zevalina, seorang pria paruh baya berdiri dengan tatapan tajam kearahnya. Mata merahnya menunjukkan bahwa ia telah menangis dalam kemarahan dan emosi dalam waktu lama. Itu adalah ayah Zevalina.
Zaki membuka mulutnya, tetapi tidak ada 1 patah kata pun yang dapat keluar dan diucapkan. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin menjelaskan, tetapi bahkan ia sendiri kehilangan kata dan tidak tahu harus berkata apa.
“Kau tidak membalas pesannya ....” Suara ayah Zevalina terdengar lagi dengan nada lebih tajam. “Tiga hari lalu, dia mengirimmu pesan. Tiga kali, tetapi kau tidak menjawab.”
Zaki menunduk. Hatinya terasa mencelos. Ia ingat betul pesan itu.
Namun, sekarang semuanya sudah terlambat.
Ia merasakan tubuhnya melemas kehilangan tenaga. Ia jatuh berlutut di depan ranjang kayu tempat Zevalina berbaring. Air mata yang sejak tadi tertahan kini mengalir deras di pipinya.
“Maafkan aku, Zevli …,” bisik Zaki dengan suara bergetar.
Ia menggenggam erat tangan Zevalina yang kini dingin. Begitu dingin seperti es di kutub utara, tidak seperti tangan yang dulu selalu membawa kehangatan saat musim dingin yang menurunkan salju tiba. Tidak seperti tangan kecil yang dulu selalu menggenggamnya kuat dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Ayah Zevalina menatapnya dengan sorot mata tajam, tetapi kali ini tidak ada kemarahan di sana. Pandangan itu hanya berisi ada kepedihan.
“Sebelum pergi, dia mengatakan satu hal padaku,” ujar ayah Zevalina.
Zaki menatapnya tanpa kedip, menunggu dengan napas tertahan seakan-akan tak dapat keluar karena ketakutannya bercampur kesedihan seperti menahan tangis yang akan pecah semakin keras.
“Dia bilang dia sudah memaafkanmu,” lanjut Ayah Zevalina itu. “Dia bilang, kalau kau datang, aku tidak boleh marah padamu, tetapi aku tidak bisa.”
Suara ayah Zevalina itu bergetar penuh amarah, dan emosi kesedihan mendalam di akhir kalimatnya. Ia menarik napas dalam dan dengan aekuat tenaga berusaha menahan emosinya.
“Dia menunggumu, Zaki,” ucap Ayah Zevalina dengan suara lirih. “Tapi kau tidak datang.”
Di luar rumah, langit yang tadinya kelabu pekat perlahan mulai turun menjadi hujan gerimis yang semakin deras. Seolah dunia dan angkasa ikut menangis bersama Zaki.
Namun, semua air mata kesedihan yang jatuh pada hari itu tidak akan bisa mengembalikan kehidupan Zevalina yang sebelumnya.
Hari ini yang seharusnya menjadi hari jadi mereka yang keempat. Hari yang seharusnya menjadi hari di mana mereka merayakan cinta mereka. Namun, hari ini menjadi kenangan terakhir yang hanya meninggalkan duka.
Zaki menatap lama wajah Zevalina sekali lagi, untuk mengukir dalam-dalam bayangan terakhirnya dalam pikiran Zaki.
Ia datang, tetapi semuanya sudah terlambat.

Lili
5 Pengikut · 1 Novel