"Ibu, lauk ayam gorengnya habis? Gilang masih lapar, baru pulang latihan futsal langsung habis tenaganya."
Suara Gilang memecah keheningan ruang makan yang semula hanya diisi oleh denting sendok yang beradu dengan piring porselen.
Pemuda berusia delapan belas tahun itu menggeser piringnya yang kosong, menatap ibunya dengan wajah memelas yang sengaja dibuat-buat.
Ambar, wanita paruh baya yang duduk di kepala meja, seketika menghentikan suapannya. Wajahnya yang semula datar langsung melunak, digantikan oleh senyuman hangat yang begitu tulus.
"Oh, sudah habis, ya? Sebentar, Ibu ambilkan lagi di dapur. Tadi Ibu sengaja menyisakan potongan dada dan paha atas yang besar untukmu. Tunggu ya, Anak ganteng."
Sekar menurunkan pandangannya. Jemarinya yang memegang sendok terasa kaku. Di atas piringnya, hanya tersisa sebongkah nasi putih hangat dan sepotong tahu goreng yang sudah dingin, ditemani sisa kuah sayur bening yang mulai mengental.
Ada rasa sesak yang perlahan merayap naik ke tenggorokannya, menyumbat setiap pasokan udara yang coba ia hirup.
Sejak sore, Sekar yang memotong daging ayam itu, membersihkannya, mengulek bumbu halusnya dengan peluh yang bercucuran di dapur yang pengap, lalu menggorengnya hingga kuning keemasan. Namun, jangankan mencicipi potongan dada yang empuk, sekadar mencium aromanya saat matang pun ia harus menahan diri. Ibu sudah mewanti-wanti sejak awal agar lauk utama hari ini disisakan untuk Gilang, adik laki-lakinya.
Tidak lama kemudian, Ambar kembali dari dapur membawa piring berisi dua potong ayam goreng berukuran besar.
Asap tipis masih mengepul dari daging yang tampak begitu renyah itu. Tanpa melirik Sekar sedikit pun, Ambar meletakkan piring itu tepat di hadapan Gilang, lalu mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang.
"Makan yang banyak, Gilang. Kamu itu sedang dalam masa pertumbuhan. Jangan sampai kekurangan gizi," tutur Ambar dengan nada suara yang begitu lembut, jenis suara yang tidak pernah Sekar dengar seumur hidupnya jika wanita itu sedang berbicara kepadanya.
"Wah, terima kasih, Ibu! Ibu memang yang terbaik di dunia!" seru Gilang dengan riang. Ia langsung menyambar sepotong paha ayam tanpa memedulikan tatapan kakaknya. Bagi Gilang, perlakuan istimewa ini adalah hal yang lumrah, sesuatu yang sudah semestinya ia dapatkan sebagai anak kesayangan di rumah ini.
Sekar menelan ludah, mencoba mengusir rasa hambar yang mendadak memenuhi rongga mulutnya. Ia memaksakan diri untuk kembali menyuap nasi dengan potongan tahu kecil.
Kehadirannya di meja makan ini tak ubahnya seperti seonggok perabot usang, ada, tetapi sama sekali tidak dianggap.
Ia telah terbiasa dengan pemandangan ini selama dua puluh dua tahun hidupnya, tapi entah mengapa, malam ini luka itu terasa berdenyut lebih perih daripada biasanya.
Hari ini Sekar baru saja menerima surat kelulusan dari universitas tempatnya menimba ilmu, lengkap dengan predikat kelulusan terbaik di tingkat fakultas.
Ia pulang dengan dada berdebar, membawa map jinjing berisi transkrip nilai bernada sempurna, berharap setidaknya malam ini ada satu kata "selamat" atau gurat kebanggaan yang terukir di wajah ibunya. Namun, jangankan bertanya tentang kuliahnya, menyapa kehadirannya saat melangkah melewati pintu depan pun Ambar enggan.
"Ibu," panggil Sekar lirih, memutus percakapan hangat antara Ambar dan Gilang yang sedang membahas sepatu futsal baru.
Ambar menoleh. Seketika itu juga, senyuman yang tadi merekah di bibirnya langsung lenyap tanpa bekas. Gurat wajahnya kembali mengeras, menyisakan sepasang mata yang menatap Sekar dengan pandangan dingin, sedingin es di kutub utara.
“Ada apa, Sekar? Kalau mau menambah nasi, ambil sendiri di dapur. Ibu sedang lelah.”
“Bukan soal nasi, Ibu," jawab Sekar, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar. Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan di atas piring, lalu merogoh tas kain yang ia letakkan di sandaran kursi.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan selembar kertas piagam penghargaan berkulit tebal dengan logo universitas yang berlapis warna emas.
"Tadi siang Sekar menghadiri yudisium di kampus. Ini surat tanda kelulusan Sekar. Nilai indeks prestasi kumulatif Sekar tertinggi di fakultas ekonomi tahun ini, Ibu. Bulan depan Sekar akan diwisuda sebagai lulusan terbaik." Sekar menyodorkan map itu ke tengah meja, mendekat ke arah tempat duduk ibunya.
Sepasang matanya menatap penuh harap, mengemis secuil pengakuan yang barangkali tersisa di sudut hati wanita yang telah melahirkannya itu.
Ambar melirik map tersebut sekilas, hanya satu detik, sebelum akhirnya membuang muka kembali ke arah piringnya sendiri. Tidak ada binar bahagia, tidak ada pelukan hangat, bahkan tidak ada helaan napas lega.
"Lalu? Kamu mau Ibu melakukan apa?" sahut Ambar dengan nada datar, hambar, dan tanpa minat sedikit pun.
"Kuliah tinggi-tinggi dengan nilai bagus itu sudah kewajibanmu karena kamu menghabiskan uang di rumah ini. Tidak perlu dipamerkan di meja makan saat adikmu sedang menikmati makan malamnya."
Kata-kata itu meluncur seperti belati yang diasah tajam, langsung menghujam tepat ke jantung Sekar. Napasnya tercekat. Rasa panas menjalar ke seputar kelopak matanya, memaksa air mata yang sejak tadi ia bendung kini mulai mendesak ingin keluar.
Gilang yang berada di seberang meja hanya melirik acuh tak acuh, lalu melanjutkan kunyahannya tanpa berniat membela sang kakak.
“Sekar tidak bermaksud pamer, Ibu. Sekar hanya ingin Ibu tahu kalau perjuangan Sekar selama ini.”
"Cukup, Sekar!" potong Ambar, kali ini dengan suara yang meninggi hingga membuat denting sendok Gilang terhenti. Wanita itu meletakkan gelas minumnya dengan hentakan keras ke atas meja kayu.
"Ibu tidak butuh laporan nilaimu. Menyebalkan sekali, setiap kali berada di dekatmu, suasana hati Ibu selalu rusak. Singkirkan kertas-kertas itu dari meja makan!"
Selesai mengucapkan kalimat kejam itu, Ambar berdiri dari kursinya. Ia bahkan tidak menghabiskan sisa makanan di piringnya.
Dengan langkah kaki yang dihentakkan, ia berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamar tidurnya di lantai bawah, lalu menutup pintunya dengan dentuman yang menggema ke seluruh penjuru rumah.