"Jin Woo-ya, cepat turun!” teriak Ibu dari ruang tamu, suaranya terdengar jelas dan penuh ketidaksabaran.
Sebenarnya Jung Jin Woo, putra tunggal keluarga Jung, sudah terbangun sejak pagi. Namun, bukannya beranjak, ia justru masih asyik rebahan di atas kasur empuknya. Berkali-kali ia mendengar panggilan ibunya, tapi rasa malas lebih kuat menahannya.
Sambil mengucek mata, Jin Woo menggelihat sebentar lalu berdecak pelan. “Ck, Ibu, ganggu saja,” gerutunya lirih, tentu tak terdengar oleh ibunya.
Dengan langkah enggan, ia akhirnya bangkit, berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Rambutnya masih berantakan, wajahnya kusut karena baru bangun tidur.
“Duh, Bu, apa sih? Hari ini kan libur kuliahku. Biarkan aku tidur sedikit lebih lama,” keluhnya.
“Ibu tahu kalau hari ini kau libur, dan biasanya kau memang bangun siang kalau tidak ada kuliah,” jawab ibunya dengan nada kesal.
“Nah, itu Ibu tahu.” Jin Woo menyeringai malas.
“Masalahnya, hari ini kita kedatangan tamu dari jauh.”
“Tamu? Siapa?” Jin Woo memicingkan mata.
“Nanti akan Ibu kenalkan. Sekarang cepat mandi, ganti pakaian, lalu turun ke ruang tamu.”
“Ck! Kalau tamunya tidak penting buatku, mending aku tidur lagi.”
“Aish! Anak ini!” Ibu menoyor kepalanya, membuat Jin Woo meringis.
“Iya, iya, aku turun,” sahutnya terpaksa, bibirnya mengerucut kesal.
Setelah ibunya pergi, Jin Woo menutup pintu kembali. “Dasar tamu menyebalkan, ganggu waktu rebahanku saja,” gerutunya sambil berjalan ke kamar mandi.
Di ruang tamu, seorang gadis berambut panjang dengan dua kuncir rapi duduk sambil memeluk boneka teddy bear. Wajahnya tampak murung, sesekali ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Di hadapannya, Ny. Jung, ibu Jin Woo, tersenyum lembut, berusaha membuat gadis itu merasa nyaman.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar menuruni tangga. Seorang pemuda tinggi berkulit putih dengan wajah tampan muncul. Tatapannya langsung tertuju pada gadis yang duduk di sofa.
“Siapa dia?” batinnya.
“Jin Woo-ya, kemari. Duduklah,” panggil ibunya, memberi isyarat.
Dengan malas, Jin Woo menghampiri dan duduk di samping ibunya. Tatapannya sekilas melirik ke arah gadis itu.
“Nah, Yoo Ri, ini putra yang tadi Bibi ceritakan. Namanya Jung Jin Woo,” ujar Ny. Jung ramah.
“Halo, namaku Lee Yoo Ri. Aku berusia 19 tahun, berasal dari Busan.” Gadis itu tersenyum kecil, berusaha terlihat ramah meski matanya menyimpan kesedihan.
Jin Woo hanya menatapnya dingin tanpa balasan.
“Mulai sekarang, kalau Ibu dan Ayah sering bepergian ke luar kota, kau tidak akan kesepian lagi, karena ada Yoo Ri yang menemanimu,” jelas Ny. Jung.
“Maksud Ibu?” Jin Woo mengernyit.
“Mulai hari ini, Yoo Ri akan tinggal bersama kita,” jawab ibunya tenang.
“Apa?” Jin Woo terkejut. Pandangannya terarah pada dua koper besar di samping sofa.
“Sampai kapan dia tinggal di sini?” suaranya meninggi, terdengar tak suka.
“Mungkin untuk selamanya.”
“Hah? Kenapa begitu?”
“Yoo Ri adalah putri sahabat lama kami. Ayah dan Ibu berteman sejak kuliah. Dulu, ayahnya juga pernah membantu memberikan modal pertama untuk usaha ayahmu, tapi sebulan lalu, kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Sejak itu, Yoo Ri tidak punya siapa-siapa lagi. Karena itu, kami memintanya tinggal bersama kita. Minggu depan, dia juga akan mulai kuliah di universitas yang sama denganmu.”
“Apa? Di universitasku juga?” Jin Woo langsung protes.
“Ya, universitas itu bagus. Lagi pula, kalau dia kuliah di sana, kau bisa sekaligus menjaganya.”
“Ck! Memangnya aku ini baby sitter?”
“Sudah, jangan protes. Mulai sekarang, kalian berdua harus bisa akur. Mengerti?” Suara ibunya terdengar tegas.
Jin Woo mendengkus, sementara Yoo Ri hanya menunduk. Tanpa sepatah kata, Jin Woo tiba-tiba bangkit berdiri.
“Kau mau ke mana?” tanya ibunya.
“Aku ada janji dengan temanku,” jawabnya cepat, lalu melangkah pergi.
“Yak! Yoo Ri baru datang, dan kau malah pergi?” omel Ny. Jung, tapi Jin Woo tak menggubris. Ia keluar begitu saja, menyalakan mobil dan meninggalkan rumah.
“Aish, anak itu!” keluh ibunya, lalu menoleh pada Yoo Ri yang masih terlihat sedih.
“Maafkan Jin Woo ya, Yoo Ri. Jangan kau pikirkan ucapannya. Dia sudah terbiasa jadi anak tunggal, jadi sulit menerima ada orang baru di rumah.”
“Tidak apa-apa, Bi. Aku mengerti,” jawab Yoo Ri lirih.
“Sekarang lebih baik kau istirahat. Bibi antar ke kamarmu.” Ny. Jung lalu membantu membawakan barang-barangnya ke lantai dua.
Kamar itu sudah dipersiapkan rapi, tepat di samping kamar Jin Woo.
“Nah, mulai sekarang ini kamarmu. Kalau perlu sesuatu, kau bisa mengetuk kamar Jin Woo karena letaknya bersebelahan,” jelas Ny. Jung.
Yoo Ri menoleh sebentar ke arah pintu kamar Jin Woo sebelum tersenyum tipis. “Iya, Bi. Terima kasih.”
Mereka masuk ke kamar. Yoo Ri menatap sekeliling, dindingnya bersih, perabotan rapi, terasa nyaman.
“Kau suka?” tanya Ny. Jung.
“Iya, Bi. Kamarnya nyaman sekali.”
Ny. Jung tersenyum, lalu mengusap rambut Yoo Ri penuh kasih sayang. “Semoga bukan hanya kamar ini, tapi juga seluruh rumah ini terasa nyaman bagimu. Anggaplah kami sebagai keluargamu sendiri.”
Yoo Ri terharu hingga matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Bi.” Ia memeluk Ny. Jung, yang langsung membalas pelukan hangat itu.
Yoo Ri lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya masih erat memeluk boneka teddy bear kesayangan. Sejenak ia menatap langit-langit kamar, lalu menutup mata. Ingatan tentang kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya tiba-tiba terlintas kembali. Dadanya terasa sesak.
Suara lembut dari Ny. Jung memecah lamunannya.
“Yoo Ri-ya, kalau kau lapar, turun saja ke dapur. Bibi sudah menyiapkan makan siang,” ujar Ny. Jung seraya tersenyum.
“Iya, Bi,” jawab Yoo Ri sambil mengatur nada suaranya agar terdengar tegar.
Pandangannya kini mengarah ke jendela yang tirainya setengah terbuka. Dari sana, ia bisa melihat sedikit halaman belakang rumah keluarga Jung.
Hati kecilnya berbisik lirih, “Mulai sekarang, aku harus terbiasa hidup tanpa Ayah dan Ibu. Semoga aku bisa menyesuaikan diri di rumah baru ini.”
Ny. Jung pun diam-diam memperhatikan wajah Yoo Ri yang kembali melamun dengan penuh rasa iba, seolah memahami apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu saat ini. "Malang sekali nasibmu, Nak," batin Ny. Jung.
Sementara itu, di jalan, Jin Woo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di wajahnya tergambar jelas rasa kesal. Ia tidak suka ada orang asing tinggal di rumahnya, apalagi gadis yang tiba-tiba dijadikan tanggung jawabnya.
“Kenapa harus aku sih? Hidupku sudah tenang-tenang saja. Sekarang malah jadi repot,” gumamnya sambil menginjak pedal gas.
Pikirannya bercampur aduk. Ia tahu ibunya pasti sudah mantap dengan keputusannya, jadi protes pun percuma. Namun, tetap saja, hatinya belum bisa menerima.