


oleh Eliyona · 84 Bab
Rumana seorang gadis nelayan, terperangkap dalam tradisi yang membelenggu. Desa Kauman masih kental dengan pamali berselimut adat. Mengikuti tata cara yang berlaku, Rumana yang sudah lama menjalin cinta dengan Jaya, akhirnya memutuskan untuk membawa rajutan cinta ke jenjang pernikahan. Penuh harapan, Rumana merajuk kepada ayahnya, supaya melamar sang kekasih. Acara lamaran disiapkan. Keluarga Rumana mendatangi rumah keluarga Jaya untuk melamar. Namun, yang terjadi membuat rajutan itu koyak. Weton Rumana dan Jaya, tibo pati. Tak terpengaruh adat, Rumana dan Jaya sepakat melanjutkan. Sampai hari ketiga setelah acara lamaran, ayah Rumana tewas saat melaut. Cinta pun terkoyak.
Kampung Nelayan, 13 Juni 1980.
Rumana masih berdiri mematung di tepi pantai. Angin laut membawa aroma khas, meniup rambut panjangnya.
Sudah lebih dari tiga hari. Ia terombang-ambing dalam ketidakpastian. Menunggu dalam gelisah.
Matanya terus menatap jauh ke garis cakrawala, tempat laut dan langit bertemu dalam kelabu.
“Mbakyu.”
Suara panggilan lembut membuatnya menoleh. Ruminah, sang adik yang berusia dua tahun lebih muda darinya, berlari kecil menghampiri.
“Perahu yang membawa Bapak belum datangkah?” tanya Ruminah dengan napas memburu. Wajah manisnya tersapu lembut oleh angin pembawa lembayung.
“Mungkin sebentar lagi,” balas Rumana, kembali menatap jauh ke lepas pantai.
Ruminah menepuk pundak sang kakak. Netranya ikut menatap air laut yang berarak tak tentu arah.
Hening menyeruak. Hanya suara deburan ombak yang beradu dengan embusan angin. Dua wanita muda itu larut dalam pikiran masing-masing. Berharap penampu hidup pulang dengan selamat.
“Mbakyu, ini sudah satu jam berlalu. Aku sudah lelah menunggu. Apa benar kalau Bapak hari ini akan pulang?” Suara Ruminah bergetar, isaknya nyaris pecah.
Rumana menoleh, tatapannya teduh. “Dek, tenanglah. Laut pasti akan memberi kabar pada makhluk yang sabar. Berdoa saja. Semoga Bapak pulang dengan selamat.”
Ruminah mencelos. “Aku tak terlalu yakin, Mbak. Kata Mbah Jiwo, orang yang sudah 3 hari hilang biasanya ….”
“Hust. Jangan bicara yang tidak-tidak. Nanti kejadian lho. Bisa jadi Bapak terbawa sampai ke Pulau Gili. Menunggu sampai pertolongan datang.” Rumana menaruh telunjuk di ujung bibirnya.
“Habisnya aku takut, Mbak. Bagaimana jika yang pulang kabar buruk?” Ruminah mulai terisak, kedua tangannya meremas ujung rok.
Rumana mengusap rambut adiknya, meski air matanya sendiri nyaris tumpah. “Hidup atau mati itu sudah kehendak Allah. Kita manusia hanya bisa berdoa dan pasrah menjalani kehendaknya.”
Hening kembali membungkus. Hanya debur ombak yang menggaung, seakan ikut meratap.
Hampir 3 jam berlalu. Sampai dari kejauhan, samar-samar terlihat sebuah perahu kayu perlahan mendekat. Lambaian kain putih di tiang perahu membuat dua kakak beradik itu tercekat. Rumana masih terdiam kaku, sementara Ruminah langsung menjerit histeris.
“Mbak, itu Bapak! Mereka sudah membawa Bapak pulang!”
Ruminah berlari dengan tubuh gemetar. Menyambut perahu yang akhirnya merapat. Beberapa nelayan melompat ke daratan, wajah mereka muram, seakan menyimpan kesedihan yang berat. Di atas geladak, terbaring kaku sosok lelaki setengah baya. Tubuhnya sudah membiru.
Ruminah langsung menjerit histeris, “Bapak! Apa bapakku masih hidup?” Ia memeluk sang bapak yang terbaring kaku. “Bapakku masih hidup kan? Katakan Bapak masih hidup kan? Kalian jangan diam!” Ruminah meraung, menangis pilu.
“Sabar ya, Rum. Pak Santomo sudah almarhum. Kami menemukan mayatnya di atas perahu. Sepertinya bapakmu kena angin duduk.”
“Tidak!” Ruminah langsung lunglai. Beruntung tubuhnya ditopang oleh seorang tetangga, sehingga tak sampai ambruk.
Sementara Rumana melangkah gemetar. Menghampiri jasad sang ayah. Ia berlutut di sisi tubuh tak bernyawa, tangannya menyentuh pakaian bapaknya yang masih lengkap. Mata yang sejak tadi berusaha tegar akhirnya pecah. Rumana menangis.
“Bapak,” bisiknya lirih, “kenapa harus dengan cara seperti ini?”
“Sabar, Una.”
“Laut adalah sumber kehidupanmu. Laut juga yang menjadi tempatmu pulang. Padahal aku akan menikah. Tapi Bapak malah pergi.” Rumana menangis dalam diam, tidak sekeras Ruminah. Namun, justru dia yang lebih sakit.
Ombak seakan ikut berkabung. Angin membawa suara isak, bercampur dengan doa dari kerumunan warga yang ikut menyaksikan.
Ruminah yang awalnya lemas, tiba-tiba meronta. Saat salah seorang tetangga menutup tubuh sang ayah dengan jarik.
“Jangan sentuh Bapak! Bapakku belum mati!” Ia hendak meraih tubuh bapaknya, tapi langsung dicegah oleh para tetangga.
Rumana meraih adiknya, memeluk erat tubuh yang bergetar. “Sabar, Dek. Allah lebih sayang Bapak. Biarkan Bapak pergi dengan tenang.” Namun, kata-kata itu tak mampu meredakan duka.
Ruminah tetap meraung, histeris. “Bapak! Bapak! Kalau Bapak pergi, siapa yang akan mencari nafkah untuk kita?"
Para tetangga tetap mengangkat tubuh ayah Rumana, meski Ruminah terus berteriak. Menahan langkah.
Rumana merangkul Ruminah. “Dek, sudah. Kita harus ikhlas,” ucapnya.
Keduanya mulai berjalan mengiringi jenazah. Pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, seorang wanita langsung bangkit dari kursi bambu begitu melihat iringan para tetangga yang datang dengan keranda. Wanita itu adalah Sukemi, ibu dari Rumana dan Ruminah.
Seorang tetangga menunduk penuh iba, berkata lirih, “Lek Mi. Yang sabar ya. Lek Tomo sudah ditemukan.”
Sukemi dengan tidak sadar menyibak kain jarik yang digunakan sebagai penutup. Dalam hitungan detik, ia tercengang.
Tubuhnya terhuyung. Air matanya tumpah deras tanpa dapat dibendung. Ia meraih jasad itu, memeluknya dengan keputusasaan yang memilukan.
Rumana berusaha tegar. Ia menghampiri sang ibu. Merangkulnya erat, berusaha menegakkan sosok yang hampir ambruk.
“Ibu, kita harus kuat. Tuhan memberi ujian, supaya kita naik kelas,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata jatuh membasahi bahu sang ibu.
Tangis pecah di seluruh rumah. Ruminah masih histeris memanggil ayahnya. Sukemi mendadak pingsan. Suasana menjadi lautan duka. Warga kampung ikut kehilangan sosok nelayan sederhana, yang dikenal dengan kemurahan hatinya.
Hari itu, matahari tenggelam dalam warna merah saga, mengiringi jenazah yang dibawa ke pemakaman. Diiringi doa, tanah demi tanah menimbun raga tanpa jiwa itu. Suara takbir dan doa mengalun lirih, bercampur dengan isak tangis.
Rumana berdiri dengan tubuh gemetar. Saat tanah terakhir ditabur, hatinya terasa retak.
Ruminah memeluk kakaknya dari samping, berbisik lirih, “Mbak, bagaimana nasib kita nanti? Siapa yang akan cari nafkah? Mbakyu enak, mau nikah. Aku masih sekolah dan Ibu tidak kerja.”
Seperti mengerti perasaan sang adik, Rumana membalas, “Tidak ada badai yang tidak berlalu.”
—
Usai pemakaman, orang-orang mulai pulang. Rumah duka sejenak hening, hanya tersisa keluarga yang masih larut dalam kesedihan. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Seorang wanita setengah baya datang tergopoh, wajahnya kaku. Ia adalah Purwati, calon ibu mertua Rumana, ditemani oleh suaminya, Darminto. Mereka datang, tak hanya sekadar melayat.
Purwati menatap Rumana yang duduk di samping ibunya. Ia berkata dengan tegas, “Rumana, kedatangan kami tidak hanya untuk mengucapkan belasungkawa. Ada hal penting yang harus kami sampaikan.”
Rumana mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap penuh tanda tanya. “Inggih. Silakan, Bu.”
Purwati menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat sayatan menjadi luka menganga. “Pernikahanmu dengan Jaya, tidak bisa dilanjutkan,” ucapnya.
Rumana terentak. “K-kenapa? Bukankah kemarin dua keluarga sudah sepakat?”
Tanpa tedeng aling-aling, Purwati menjawab, “Wetonmu dan Jaya tibo pati. Tidak cocok. Buktinya Santomo meninggal, kan? Dari awal sudah kuperingatkan, jangan dilanjut. Kamu dan Jaya ngotot. Terbukti kan sekarang?”
Rumana terdiam. Darahnya seakan berhenti berdesir.
Purwati kembali melanjutkan, “Jangan diteruskan. Weton tibo pati itu sudah level tertinggi, mentok, harus pisah. Aku yakin nanti ke depan kamu pasti akan ketemu jodoh dengan weton yang cocok.”
Sukemi yang masih pucat karena duka, terperanjat mendengar kata-kata menohok sang calon besan. “Mbak Pur kok tega toh ngomong gitu. Rumana baru saja kehilangan bapaknya. Setidaknya beri waktu supaya dia ….”
Purwati langsung memotong ucapan Sukemi, “Sampai kapan? Sampai ada korban lagi, heh? Pernikahannya tiga hari lagi lho. Masih mending aku bilang sekarang daripada nanti pas harinya. Apa kamu nggak tambah malu?”
Ia kembali melanjutkan, “Pamali tidak bisa dilawan, Mbak Mi. Ini demi keselamatan bersama.”
Rumana menunduk, air matanya kembali tumpah. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia sudah kehilangan ayahnya dan kini, ia kembali kehilangan cinta. Luka duka yang belum kering, kini ditambah dengan kalimat menohok.
Rumana menggenggam tangan ibunya erat, berkata lirih, “Kalau jodoh saya dengan Mas Jaya sampai di sini, insyaallah saya ikhlas. Meski demikian, semoga kita tetap bisa bersilaturahmi dengan baik.”
Purwati mencebikan bibir. Jelas sekali ia merasa keberatan. Wajah dinginnya sudah cukup menunjukan kalau dia tidak menyukai Rumana. "Terserah kamu saja. Asal kalau Jaya ketemu jodoh sebelum kamu, jangan nesu. Ojo bikin gara-gara, hanya karena kamu mantannya.”

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel