


oleh pelangi Senja · 26 Bab
Aldo Argantara putra seorang lelaki berusia 28 tahun. Tengah kehilangan arah hidupnya, karena kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang tiba-tiba pergi menghilang tanpa sebuah kabar. Sekian lama Aldo mencari keberadaan sang pujaan hati. Namun, pencariannya tak kunjung membuahkan hasil. Membuatnya hampir menyerah! Hingga pada suatu hari takdir mempertemukan mereka kembali. Akan tetapi, dalam suratan takdir yang berbeda. Aldo benci takdir itu. Dimana, ia dipertemukan dengan wanitanya yang bernama Zahra dalam kondisi yang begitu memprihatinkan. Zahra mengalami gangguan mental, hingga dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Akankah cinta Aldo berakhir indah, atau sekedar harapan yang sia-sia?
"Hari ini kamu gantikan papa!" perintah ayahku setengah memaksa.
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak Hans saja yang mewakili Papa?" ucapku berusaha membujuknya.
"Hans bukan anak saya!" ujarnya tegas. Sepertinya keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat.
"Baiklah," jawabku pasrah. Aku terpaksa menghadiri acara itu, daripada harus dicoret dari daftar KK.
Ayahku memang donatur tetap di rumah sakit tempat Harun bekerja, sehingga setiap ada acara penting ayahku akan selalu diundang. Namun, sialnya, kali ini aku yang harus hadir!
"Jangan lupa acaranya dimulai pukul sepuluh pagi ini. Lagi pula di sana ada Dokter Harun yang bisa kamu ajak ngobrol."
"Mau apa si Harun nongkrong di sana? Apa dia salah satu donatur juga?"
"Kerja lah, memang kamu keluyuran melulu," ujarnya ngeselin memang. Dia selalu saja membanding-bandingkan anaknya ini dengan orang lain. Gini-gini aku lulusan sarjana. Tetapi malas kerja.
"Seriusan si Harun kerja di sana?" tanyaku penasaran.
"Ya iyalah. Kan dia psikolog."
"Ya sudah ayah pergi dulu. Jangan sampai kamu tidak hadir! Ayah coret kamu dari daftar penerima warisan!" ancam ayahku terdengar menakutkan.
"Siap Tuan Arga yang terhormat," ucapku mengangkat tangan sebagai tanda penghormatan, yang dihadiahi dengan lemparan surat kabar darinya.
Ah, ayahku ini memang selalu begitu. Akan tetapi, di balik sipat kerasnya selama ini terhadapku, tersimpan kasih sayang di dalamnya. Ia sangat menginginkan diriku agar menjadi orang yang sukses, sebagai penerus perusahaan keluarga kami. Dan aku hanya bermain-main untuk itu semua. Aku memang anak yang tidak bisa diandalkan.
Sebenarnya aku sudah pernah masuk ke dalam dunia bisnis. Menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan milik ayah. Namun, aku memutuskan untuk berhenti. Akibat kehilangan seseorang yang sangat aku kasihi, membuatku kehilangan arah serta semangat hidup.
Sebenarnya aku malas untuk menghadiri undangan dari pihak rumah sakit itu.Terlebih lagi, itu bukan rumah sakit biasa pada umumnya. Melainkan rumah sakit jiwa. Aku takut saja kalau setelah pulang dari sana aku ketularan gila. Tetapi, Bukankah aku ini memang sudah gila semenjak kehilangan dirinya?
kukendarai mobil ini dengan perasaan malas, kalau saja bukan karena ayahku aku tidak akan pernah bersedia untuk menginjakkan kakiku ke tempat seperti itu.
Hingga hampir satu jam perjalanan, aku telah tiba di depan rumah sakit jiwa itu. Seorang lelaki paruh baya nampak berdiri di depan pintu masuk. Rupanya, ia sudah menungguku sedari tadi. Dia adalah Dokter Harun sahabat karibku sedari kecil.
"Kukira kamu tidak akan datang," ucapnya sembari merangkul pundakku.
"Mana bisa begitu, aku belum siap untuk jadi gembel," jawabku yang disambut dengan gelak tawa darinya. Sahabatku satu ini memang sama menjengkelkannya seperti ayahku, dia sangat hobi mentertawakan kesialan diriku.
"Sudahlah. Dibawa happy aja, anggap saja ini sebagai bentuk baktimu sebagai seorang anak." Aku pun mengangguk membenarkan perkataannya.
"Apa acaranya sudah dimulai?" tanyaku sembari melihat arloji di tanganku. Mungkinkah acaranya sudah dimulai? Mengingat aku datang cukup terlambat. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30. Berarti aku sudah terlambat hampir setengah jam.
"Belum, mereka masih menunggu, Tuan Aldo yang kabarnya tidak akan datang, karena belum bisa move on dari masa lalunya." Harun mulai mengungkit masa lalu. Hal itu tentu saja membuatku jengkel.
"Berisik! Lama-lama kamu jadi menyebalkan sama seperti ayahku!" omelku kemudian menendang pantatnya. Ia meringis saat sepatu milikku mengenai bokongnya.
'Syukurin! Habisnya ngoceh melulu udah kayak ibu-ibu arisan,' gumamku dalam hati sembari tersenyum simpul.
"Teman saraf," ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak.
***
Hufh ... capek sekali rasanya. Saat tadi aku harus berdiri hingga puluhan menit. Hanya untuk menyampaikan beberapa sambutan, sebagai pembuka acara hari ini. Yang menurutku sangat membosankan.
Kenapa tidak langsung saja ke intinya? Pake acara sambutan segala. Bukankah yang terpenting itu adalah isinya? Membuang waktuku saja.
Lagi pula kenapa juga ayahku selalu rutin memberikan donasi untuk rumah sakit ini? Bukankah yang perlu disantuni itu orang sakit atau para yatim-piatu. Bukanlah orang gila.
Hingga acara hari ini telah selesai, aku masih saja merasa dongkol.
Aku yang merasa penat, lalu duduk di bawah sebatang pohon besar yang ada di taman belakang rumah sakit. Ditemani oleh Dokter Harun.
"Kenapa kamu memilih untuk bekerja di sini, apa kamu tidak takut kalau tiba-tiba saja mereka mengamuk dan menyerangmu?"
Dengan pandangan tertuju kepada beberapa pasien yang berada tak jauh dari tempatku duduk bersama Harun.
Ada yang tengah main lompat tali, main kelereng, bahkan ada pula yang tengah menghitung semut.
"Apa kamu tahu sebenarnya mereka sama seperti kita? Hanya saja, karena tak sanggup menahan penderitaan. Serta beban hidup yang terlalu berat, membuat mereka seperti sekarang. Semua itu berawal dari rasa trauma berkepanjangan yang membuat depresi hingga berhalusinasi. Yang disebabkan oleh ketidakseimbangan beberapa hormon pada penderita gangguan jiwa berat. Sebenarnya mereka itulah yang harus kita perhatikan. Aku bekerja di sini bukan semata hanya karena uang. Akan tetapi, lebih kepada bakti sosial serta rasa kemanusiaan. Bukankah mereka juga manusia seperti kita, hanya saja takdir hidup mereka tak sebaik kita." jawaban Harun panjang lebar. Membuatku merasa tersentil.
Selama ini, aku terkesan merendahkan dan menganggap mereka yang ada di sini tidak layak untuk mendapatkan perhatian.
Ternyata aku salah, menyantuni bukan hanya bagi orang miskin. Akan tetapi, orang gila sekalipun berhak untuk mendapatkan perhatian.
"Coba kamu lihat wanita itu." Tunjuk Harun pada seorang wanita yang tengah duduk sendirian di bawah sebatang pohon besar. "Sebenarnya dia itu tidak gila. Hanya saja, trauma berlebih membuatnya mengalami depresi berat. Aku tidak pernah melihatnya mengganggu orang lain. Bahkan aku sering melihatnya menulis tentang suatu cerita layaknya orang normal. Entah apa yang telah terjadi terhadap dirinya."
Saat kuamati wajah wanita itu mengingatkanku pada sosok yang selama ini tengah aku rindukan. Wanita yang selama ini terus kucari keberadaannya. Wanita yang telah pergi menghilang tanpa sebuah kabar. Membuatku hampir saja gila karenanya.
Ya Tuhan ... apakah itu benar dirinya? kalau iya, lalu kenapa dia bisa ada di tempat ini?

pelangi Senja
0 Pengikut · 1 Novel