


oleh simoll · 9 Bab
Perjodohan yang tak diinginkan, mempertemukan Ruby, seorang gadis ceria yang memiliki masa lalu suram dengan Clayton, pria dingin tanpa ekspresi. Akankah hubungan mereka dapat berkembang ke arah yang lebih indah?
“Jadi, kurang dari seminggu aku akan menjadi menantu keluarga Laurent?” tanya Ruby dengan tatapan kosong, suaranya terdengar datar seperti tak lagi menyimpan harapan.
Di seberangnya, sang ayah, Alexander Steal, duduk dengan tegap di balik meja kerjanya yang megah. Ia menatap putrinya sejenak sebelum menjawab, seolah tak mendengar nada getir dalam suara Ruby.
“Ya, itu hal yang harus segera kita lakukan. Pemilihan Menteri tidak lama lagi. Ayah harus mengetahui strategi apa yang direncanakan oleh keluarga Laurent. Terlebih, mereka menerima lamaran ini tanpa berpikir panjang. Bukankah ini sebuah keberuntungan bagi kita?”
Nada bicaranya tenang yang sarat ambisi. Ruby hanya menatap kosong. Kata "kita" terasa asing di telinganya. Karena tercapainya tujuan ini bukan untuk mereka melainkan hanya untuk sang ayah.
“Untuk kita? Untuk Ayah maksudnya?” batin Ruby, pahit. “Baiklah, Ayah. Aku akan melakukan apa yang Ayah perintahkan.”
Ruby Steal adalah anak bungsu dari Alexander Steal, seorang politisi ambisius yang sedang berlomba menuju kursi menteri dalam pemerintahan Kartica. Sang kakak, Bastian, akan mewarisi semua bisnis dan koneksi keluarga. Sementara Ruby ditugaskan menjadi pion dalam permainan politik ayahnya.
Pemerintahan di negara Kartica terbagi dalam dua kubu besar. Mereka yang mendukung garis keturunan raja terdahulu, dan yang berpihak pada adik dari sang raja yang telah lama wafat. Pertarungan politik bukan sekadar adu suara, melainkan siasat, aliansi, dan pengorbanan termasuk seperti yang Ruby lakukan.
Kini, ada tiga kandidat Menteri terkuat David Laurent, Alexander Steal, dan Robert Dowski. David dikenal sebagai loyalis keluarga raja, sedangkan Alexander, belakangan ini terlihat mendekati pihak yang lebih konservatif sang paman Raja.
“Pertemuan keluarga akan dilakukan besok. Jadi jangan sampai mengacau!” perintah Alexander sebelum Ruby sempat membuka mulut lagi.
Keesokan harinya, suasana di kediaman keluarga Laurent tampak elegan dan hangat secara formal, tetapi atmosfernya jelas menyimpan ketegangan.
“Alexander! Silakan masuk!” sambut David Laurent sambil mengulurkan tangan.
“David! Apa kabar?” Alexander membalas basa-basi itu dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata.
“Seperti yang kau lihat, Alexander, aku baik-baik saja,” jawab David, suaranya penuh kendali.
Mereka tersenyum yang tak lebih dari kedok diplomasi. Keduanya tahu, yang mereka hadapi bukan sekadar perjodohan biasa, melainkan medan tak terlihat dari perang strategi.
Di meja makan, hidangan pembuka tersaji dengan rapi. Ruby duduk dengan postur tenang, mengenakan gaun merah marun yang elegan. Ia menatap anggota keluarga yang kini akan menjadi ‘kerabatnya’ dengan sorot mata yang tak bisa ditebak.
“Perkenalkan, nama saya Ruby Steal,” ucapnya, sopan.
“Ya, Ruby. Seperti yang sudah kalian ketahui, kami memiliki dua anak laki-laki, Daniel dan Clayton. Seperti yang telah kita sepakati, Ruby akan berjodoh dengan Clayton, anak kedua kami. Ah, satu lagi, Anna Belle adalah anak angkat kami,” jelas Elza Laurent, istri David, dengan senyum keibuan.
Ruby mengangguk kecil dan tersenyum. Semua sudah terlalu jelas, dan tidak ada yang bisa dia ubah. Ia hanya harus menjalani peran ini sebaik mungkin.
Hidangan demi hidangan disajikan. Perbincangan mengalir dengan sopan namun dingin. Dan akhirnya keputusan pun ditetapkan: pernikahan Ruby dan Clayton akan diadakan tiga hari lagi.
“Lebih cepat dari dugaanku, tapi tak apa. Aku malah senang dengan keputusan ini. Jadi aku bisa segera keluar dari neraka itu,” gumam Ruby dalam hati, menyembunyikan rasa lega yang tidak berkaitan dengan cinta atau harapan melainkan pelarian dari ayahnya.
“Baiklah David, terima kasih karena sudah menerima lamaran kami dan menerima putri tersayang kami menjadi menantumu,” ujar Alexander sambil menjabat tangan David.
“Tentu saja, Alex. Kau tidak perlu berterima kasih,” jawab David dengan anggukan kecil.
Pertemuan pun berakhir. Keluarga Steal meninggalkan rumah keluarga Laurent. Dalam mobil, suasana terasa berat meski tak seorang pun berbicara.
“Terakhir kali Ayah mengingatkanmu, Ruby. Jangan mengacau saat hari pernikahanmu tiba!” Suara Alexander memecah keheningan, nadanya penuh tekanan.
Ruby hanya mengangguk. Matanya menerawang ke luar jendela, memandangi pepohonan dan bangunan yang lewat begitu saja.
Di sampingnya, Bastian hanya menunduk, tak berkata apa pun. Ia tampak seperti menyimpan sesuatu, dan tak ingin mengutarakannya.
**
Hari pernikahan pun tiba.
Gema suara pendeta memenuhi aula upacara yang megah. Lampu kristal bersinar hangat, dan para tamu duduk dalam keheningan sakral.
“Dengan janji suci antara dua insan yang hatinya saling bertaut, kini kalian berdua resmi menjadi suami dan istri. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian, dan menjadi keluarga yang harmonis.”
Ruby dan Clayton berdiri berdampingan. Saat tiba saatnya menyematkan cincin, tangan Ruby bergerak pelan sedangkan Clayton bahkan tak menyentuh tangan istrinya. Gerakannya mekanis dan dingin. Detik itu juga, para tamu saling melirik, tersenyum mengejek tanpa malu.
Ruby tetap berdiri tegak, tak terusik. Ia sudah terlalu sering dicemooh untuk merasa terguncang oleh sindiran halus. Ia bahkan menyunggingkan senyum samar, seperti sudah siap untuk segala cibiran yang akan datang.
“Kalian lihat tadi? Bahkan Clayton tidak mau menyentuh Ruby sedikit pun,” bisik salah seorang tamu, diikuti tawa kecil dari kelompok mereka.
Selama ini, Ruby Steal dikenal dengan reputasinya yang angkuh, mencolok, dan kadang licik. Penampilannya selalu mewah, perhiasannya berkilau berlebihan. Semua atas perintah sang ayah, agar keluarga Steal tak pernah terlihat lemah.
Ia juga sering hadir di berbagai acara penting, membuat ulah atau menggoda pejabat penting demi mendapatkan informasi yang bisa dimanfaatkan Alexander. Hidupnya bukan miliknya sendiri, melainkan milik ambisi ayahnya.
Pesta berakhir perlahan. Para tamu pamit satu per satu. Di penghujung acara, Raja Rupert Murdoch menghampiri mereka, menatap kedua pengantin dengan pandangan yang menyelidik dan lembut.
“Entah ini pernikahan yang kalian inginkan atau tidak, aku harap kalian bisa bahagia dan saling akrab. Walau sebagai teman.”
Clayton dan Ruby hanya tersenyum. Senyum yang lebih mirip cermin dari kehampaan di dalam dada mereka. Raja Rupert tentu tahu. Semua orang tahu.
**
Malam itu, di kamar pengantin.
“Ugh! Lelah sekali,” keluh Ruby, membiarkan dirinya terjatuh di atas ranjang empuk.
Ia menatap langit-langit sebentar lalu duduk dan melepas sepatu haknya. “Clayton tidak akan ke kamar pengantin, kan? Melihat tingkah kekanak-kanakannya saat bertukar cincin saja aku sudah tahu. Hah! Sudahlah. Aku ingin bersantai saja. Hari ini hari bersejarah aku sudah lepas dari Ayah sialan itu. Lebih baik aku berendam!”
Dengan langkah ringan, Ruby menuju kamar mandi dan memutar keran air panas. Uap mulai memenuhi ruangan sementara aroma bunga mawar perlahan memenuhi udara. Ia melempar sebotol kecil minyak aromaterapi ke dalam bathtub, lalu mengambil segelas wine merah dari meja kecil di sudut ruangan.
Tak lama, ia pun masuk ke dalam bathtub. Air hangat menyentuh kulitnya, meresap perlahan ke otot-otot yang tegang. Ia memejamkan mata, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
“Untuk kehidupan yang baru,” gumamnya pelan, seolah bersulang dengan dunia yang belum tentu menyambutnya. Namun, ketenangan itu segera terusik.
Seseorang membuka pintu kamar tanpa suara. Langkah-langkah pelan terdengar mendekat. Pria itu tampak menoleh ke sekeliling, seakan mencari seseorang. Hingga akhirnya, ia berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.
Pintu yang tak terkunci. Dan Ruby pun belum menyadarinya.

simoll
2 Pengikut · 2 Novel