


oleh sweetchocosin · 84 Bab
Sophie tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di sebuah desa terpencil seperti Oakfen, setelah tragedi keluarganya menjadi bahan gunjingan di Highgate. Blair Cottage—rumah kuno peninggalan nenek buyutnya—menjadi satu-satunya harta yang ia miliki sekarang. Namun, alih-alih menemukan kesepian, Sophie mendapati Edmund, pria tampan bermata biru, sebagai pengurus rumah itu. Edmund mengaku telah menjaga Blair Cottage selama bertahun-tahun. Kebaikan Edmund perlahan membuat Sophie terpesona, meski kecurigaan tetap mengganggunya. Hingga suatu hari, tanpa sengaja, ia mengetahui kebenaran tentang asal-usul Edmund. Siapakah Edmund sebenarnya?
Tahukah kau bahwa beberapa orang dilahirkan dengan kemampuan membuat dunia tampak lebih suram daripada seharusnya?
Syukurlah, aku bukan salah satunya. Namaku Sophia James, dua puluh tujuh tahun. Untunglah ini abad ke 21. Kalau tidak, mungkin hari ini aku hanyalah seorang perawan tua yang doyan membaca buku di kastil terpencil.
Aku berhasil menyelesaikan studiku sebagai perancang interior tanpa terlalu banyak drama, dan sekarang bekerja sebagai salah satu penasihat di Blooms Interiors, yang pada dasarnya adalah milik mantan pacarku.
Perlu digarisbawahi, aku adalah pribadi yang lebih suka melihat segala sesuatu dari sisi yang paling cerah. Memangnya kenapa kalau terjebak selamanya menjadi bawahan mantan pacar?
Penampilanku. Cantik, iya—semua wanita di dunia ini cantik, bukan begitu?—tapi tidak terlalu. Menurutku, mata hijauku tampak begitu pucat saat berada di bawah sinar yang terik, membuatnya nyaris transparan.
Baiklah, kesampingkan urusan itu. Istilah kepribadian lebih dihargai dari penampilan bukankah berlaku di mana saja? Aku percaya Tuhan tidak mungkin menciptakanku tanpa kelebihan.
Seperti ketika tanpa sengaja salah satu anggota timku menumpahkan cat ke karpet klien yang harganya lebih mahal daripada mobilku, aku masih bisa tersenyum sambil berkata, “Paling tidak sekarang warnanya lebih artistik, kan?”—dan ajaibnya, semua orang tertawa.
Atau mungkin hanya pura-pura tertawa. Lagi pula, siapa yang bisa marah pada seorang gadis yang memegang katalog kain dengan wajah yang sudah siap dieksekusi?
"Selamat pagi, Sophie," sapa Andrew, pria yang baru bergabung dengan tim kami musim panas kemarin. Ah, kalau dipikir-pikir, itu sudah hampir setahun yang lalu.
"Selamat pagi, Andrew. Aku sudah memeriksa katalog yang kau kirim. Coba cek surel-mu."
Pria itu, dengan kesadaran penuh, memutar matanya dan mengeluh malas. Tapi aku tidak bisa menghilangkan senyumku.
Pagi ini Highgate sedang diterangi matahari musim semi yang ramah, dan toko bunga di sudut jalan baru saja menaruh sekeranjang peoni merah muda—warna favoritku—di luar etalase. Aku hampir berhenti untuk membelinya, kalau saja tidak sedang dikejar tenggat waktu renovasi ruang keluarga milik keluarga Harrowby, pasangan kaya raya yang menginginkan ruangan mereka “elegan, tapi biru muda.”
Aku masih belum tahu sepenuhnya apa arti kalimat itu. Elegan, aku mengerti. Biru, tentu. Tapi muda? Aku malah membayangkan ruang baca anak-anak.
Bagaimanapun juga, studio desain itu hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki dari rumahku. Itu sebabnya aku mencintai Highgate. Semua ada di sini.
Kafe dengan aroma kopi yang cukup kuat untuk mengusir seluruh sisa-sisa mimpiku semalam, pasar kecil yang menjual buah-buahan dengan harga yang masih terlalu mahal karena memang belum musimnya. Dan tentu saja, pub dengan suasana meriah di mana semua orang saling mengenal satu sama lain.
Aku juga mengenal banyak orang di sini. Aku tidak pernah kesulitan bicara dengan orang asing. Bahkan, mendiang ibuku pernah berkata, “Sophia, kalau kau ditinggalkan sendirian di pulau terpencil, aku yakin kau akan berhasil membuat persahabatan dengan pohon kelapa.”
Ya ampun. Tiba-tiba saja aku merindukan aroma kue cokelat yang selalu menempel di baju Ibu.
Hai ini, aku akan menggambar ulang konsep ruang keluarga Harrowby, yang entah mengapa masih belum juga merasa puas meski aku sudah memberi tiga versi berbeda. Aku baru saja menyeruput kopi kedua ketika ponselku berdering.
Nomor asing.
Aku hampir tidak mengangkatnya—aku tidak pernah percaya pada nomor yang tidak kukenal—biasanya hanya telemarketing yang mencoba menjual asuransi jiwa—tapi entah kenapa, saat itu, sesuatu dari dalam diriku mengatakan bahwa panggilan itu harus segera dijawab.
“Selamat pagi, dengan Sophia James?” Suara laki-laki di seberang terdengar begitu formal.
“Ya, betul. Dengan siapa saya bicara?”
“Ini dari kepolisian Highgate.”
Aku nyaris tertawa. Hampir.
Polisi Highgate meneleponku? Untuk apa? Apakah aku melanggar aturan parkir tanpa sadar? Tapi mobilku bahkan belum sempat kubawa ke bengkel.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Ada jeda. Lalu suara itu berkata dengan hati-hati, “Apakah Anda putri dari Mr. Richard James dan cucu dari Mrs. Agnes James?”
Aku merasakan dadaku menegang. “Ya. Apa terjadi sesuatu dengan mereka?”
Beberapa detik berikutnya, hidupku langsung terbelah menjadi dua bagian. Sebelum telepon itu dan sesudahnya.
“Dengan sangat menyesal kami beritahukan bahwa ayah Anda ditemukan meninggal dunia pagi ini. Dugaan sementara bunuh diri. Dan nenek Anda, Mrs. James, ditemukan tidak bernyawa di lokasi yang sama.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel. “Apa?” Suaraku melengking, sampai beberapa rekan kerjaku berpaling. “Tidak mungkin. Tidak. Ayah baik-baik saja. Dia memasak pai apel tadi pagi."
Sontak aku berdiri, dan kudapati tubuhku kehilangan pijakan. Lilly dengan sigap menangkap lenganku sebelum aku benar-benar ambruk. "Dan Nenek memintaku membawakan kebab," desisku. "Apa Anda yakin itu mereka?”
Suara itu tenang, nyaris tak beremosi. “Sayangnya, kami tidak salah, Miss James. Sebaiknya Anda datang ke Highgate Hill secepatnya.”
Aku tidak ingat bagaimana aku menutup telepon. Aku tidak ingat bagaimana aku berlari keluar studio, dengan rambut acak-acakan dan tas yang masih terbuka. Yang kutahu, kakiku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.
Dalam benakku hanya ada satu pertanyaan yang berulang-ulang: Mengapa?
Ayahku tidak pernah tampak seperti orang yang ingin mati. Ia selalu sibuk di dapur, mencoba resep baru yang kadang gagal total tapi selalu membuat kami tertawa. Nenekku—Agnes James—memang keras kepala, tapi ia adalah pusat dari rumah kami. Perempuan tua itu tidak pernah menyerah bahkan saat tanaman tomatnya mati di musim dingin.
Mengapa?
Aku sampai di rumah dengan perasaan seperti sedang masuk ke dalam mimpi buruk. Rumah bata merah itu tampak sama seperti biasanya. Jendela dengan tirai putih. Pintu kayu dengan cat yang sedikit terkelupas. Pot geranium di beranda. Semuanya terlihat normal.
Terlalu normal. Aku meninggalkannya seperti itu pagi ini. Namun, ada pita kuning polisi yang membentang di depan pintu. Dua mobil polisi diparkir di jalan. Dan seorang petugas berseragam berdiri menjaga.
Mengapa?
Aku menunjukkan identitasku, dan mereka mengizinkanku masuk.
“Miss James, kami turut berduka,” kata seorang detektif berambut abu-abu.
Aku hampir tidak mendengar. Mataku langsung tertuju pada ruang keluarga—ruangan yang masih berbau pai apel.
Pai apel.
Pai favoritku.
Aku bahkan hanya berterima kasih sekadarnya. Aku juga tidak ingat apakah aku sempat memuji betapa lezatnya pai yang Ayah buat. Aku bahkan berjanji akan membeli kebab untuk Nenek.
Sekarang—
“Di mana mereka?” Suaraku nyaris bergetar.
Detektif itu memandangku penuh iba. “Tubuh ayah Anda ditemukan di kamar kerja, sementara nenek Anda,” ia berhenti sejenak, “di dapur. Dugaannya, ayah Anda mencekik nenek Anda sebelum gantung diri.”
Aku menutup mulut dengan tangan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam perutku dari dalam.
“Ayahku tidak mungkin bunuh diri." Aku bersuara tegas, meski gemetaran. “Dia tidak akan meninggalkanku. Lagi pula, apa yang—”
Aku tidak sanggup melanjutkan. Akhir-akhir ini, Ayah memang lebih sering merenung dari biasanya.
Detektif itu pun berkata, “Kami masih menyelidiki. Untuk sementara, kami mohon Anda agar tetap tenang.”
Tenang? Bagaimana mungkin?
Aku melangkah lebih jauh ke dalam rumah. Segalanya tampak rapi. Kursi disusun sempurna. Bunga dalam vas masih segar.
Di atas meja makan masih ada dua piring. Satu berisi potongan pai apel, satunya kosong—hanya ada garpu yang diletakkan miring.
"Tetangga Anda hendak mengembalikan perkakas. Karena tidak ada sahutan setelah beberapa kali mengetuk, dia mengintip dari jendela, dan melihat pintu ruang kerja terbuka lebar. Setelah itu, kami dipanggil kemari."
Aku menatap piring itu lama sekali, berusaha mengabaikan penjelasan detektif itu.
“Miss James, kami akan menanyakan beberapa hal. Tapi jika Anda ingin melihat kamar kerja ayah Anda terlebih dahulu—”
Aku langsung mengangguk, meski lututku hampir tidak sanggup menopang tubuh. Aku tahu, apa pun yang menungguku di sana, akan mengubah hidupku selamanya.
Nenekku mati dibunuh oleh anaknya sendiri. Dan hari ini aku resmi menjadi yatim piatu.

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel