


oleh Naslrxa · 22 Bab
Di SMA Pelita Bangsa, membawa ponsel adalah dosa besar yang ganjarannya penyitaan abadi. Di tengah kekeringan komunikasi itulah, Gani hadir membawa solusi lewat CV Suara Hati Terpendam (S.H.T). Bukan kurir paket, melainkan makelar curhat yang menyewakan nyalinya untuk menyampaikan pesan-pesan yang nyangkut di tenggorokan. Mulai dari pernyataan cinta yang bikin mual, hingga pesan putus yang paling pengecut. Gani adalah jembatan perasaan, hingga suatu hari ia menyadari satu hal fatal. Menyampaikan perasaan orang lain itu mudah, tapi mengakui perasaan sendiri di depan target yang salah adalah bencana tingkat tinggi yang tidak ada asuransinya.
Seharusnya, di tahun 2026 ini manusia sudah mulai memikirkan cara membangun perumahan di Mars atau minimal punya mobil terbang yang tidak kena ganjil-genap. Namun, lihatlah aku sekarang.
Aku terdampar di sebuah institusi yang namanya SMA Pelita Bangsa, hukumnya lebih kolonial daripada buku sejarah mana pun.
Di sini, ponsel adalah barang haram yang kalau ketahuan dibawa, nasibnya bakal lebih tragis daripada kerupuk yang dicelup ke air teh. Disita satu semester tanpa ampun.
Aku mengaduk es teh manisku dengan sedotan plastik yang sudah agak gepeng digigit. Di depanku, Raka sedang menunjukkan gejala-gejala gangguan kecemasan akut. Kakinya gemetar, tangannya berkeringat, dan matanya terus-menerus melirik ke arah meja di pojok kanan kantin.
Di sana, Amira sedang asyik tertawa bersama gengnya. Amira itu ibarat sinyal 5G di tengah hutan belantara; sangat diinginkan tapi mustahil digapai oleh makhluk semacam Raka.
"Gani, tolonglah. Kamu kan punya mulut yang ... apa ya istilahnya? Licin? Kamu kalau bicara itu seperti mentega di atas penggorengan panas. Mengalir saja begitu," bisik Raka dengan suara yang lebih mirip cicitan tikus terjepit pintu.
Aku menatapnya datar. "Itu pujian atau hinaan, Rak? Sebut saja aku diplomatis. Tapi maaf, aku tidak menerima curhat gratisan hari ini. Dompetku sedang mengalami diet ketat karena kemarin kena denda perpustakaan gara-gara buku biologi yang ketumpahan kuah bakso."
Raka mendesah pasrah, lalu menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan yang sudah lecek ke arahku. "Ini untuk uang muka. Nanti kalau berhasil, aku belikan mi ayam komplit selama tiga hari berturut-turut. Tolong sampaikan ke Amira kalau jepit rambut birunya hari ini cantik sekali. Aku mau bilang sendiri, tapi rasanya tenggorokanku mendadak disemen."
Aku melihat uang itu, lalu melihat Amira, lalu kembali ke wajah Raka yang menyedihkan. Sebuah ide brilian bin konyol mendadak meledak di kepalaku.
Kalau di luar sana orang bisa memesan makanan lewat aplikasi, kenapa di sekolah ini tidak ada jasa antar pesan manual? Inilah celah pasar yang selama ini kucari.
"Oke, sepakat. Tapi panggil aku kurir profesional mulai sekarang," kataku sambil menyambar uang lecek itu.
Aku berdiri, merapikan seragamku yang sedikit keluar dari ikat pinggang, lalu berjalan menuju meja Amira. Setiap langkahku terasa seperti adegan film aksi yang gerakannya diperlambat. Bedanya, latar belakangku bukan ledakan api, melainkan bapak kantin yang sedang sibuk menggoreng tahu isi.
Aku berhenti tepat di belakang kursi Amira. Harum parfumnya yang seperti aroma bayi langsung menyergap indra penciumanku.
"Permisi, Amira," ucapku dengan nada yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang berwibawa.
Amira menoleh. Teman-temannya yang sedang asyik bergosip mendadak diam. "Eh, Gani? Kenapa? Mau pinjam catatan sejarah lagi?"
Aku menggeleng perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang kupelajari dari aktor film remaja yang kutonton minggu lalu.
"Bukan. Aku cuma mau menyampaikan titipan pesan dari seseorang yang terlalu pengecut untuk bicara tapi terlalu peduli untuk diam. Katanya, jepit rambut biru yang kamu pakai itu bagus banget. Warnanya pas sama suasana hatinya hari ini yang mendadak cerah karena melihatmu."
Suasana kantin yang tadinya berisik mendadak seperti ditekan tombol mute. Amira mengerjapkan matanya, pipinya perlahan berubah warna jadi merah muda yang lucu sekali.
Teman-temannya mulai bersiul-siul jahil. Aku sendiri hampir saja tertawa melihat reaksi itu, tapi aku harus tetap profesional. Seorang makelar curhat tidak boleh ikut baper.
"Siapa yang bilang, Gan?" tanya Amira, suaranya sedikit bergetar.
"Rahasia perusahaan. Namanya juga kurir, tugasku cuma antar pesan, bukan buka identitas pengirim kecuali ada biaya tambahan," jawabku sambil mengedipkan sebelah mata lalu berbalik pergi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh.
Aku kembali ke meja Raka dengan gaya pemenang tender proyek besar. Raka menatapku dengan mulut menganga. Dia tidak menyangka aku bakal seterbuka itu bicara di depan teman-teman Amira. Bagiku, itu bagian dari strategi pemasaran. Semakin banyak yang lihat, semakin banyak yang tahu kalau jasaku ini nyata dan efektif.
"Gimana? Dia marah tidak? Dia pingsan ya?" tanya Raka bertubi-tubi.
"Dia tidak pingsan, Rak. Tapi dia blushing parah. Anggap saja misimu sukses 80 persen. Sisa 20 persennya itu urusan nyalimu sendiri," balasku sambil mulai menyeruput es teh yang tinggal es batunya saja.
Baru saja aku hendak menikmati kemenangan kecil ini, sebuah bayangan besar menutupi meja kami. Aroma minyak kayu putih yang menyengat langsung menusuk hidung. Aku tahu persis ini aroma siapa. Tanpa mendongak pun, bulu kudukku sudah merinding duluan.
"Gani ... sedang apa kamu tadi di meja siswi-siswi itu? Ibu perhatikan kamu seperti sedang melakukan transaksi ilegal." Suara berat dan penuh selidik itu milik Bu Ratna, sang penguasa ruang BK.
Aku mendongak, memasang wajah paling polos yang pernah diciptakan Tuhan. "Eh, Bu Ratna. Cantik sekali hari ini, Bu. Kerudungnya serasi sama warna matanya."
"Jangan coba-coba merayu saya, Gani. Ibu tahu kamu itu licin seperti belut. Jawab jujur, apa yang kamu bicarakan tadi?" Bu Ratna melipat tangan di dada, matanya menyipit tajam di balik kacamata frame plastiknya.
"Hanya ... koordinasi tugas biologi tentang sistem reproduksi tumbuhan, Bu. Kami sedang membahas penyerbukan melalui bantuan pihak ketiga," jawabku asal, yang sebenarnya secara teknis tidak sepenuhnya bohong.
Bu Ratna hanya mendengkus, tidak sepenuhnya percaya tapi tidak punya bukti untuk menyeretku ke ruangannya. Setelah beliau pergi dengan langkah yang menggetarkan lantai kantin, aku menarik napas lega. Raka sudah pucat pasi di sampingku, hampir saja dia pingsan betulan.
Aku tersenyum lebar. Inilah awal dari segalanya. Bisnis ini punya prospek cerah, risiko tinggi, dan tentu saja, banyak drama yang menunggu di tikungan koridor berikutnya.
Namanya juga remaja, kalau tidak galau ya gila. Dan aku? Aku adalah orang yang akan mengeruk keuntungan dari kegilaan itu semua. Selamat datang di CV Suara Hati Terpendam.

Naslrxa
13 Pengikut · 3 Novel