


oleh Naslrxa · 22 Bab
Di SMA Pelita Bangsa, membawa ponsel adalah dosa besar yang ganjarannya penyitaan abadi. Di tengah kekeringan komunikasi itulah, Gani hadir membawa solusi lewat CV SUARA HATI TERPENDAM (S.H.T). Bukan kurir paket, melainkan makelar curhat yang menyewakan nyalinya untuk menyampaikan pesan-pesan yang nyangkut di tenggorokan. Mulai dari pernyataan cinta yang bikin mual, hingga pesan putus yang paling pengecut. Gani adalah jembatan perasaan, hingga suatu hari ia menyadari satu hal fatal: menyampaikan perasaan orang lain itu mudah, tapi mengakui perasaan sendiri di depan target yang salah adalah bencana tingkat tinggi yang tidak ada asuransinya.
Pagi ini aku merasa seperti buronan internasional yang sedang berjalan ke tiang gantungan, bedanya ini cuma pakai seragam yang belum sempat disetrika Ibu.
Tatapan semua orang di koridor itu rasanya lebih tajam dari silet, menusuk-nusuk punggungku sampai aku ingin berubah jadi butiran debu saja. Foto editan yang menuduhku jadi bandar barang haram itu sudah menyebar lebih cepat dari gosip guru selingkuh.
Aku mencoba menegakkan kepala, padahal dalam hati sedang komat-kamit merapal doa agar lantai sekolah mendadak terbelah dan menelanku bulat-bulat.
"Gani! Berhenti di sana!" Suara menggelegar itu bukan datang dari langit, melainkan dari mulut Pak Darmo yang sudah berdiri tegak di depan ruang kepala sekolah.
Aku berhenti mendadak, hampir saja menabrak dada bidang beliau yang baunya campuran antara minyak kayu putih dan rokok kretek.
"Eh, pagi, Pak. Bapak kok sudah rapi sekali? Mau ada pemotretan majalah olahraga ya?" jawabku asal demi menutupi lutut yang mulai gemetar seperti jeli.
Pak Darmo tidak tertawa, kumis tebalnya malah berkedut sinis yang menandakan kadar kemarahannya sudah di level maksimal.
"Jangan banyak omong kamu. Masuk sekarang! Kepala sekolah, pembina OSIS, bahkan orang tua Satria sudah menunggu di dalam. Kamu benar-benar sudah bikin rekor keributan paling dahsyat semester ini."
Aku melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk, mirip es campur yang kebanyakan sirup. Di dalam ruangan ber-AC itu, suasananya lebih dingin daripada ruang mayat di rumah sakit.
Ada Pak Handoko sang kepala sekolah yang wajahnya tampak sangat lelah, dan di pojok sana duduk Arini dengan mata yang menghindari tatapanku. Rasanya perih melihat dia bersikap begitu, seolah-olah semua perjuangan kami kemarin cuma dianggap akting belaka.
"Gani, duduk," perintah Pak Handoko dengan suara berat yang sanggup menggetarkan gelas-gelas di atas meja. "Bisa kamu jelaskan soal foto-foto yang beredar semalam? Benar kamu pakai jasa kurirmu untuk transaksi terlarang di sekolah ini?"
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang ritmenya sudah mirip lagu death metal. "Pak, itu semua fitnah yang diedit secara jahat. Saya ini makelar curhat, Pak, bukan makelar barang gelap. Foto itu diambil pas saya lagi bantu klub robotika mindahin sensor sampah. Mana ada bandar yang mukanya selugu saya?"
"Jangan bercanda kamu!" bentak ayah Satria yang tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Gara-gara kamu, anak saya harus pindah sekolah dengan nama buruk! Dan sekarang terbukti kan, kamu sebenarnya jauh lebih kotor dari dia!"
Situasi semakin chaos saat tiba-tiba pintu ruangan diketuk dengan keras. Kevin masuk dengan napas yang memburu, kacamata-nya sampai miring ke arah kiri. Dia tidak peduli dengan tatapan tajam para guru, dia langsung menyodorkan tabletnya ke hadapan Pak Handoko.
"Mohon maaf menyela, Pak! Saya punya bukti digital kalau foto-foto itu produk manipulasi AI tingkat lanjut," seru Kevin dengan suara yang pecah karena kelelahan. "Metadata foto itu menunjukkan kalau bayangan dan pencahayaannya tidak konsisten dengan cuaca di hari kejadian. Seseorang sengaja menjebak Gani pakai server sekolah yang diretas."
Arini akhirnya mendongak, matanya menatap Kevin lalu beralih padaku dengan binar yang sedikit melunak. "Pak, saya juga punya catatan laporan keuangan yang sah. Gani tidak pernah menerima uang selain dari tarif jasanya yang cuma seharga mi ayam. Tuduhan bandar itu sama sekali tidak punya dasar yang logis."
Pak Handoko terdiam, beliau menggosok dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot tipis. "Lalu bagaimana dengan foto di ruang arsip setahun yang lalu? Foto Gani menerima amplop cokelat dari seseorang yang disensor wajahnya? Gani, itu bukan foto editan, kan?"
Pertanyaan itu menghantamku seperti godam besar. Aku terdiam, menatap ujung sepatuku dengan rasa bersalah yang selama ini kusimpan rapat. Itu adalah lubang hitam dalam sejarah CV S.H.T, satu-satunya dosa masa lalu yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk Raka atau Arini. Aku merasa keringat dingin mengucur di pelipisku saat Arini menatapku dengan tatapan menuntut jawaban.
"Itu ... itu amplop berisi surat-surat lama yang harus saya selamatkan, Pak," jawabku pelan, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi dengung AC.
"Bohong!" seru suara misterius dari arah pintu.
Kami semua menoleh. Sosok yang berdiri di sana adalah seseorang yang tidak asing bagi kami semua. Dia bukan Kak Revan, tapi seseorang yang punya pengaruh lebih besar di kalangan murid kelas dua belas. Dia adalah Radit, sang jenius matematika sekaligus ketua klub debat yang kabarnya punya dendam pribadi padaku sejak aku tidak sengaja membocorkan rahasia cintanya pada penjaga perpustakaan tahun lalu.
"Amplop itu isinya kunci jawaban soal olimpiade nasional yang hilang tahun lalu, Pak Handoko," ucap Radit dengan senyum kemenangan yang sangat menjengkelkan. "Dan Gani orang yang tugasnya mendistribusikan ke beberapa murid kaya. CV S.H.T bukan jasa kurir perasaan, itu jasa kurir kecurangan."
Ruangan itu mendadak gaduh kembali. Arini menatapku dengan sorot mata yang hancur, seolah aku baru saja membakar semua kepercayaan yang dia bangun untukku. Inginku berteriak membela diri, tapi Radit menyodorkan selembar kertas yang berisi riwayat percakapan lama yang aku sendiri pun lupa pernah mengetiknya.
"Gani, benarkah itu?" tanya Arini lirih, suaranya bergetar karena emosi.
Aku menatap Arini, lalu menatap Radit yang sedang menyeringai puas. Hari ini dimulai dengan sangat buruk. Aku bukan lagi pahlawan yang dipuji, melainkan tersangka utama dalam kasus yang jauh lebih besar dari sekadar korupsi festival. Harus cepat kutemukan cara untuk membersihkan namaku, atau karierku sebagai makelar curhat akan berakhir di penjara remaja.
"Rapat ini saya skors," kata Pak Handoko sambil memukul meja. "Gani, kamu dilarang masuk kelas sampai penyelidikan ini selesai. Kevin dan Arini, kembali ke kelas sekarang!"
Aku berjalan keluar ruangan dengan pengawalan Pak Darmo. Di lorong, kulihat Raka yang berdiri dengan wajah bingung. Aku hanya bisa memberikan gelengan kepala pelan padanya.
Sepertinya, musuh baruku kali ini tahu persis di mana letak kerangka rahasia yang kusimpan di lemari masa laluku. Selamat datang di neraka sesungguhnya, Gani.

Naslrxa
13 Pengikut · 3 Novel