


oleh Naslrxa · 88 Bab
Di SMA Pelita Bangsa, membawa ponsel adalah dosa besar yang ganjarannya penyitaan abadi. Di tengah kekeringan komunikasi itulah, Gani hadir membawa solusi lewat CV SUARA HATI TERPENDAM (S.H.T). Bukan kurir paket, melainkan makelar curhat yang menyewakan nyalinya untuk menyampaikan pesan-pesan yang nyangkut di tenggorokan. Mulai dari pernyataan cinta yang bikin mual, hingga pesan putus yang paling pengecut. Gani adalah jembatan perasaan, hingga suatu hari ia menyadari satu hal fatal. Menyampaikan perasaan orang lain itu mudah, tapi mengakui perasaan sendiri di depan target yang salah adalah bencana tingkat tinggi yang tidak ada asuransinya.
Baru saja aku mau menikmati masa tenang setelah badai skandal Kak Revan mereda, semesta seolah punya cara bercanda yang agak keterlaluan.
Senin pagi yang harusnya diisi dengan kegiatan menguap berjamaah saat upacara bendera, justru berubah jadi ajang uji nyali dadakan.
Aku berdiri mematung di depan deretan loker koridor sayap barat, menatap sebuah amplop hitam legam yang terselip di celah pintu lokerku sendiri. Warnanya sangat kontras dengan stiker kucing gendut milik Raka di loker sebelah yang terlihat sangat tidak berdosa. Tidak ada nama pengirim, tidak ada perangko, hanya ada satu tulisan tangan dengan tinta perak yang berkilau: Untuk Sang Makelar.
"Gan, itu surat cinta dari penggemar rahasiamu atau tagihan utang mi ayam yang belum kamu lunasin?" celetuk Raka yang tiba-tiba muncul sambil mengunyah roti sobek.
Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke amplop itu. "Kalau tagihan mi ayam, pasti Pak Udin pakai kertas nota yang berminyak, Rak. Ini dari aromanya aja wangi kertas mahal, tapi auranya aja yang dingin banget."
"Ah, masa sih? Sini kubantu bukain," kata Raka sambil mencoba meraih amplop itu.
Aku segera menepis tangannya dengan cepat. "Jangan! Ingat kejadian di aula kemarin? Kita nggak tahu siapa yang masih sakit hati sama kita. Bisa aja ini isinya bubuk gatal atau bom bau buatan anak kelas olimpiade kimia."
Raka langsung menarik tangannya dengan wajah pucat, seolah-olah amplop itu baru saja berubah jadi ular berbisa. "E-eh, benar juga. Mending kamu aja yang buka, Gan. Kan kamu yang jabatannya sebagai kurir profesional. Aku bagian doa restu aja dari jauh."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang mendadak jadi tidak beraturan. Dengan gerakan perlahan, kutarik amplop itu keluar. Kertasnya tebal, jenis kertas yang hanya bisa ditemukan di toko alat tulis premium.
Begitu aku merobek bagian atasnya, sebuah kartu kecil jatuh ke lantai. Di sana tertera koordinat GPS dan satu kalimat pendek yang bikin tenggorokanku mendadak kering. "The Messenger ingin berkenalan. Jam istirahat di atap gedung lama."
"Waduh, Gan ... 'The Messenger'? Itu kan nama yang disebut Kevin pas kita lagi makan mi ayam kemarin!" seru Raka dengan suara yang sedikit terlalu kencang.
"Sst! Pelanin dikit napa suaramu, Rak! Kamu mau satu sekolah tahu kalau kita lagi dincar sama organisasi kurir rahasia?" bisikku tajam sambil menyambar kartu itu.
Arini berjalan mendekat dengan dahi berkerut, sepertinya dia menangkap gelagat aneh kami dari kejauhan. "Ada apa lagi? Kenapa wajah kalian berdua kayak habis lihat hantu di siang bolong begini?"
"Rin, lihat nih," kataku sambil menyerahkan kartu perak itu kepadanya.
Mata Arini membelalak saat membaca tulisan di kartu tersebut. Dia menatapku dengan penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Gani, ini jebakan. Jangan pergi. Kita bahkan belum tahu siapa sebenarnya sosok di balik nama ini. Bisa aja kan ini orang suruhan Kak Revan yang mau balas dendam."
"Tapi kalau aku nggak datang, mereka bakal terus ngintai kita, Rin," balasku sambil menyandarkan punggung ke loker. "Identitas kita sebagai CV S.H.T udah bocor. Kalau mereka tahu lokerku, berarti mereka juga tahu di mana kita tinggal. Aku harus cari tahu siapa mereka sebelum mereka yang duluan nyerang."
"Tapi seenggaknya panggil Kevin dulu dong! Dia harus ngelacak koordinat ini," saran Arini dengan nada mendesak.
"Kevin lagi sibuk perbaikin server yayasan yang crash tadi pagi. Aku nggak mau ganggu dia dulu," jawabku mantap. "Aku bakal pergi sendiri. Raka, kamu jaga Arini. Kalau tiga puluh menit aku nggak balik, hubungin Pak Bram pakai kode darurat."
Raka menelan ludah dengan susah payah. "Gan, kenapa aku selalu jadi bagian jaga-jaga yang mendebarkan gini? Nggak bisa ya jadi bagian yang makan di kantin aja?"
Aku hanya memberikan jempol padanya sebelum melangkah pergi ke gedung lama sekolah. Gedung itu sudah tidak dipakai sejak lima tahun lalu karena struktur bangunannya yang dianggap sudah mulai ringkih. Suasananya sunyi, hanya ada suara derit pintu kayu yang tertiup angin dan bau debu yang menyesakkan dada. Aku menaiki tangga satu per satu, setiap langkahku seolah bergema di seluruh penjuru ruangan yang kosong.
Begitu sampai di atap, cahaya matahari langsung menyilaukan mataku. Di sana, duduk seseorang di pinggiran pagar pembatas. Dia memakai jaket hoodie hitam besar dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Di sampingnya, ada sebuah tas kurir yang persis dengan milikku, tapi versinya terlihat jauh lebih modern dan canggih.
"Tepat waktu. Aku suka orang yang ngehargain detik." Suara itu terdengar berat, namun tenang.
"Siapa kamu? Dan kenapa kamu cari makelar pesan dari sekolah ini?" tanyaku sambil tetap menjaga jarak aman.
Orang itu berbalik perlahan. Di balik tudungnya, dia memakai masker kain hitam yang menutupi hidung dan mulutnya. Matanya terlihat tajam, jenis mata yang sudah melihat banyak hal yang tidak seharusnya dilihat oleh remaja biasa. "Namaku nggak penting. Tapi orang-orang di luar sana memanggilku bagian dari The Messenger. Kami sudah mengawasimu sejak kamu pertama kali antar surat cinta buat anak kelas sepuluh itu, Gani."
Aku tersentak. Jadi selama ini aku tidak sendirian menjalankan bisnis kurir ini? "Apa maumu? Kalau ini soal Kak Revan, dia sudah ada di tempat yang seharusnya."
Orang itu terkekeh, suaranya terdengar seperti gesekan kertas amplop. "Revan itu cuma kerikil kecil. Dia cuma pemain amatir yang mencoba jadi bos besar. Aku ke sini bukan untuk dia, tapi untuk memberimu peringatan. Kamu baru saja membuka pintu yang nggak seharusnya dibuka, Gani. Dunia kurir informasi itu bukan cuma soal rahasia sekolah, tapi soal nyawa yang dipertaruhkan."
"Maksudmu?" tanyaku dengan nada menantang.
Dia berdiri, melemparkan sebuah flashdisk kecil ke arahku. "Itu adalah data klien yang selama ini dilayani oleh Revan secara ilegal. Beberapa di antaranya orang-orang yang punya pengaruh besar di kota ini. Mereka nggak senang data mereka ada di tangan anak sekolah sepertimu. Saranku? Berhenti jadi makelar sebelum kamu benar-benar menghilang."
"Aku nggak bakal berhenti cuma karena diancam gini," balasku sambil menggenggam flashdisk itu kuat-kuat.
"Kalau begitu, selamat datang di permainan yang sebenarnya," kata orang itu sebelum dia melompat dari pagar pembatas atap.
Aku berlari ke pinggiran pagar dengan panik, mengira dia melakukan tindakan nekat. Namun, di bawah sana, kulihat dia mendarat dengan mulus di atas mobil boks yang sedang melintas, lalu menghilang di balik kerumunan pasar depan sekolah.
Aku terdiam, menatap flashdisk di tanganku dengan perasaan campur aduk. Part 3 ini ternyata bukan lagi soal pembalasan, tapi soal bertahan hidup di tengah pusaran rahasia yang jauh lebih gelap.
Aku menarik napas dalam, merasakan angin kencang meniup rambutku. "Oke, The Messenger. Kita lihat seberapa jauh pesan ini bakal nyampe."

Naslrxa
13 Pengikut · 3 Novel