


oleh Sunflower · 30 Bab
Ketika psikolog Mira Adisantoro menerima pasien misterius bernama Elandra Raka, sesi terapi mereka berubah jadi eksperimen berbahaya yang mengaburkan batas antara cinta dan kesadaran. Saat realitas mulai retak, Mira harus menemukan kebenaran. Apakah ia sedang menyembuhkan seseorang, atau justru mencoba mengingat siapa dirinya yang sebenarnya?
Hujan turun seperti benang-benang kusut di balik kaca jendela, memburamkan cahaya kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Jakarta pukul sebelas malam selalu punya cara tersendiri untuk menegaskan kesepian.
Di luar, suara kendaraan terdengar jauh, samar, tenggelam di antara gemuruh langit. Sementara di dalam ruang praktikku, hanya ada dentingan jarum jam dan aroma kopi yang sudah dingin.
Aku menutup catatan pasien terakhir hari itu, menatap namanya yang tertulis di pojok halaman, Rani S. Usia dua puluh delapan. Luka di tangan kanan. Menyebutnya “kecelakaan dapur.” Namun, aku tahu tidak ada pisau dapur yang begitu presisi dalam melukai, kecuali si pemilik tangan benar-benar ingin merasa sakit.
Aku meletakkan pen, menarik napas panjang, lalu menatap pantulan diriku di kaca jendela. Cahaya lampu dari ruang resepsionis membentuk bayangan samar di wajahku.
“Lelah,” gumamku pelan. Bukan karena pekerjaan, melainkan karena rasa yang tak mau diam.
Menjadi psikolog berarti mendengarkan suara orang lain setiap hari. Ironisnya, aku sendiri sudah lupa seperti apa suaraku terdengar ketika bicara jujur tentang diriku sendiri.
Sudah hampir tiga tahun sejak aku kembali ke kota ini. Tiga tahun sejak kejadian yang tak pernah kubicarakan lagi, bahkan pada supervisorku, bahkan pada diriku sendiri.
Kematian pasienku. Atau mungkin pembunuhan.
Nama itu masih menghantui setiap malam, Harlan. Pasien yang dulu datang setiap minggu, membawa bunga lili putih yang selalu segar, dan menatapku seolah-olah aku adalah satu-satunya manusia yang benar-benar ia lihat. Sampai suatu malam, polisi menemuinya tergantung di kamar apartemennya.
Di meja kerjanya, ditemukan catatan terakhir bertuliskan namaku. “Mira tahu apa yang kulakukan.”
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi tidur nyenyak. Setiap kali menutup mata, aku mendengar suaranya. Kadang samar, kadang jelas. Memanggilku dari balik sesuatu yang gelap.
Aku berdiri, mengambil jas di gantungan, dan melangkah ke ruang cermin di pojok ruangan. Cermin tinggi berbingkai hitam, warisan dari klinik lama yang dulu sempat kupimpin bersama seorang rekan.
Aku selalu membencinya, tapi entah kenapa, setiap malam aku tetap berdiri di depannya, menatap pantulan diri sendiri seperti sedang menilai apakah aku masih manusia atau sudah jadi sesuatu yang lain.
Wajahku terlihat pucat.
Mata sembap, tapi bukan karena menangis. Lebih karena kekurangan tidur.
Bibirku retak.
Aku menyentuh pipi kanan yang dingin, kulitku seperti batu.
“Kau terlihat seperti pasienmu sendiri, Mira,” bisikku.
Tepat saat aku menunduk, sesuatu terdengar samar, nyaris seperti suara dari dasar ruangan. “Mira,”
Aku mendongak spontan. Ruangan kosong. Tak ada siapa-siapa. Dari balik cermin, seolah ada kabut yang menebal, seperti napas seseorang yang terperangkap di sisi lain kaca.
Jantungku berdegup cepat. Aku mundur selangkah. Cermin itu bergetar. Perlahan.
Lalu sebuah suara lagi terdengar, kali ini lebih jelas, lebih dekat.
“Kau masih mengingatku, bukan?”
Seketika tubuhku membeku. Suara itu begitu familiar. Bukan sekadar gema dari masa lalu, tapi sesuatu yang menempel di dasar pikiranku, Harlan.
Aku menutup mata, berusaha mengatur napas. Mungkin aku terlalu lelah. Mungkin ini hanya halusinasi sensorik karena insomnia yang kambuh. Aku mencoba meyakinkan diri dengan teori sendiri, gejala stres pasca-trauma ringan, refleksi dari rasa bersalah yang belum terselesaikan.
Refleksi di cermin bergerak lebih dulu. Mataku di sana berkedip setengah detik lebih lambat dari tubuh asliku. Dan bibir pantulanku tersenyum.
“Sampai jumpa lagi, Mira.”
Sebuah celah tipis muncul di tengah kaca. Hanya segores kecil, tapi cukup untuk membuatku mundur cepat, menjatuhkan pena ke lantai.
Aku menatap cermin itu lama, napas memburu, sampai ruangan kembali sunyi. Lalu aku mematikan lampu, meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
___
Keesokan paginya, klinik terasa dingin dan suram. Aku datang lebih awal sebelum staf lain tiba. Langit masih kelabu, udara berembun, dan aroma kopi instan menyebar dari ruang pantry. Aku duduk di meja resepsionis, memeriksa daftar pasien hari itu.
Di bawah nama-nama yang tercetak rapi, ada satu baris baru, dengan tulisan tangan yang bukan milikku. Pasien baru, ruang tiga, pukul 17.00. Nama, Elandra Raka.
Aku menatap tulisan itu lama. Tinta hitamnya masih baru, belum sepenuhnya kering. Dan yang membuatku merinding pena yang dipakai adalah milikku.
Pena yang semalam kupakai di ruanganku.
Aku menoleh ke meja resepsionis. “Siapa yang menulis ini?”
Perempuan muda di sana menggeleng.
“Tidak ada, Bu. Saya baru tiba jam delapan.”
Aku tidak menjawab. Hanya menatap daftar itu sampai huruf-hurufnya seperti menatap balik. Nama itu seolah mengandung gema. Elandra.
Entah kenapa, terdengar begitu akrab.
Sore harinya, hujan turun lagi. Aku menunggu di ruang konsultasi, meja tersusun rapi, alat perekam siap, buku catatan terbuka di halaman kosong. Lampu kuning lembut menggantung di atas kepala. Setiap kali pintu berderit, aku selalu menatap ke sana, berharap itu hanya pasien biasa. Tapi hatiku tahu, tidak.
Jam menunjukkan pukul lima lewat tujuh belas menit ketika suara langkah terdengar. Pelan, tapi tegas. Lalu pintu terbuka, dan udara dingin dari luar masuk bersama aroma hujan dan sesuatu yang samar seperti logam dan kayu bakar.
Aku mendongak. Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu gelap dan sorot mata yang terlalu tenang untuk orang asing. Ia menatapku lama, seperti sedang memastikan sesuatu dalam diam. Senyumnya muncul perlahan, bukan senyum ramah, tapi lebih seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari.
“Selamat sore, Bu Mira. Nama saya Elandra.”
Aku terdiam. Suara itu rendah, dalam, dan bergema aneh di dalam kepala. Bukan hanya terdengar tapi terasa. Seperti pernah menyentuhku, dulu.
Aku menelan ludah, menegakkan tubuh, mencoba profesional. “Tolong duduk, Tuan Elandra,” kataku akhirnya, tapi suaraku sendiri terdengar jauh, seperti bukan milikku.
Ia melangkah masuk, setiap gerakannya terukur, nyaris tanpa suara. Ketika ia duduk di hadapan meja, matanya tak lepas dari wajahku. Dan di antara kami, ada sesuatu yang tak terlihat, tarikan samar, gelombang dingin yang membuat udara terasa berat.
Ia tersenyum lagi. “Saya sudah lama menunggu giliran ini, Bu Mira.”
Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi di dada, ada sesuatu yang bergetar rasa takut yang tidak semestinya muncul, bercampur dengan rasa ingin tahu yang sama berbahayanya.
“Kau masih mengingatku, bukan?” Bisikan itu terlintas lagi di kepala. Aku menatap Elandra dalam diam, dan untuk sesaat, aku yakin mata itu bukan mata orang asing.
Mungkin aku sudah pernah menatapnya.
Di tempat lain. Atau di waktu yang bahkan bukan milikku.
Bersambung.

Sunflower
20 Pengikut · 9 Novel