"Percayalah, Elara, bahkan undangan yang paling tak terduga sekalipun bisa membuka gerbang peluang," bisik Renata, mentor sekaligus sahabat dekat Elara.
Di tengah gemuruh musik orkestra yang membanjiri aula utama. Gaun satin biru gelapnya membelai lantai marmer dengan setiap langkah anggun, kontras dengan gaun lavender sederhana yang dikenakan Elara.
"Jangan hanya melongo, nikmati pestanya. Kau tahu betapa sulitnya mendapatkan akses ke lingkaran para bangsawan ini."
Elara hanya tersenyum tipis, matanya menyapu seisi ruangan. "Aku tahu, Ren. Hanya saja, semua ini terasa begitu asing. Terlalu gemerlap dan, entahlah, terlalu dingin."
Malam itu, Istana Grand Seraphina disulap menjadi kanvas kemewahan yang memesona. Lampu kristal raksasa berkilauan bagai seribu bintang yang ditangkap dalam jaring emas, memantulkan cahaya ke dinding berpanel kayu berukir dan lukisan-lukisan berbingkai emas yang menampilkan potret leluhur berwajah kaku.
"Dingin itu ciri khas mereka, sayang. Seperti patung marmer yang indah, tapi tak punya detak jantung," gurau Renata, menyenggol lengan Elara pelan. "Kau di sini bukan untuk mencari kehangatan, kan? Ingat tujuan kita, koneksi. Lihatlah, di sana ada Tuan Aldrich, kolektor yang kau impi-impikan itu."
Renata mengangguk ke arah seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat perapian raksasa, dikelilingi oleh sekelompok wanita. Namun, pandangan Elara tak sempat mencapai Tuan Aldrich. Sesuatu yang lebih kuat, lebih magnetis, menarik perhatiannya. Di ambang sebuah pintu ganda yang mengarah ke taman, berdiri seorang pria.
Dia adalah definisi keanggunan yang membeku. Tinggi semampai dengan bahu lebar yang tersembunyi di balik jas tuksedo hitam pekat, ia berdiri diam, jauh dari kerumunan, seolah-olah waktu berhenti di sekelilingnya. Rambut gelapnya tersisir rapi, memancarkan kilau bak arang di bawah cahaya remang.
"Siapa itu?" bisik Elara, suaranya tercekat.
Renata mengikuti arah pandang Elara, lalu menghela napas. "Oh, itu Duke Alexander de Valois. Pemilik kastil ini, hampir semua yang kau lihat di sekitar sini, dan juga pemilik reputasi yang sangat sulit dijangkau."
Elara mengabaikan peringatan Renata. Ada daya tarik yang tak bisa dijelaskan. Seolah ada benang tak kasat mata yang terulur dari matanya ke arah pria itu.
Alexander adalah anomali di antara gemerlap pesta. Sementara yang lain tertawa, bercakap, dan bergerak, dia berdiri diam, mengamati dengan tatapan yang bisa menembus jiwa. Sebuah kesepian yang dalam, tapi juga kekuatan yang tak terbantahkan, memancar darinya.
Pada saat itu, Alexander, sang Duke, merasakan Elara.
Di antara ratusan detak jantung manusia yang bagai irama drum yang kacau balau, ada satu irama yang menonjol, jernih dan kuat, bagai melodi yang indah. Aroma-aroma tubuh yang beragam, parfum, anggur, keringat yang tersembunyi, mendadak tenggelam oleh satu aroma yang memabukkan, wewangian bunga wild orchid dan dewy grass yang eksotis, segar, dan paling penting, hangat. Itu adalah aroma kehidupan, murni dan tak tercemar, yang mengalir di pembuluh darah seorang wanita muda.
Alexander perlahan memutar kepalanya, gerakan yang begitu halus hingga nyaris tak terlihat. Matanya yang kelabu bertemu dengan mata Elara yang berwarna madu. Dunia seolah berhenti berputar. Musik orkestra meredup menjadi bisikan, tawa-tawa hampa menghilang. Hanya ada mereka berdua, terhubung oleh sebuah tatapan.
Bagi Elara, tatapan Alexander adalah jurang tak berdasar yang mengundang. Ada kesedihan purba di dalamnya, tapi juga sesuatu yang buas dan kuno, seolah ia melihat ke dalam mata seorang predator yang terperangkap dalam sangkar emas.
Bagi Alexander, tatapan Elara adalah cahaya yang menembus kegelapan abadinya. Darahnya berdesir, bukan karena haus yang biasa, melainkan hasrat. Hasrat untuk mendekat, untuk merasakan kehangatan yang memancar darinya, untuk memahami mengapa jantungnya, yang telah lama mati, terasa seperti bergetar.
Alexander mulai melangkah, kakinya bergerak otomatis, membelah kerumunan. Setiap langkahnya tenang, penuh tekad. Para tamu menyingkir, tanpa sadar merasakan gravitasi yang mengelilingi sang Duke. Ia tak menoleh, tatapannya terkunci pada Elara.
Elara merasakan detak jantungnya sendiri berpacu gila. Kakinya terpaku di tempat, seolah ada mantra tak kasat mata yang mengikatnya.
Dia berhenti tepat di hadapan Elara, begitu dekat sehingga Elara bisa melihat pantulan dirinya yang kecil di kedalaman mata Alexander yang bagai lautan kelabu.
Tangan kanan Alexander perlahan terulur, gerakan yang begitu lambat dan disengaja, seolah waktu melambat di antara mereka. Jari-jarinya yang panjang dan ramping, berbalut sarung tangan putih tipis, nyaris menyentuh pipi Elara.
"Seorang, orchidea selvaggia," bisik Alexander, suaranya dalam dan berat, nyaris tak terdengar di tengah sisa gemuruh pesta.
Napas Alexander tercekat, dan sentuhan jemarinya nyaris meleset dari kulit Elara. Sebuah kerutan muncul di antara alisnya, perjuangan internal yang tak kasat mata, tapi begitu intens tercetak di wajahnya yang sempurna.
Ia tahu jika ia menyentuhnya, ia mungkin tidak akan bisa berhenti, dan itu akan menjadi akhir bagi Elara, atau mungkin, awal dari kegilaannya sendiri.
"Duke Alexander?" Suara Renata terdengar cemas dari belakang Elara, memecah momen tegang itu. Alexander terkesiap, seperti seseorang yang tersentak dari mimpi buruk. Ia menarik tangannya secepat kilat, ekspresinya kembali beku, seolah momen sebelumnya tak pernah terjadi.
Ia menatap Elara sekali lagi, tatapan yang kini bercampur dengan sesuatu yang Elara tidak bisa definisikan, penyesalan? Peringatan? Sebelum Elara sempat merangkai kata, Alexander berbalik dengan gerakan yang nyaris tak bersuara, menghilang ke dalam keramaian secepat bayangan yang tertiup angin.
Sebuah suara bisikan, hampir tak terdengar oleh telinga manusia normal, begitu jelas di benak Alexander yang kini menjauh. "Elara ...."
Jauh di dalam bayangan, mata Alexander menyala merah darah. Hasratnya kini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak pernah merasakan yang seperti ini. Ia tidak pernah menginginkannya seperti ini.
Sosok Elara, dengan aroma orchidea selvaggia dan jantung yang berdenyut riang, telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkunci abadi.
Ia harus kembali. Ia akan kembali.