Kutub Utara, Area Terlarang No. 50
Hamparan salju tebal membentang luas, berwarna putih bersih, bersanding harmonis dengan biru cerah langit di atasnya. Di bawah cakrawala beku itu, terhampar lautan luas dengan gradasi biru toska yang memanjakan mata, menciptakan ilusi ketenangan yang menipu.
Keindahannya seolah membisikkan kedamaian, padahal di balik gunungan salju putih itu terpendam jutaan virus dan mikroba purba berbahaya dan menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali ke permukaan dunia.
Seorang wanita berdiri di dalam iglo, mengenakan tank top putih tanpa lengan. Tatapannya terarah lurus ke halaman luas di depan bangunan salju itu, tempat beberapa pria dan wanita sedang menjalani latihan fisik intens. Gerakan mereka cepat, efisien, dan presisi.
Latihan itu bukan latihan besar yang biasa dilakukan menjelang misi penting, melainkan sesi kecil untuk mematangkan kemampuan bertahan, mengasah refleks, serta melatih respons sigap saat dihadapkan pada bahaya mendadak.
Tatapan wanita itu tajam dan sedikit angkuh, dagunya terangkat dengan sempurna. Wajahnya menampilkan ketegasan tanpa cela dan keyakinan dan keberanian yang telah ditempa oleh waktu dan darah. Di sampingnya, secangkir cokelat panas di atas meja masih mengepul, uapnya menari pelan di udara hangat iglo.
Bangunan berbentuk kubah itu terbuat dari balok-balok salju padat, dirancang khusus oleh suku Eskimo sebagai perlindungan dari suhu ekstrem Kutub Utara. Di dalamnya, kehangatan buatan beradu kontras dengan dingin mematikan di luar.
Wanita itu mendesis pelan, jemarinya mengusap lengannya sendiri. Dingin masih merayap di kulitnya, meski belum sampai menusuk tulang. Dari belakang, langkah kaki mendekat.
Seorang pemuda dengan surai cokelat keemasan dan rambut berantakan khas gaya messy hair berdiri sambil menangkupkan jaket berbulu di lengannya. Ia mendekat tanpa suara, lalu menyodorkan jaket itu.
Sekilas wanita itu menoleh.
Pemuda itu tersenyum tipis.
“Tidak perlu,” ucapnya dingin. “Aku tidak akan mati hanya karena kedinginan.”
Tangannya meraih cangkir cokelat panas, lalu menyeruputnya perlahan. Cairan manis itu mengalir melewati tenggorokannya, memberi sensasi hangat yang samar. Ada rasa manis di awal, disusul pahit lembut di ujung lidah.
Tatapannya sama sekali tak beralih dari arah depan, tempat enam pria dan dua wanita masih menyelesaikan latihan mereka tanpa memedulikan suhu ekstrem.
“Manis, tapi tetap terasa dingin,” gumam pemuda bernama Kael Brian Natahaniel.
Ia melangkah keluar dari iglo, berdiri lebih dekat dengan para anggota. Di dalam, wanita itu Chisara Florina Edelytha hanya mendengkus kecil tanpa niat menanggapi.
Sudah berkali-kali Kael, wakil ketua Assassin Hunter, mencoba mendekatinya. Namun, Sara panggilan akrab Chisara selalu menutup diri.
Hatinya telah membeku sejak lima tahun lalu.
Sejak Novan Xander Wish gugur.
Ketua Assassin Hunter sebelumnya itu tewas akibat kelalaiannya sendiri saat misi. Novan merekrut anggota tanpa perhitungan matang, terlalu percaya pada loyalitas manusia. Hingga suatu hari, pisau yang diasahnya bertahun-tahun justru melukai dirinya sendiri.
Novan gugur karena senjata apinya kosong tanpa peluru.
Setelah penyelidikan panjang dan berdarah, satu anggota Assassin terbukti sengaja menyabotase senjata itu. Novan akhirnya tewas di tangan Alessandro Alberto, ketua kartel Meksiko.
Meski pelaku telah disingkirkan, luka itu tak pernah sembuh di hati Sara.
Ia marah. Ia kecewa. Ia hancur.
Karena tanpa sepengetahuan siapa pun, Sara jatuh cinta pada Novan pria yang tak lain adalah kakak angkatnya sendiri.
‘Ironis,’ batinnya getir.
Ia memilih bungkam. Memendam rasa itu rapat-rapat demi keseimbangan organisasi. Ia tak pernah jujur, bahkan pada Novan sendiri. Hingga akhir hayatnya, pria itu tak pernah tahu bahwa sikap manja dan perhatian Sara selama ini adalah wujud cinta yang tak berani diucapkan.
Novan memang luar biasa. Tampan, cerdik, dan jenius dalam strategi. Sirr Elon, ayah Sara, mengangkat Novan sebagai anak saat usianya lima belas tahun, seorang yatim piatu dari panti asuhan yang memiliki potensi besar. Novan disiapkan sebagai penerus dunia bawah.
Namun, takdir berkata lain.
Saat Sara menjalani misi khusus di Paris, kabar itu datang. Novan gugur di Santorini, Yunani, saat mengejar Alessandro Alberto yang bersembunyi di hunian mewahnya.
Sejak saat itu, Sara menolak terjatuh ke lubang yang sama.
Ia membersihkan organisasi tanpa ampun. Semua anggota lama dipecat. Satu anggota “pergi dengan damai” setelah terbukti berkhianat. Namun, satu nama lain masih masuk daftar hitamnya belum ditemukan hingga kini.
Sara kemudian memilih sembilan orang yang ia percaya sepenuhnya.
Alan Malvin Asher (26), mantan atlet kickboxing.
White Anderson (25), ahli perakit bom.
Manda Lawrence (26), teman kuliah di Harvard, sniper ulung.
Wilow Assyakira Eden (20), adik Manda, loyal tanpa syarat.
Shean Alejandro (27), peretas sistem berbakat.
Woody Austine (26), mantan atlet Muay Thai.
Elfris Luxius (25), dokter sekaligus ahli kungfu.
Kevin McKenzie Strong (24), sepupu Sara, pelindung setia
Kael Brian Natahaniel (29), ahli strategi dan tarung jarak dekat.
“Cukup,” seru Kael lantang.
“Istirahat sejenak. Minum cokelat panas kalian.”
Delapan orang itu berhenti serempak dan menghampiri meja. Mereka meraih cangkir masing-masing, menyeruput perlahan.
Manda melirik ke arah Sara di dalam iglo. Wanita itu masih melamun, wajahnya muram dan lesu.
Ada yang tidak beres, batin Manda.
“Sara kenapa?” bisiknya pada Kael.
Kael ikut menoleh. Sara masih memutar-mutar pegangan cangkir tanpa benar-benar meminumnya.
“Aku tidak tahu,” jawab Kael pelan. “Sejak tadi dia aneh. Jaket dariku pun dibiarkan begitu saja.”
Kening Manda berkerut. Instingnya berteriak. Ia meletakkan cangkir, lalu melangkah masuk.
“Ada apa, Sara?”
Sara mendongak. Napasnya berat, seolah beban besar menekan dadanya.
Belum sempat ia menjawab, ponselnya berdering.
Lamunannya buyar.
Sara bangkit cepat, menyadari tatapan semua orang tertuju padanya. Ia menekan tombol hijau.
“Halo, Tuan Liu? Ada apa?”
“Saya butuh bantuanmu, Nona Sara.”
“Masalah apa?”
“Rumit. Datanglah sendiri ke sini.”
Sambungan terputus.
Kata-kata itu menggantung di udara, bercampur dengan uap napas hangat dan dingin kutub.
Sara menatap satu per satu anggota timnya.
“Siapkan diri kalian,” ucapnya tegas.
“Kita berangkat ke Indonesia hari ini.”