Langit kota dipenuhi warna kelabu sejak pagi, rintik-rintik yang jatuh ke bumi juga tidak mau kalah saing membuat udara lebih dingin dari biasanya. Hujan jatuh tidak begitu deras, tapi seluruh kota basah oleh airnya. Ia menimpa aspal, dedaunan, bunga, dan juga kaca jendela kafe tersebut menciptakan suasana yang sendu, menenangkan dan terkadang menciptakan kerinduan yang menyesakkan dada.
Di luar, beberapa orang berlalu-lalang dengan payung, jas hujan, ada yang berlari kecil mencari tempat berteduh dan bahkan ada yang pasrah membiarkan dirinya diguyur hujan meski ada kemungkinan terserang flu setelahnya.
Di dalam kafe tidak begitu ramai, hanya ada tiga meja yang terisi, di masing-masing meja ada empat orang mahasiswa yang sibuk dengan laptop, seorang pria paruh baya yang menikmati kopi hitamnya sambil membaca buku dan seorang pria berusia sekitar 35 tahunan yang sedang duduk memperhatikan ke arah luar sepertinya menunggu anak dan istrinya selesai di kids play space yang ada di samping kafe tersebut.
Sejak awal konsep kafe ini dibuat untuk ramah bagi siapa pun, bagi orang tua, remaja, dan juga anak-anak. Namun, kafe ini tidak ramah bagi para penghisap rokok. Mereka sangat tegas dengan hal itu, dan kita bisa melihat pada papan peringatan yang ditempel di depan pintu gerbang bertuliskan “KAWASAN BEBAS ROKOK”.
Amyra duduk di balik mesin kopi, menunggu pelanggan sekalian menggantikan salah satu pegawainya yang pamit untuk menunaikan kewajiban salat Asar. Bagi Amyra ada ketenangan tersendiri ketika kafe ada dalam kondisi seperti ini, sunyi dan tenang.
Mesin espresso di depannya mengeluarkan suara halus, sesekali mendesis, seolah ikut bernapas bersamanya. Tangannya terlipat di atas meja bar, tubuhnya bersandar ringan, sementara pandangannya lurus ke depan, menembus kaca jendela besar yang menjadi batas antara ruang hangat kafe dan dunia luar yang basah.
Amyra memperhatikan tiga orang anak kecil yang berlarian di jalan setapak di depan, mereka berloncat ria tidak mempedulikan panggilan ibunya, padahal jelas terlihat para ibu tersebut sudah di ujung batas kesabarannya.
Amyra fokus melihat pada rintik hujan yang membentuk garis-garis tipis di kaca, lalu berkumpul menjadi butiran besar sebelum meluncur turun. Ada perasaan asing sekaligus menyesakkan yang menyelinap di dadanya, sejenis rindu yang tidak jelas pada apa, atau mungkin pada seseorang. Hujan selalu membuatnya demikian, membuka pintu-pintu kenangan yang sering kali berusaha ia kunci rapat-rapat.
Aroma kopi yang menguar di sekelilingnya bercampur dengan bau tanah basah dari luar, menciptakan suasana yang akrab sekaligus melankolis. Ia menghela napas pelan, berusaha menenangkan pikirannya. Sudah dua tahun lebih ia belajar berdamai dengan keheningan-keheningan seperti ini, dengan kehilangan yang tidak sepenuhnya ia pahami, dan dengan orang-orang yang pergi tanpa sempat mengucap pamit.
Tiing.
Suara lonceng kecil yang berada di atas sudut kanan atas pintu kafe berbunyi, memecah lamunannya. Bunyinya ringan. Namun, cukup nyaring untuk membuat Amyra refleks mengangkat kepala. Pintu kaca terbuka, membawa serta udara dingin dan aroma khas hujan yang kuat ke dalam ruangan.
Muncullah seorang pria bertubuh tinggi menjulang di ambang pintu, rambutnya sedikit basah oleh hujan dan tampak lebih panjang dari terakhir kali Amyra melihatnya, sekitar 2 tahun lalu. Sudah lama sekali tentu ada banyak perubahan yang terjadi pada sosok tersebut, tetapi ia tetap mempesona.
Amyra merasakan ada perasaan asing yang membuncah di dadanya, sesuatu yang tidak nyaman dan ngilu di ujung hatinya. Lelaki itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Lonceng kembali berdenting, kali ini terasa jauh lebih keras di telinga Amyra.
Ia mengenal sosok pria itu. Davin orang yang sudah dianggap anak oleh papanya. Bagaimana mungkin ia akan lupa padanya, ia yang juga ikut menghilang setelah beberapa hari kejadian malang yang menimpa dirinya. Apa yang membawanya ke tempat ini, setelah sekian lama membuat jarak. Itu yang ada di benak Amyra saat ini.
Sedangkan di sisi lain, Davin telah mengumpulkan sejuta keberanian di dalam mobil. Langkahnya terlihat gagah dan penuh keyakinan saat menuju ke meja bar untuk memesan minuman dan makanan yang akan menjadi santapan saat menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
“Apa kabar, Amy?” ujar Davin ketika sudah ada di hadapan Amyra, suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar.
Amyra sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. “Baik,” jawabnya kemudian. Syukur Amyra masih bisa meredam keterkejutannya dan juga tangannya yang sedikit bergetar. Amyra berusaha keras supaya sudut matanya tidak basah.
“Konsepnya Amy sekali ya,” lanjut Davin berusaha basa-basi
Amyra tersenyum getir, sesuatu yang asing muncul kembali di hatinya dan itu membuatnya ngilu, tapi ia mantap menjawab Davin “Sejak awal, memang Amy yang jadi alasan kenapa kafe ini ada.”
“Mau pesan apa?” Amyra bertanya.
“Americano dua shoot, satu air mineral dan cheese burger. Pembayaran bisa pakai QR kan?”
“Baik, silakan dicek kembali pesanannya dan totalnya segini, kode QR-nya bisa dipindai di sebelah sini.” Amyra menjelaskan dan mengulang kembali pesanan Davin.
“Oke, makasih.”
“Ini nomor mejanya, nanti pesanan akan diantarkan langsung ke meja.”
Davin mengambil nomor meja dan sekilas melirik ke arah Amyra, ia tersenyum kecil. Davin memilih sudut kafe sebagai tempatnya. Amyra kembali memusatkan fokusnya ke mesin kopi. Ia menyalakan mesin, membiarkan suara desisnya mengisi ruang di antara mereka. Punggungnya menghadap Davin. Terasa canggung padahal dulu mereka sangat akrab.