“Hati-hati, Ki! Karung beras itu jangan sampai terseret kotoran basah di dekat lapak ikan, nanti juragan bisa marah besar!” teriak Pak Tua Madun dengan suara serak yang hampir tenggelam di tengah hiruk-pikuk Pasar Induk Sentral.
Riski Pratama mengangguk sekilas tanpa sempat menoleh. Napasnya sudah memburu, menderu di balik rongga dadanya yang naik-turun seirama dengan langkah kakinya yang limbung menapaki lantai pasar becek berlumpur.
Di atas pundaknya yang bidang tampak kurus terbalut kaus oblong hitam penuh noda keringat, bertengger karung beras seberat lima puluh kilogram. Beban itu seolah menekan seluruh tulang punggungnya hingga terasa remuk, mengingatkannya pada realitas hidup yang harus ia pikul setiap hari demi menyambung nyawa keluarganya di rumah.
Aroma busuk ikan asin bercampur bau lumpur basah dan wangi rempah-rempah bergesekan di udara, menciptakan atmosfer pekat yang sudah dihirup Riski selama bertahun-tahun. Pasar ini adalah saksi bisu kehidupannya. Tempat di mana keringat dibayar murah, tempat di mana manusia-manusia kecil berjuang mati-matian demi sesuap nasi di malam hari.
Riski menyeka peluh yang mengucur deras di pelipisnya menggunakan punggung tangan kanannya yang kasar dan penuh bekas kapalan. Kulit tangannya menebal, keras seperti batok kelapa, akibat puluhan karung yang diangkatnya setiap subuh menjelang pagi. Usianya baru menginjak dua puluh tahun, usia di mana seharusnya seorang pemuda menikmati masa muda dengan berkumpul bersama teman sebaya atau menempuh pendidikan tinggi di bangku kuliah. Namun, takdir berkata lain bagi Riski Pratama.
Setelah menurunkan karung beras tersebut dengan hati-hati di sudut toko kelontong milik Haji Umar, Riski merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku. Bunyi gemeretak terdengar samar di balik kulitnya. Ia menerima upah harian dari sang pemilik toko berupa beberapa lembar uang kertas kusut bernilai belasan ribu rupiah. Uang itu diterimanya dengan tangan gemetar karena kelelahan, lalu dimasukkannya ke dalam saku celana jinsnya yang sudah koyak di bagian lutut.
“Terima kasih, Ji,” ucap Riski singkat kepada Haji Umar yang hanya meliriknya sekenanya sambil menghitung uang kembalian.
“Jangan lama-lama istirahatnya, Riski! Karung kedelai di truk kontainer seberang jalan itu baru saja datang. Cepat bantu bongkar sebelum matahari terlalu tinggi menyengat kepala!” perintah Haji Umar tanpa mengangkat wajahnya dari buku catatan.
Riski hanya menghela napas panjang. Tidak ada ruang untuk mengeluh, tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Jika ia berhenti bergerak hari ini, maka dapur di rumah petaknya dipastikan tidak akan ngebul. Bayangan wajah ibunya yang sering meringis menahan nyeri sendi akibat encok, serta adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, selalu menjadi bahan bakar utama yang memaksa kakinya untuk terus melangkah maju.
Ia berjalan kembali ke area bongkar muat yang dipenuhi deru mesin truk, teriakan para kuli panggul lain, serta suara tawar-menawar pembeli yang memadati lorong-lorong sempit. Di sudut lorong dekat tumpukan keranjang buah, ia melihat beberapa buruh panggul sebayanya sedang duduk beristirahat sambil merokok dan tertawa terbahak-bahak menikmati secangkir kopi hitam murahan.
“Woi, Ki! Sini, merapat dulu! Jangan terlalu ambisius jadi orang kaya, hidup Cuma sekali, nikmati saja,” panggil Joni, salah seorang kuli senior yang bertubuh gempal dan bertato samar di lengan kanannya.
Riski menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. “Belum selesai, Jon. Masih ada muatan kedelai yang harus kubereskan sebelum zuhur.”
“Ah, kau ini seperti tidak pernah kenal lelah saja! Buat apa cari uang banyak-banyak kalau toh akhirnya habis untuk beli obat koyo?” ejek Joni diiringi tawa renyah dari teman-teman di sekitarnya.
***
Ejekan itu tidak pernah diambil hati oleh Riski. Ia tahu betul batasan dirinya. Bagi Riski, peluh yang menetes di pasar ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses tempaan yang membentuk mentalnya agar menjadi manusia yang tahan banting. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tersimpan sebuah impian besar yang selama ini ia pendam rapat-rapat karena takut dianggap bermimpi disiang bolong. Sebuah cita-cita luhur untuk mengenakan seragam kebanggaan negara, berdiri tegak di atas lapangan upacara, dan mengangkat harkat serta martabat keluarganya dari jeratan kemiskinan yang mencekik.
Menjelang tengah hari, aktivitas di pasar mulai sedikit mereda. Riski memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah emperan toko yang tutup, memegang sebotol air mineral hangat yang dibelinya di warung kelontong terdekat. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul usang dari dalam saku tas ranselnya yang sudah kusam. Di dalam buku itu, terselip sebuah guntingan brosur pendaftaran seleksi calon abdi negara yang diambilnya dari papan pengumuman kelurahan beberapa minggu lalu.
Matanya menatap lekat-lekat foto pria berseragam gagah yang terpampang di brosur tersebut. Ada rasa kagum bercampur rasa minder yang bergemuruh di dadanya. Apakah mungkin seorang anak kuli panggul sepertinya bisa lulus di tengah ribuan pesaing dari kalangan orang berada? Apakah tangan yang penuh bekas luka dan kapalan ini sanggup memegang tongkat komando atau menjalankan tugas negara dengan terhormat?
***
“Kau sedang melamunkan apa, Nak?” tanya suaralembut, tegas membuyarkan lamunan panjang Riski.
Riski mendongak dan mendapati Pak RT setempat, Pak Darmawan, berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah map plastik berwarna biru. Pria paruh baya itu dikenal sebagai sosok yang sering membantu warga sekitar mengurus administrasi kependudukan.
“Eh, Pak Darmawan. Tidak apa-apa, Pak. Hanya sedang istirahat sejenak sambil melihat catatan kecil,” jawab Riski cepat sambil merapikan brosur di tangannya agar tidak terlihat oleh sang ketua RT.
Pak Darmawan tersenyum ramah, lalu duduk di sebelah Riski. Pandangan matanya menerawang memperhatikan penampilan pemuda di hadapannya itu, kaus kusam, celana compang-camping, dan bau peluh yang menyengat. Namun, ada kilau ketulusan dan ketegasan yang terpancar dari bola mata Riski, sesuatu yang jarang ditemukan pada pemuda seumurannya saat ini.
“Riski, saya tahu kamu anak yang rajin dan tidak pernah neko-neko di kampung kita, tapi hidup ini tidak akan berubah kalau kamu hanya puas menjadi kuli panggul sampai tua,” ucap Pak Darmawan bernada menasihati. “Kemarin saya melihat brosur pendaftaran yang sama di kantor kecamatan. Apakah kamu benar-benar berniat mendaftarkan diri?”
Riski tertegun sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Pertanyaan itu seolah menembus benteng pertahanan yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Ia menelan ludahnya yang terasa kelat sebelum akhirnya menjawab dengan suara parau, penuh keyakinan.