Suasana koridor SMA Bintang Nusantara yang semula riuh perlahan berubah tertib. Para siswa bergegas memasuki kelas masing-masing sebelum guru datang. Di antara keramaian itu, seorang gadis berambut hitam panjang berjalan cepat sambil memeluk beberapa buku.
Elara Felicity.
Siswi kelas dua belas yang dikenal cerdas, disiplin, dan nyaris sempurna dalam segala hal.
"Elara!"
Seorang sahabatnya, Nadine, melambaikan tangan.
"Tunggu!"
Elara menghentikan langkahnya.
"Pagi."
"Pagi. Kamu belajar semalaman lagi?"
Elara tersenyum tipis.
"Sedikit."
"Sedikit menurutmu itu tiga jam atau enam jam?"
"Tidak sampai begitu."
Nadine menggeleng pelan.
"Aku heran bagaimana kamu bisa tetap segar."
Elara hanya tertawa kecil.
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas. Namun, langkah Elara mendadak terhenti ketika melihat seseorang duduk santai di bangku paling belakang.
Seragamnya sedikit berantakan.
Dasi longgar.
Lengan kemeja digulung.
Tatapannya malas, tetapi senyumnya penuh tantangan.
Arlo Alexander.
Musuh yang paling ingin Elara hindari.
Sayangnya, semesta seolah selalu mempertemukan mereka.
Arlo menyadari kehadiran Elara.
"Wah, ketua kelas datang."
Elara mendesah pelan.
"Kalau sudah datang ke sekolah, tolong berpakaian rapi."
Arlo menatap dirinya sendiri.
"Memangnya ada yang salah?"
"Dasi."
Arlo menyentuh dasinya.
"Oh, ini?"
"Iya."
"Lalu?"
"Luruskan."
Arlo justru menyeringai.
"Kalau tidak?"
Elara menatapnya datar.
"Aku catat sebagai pelanggaran."
"Hidupmu isinya aturan semua, ya?"
"Hidupku setidaknya teratur."
Beberapa teman sekelas mulai menoleh.
Mereka sudah hafal.
Jika Elara dan Arlo bertemu, pertengkaran hampir pasti terjadi.
Arlo berdiri.
Tingginya membuat Elara harus sedikit mendongak.
"Ketua kelas."
"Apa?"
"Kamu pernah senyum yang tulus?"
"Aku sedang tersenyum."
"Itu bukan senyum."
"Lalu?"
"Itu ekspresi orang yang sedang menghitung pajak."
Seketika satu kelas tertawa.
Elara mengembuskan napas panjang.
"Apa kamu selesai?"
"Belum."
"Aku tidak punya banyak waktu."
"Aku juga."
"Lalu?"
"Kita lanjut nanti."
Elara memilih berjalan menuju mejanya.
Dalam hati ia bergumam.
Kenapa harus satu kelas dengannya? Orang itu benar-benar menyebalkan.
Di sisi lain, Arlo memperhatikan punggung Elara.
Selalu serius. Sekali saja dia kehilangan kata-kata, pasti lucu.
Guru Matematika memasuki kelas.
"Selamat pagi."
"Pagi, Bu."
Pelajaran berlangsung seperti biasa.
Hingga tiba saat guru memberikan soal yang cukup sulit.
"Siapa yang bisa mengerjakan nomor lima di papan tulis?"
Ruangan mendadak sunyi.
Guru tersenyum.
"Elara?"
Elara berdiri.
"Saya, Bu."
Baru beberapa langkah berjalan menuju papan tulis, suara Arlo terdengar.
"Bu."
"Iya, Arlo?"
"Saya juga mau."
Seluruh kelas langsung menoleh.
Guru terlihat terkejut.
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Baik. Kalian berdua kerjakan dengan cara masing-masing."
Elara melirik Arlo sekilas.
Ia tidak menyangka Arlo ikut maju.
Arlo mengambil spidol lain.
"Kita balapan?"
"Aku tidak sedang bermain."
"Sayang sekali."
Keduanya mulai menulis.
Suasana kelas berubah hening.
Beberapa menit kemudian, jawaban mereka selesai hampir bersamaan.
Guru memperhatikan satu per satu.
"Hasilnya sama."
Teman-teman bertepuk tangan.
Guru mengangguk puas.
"Metodenya berbeda, tetapi keduanya benar."
Arlo melirik Elara.
"Sepertinya kita seri."
Elara mengembalikan spidol.
"Aku tidak pernah menganggap ini pertandingan."
"Aku menganggapnya."
"Aku tidak peduli."
Elara kembali ke tempat duduk.
Entah mengapa, jawaban Arlo membuatnya sedikit terkejut.
Selama ini ia mengira laki-laki itu hanya pandai membuat keributan.
Ternyata kemampuannya tidak bisa diremehkan.
Sementara itu Arlo tersenyum tipis.
Dia pasti kaget.
Jam istirahat tiba.
Kantin dipenuhi siswa.
Elara sedang menikmati makan siangnya bersama Nadine ketika Arlo dan sahabatnya, Raka, datang mengambil meja di sebelah mereka.
"Kenapa harus di sini?" tanya Nadine pelan.
Elara mengangkat bahu.
"Mungkin kantin ini memang milik semua orang."
Belum sempat mereka melanjutkan makan, sebuah bola basket meluncur dari arah lapangan.
Brak!
Gelas jus Elara jatuh dan tumpah mengenai buku catatannya.
Elara langsung berdiri.
"Bukuku!"
Arlo spontan ikut berdiri.
"Bukan aku."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa lihat aku?"
"Karena kamu paling dekat."
Salah seorang siswa berlari menghampiri.
"Maaf, Kak. Tidak sengaja."
Elara menatap buku yang basah.
Beberapa halaman penuh coretan tinta.
Ia mengusap pelan dengan tisu, tetapi tinta sudah telanjur menyebar.
Nadine ikut membantu.
"Masih bisa diselamatkan?"
Elara menggeleng pelan.
"Itu catatan satu bulan."
Arlo memandangi buku itu beberapa saat.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil buku tersebut.
"Hei!"
Elara hendak merebutnya.
"Aku pinjam sebentar."
"Buat apa?"
"Sudah."
Arlo pergi begitu saja.
Elara mengerutkan dahi.
"Lihat, kan? Dia memang menyebalkan," gumamnya.
Sepulang sekolah.
Elara masih kesal karena bukunya dibawa Arlo.
Ia berdiri di depan gerbang sambil menunggu angkutan.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depannya.
Arlo melepas helm.
"Nih."
Ia menyerahkan sebuah buku.
Elara menerimanya dengan bingung.
"Itu bukuku?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku salin ulang."
Elara membuka halaman pertama.
Tulisan tangan yang rapi memenuhi setiap lembar.
Seluruh catatan yang rusak sudah ditulis kembali.
Lengkap.
Bahkan lebih rapi daripada sebelumnya.
Elara terpaku.
"Kamu ...."
"Aku sempat memotret bukumu waktu guru menyuruh kumpulkan minggu lalu."
"Kenapa?"
"Jaga-jaga kalau butuh belajar."
"Kamu menyalinnya?"
"Iya."
"Kapan?"
"Di perpustakaan."
"Sampai selesai?"
Arlo mengangguk santai.
"Daripada dengar kamu mengomel terus."
Elara benar-benar kehilangan kata-kata.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus membalas apa.
Arlo memasang helm lagi.
"Sudah, ya."
"Tunggu."
"Ada apa?"
"Terima kasih."
Arlo tampak tersenyum kecil.
"Wah."
"Apa?"
"Akhirnya bisa juga dengar kamu bilang terima kasih."
Elara memalingkan wajah.
"Jangan dibesar-besarkan."
"Aku simpan momen ini."
"Arlo."
"Iya?"
"Besok tetap rapikan dasimu."
Arlo tertawa pelan.
"Ternyata kamu memang tidak bisa berubah."
"Kamu juga."
"Lihat saja nanti."
Motor Arlo melaju meninggalkan gerbang sekolah.
Elara memandangi buku di tangannya.
Perasaannya bercampur aduk.
Dalam benaknya, Arlo tetap laki-laki yang sering membuat ulah. Namun, tindakan kecilnya sore itu membuat kebencian Elara sedikit terusik oleh rasa heran.
Kenapa orang yang selalu membuatku kesal justru meluangkan waktu menyalin seluruh catatanku?
Di sisi lain jalan, Arlo yang masih mengendarai motornya tersenyum tipis.
Setidaknya hari ini dia tidak memandangku sebagai pembuat masalah.
Ia tidak menyadari bahwa sore sederhana itu akan menjadi awal dari benang takdir yang perlahan mengikat hidup mereka.
Bukan sebagai teman.
Bukan pula sebagai musuh.
Melainkan dua orang yang suatu hari nanti akan dipaksa berdiri berdampingan di hadapan penghulu, mengucapkan janji suci yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.