Senyumnya yang terlampau manis terbit dengan sangat indah. Ia menggelengkan kepala ketika melihat laki-laki dalam balutan pakaian santai itu begitu serius dengan kanvas di hadapannya. Lantas, mendekati laki-laki itu seraya membawa secangkir susu cokelat hangat yang aromanya tak bisa dibunuh angin.
"Be, kamu kalau sudah berhadapan sama kanvas memang nggak peduli hal lain, ya."
Megumi. Gadis itu duduk di samping sang kekasih. Ia mencoba untuk membersihkan percikan cat air di pipi laki-laki yang biasa dipanggil Galen itu dengan tisu. Ya, meskipun tak seutuhnya bisa hilang.
Galen menoleh sejenak. Hanya dalam hitungan detik dan kembali fokus dengan kanvasnya. Ia tertawa kecil. "Kayak kamu nggak saja," balasnya dengan nada mengejek.
Megumi memajukan bibirnya beberapa senti—mempertontonkan raut wajah kesal. Ia menepuk pelan dan manja pundak Galen. "At least, aku nggak sama nyuekin kamu, kok. Beda, tuh, kayak kamu."
Galen langsung menghentikan gerakan kuasnya. Jika sudah mendengar kalimat Megumi seperti itu, seserius apa pun Galen, ia pasti akan menghentikan semuanya. Sebisa mungkin Galen tidak membuat gadis pujaannya itu sedih, kecewa, dan marah.
"Iya. Iya, maaf."
Megumi langsung tersenyum. Ia senang diperlakukan manis seperti ini oleh Galen. Hal itulah yang membuat Megumi luluh dan membuka hati untuk laki-laki itu. Galen manis dan tahu cara membuatnya bahagia.
"Aku buatin cokelat hangat buat kamu. Minum dulu, gih!"
Galen mengangguk cepat. Ia tidak perlu bicara panjang lebar untuk menerima hidangan favoritnya. Galen tak sabar untuk menikmatinya. Sayangnya, gerakannya terhenti dalam sekejap.
"Tapi, cuci tangan dulu, Gal," ucap Megumi dengan tatapan penuh ultimatum.
Galen hanya bisa menunjukkan cengiran kuda di hadapan Megumi. Lalu, tanpa berpikir apa pun lagi. Ia langsung melaksanakan perintah perempuan itu. Sedangkan, Megumi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Galen.
Sementara menunggu Galen kembali. Tatapan Megumi jatuh pada lukisan yang masih belum rampung. Lukisan hasil tangan kekasihnya itu berhasil membuatnya terdiam dan mengembalikan ingatannya pada sosok yang sudah hilang. Namun, dalam hitungan detik Megumi menghancurkan lagi ingatan itu.
"Nggak, Megumi. Kamu nggak boleh kayak gini terus. Ingat Galen," monolog Megumi menasihati diri. Ia menutup mata cukup erat. Mengembuskan napas panjang agar lega. Sampai akhirnya, sepasang mata itu terbuka ketika indra pendengarannya menangkap suara derap langkap kaki yang perlahan semakin jelas.
"Sudah bersih semua," seru Galen dengan nada riang seraya mempertontonkan bagian-bagian tubuh yang sebelumnya terkena cat air. "Sudah boleh minum?" lanjutnya bertanya dengan nada manja dan menggemaskan.
Megumi tertawa kecil dengan kepala yang mengangguk sebagai isyarat mengiyakan. Sesederhana itu memang tingkah Galen yang sukses membuatnya tertawa. Lalu, ia melihat Galen langsung menyeruput cokelat hangat buatannya.
"Be—"
"Cokelat hangat buatan kamu selalu enak, kok, Be. Jadi, kamu nggak usah nanya lagi," ucap Galen dengan cepat memotong kalimat Megumi. Bukan tak sopan. Namun, perempuan itu sudah kebiasaan dan sudah dihafal betul oleh Galen.
Megumi tidak marah. Ia justru tertawa. Meskipun, Galen mendahuluinya sebelum angkat suara. "Padahal, aku nggak mau nanya soal itu, lho."
Kening Galen mengkerut. "Terus?"
"Tapi, terima kasih banyak, lho, kamu sudah puji-puji minuman yang aku buat." Megumi tertawa lagi lebih lebar dan terdengar sangat renyah. Hal itu berhasil membuat Galen tak bisa menahan manisnya yang menawan.
"Bagaimana persiapan pameran kamu?" tanya Megumi setelah terdiam beberapa saat.
"Masih banyak yang belum rampung, Be. Makanya, aku harus kejar cepat biar selesai," balas Galen dan menghela napas panjang.
Megumi tersenyum tipis. Kemudian, ia menyentuh punggung tangan Galen dan memainkan ibu jarinya di sana. "Aku bisa bantu kamu, kok. Asal kamu nggak memforsir diri."
Galen mengangkat pandangan dan menatap sepasang mata almond milik kekasihnya. Galen merasa sangat beruntung memiliki perempuan manis di hadapannya itu. Banyak hal yang berubah ketika Megumi hadir dalam hidupnya. Megumi juga yang selalu memberikan semangat terbesar untuk segala aktivitas yang menunjang karirnya sebagai seorang seniman.
"Terima kasih, ya, Bebe. Kamu selalu bantuin aku selama ini."
Kepala Megumi mengangguk cepat. Senyumnya semakin terlihat lebih lebar. "Harusnya aku yang bilang terima kasih sama kamu, karena sudah ngebolehin aku ngerecokin kerjaan kamu," tukas Megumi yang sukses membuat Galen tertawa. Lalu, mengacak rambutnya dengan gemas.
"Tapi, kamu harus ingat pesan Mima, ya," sambung Megumi mengingatkan kekasihnya. "Aku nggak mau, ya, kalau sampai Mima marahin aku kalau kamu kenapa-napa nanti."
Galen hanya mengangguk pelan. "Aku nggak selemah yang Mima bilang kok, Be. Mima saja yang berlebihan cerita ke kamu."
"Terserah, ya, Galendra Radika. Pokoknya aku nggak mau kalau kamu memforsir diri. Aku nggak mau kejadian minggu lalu terulang lagi." Megumi menatap Galen dengan serius. Nada suaranya juga berubah tegas.
Jika sudah demikian, Galen tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengangguk mengiyakan. Menghadapi tegasnya Megumi sama saja dengan menghadapi tegasnya sang ibu. Galen tidak pernah bisa menang.
"Apa aku harus menjelaskan alasannya lagi biar kamu paham, Gal?"
Nada suara itu perlahan kembali normal. Namun, kalimatnya mengandung rasa yang langsung menyentuh palung terdalam hati Galen. Galen tidak bisa mengelak lagi. Perhatian yang diberikan Megumi sudah menjadi bagian penting dalam ceritanya sekarang. Jika tidak dengan perempuan itu, Galen mungkin tidak akan menerima perhatian lain selain dari ibunya. Sebab itulah, ia terlalu memaksa Tuhan untuk membuka pintu hati Megumi.
Galen menggenggam tangan Megumi cukup erat. "Maaf, ya, sudah bikin kamu khawatir terus."
"Bukan kalimat itu yang mau aku dengar, Gal."
"Terus?"
"Paling nggak kamu harus janji ke aku buat selalu baik-baik saja."
"Kalau aku janji terus nggak bisa tepatin, gimana? Dosa besar, lho, Be."
Megumi menghela napas panjang. Galen memang pandai sekali bermain kata seperti ini. Laki-laki itu selalu punya kalimat yang sukses membuatnya elus dada. Namun, bukan berarti laki-laki itu tak mendengarnya. Kendati ia harus memutar otak untuk mencari kalimat mematikan untuk mengalahkan Galen.
"Kalau kamu mati dan aku nggak ikhlas, gimana?"
"Ya, ikhlas nggak ikhlas, kamu harus ikhlas," balas Galen dengan nada sangat santai.
Balasan laki-laki itu membuat Megumi geram. Bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan. "Apaan, sih, Gal? Kamu selalu paling santai kalau bahas mati."
Galen tertawa melihat respons Megumi. Lucu saja mengingat siapa yang memulai pembahasan, ia juga yang kesal sendiri.
"Kamu kalau mau mati, ya, sudah mati saja sekarang."
Galen langsung menarik pelan tubuh Megumi. Kemudian, ia memeluk gadis itu dengan erat. Ia tahu Megumi selalu marah jika bahasannya sudah tentang titik akhir kehidupan. Namun, gemas juga melihat respons perempuan itu.
"Maaf, ya, sudah bikin kamu marah. Aku cuma bercanda, kok."
Megumi hanya bisa menghela napas panjang. Ia sendiri sebenarnya tahu, bahwa Galen tak benar-benar berucap dsri hati. Namun, sebuah ketakutan yang selalu memuncak membuat Megumi benci jika membahas tentang kematian. Ia tidak mau kehilangan lagi manusia-manusia baik dan menjadi penghuni hatinya itu. Cukup sekali saja.
"Kamu nggak tahu saja gimana rasanya kehilangan, Galen."
Galen langsung terdiam. Ia sempat lupa, bahwa kehilangan itu pernah dirasakan Megumi dan membuat luka di hati perempuan itu sukar sembuh. Buktinya, ia harus berusaha keras dengan segala cara untuk menyembuhkan dan memenangkan hati Megumi hingga mereka berada di titik ini.
"Iya aku minta maaf." Tidak ada yang bisa diucapkan Galen selain maaf yang berulang.
"Nggak mau," jawab Megumi.
Galen tersenyum. Ia tahu apa yang harus dilakukan jika sudah seperti ini. "Aku beliin es krim sama bunga saja kalau begitu."
Hening.
"Masih nggak mau juga?"
Megumi masih memilih hening.
"Ya, sudah kalau nggak mau. Biar aku saja yang beli dan makan sendiri."
"Curang, ah!" pekik Megumi seraya membebaskan diri dari pelukan Galen. "Kamu nggak effort banget ngebujuk aku."
Kali ini, Galen benar-benar tak bisa menahan tawanya. Ia gemas dan kembali merangkul lebih erat Megumi.