


oleh Cakrawalabiru_2025 · 100 Bab
Kematian orang tua membawanya ke pelukan sang paman muda. Selama sepuluh tahun, Sean adalah segalanya bagi Zena, ayah, pelindung dan rumah. Namun, seiring Zena tumbuh dewasa, ikatan tak terucapkan itu mulai berubah menjadi hasrat terlarang. Ketika Desi dan Wirya datang membawa dendam masa lalu, Sean dan Zena harus berjuang melawan stigma, fitnah, dan bahaya nyata, untuk mempertahankan satu-satunya hal yang mereka punya dan yang pernah mereka yakini. Cinta mereka
"Zena, lihat Om. Tolong, lihat Om sebentar saja."
"Kenapa Papa dan Mama tidak mau bangun, Om Sean?"
"Mereka, hanya sedang sangat lelah, Sayang."
"Tapi baju Mama banyak merah-merahnya. Papa juga. Mereka tidak bicara padaku sejak tadi."
Sean menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumbat bongkahan es. Dia berlutut di depan gadis kecil berusia delapan tahun itu, mencoba menghapus noda darah kering di pipi Zena yang pucat.
"Zena, dengar Om. Sekarang Zena harus ikut Om, ya?"
"Ikut ke mana? Nanti kalau Mama bangun dan aku tidak ada, dia pasti marah."
"Mama tidak akan marah. Om sudah minta izin tadi."
Zena menatap mata Sean dengan bina yang redup. "Beneran?"
"Iya, Om janji."
Seorang pria berjas hitam berdeham di belakang mereka, memecah suasana duka yang mencekat di lorong rumah sakit itu. "Tuan Sean, bisa kita bicara sebentar? Ini mengenai administrasi dan masa depan keponakan Anda."
Sean berdiri, kakinya terasa lemas. "Zena, tunggu di sini sebentar dengan suster, ya? Om mau bicara dengan paman itu."
Zena hanya mengangguk kecil, duduk meringkuk di kursi besi yang dingin.
Sean menjauh beberapa langkah, menghadapi pria yang merupakan pengacara keluarga kakaknya. "Apa maksudnya ini, Pak? Masa depan bagaimana? Polisi bilang ini kecelakaan, tapi luka-luka itu ...."
"Kita tidak bicara soal penyelidikan polisi sekarang, Tuan Sean. Kita bicara soal hak asuh. Berdasarkan wasiat yang ditinggalkan almarhum kakak Anda, Anda adalah wali tunggal bagi Zena."
"Apa? Saya baru dua puluh tahun! Saya masih kuliah, Pak!"
"Saya tahu ini berat, tapi tidak ada kerabat lain yang tersisa. Hanya Anda."
"Tapi saya tidak tahu cara mengurus anak! Saya bahkan tidak tahu cara mengurus diri saya sendiri dengan benar. Bagaimana dengan skripsi saya? Bagaimana dengan pekerjaan yang baru saja saya mulai?"
"Jika Anda menolak, Zena akan diserahkan ke lembaga perlindungan anak negara. Dia akan masuk panti asuhan sampai ada keluarga lain yang mau mengadopsinya."
Sean menoleh ke arah Zena. Gadis kecil itu tampak begitu rapuh, seolah embusan angin sedikit saja bisa menghancurkannya. Zena sedang memeluk boneka kelinci yang telinganya sudah robek, satu-satunya benda yang selamat dari mobil maut itu.
Panti asuhan? Dia baru saja kehilangan dunianya dalam semalam dan aku harus membuangnya ke sana?
"Pilihan ada di tangan Anda, Tuan Sean. Anda masih muda. Masa depan Anda masih panjang. Tidak ada yang akan menyalahkan Anda jika Anda merasa tidak sanggup."
"Sanggup atau tidak, itu bukan pertanyaannya sekarang 'kan?"
"Lalu apa?"
"Pertanyaannya adalah, siapa lagi yang dia punya kalau bukan aku?"
"Jadi Anda menerimanya?"
"Saya butuh waktu untuk berpikir, tapi jangan bawa dia ke panti. Malam ini dia ikut saya."
Ponsel Sean bergetar di saku celananya. Sebuah nama muncul di layar. Raka. Itu teman-teman kampusnya. Pasti mereka sedang menunggu Sean di tempat biasa untuk merayakan berakhirnya ujian semester. Dunia Sean yang biasa, dunia yang penuh tawa dan kebebasan, sedang memanggilnya.
Sean mengabaikan panggilan itu. Di berjalan kembali ke arah Zena yang masih setia menunggu dengan tatapan kosong.
"Zena, ayo pulang."
"Pulang ke rumah Papa?"
"Bukan. Kita ke tempat baru. Ke rumah Om Sean."
"Papa dan Mama nanti menyusul?"
Sean terdiam sejenak, merasakan dadanya sesak. "Nanti, kita bicarakan lagi ya? Sekarang Zena harus istirahat."
Tiga jam kemudian, di apartemen kecil milik Sean yang berantakan, Zena sudah terlelap di tempat tidur satu-satunya. Gadis itu tidak mau melepaskan pegangannya pada kaus Sean sampai dia benar-benar jatuh pingsan karena kelelahan emosional. Isak tangis kecil masih sesekali terdengar dari bibir mungilnya yang bergetar.
Sean duduk di lantai, bersandar pada pinggiran tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang temaram. Apa yang sudah kulakukan? pikirnya getir. Besok aku harus ke kampus, tapi bagaimana dengan dia? Bagaimana kalau dia bangun dan mencariku?
Tiba-tiba Zena merintih dalam tidurnya. "Mama, jangan pergi! Aku takut."
Tangan kecil itu meraba-raba seprai, mencari pegangan. Sean segera merai tangan itu, menggenggamnya erat.
"Om di sini, Zena. Om di sini."
Zena perlahan tenang kembali, meskipun napasnya masih berat. Sean menatap wajah keponakannya yang sembap. Di detik itu, rasa ragu yang tadi mengimpitnya perlahan luruh, digantikan oleh sesuatu yang lebih kuat, lebih dominan. Sebuah naluri untuk melindungi.
"Maafkan Om, Zena. Om mungkin bukan wali yang sempurna. Om mungkin akan mengacaukan banyak hal," gumamnya lirih.
Sean mendekatkan wajahnya ke tangan kecil Zena, menciumnya lembut dengan air mata yang mulai menetes.
"Om berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakitimu lagi. Om akan menjadi dindingmu, duniamu, dan keluargamu." Tekad Sean dalam hatinya sambil mengecup lembut kening Zena.
Sean terus menggenggam tangan itu, tidak menyadari bahwa di luar sana, bayang-bayang misteri kematian kakak dan iparnya baru saja mulai bergerak mendekat, mengincar sisa-sisa keluarga yang kini dia pertaruhkan seluruh hidupnya untuk dilindungi.
"Aku harus bisa melindungi Zena. Hanya aku sekarang yang dia miliki. Zena, jangan takut lagi, ada Om di sini. Tapi kecelakaan kakak angkatku itu memang terasa sangat misterius, banyak kejanggalan yang terjadi di kecelakaan tersebut. Aku harus mengetahui kebenarannya. Akan aku tanyakan lagi ke pihak kepolisian. Banyak hal janggal yang terjadi." Monolog Sean sambil tetap menggengam tangan mungil Zena yang terasa ringkih dan rapuh.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Ada Om di sini," bisik Sean, sambil mengecup lembut kedua pipi Zena yang masih basah oleh air mata.

Cakrawalabiru_2025
0 Pengikut · 3 Novel