


oleh Neng Anjar · 66 Bab
Entah itu kehidupan sebelumnya atau dejavu, Sunmi benar-benar ingin menghindari kemalangan yang dideritanya di dalam mimpi. Dia mengambil jalan berbeda dari jalan pilihannya di dalam mimpi, tapi mengapa alurnya menjadi maju? Mulai dari perkenalan tidak terduga dengan Dirga, pertemuan dengan Michel yang merupakan sahabat sekaligus pelamarnya di dalam mimpi, hingga perjodohannya dengan Edo, semuanya berjalan maju dari waktu yang ditunjukkan di dalam mimpinya. Apakah ini akibat dia tidak mengikuti alur yang semestinya? Dapatkah Sunmi menghindari pernikahannya dengan Edo, pria yang telah menyiksanya di kehidupan yang dilihatnya di dalam mimpi?
Sunmi tak henti hentinya meneteskan air mata, di penghujung kehidupannya, tidak ada satupun kerabat yang hadir menemaninya. Adik yang dulunya diurus dan dibiayai sekolahnya pun menghindarinya dengan berbagai alasan, apalagi sanak kerabatnya yang lain.
Sunmi tidak mengerti mengapa hidupnya berakhir dengan tragis dan sendirian.
Padahal Sunmi merasa selama ini dirinya selalu memberikan yang terbaik untuk membantu saudara dan keluarganya.
Sunmi meninggalkan jasadnya dalam kesedihan dan penyesalan. Seandainya ada kehidupan selanjutnya atau dia bisa kembali ke masa-masa mudanya, dia akan berhati-hati terhadap orang-orang di sekelilingnya yang hanya ingin memanfaatkannya.
***
Sunmi membuka mata dan menatap sekelilingnya dengan heran.
Mimpi itu datang lagi.
Ini adalah untuk kesekian kalinya dia memimpikan kejadian yang sama, seolah-olah itu adalah pengalaman hidupnya sendiri.
Lidya adiknya, masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kak, disuruh Mama bangun tuh, mau kuliah ga?" tanya lidya sambil membuka lemari baju.
"Iya, tapi ngapain buka-buka lemari?" tanya Sunmi tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya.
Dia ingat selama ini adiknya memang terlalu bebas menjarah barang-barangnya dan selama ini juga Sunmi selalu berusaha mengalah.
"Liat doang, pelit, hu!" kata Lidya sambil membanting pintu lemari dan ke luar kamar Sunmi sambil menghentakkan kaki.
Sunmi tersenyum sinis, begitulah selama ini kondisi yang telah dilewatinya. Dia memang kelewat sabar dan sayang kepada adiknya. Apapun Sunmi berikan, walaupun itu merugikan dirinya sendiri.
Namun, apa yang didapatnya kemudian hanyalah sikap dingin sang adik, bahkan di masa-masa terpuruknya, Lidya sama sekali tidak peduli dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Adiknya ini juga hanya akan menanggapi seperlunya saja jika Sunmi menghubunginya. Sikap Lidya ini benar-benar membuat Sunmi patah hati dan kecewa.
Sekarang Sunmi ingin merubah sikapnya, dia tidak ingin lagi dimanfaatkan. Pengalaman di kehidupan sebelumnya yang dia lihat di dalam mimpi benar-benar menjadi pengalaman berharga baginya.
'Aku sudah cukup berkorban untuk saudara dan keluarga di kehidupanku sebelumnya sebagaimana yang ditunjukan di dalam mimpiku, sekarang aku hanya akan fokus untuk mencintai diriku sendiri dan mempersiapkan masa depanku,' pikir Sunmi memantapkan hati.
Gadis itu meyakini mimpi yang dia alami, entah itu dejavu atau apapun namanya bisa jadi itu merupakan petunjuk agar dia lebih berhati-hati di dalam menjalani kehidupan ini.
Sunmi bangkit dan membersihkan diri. Setelah berdandan rapi, Sunmi datang ke ruang makan dengan tasnya.
Papanya meletakan koran yang sedang dibacanya di meja ketika melihat kedatangannya.
"Bagaimana kuliah kamu?" tanya papanya sambil menyendok nasi.
"Baik, Pa," jawab Sunmi singkat.
"Anak perempuan, sekolah tinggi-tinggi cuma ngabisin uang saja, akhirnya akan masuk dapur juga," kata mamanya lebih berupa keluhan.
Sunmi menatap mamanya. Dia ingat setelah ini dia akan ditawari dua pilihan, menikah sebagai saran dari mamanya atau bekerja sebagai saran dari papanya.
Di kehidupan sebelumnya sunmi memilih untuk menikah dengan laki-laki yang sama sekali belum dikenalnya dan disitulah awal kesengsaraan hidupnya dimulai.
Dari awal menikah sampai bercerai Sunmi benar-benar menderita secara mental dan fisik karena suaminya orang yang memiliki kepribadian ganda.
Di hadapan orang lain suaminya tampak baik dan sopan namun, ketika tidak ada orang lain di dekat mereka, suaminya itu akan habis-habisan menyiksa Sunmi melalui ucapan dan perbuatannya yang menyakitkan.
Setelah bercerai, Sunmi benar-benar menyesali keputusannya untuk menikah muda sehingga ketika dia melihat adik perempuannya akan mengalami kehidupan yang sama, Sunmi mati-matian berusaha membiayai kuliah adiknya. Agar apa yang dialaminya tidak sampai terulang kembali kepada adiknya.
"Teman Mama punya keponakan, orangnya baik, sopan dan yang penting kehidupannya sudah mapan. Dia lagi cari istri...," kata mamanya sambil terus menatap Sunmi.
Sunmi yang sudah tau akan seperti apa kelanjutan dari ide mamanya tersebut, memilih untuk bersikap acuh tak acuh dan terus menyendokan nasi ke mulutnya, seolah-olah ucapan itu bukan diarahkan untuknya.
"Ehm ... temen Papa juga baru buka hotel bintang lima dan dia butuh banyak pegawai untuk bagian kantor," kata papanya sambil membetulkan letak kaca matanya.
Kali ini Sunmi menatap papanya dengan penuh perhatian, Sunmi memang sudah tahu akan seperti apa akhir hidupnya kalau dia memilih menikah muda seperti saran sang mama, tapi Sunmi belum tahu akan seperti apa akhir hidupnya kalau dia memilih untuk bekerja sesuai saran papanya.
"Tapi Sunmi kan belum selesai kuliah, Pa. Apa bisa melamar di sana dengan izazah sekolah menengah?" tanya Sunmi ragu.
"Kalau di kantor, memang ga bisa, tapi kalo cuma jadi resepsionis hotel mungkin bisa. Nanti kalau kamu sudah selesai kuliah, baru minta pindah ke kantor," kata papanya santai.
"Sunmi mau, Pa," kata Sunmi antusias.
"Baik, nanti kamu siapkan saja lamaran kerjanya. Setelah siap kasihkan ke Papa, biar nanti Papa yang kasihkan ke Om Wahyu," kata papanya sambil tersenyum.
"Kalo kata Mama sih mending nikah aja enak, ga perlu repot-repot kerja, duit sudah ngalir sendiri," kata mamanya tanpa dapat menyembunyikan cemberutnya.
Dia tidak habis pikir dengan anak perempuan zaman sekarang, pada ngotot pengen kuliah, pengen kerja, padahal ujung-ujungnya tetap saja jadi ibu rumah tangga.
"Sunmi kuliah dulu, Pa, Ma," kata Sunmi beranjak dari duduknya.
Dia sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan ucapan mamanya yang hanya akan mengendurkan semangatnya untuk menuntut ilmu.
Sesampainya di kampus, Sunmi memeriksa papan pengumuman Fakultas Ilmu Komputer, di mana hasil ujian mahasiswa dicantumkan.
"Hei!" seseorang menepuk punggung Sunmi. Gadis itu berbalik.
"Dessy ...," Sunmi memeluk sahabatnya penuh kerinduan.
Di kehidupan sebelumnya Sunmi terpaksa meninggalkan Sumatra dan berpisah dari sahabatnya karena mengikuti suaminya yang tinggal di Jakarta.
"Kamu kenapa?" tanya Dessy khawatir ketika melihat Sunmi memeluknya dengan sedih.
"Aku seneng bisa ketemu kamu lagi," kata Sunmi.
"Lho? Bukannya kita baru kemarin ketemu? Ternyata pesonaku memang tiada duanya, sampai kamu aja yang perempuan kangen terus sama aku," canda Dessy konyol.
Sunmi tertawa geli, itulah yang Sunmi suka dari sahabatnya ini, Dessy selalu saja bisa mencairkan suasana dengan celotehan konyolnya.
Di dalam mimpinya, Sunmi juga melihat kalau di masa-masa sulitnya hanya sahabatnya inilah yang banyak membantunya.
Sampai kemudian Sunmi mendapat kabar bahwa sahabatnya ini meninggal karena kanker ....
Sunmi menghela nafas panjang, dan menatap sahabatnya dengan simpatik.
"Kamu ada mata kuliah ga?" tanya Sunmi.
"Ada di jam kedua. Mata kuliah pertama kosong, dosennya sakit, kenapa?"
"Ngopi yuk."
"Lho, emang kamu ga ada mata kuliah juga?"
"Ada sih, tapi pengen bolos aja."
"Di kafe depan asrama tentara aja yuk."
"Huuu ... bilang aja kamu pengen mejengin tentara muda," kata Sunmi sambil terkekeh.
"Ya ... 'kan, ga ada salahnya aku mejengin mereka kali aja ada yang nyantol, hehe ...."
"Serius, kamu pengen banget ya punya suami tentara?"
"Yup!"
"Why?!"
"Ga tau, pokoknya aku suka aja lihat mereka ... mereka tuh kelihatan gagah-gagah, apalagi kalau mereka sedang pakai seragam."
"Kirain karena kamu ingin merasa aman."
"Mungkin itu juga salah satu alasannya, kalau kamu?"
"Ga tau."
"Lha kok ga tau?"
"Yah memang ga tau, mungkin karena belum ngeliat yang pas di hati."
"Kok aku jadi inget iklan yang bunyinya, pas di dompet pas di hati, hahaha ...."
Sunmi dan Dessy trus bercanda sambil masuk ke dalam kafe. Mereka tidak sadar kalau saat ini ada sepasang mata yang terus menatap mereka penuh minat.
"Cantik ya, Bro?" tanya laki-laki muda di sebelah laki-laki berseragam perwira yang sedang menatap ke arah Dessy dan Sunmi.
"Mereka anak kampus belakang asrama kita ya?" si perwira muda balik bertanya.
"Sepertinya iya, kalau dilihat dari penampilan mereka, kenapa? Minat?"
"Sedikit."
"Apa perlu kita samperin?"
"Boleh!"
Mereka pun beranjak ke meja Sunmi dan Dessy, saat itu keduanya sedang melihat daftar menu kafe dan akan memesan.

Neng Anjar
8 Pengikut · 2 Novel