"Kejar dia! Jangan biarkan gadis itu melintasi sungai!"
Teriakan parau itu membelah kesunyian hutan perbatasan yang lembap. Aruna terus memacu kakinya, mengabaikan perih di telapak kaki yang hanya beralaskan sandal tipis yang kini koyak. Napasnya tersengal, meninggalkan uap putih di udara malam yang menggigit.
Di belakangnya, derap langkah sepatu bot yang berat dan suara dahan patah terdengar semakin mendekat. Tiga orang penagih hutang suruhan rentenir itu tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka mau, atau setidaknya, menyeret Aruna kembali ke kota untuk "dijual" sebagai pelunas hutang mendiang pamannya.
"Kau tidak bisa lari ke mana pun, Aruna! Di depanmu hanya ada jurang dan kematian!" seru suara lain, kali ini lebih dekat, dibarengi tawa mengejek yang membuat bulu kuduk Aruna berdiri.
Aruna tidak peduli. Ia lebih memilih terjun ke dalam kegelapan jurang daripada harus jatuh ke tangan manusia-manusia keji itu. Gadis itu terus menerjang semak berduri, membiarkan ranting pohon pinus menggores pipi dan lengannya hingga berdarah.
Wangi tanah basah dan aroma pinus yang tajam biasanya menenangkan jiwanya, tapi malam ini, hutan itu terasa seperti labirin maut yang siap menelannya bulat-bulat.
Langkahnya mendadak terhenti. Benar kata mereka. Di depannya, tanah seolah terputus. Jurang curam dengan sungai berarus deras di bawahnya menganga lebar. Aruna berbalik dengan tubuh gemetar, menyandarkan punggungnya pada batang pohon tua yang besar.
Tiga pria muncul dari balik kabut. Yang terdepan adalah seorang pria gempal dengan bekas luka di pelipis, memegang sebilah belati yang berkilat ditimpa cahaya bulan yang samar.
"Sudah selesai, Manis," ujar si pria gempal sembari melangkah maju dengan seringai menjijikkan. "Serahkan dirimu baik-baik, dan mungkin bos kami akan memberikan keringanan padamu. Kau tahu sendiri, wajah cantikmu itu adalah aset yang sangat berharga."
"Jangan mendekat!" Aruna memungut sebuah dahan kayu kering, menggenggamnya dengan tangan yang bergetar hebat. "Lebih baik aku mati di sini daripada ikut dengan kalian!"
"Oh, jangan dramatis. Mati di hutan ini hanya akan membuatmu jadi bangkai yang dimakan ulat. Ikutlah dengan kami, dan kau akan tidur di ranjang empuk, meski mungkin dengan sedikit paksaan.” Pria itu tertawa kasar, diikuti oleh dua anak buahnya.
Saat pria itu hendak menerjang, sebuah suara lain memecah ketegangan. Bukan suara manusia. Itu adalah geraman rendah, dalam, dan begitu menggetarkan dada hingga seolah-olah bumi di bawah kaki mereka ikut beresonansi. Geraman itu tidak datang dari arah depan, melainkan dari kegelapan semak di samping mereka.
Suasana mendadak hening. Tawa ketiga pria itu terhenti seketika. Hutan yang tadinya bising oleh suara pengejaran, kini sunyi senyap seolah seluruh makhluk hidup di sana sedang menahan napas.
"Apa itu?" bisik salah satu anak buah dengan suara mencicit.
Dari balik bayang-bayang pohon raksasa, sepasang mata muncul. Mata itu tidak berwarna hitam atau cokelat seperti manusia, melainkan kuning keemasan yang berpendar di kegelapan, tajam seperti belati perak yang siap mengoyak mangsa. Secara perlahan, sesosok makhluk melangkah keluar menuju area terbuka yang sedikit terkena cahaya rembulan.
Aruna hampir lupa cara bernapas.
Itu adalah seekor serigala. Namun, menyebutnya sekadar serigala terasa seperti sebuah penghinaan.
Makhluk itu luar biasa besar, setinggi bahu pria dewasa jika berdiri dengan empat kaki. Bulunya hitam pekat seperti jelaga malam, dengan semburat perak di sepanjang tulang punggungnya. Otot-ototnya menonjol di balik kulitnya yang tebal, bergerak harmonis dalam setiap langkah yang penuh wibawa, tapi mematikan.
"Serigala, gila, besar sekali!" Si pria gempal mundur selangkah, wajahnya yang tadi penuh keberanian kini sepucat kertas. Ia mengarahkan belatinya ke depan, tapi tangannya goyah. "Pergi! Pergi kau, binatang haram!"
Makhluk itu tidak pergi. Ia justru merendahkan tubuh bagian depannya, memamerkan taring-taring putih yang panjang dan tajam. Air liur menetes sedikit dari sudut mulutnya, sementara geramannya semakin keras, menyerupai suara guntur yang tertahan di balik awan.
Aruna terhipnotis. Entah mengapa, meski makhluk itu jauh lebih mengerikan daripada ketiga pria di depannya, ia tidak merasakan keinginan untuk lari darinya. Ada sesuatu yang purba, sesuatu yang sangat kuat terpancar dari makhluk itu, sebuah otoritas yang menuntut ketundukan.
"Tembak! Tembak makhluk itu!" perintah si pria gempal pada anak buahnya yang membawa pistol rakitan.
DOR!
Suara tembakan memecah kesunyian malam. Aruna memekik dan menutup telinganya. Peluru itu meluncur, tapi serigala raksasa itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia melompat, menghindari peluru seolah-olah ia bisa membaca arah angin, dan mendarat tepat di depan ketiga pria itu.
"Tolong!"
Jeritan pecah saat serigala itu mulai menyerang. Aruna hanya bisa mematung, menyaksikan pemandangan yang akan menghantui mimpinya selamanya.
Serigala itu tidak sekadar membela diri, ia berburu dengan efisiensi yang mengerikan. Dengan satu ayunan cakar, satu pria terlempar menabrak pohon hingga pingsan atau mungkin mati. Satu terkaman lagi, dan pria pembawa pistol kehilangan senjatanya bersama dengan jeritan kesakitan yang menyayat malam.
Dalam hitungan detik, ancaman manusia itu sirna. Dua orang melarikan diri ke dalam hutan dengan luka-luka mengerikan, sementara si pria gempal tergeletak tak berdaya, tidak berani bergerak sedikit pun karena moncong serigala raksasa itu kini berada hanya beberapa inci dari wajahnya.
Serigala itu tidak menghabisinya. Seolah-olah pria itu sudah tidak lagi dianggap sebagai ancaman, makhluk itu memalingkan kepalanya perlahan. Mata kuning keemasan itu kini tertuju sepenuhnya pada Aruna.
Aruna merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia masih bersandar pada pohon, tubuhnya merosot hingga terduduk di atas tanah yang dingin. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa seperti batu. Makhluk itu melangkah mendekatinya, sangat pelan, seolah setiap langkahnya diperhitungkan agar tidak menakuti mangsanya.
Embusan napas panas dari hidung serigala itu menerpa wajah Aruna saat makhluk itu sampai tepat di depannya. Bau hutan, bau darah segar, dan bau musk yang aneh menyelimuti indra penciuman Aruna. Ia memejamkan mata erat-erat, menunggu taring tajam itu menembus lehernya.